Kehidupan yang dijalani Acha tidak pernah benar baik baik saja . kekacauan hidupnya dimulai saat Acha melihat dan menyaksikan bapak dan ibunya terkapar bersimbah darah dijalanan akibat ulah penabrak mobil yang tidak bertanggung jawab .
Dewangga yang mencoba berpura pura mendekati Acha untuk tidak ketahuan bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab kedua orang tua Acha tiada memberanikan diri untuk menikahinya , walau dengan sangat terpaksa .
Acha yang tidak sengaja mendengar percakapan antara Dewangga dan Sang Mertua , benar benar syok dan tidak menyangka. selama ini dia hidup dengan seorang pembunuh kedua orang tuanya .
Acha memutuskan untuk pergi dari kehidupan Dewangga setelah mengetahui itu semua , dan disaat itu pula , terciptala buah hati mereka di dalam rahim Acha .
tanpa Acha sadari , Dewangga telah jatuh pada pesonanya . Akankan Dewangga jujur mengenai dirinya yang telah memyebabkan kedua orang tua Acha meninggal ?
Bagaimanakah nasib pernikahan Dewangga dan Acha ? simak terus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dona rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Acha melamun sesaat mendengar ucapan Maria sang sahabat. Dirinya meneguhkan hati untuk menerima pernikahan dengan Dewa. Bagaimana pun yang Maria katakan ada sedikit benarnya. Mengingat persahabatan Bapak dan Papa Ravendra yang dari dulu sudah melekat.
"Do'akan Acha Pak, Bu. Semoga ini keputusan yang tepat." Kembali Acha berdo'a dalam hati.
Maria yang melihat Acha melamun hanya diam saja. Biarkan Acha berfikir sebentar. Dirinya pun bertanya-tanya, mengapa Tante Shiren ingin sekali menjodohkan sang sahabat dengan Dewangga? Bukankah Dewangga sudah menikah?.
Mengapa Maria tahu? Iya, karena Mama Maria satu geng sosialita dengan Mama Dewangga alias Tante Shiren. Maka dari itu Maria sedikit mendengar tentang Dewa yang sudah beristri.
"Lo pulang sama siapa, Cha? Mau bareng gue engga?." Tanya Maria yang saat ini sudah selesai dengan semua makanannya.
"Gue di jemput sama Mama Shiren, Mar." Ucap Acha yang tidak sembunyi-sembunyi lagi kepada Maria.
"Gue duluan engga apa-apa kan Cha? Soalnya Mama barusan kirim pesan sama gue untuk jemput di butik langganannya."
"It's oke engga apa-apa Mar, kemungkinan Mama Shiren juga bentar lagi datang ko."
"See you ya Cha, kabarin gue kalau lo udah sampe di rumah." Ucap Maria sambil mencium pipi Acha sebelum pergi.
"Take care Mar, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya. Kalau udah sampe rumah jangan lupa kasih kabar." Jawab Acha dengan cepat.
Maria pun hilang dari balik pintu tersebut. Acha dengan setia menunggu Mama Shiren yang akan menjemputnya seperti yang tertera di dalam pesan tersebut.
Di tempat lain saat ini Dewa dan Tama sedang sibuk-sibuknya di karenakan proyek pembangunan hotel yang seharusnya sudah rampung 50% kini hanya tinggal angan-angan saja. Bagaimana tidak? Dewa mempercayakan semuanya pada sang kontraktor , tetapi kenyataannya sang kontraktor malah mengambil keuntungan yang sangat besar dari anggaran yang sudah tersedia.
"Lacak lokasi dimana keberadaan orang tersebut, Tam. Jangan sampai dia menghabiskan sisa uang milik keluarga Karta Wijaya." Ucap Dewa dengan nada emosi.
Sebisanya Dewa tahan jangan sampai mengganggu yang lainnya. Kepalanya pun saat ini terasa sedikit sakit , Bagaimana tidak? Permasalahannya dengan Renata saja belum selesai di tambah lagi permasalahan mengenai pembangunan hotel miliknya.
"Temukan dia dimanapun berada, Tam. Bawa dia hidup-hidup kehadapanku secepatnya." Sambil berjalan Dewa berbicara kepada Tama. Tama yang sesekali menganggukpun mengerti akan apa yang di sampaikan oleh Dewa sang Bos sekaligus sahabatnya.
"Setelah ini apa ada jadwal lagi Tam?."
"Tidak ada Tuan, hanya sekedar makan siang dengan salah satu klien dan investor di restaurant yang sudah saya pesan."
Dewa menganggukan kepalanya sambil memasukan salah satu tangannya kedalam saku celana. "Setelah itu kita langsung terbang untuk langsung pulang saja ya Tam. Tidak ada kata penolakan."
Tama cukup tahu diri jika sang Bos sekaligus sahabatnya berbicara seperti itu. Masalah dengan Renata dan pembangunan hotel mungkin cukup membuat hari-hari Dewa menjadi kacau.
****
Renata yang saat ini berada di lokasi fashion show pun hanya bisa mengumpat saat tidak melihat keberadaan Keenan di dekatnya. Bagaimana tidak, saat ini dirinya sedang melakukan fashion show yang sangat di nantikannya. Tetapi dengan seenaknya Keenan selaku manager tidak hadir.
"Lihat saja kau, Keenan. Berani sekali kamu mempermainkan ku." Umpat Renata yang saat ini sudah rapih dengan balutan baju yang di pakainya.
"Hai Re, apa kabar? Udah lama banget ya Re kita engga ketemu. By the way, gimana kabar Dewa? Lo kesini engga bareng sama Dewa, Suami lo?". Tanya Ayumi yang sedang menepuk bahu belakang Renata , iya Ayumi adalah salah satu model kenalan Keenan juga Renata.
"Hei yum, Dewa baik-baik saja ko. Dewa ada urusan mendadak tadi pagi keluar kota. Iya, lo tahu sendiri kerajaan bisnis keluarga Karta Wijaya kaya apa, iya engga?." Dusta Renata kepada Ayumi.
"Iya gue tahu ko, Kalau gitu gue duluan ya, Re. Sampai ketemu lagi nanti." Ayumi melambaikan tangan kepada Renata saat melangkah pergi.
Renata yang di lambaikan tangannya pun hanya bisa tersenyum palsu. Iya, Ayumi adalah salah satu dari perempuan yang menyukai Dewa. Tetapi Renata lah yang memenangkan mendapatkan hati Dewa.
Kembali, Renata mencoba menghubungi Keenan. "Sial." Kembali umpatan keluar dari mulut Renata saat mencoba menghubungi Keena tidak berhasil.
"Re, acara sebentar lagi mau di mulai, tolong siap-siap ya." Ucap salah satu crew yg menangani acara tersebut.
Renata mebuat senyum palsu di wajahnya saat mendengar penuturan seperti itu . Dengan terpaksa Renata menyiapkan semua keperluannya dengan sang asisten pengganti.
Tanpa menunggu lama Renata memulai acaranya dengan perasaan kesal dan hati yang kacau karena memikirkan Keenan yang tidak kunjung datang dan menghubungi dirinya.
Sudah hampir kurang lebih dua jam acara tersebut di selenggarakan, Renata saat ini sedang berada di backstage untuk bersiap-siap menuju acara berikutnya, acara pemotretan di daerah Kemang.
Kembali Renata mencoba menghubungi Keenan untuk menanyakan dimana posisinya saat ini. Tapi lagi-lagi hanya nada operator sajalah yang terdengar di seberang sana. "Sialan, Keenan sialan." Umpat Renata saat mencoba menghubungi Keenan tapi tidak aktif sedari tadi.
Dengan amarah yang menggebu Renata dengan cepat membereskan barang bawaannya dan berjalan menuju mobil yang dia parkirkan tidak jauh dari tempatnya.
****
Keenan yang sedang asyik menikmati secangkir kopi pun hanya bisa tersenyum puas. Bagaimana tidak, pastinya Renata kalang kabut saat ini mencari keberadaannya yang entah ada dimana. "Sori Re, gue bukannya engga mau aktifin ponsel. Tapi gue pengen lo mikir dulu saat ini. Gue pengen lo jujur sama Dewa tentang kekurangan yang lo punya. Gue engga mau Dewa yang akan bertindak jauh nantinya sama lo. Karena kalau sampai Dewa tahu dari orang lain, bisa-bisa lo engga ada nama lagi Re." Ucap Keenan yang masih asyik duduk sambil memandang kearah jendela.
Keenan tahu persis siapa Dewa sebenarnya, maka dari itu Keenan selalu mencoba membujuk Renata untuk jujur kepada Dewa walaupun hasilnya tidak seperti yang di harapkan. Yang Keenan takutkan adalah, Dewa akan mengetahui dengan sendirinya dana Renata akan dalam bahaya.
"Semoga ini semua akan segera terbongkar Re. Gue bukanau menghancurkan rumah tangga lo. Tapi, yang namanya bangkai pasti akan tercium juga nantinya. Dan apapun yang akan Dewa lakukan terhadap lo, gue adalah orang pertama yang akan selalu ada buat lo Re. Gue engga akan pernah ninggalin lo sampai kapanpun." Ucap Keenan seraya menutup matanya dan menaruh gelas kopi di atas meja, sambil merasakan angin sepoi-sepoi dari balkon atas kamar yang dia tempati saat ini.