Kisah rumah tangga Atika dan Aris yang diterpa badai, sebelumnya mereka keluarga yang harmonis dan saling melengkapi akan tetapi adanya orang ketiga yang membuat hubungan rumah tangga mereka hancur.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? yuk ikuti ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ratih Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Atika menitipkan Nathan pada Reihan karena pagi ini ia harus menyiapkan sarapan pagi, sedangkan kedua art nya sedang cuti.
"Mas maaf ya aku merepotkan mu,"
"Tak apa apa Atika, aku senang kalau begini. Kita jadi seperti suami istri ya kan."
"Ada ada saja kamu ini Mas,"
"Apa selama kamu tinggal disini tak ada perubahan untuk ku, aku sudah lama menunggu mu Atika. Sampai kapan aku harus menahannya?"
Atika mengerutkan keningnya.
"Apa maksud mu Mas? menahan apa?"
"Kamu ini gimana sih Tik, aku ini pria normal masa gitu aja gak ngerti." Setelah mendengar penjelasan Reihan, barulah Atika paham.
"Aku mengerti Mas, gimana caranya agar kamu bisa nahan? apa aku harus pindah rumah saja."
"Jangan, aku tak mau kau pindah dari sini. Aku sudah nyaman dengan kalian."
"Tapi aku takut kamu aneh aneh Mas, apalagi bilang tidak tahan. Aku gak sampai terjadi sesuatu pada ku."
"Hahaha Atika, Atika, aku ini hanya bercanda.
Kau selalu menganggap ku serius."
"Aku boleh jujur gak Mas?"
"Hem tentu saja boleh."
Atika menarik nafasnya dengan kasar, jantungnya tak bisa di ajak kompromi setiap ia ingin membicarakan sesuatu pada Reihan.
"Sudah lama aku menyukai mu Mas." Seketika Reihan langsung mendekati Atika.
"Apa benar, kau serius Atika? aku tidak salah dengar kan."
"Tidak Mas, aku sudah jujur pada mu tapi kau malah tak percaya."
"Bukan tak percaya, aku sangat bahagia kau mengatakannya pada ku. Sudah lama aku menunggu jawaban dari mu Atika. Akhirnya kau mulai membuka suara."
Reihan mencium bau sesuatu, lalu ia melirik Nathan yang berada di gendongannya.
"Atika! Natha pup, tolong ambil dari tanganku. Aku gak kuat dengan baunya."
Atika tertawa melihat reaksi Reihan yang berlari ke toilet, ia tak kuat dengan bau yang di keluarkan Nathan.
"Sayang kamu pup ya, lihat om mu menghindar begitu saja. Katanya ia ingin menjadi ayah mu tapi baru begini saja dia sudah menghindar haha," Atika tertawa geli melihat Reihan yang keluar dari kamar mandi dengan wajah merahnya.
"Atika! maafkan aku, apa kau sudah membersihkannya."
"Belum Mas,"
"Cepat bersihkan, bawa sana!"
"Kamu ini gimana sih Mas, katanya ingin jadi ayah Nathan tapi begini saja sudah menghindar," ucapnya dengan bibir cemberut.
"Bukan seperti itu Atika, aku hanya tak suka dengan pup nya Nathan, tapi aku sangat menyayanginya."
"Hehe aku becanda Mas, sebentar aku akan membersihkannya."
Barulah Reihan bisa bernafas lega setelah Atika membawa Nathan menjauh darinya.
***
Intan baru sadar dari pingsannya, ia semalam pingsan sampai pagi dan ia baru menyadari bahwa dirinya tidak berbusana.
"Ya tuhan apa yang sudah aku lakukan," Intan baru ingat bahwa dirinya sudah menikah dengan pria yang dijodohkan oleh ibunya.
"Kenapa aku bisa lupa bahwa aku sudah menikah, aw ini sangat sakit sekali." Intan kembali menangis mengingat perlakuan Rendi semalam.
"Sakit sekali,"
Tak lama kemudian Rendi masuk, lalu ia menjambak rambut Intan dengan kasar.
"Berani sekali kau bangun siang, istri macam apa diri mu hah."
"Maaf, tolong lepaskan tangan mu. Ini sangat sakit sekali."
"Diam kau sialan! semalam kau berani menghindar dari ku, dan bagi ini kau berani tidur tanpa menyiapkan keperluan ku. Sebenarnya kau istri macam apa hah."
"Sakit! tolong lepaskan tanganmu."
Dengan kasar Rendi melepaskan tangannya, ia sangat membenci Intan karena ia di paksa menikahinya oleh pak Hartono sehingga ia sangat membencinya.
"Pagi ini aku akan memberi mu ampun, tapi tidak untuk malam ini. Kau harus memuaskan hasrat ku. Ingat itu!"
Rendi pun pergi meninggalkan Intan yang masih menangis di atas tempat tidurnya.
'Apa salahku tuhan, kenapa aku harus menjalani kehidupan seperti ini hiks hiks aku sudah tak tahan menerima pernikahan ini'
Ibunya yang membuat ia harus menikah dengan pria asing bahkan Aris sebagai kakaknya yang mengkhianati Atika, tapi entah kenapa malah Intan yang merasakan karma nya atas keegoisan ibu dan kakaknya.
Intan bangkit dari tidurnya lalu ia berjalan ke arah kamar mandi dengan perlahan karena ia merasakan sakit di area bawah atas perlakuan suaminya.
Setelah selesai dengan rutinitasnya barulah intan turun kebawah untuk sarapan pagi, disana sudah ada Bu Mirna yang sedang menunggunya.
"Pengantin baru kesiangan," ujarnya dengan tersenyum.
"Intan apa kau berhasil membuatkan ibu cucu,"
"Apa maksud ibu?"
"Aduh kau ini pura pura bodoh atau gimana masa gak tahu cara membuatkan ibu cucu. Ingat ya Intan kau harus segera mengandung jangan seperti kakak ipar mu itu si Nadia."
Intan tak menanggapi ucapan ibunya, ia sangat malas jika harus berdebat dengan ibunya. Ia juga tak bisa memberitahukan perlakuan suaminya pada dia karena Rendi telah mengancamnya untuk tutup mulut.
***
"Atika kau sudah siap? bi Asrin sudah datang."
"Sebentar Mas,"
Setelah selesai memoles wajahnya lalu Atika keluar dari kamarnya.
'Cantik'
"Ayo Mas, aku sudah selesai."
Mereka berdua pun pergi kekantor bersama sama, semua karyawan yang bekerja di kantor Reihan memperhatikan perhatian Reihan pada sekretarisnya membuat semua orang iri padanya.
"Mas tolong jangan begini, aku malu tau."
"Biarkan saja mereka melihat kita, lagian kita akan menikah sebentar lagi."
"Tapi jangan seperti ini juga dong Mas,"
Reihan pun melepaskan tangannya, ia mengerti apa yang di maksud Atika.
"Kau sudah siap siang ini kita akan bertemu klien,"
"Sudah Mas, aku sudah mempersiapkan diri dari semalam."
"Baiklah, aku suka kerja sama mu sayang."
"Mas tolong jangan panggil aku seperti itu disini, Mas bisa memanggilku dirumah saja. Aku tak mau orang lain tahu."
"Iya iya dasar cerewet."
Reihan dan atika memasuki ruangan meeting bertemu dengan klien. Atika mengikutinya dari belakang ia sengaja tak berjalan sejajar dengan Reihan karena Atika takut ada orang yang menggosip hubungan mereka berdua.
Semua klien sudah berada disana, termasuk Aris mantan suaminya.
Aris tak melepas tatapannya dari Atika, ia tak menyangka Atika bisa secerdas itu menjadi sekertaris karena setahu dia Atika tak pernah bekerja di kantoran.
Aris juga sangat terpesona dengan kecantikan Atika yang sekarang.
"Lihat lah sedari tadi suami mu menatap dirimu." Reihan mulai cemburu dengan tatapan Aris pada calon istrinya.
"Biarkan saja Mas, aku tak peduli." Bisiknya.
"Awas saja kalau kau menatapnya balik, aku akan mencongkel mata mu."
"Kamu ini ada ada aja Mas hemmm,"
Meeting telah selesai, hanya tinggal Aris yang masih duduk disana. Aris tak menyadari klien nya suda pulang, ia malah duduk santai menatap Atika membuat Atika tidak enak dengan tatapannya.
"Maaf pak Aris, meeting telah selesai."
"Ah iya maaf, saya terlalu betah berdiam diri disini. Kalau begitu saya permisi untuk pamit."
"Silahkan pak Aris, pintu terbuka lebar." Kata Reihan yang membuat Atika tercengang mendengar kata kata halus untuk mengusir Aris.