Titik balik kehidupan Biandra berada pada saat ia mengalami kehilangan. Semua arus hidupnya diputar paksa dengan skala 180 derajat. Nominal yang akan ditujunya bukan lagi sebuah kilasan anak abg yang galau akan patah hati, lebih dari semua itu dia harus mengalami fase mengenal yang namanya gila. Gila yang benar-benar gila. Harafiahnya ia harus gila. Disisi lain misteri terkuatnya keadaan suatu kondisi rumah sakit kejiwaan yang ternyata memiliki biaya menginap yang lebih fantastis dari hotel berbintang ditemani dengan seorang dokter yang memiliki vitalitas yang terlalu dominan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amaterasu yuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sel 20
Levin tengah sibuk mengurus berkas koasnya, karena keterlambatan mendaftar dan untungya ia masih bisa diterima untuk pendaftaran koas pada periode tahun ini. Sistem pendidikan kedokteran memang berbeda dengan sistem kuliah pada umumnya. Mahasiswa kedokteran dituntut dalam sistem blok/paket. Jadi struktur kelulusannya secara utuh meluluskan mahasiswa setingkatan dengan periode koas menurut jadwal kelulusan. Jadi jika Levin tidak mengambil periode koas tahun ini maka dia harus menunggu untuk tahun selanjutnya.
Deddy menepuk bahunya. "ikut juga lo bro?" Levin tidak menanggapi
"Makin sombong aja lu, gue berasa ngomong ama tembok" Deddy masih berkelakar dan Levin hanya mengangkat bahu memberitahu dirinya tidak ingin diganggu kalau temannya tidak mengerti itu bukan urusannya.
Deddy ternyata tidak mengerti dengan sikap penolakan Levin. pemuda itu masih saja berkelakar begini begitu. Apapun ucapan dari pria itu tidak Levin dengarkan. Bahkan Levin menganggap ia sendirian dilorong menuju ruangan bagian kemahasiswaan kampusnya.
Tepat ketika Levin membuka pintu ruang kemahasiswaan, ia merasa bahunya ditabrak dari samping. Sang penabrak sepertinya tidak memiliki tenaga sehingga berakhir diatas lantai.
Levin menatap kearah penabraknya. Gadis munggil dengan rambut dikepang tak lupa kacamata minions melengkapi semua penampilan wajah sang gadis memakai kemeja dan rok kebesaran. Sekilas hanya itu yang dapat dinilai Levin.
"So-rry" ucap gadis itu ketika Levin ingin mengabaikan kejadian barusan, mau-mau dia menoleh dan hanya memberikan senyuman hangat. Khas Levin sekali. Tidak pedulian.
Sang gadis menatap Levin dengan gejolak aneh yang baru dirasanya. Ia tidak menyangka dipagi menjelang siang ini ia memiliki takdir untuk bertabrakan dengan seorang dewa. Bahkan lelaki yang ditabraknya tadi bisa saja memang salah satu makhluk dari kahyangan. Ah tidak bahkan lelaki tadi melebihii segala fantasi tentang makhluk kayangan yang ada dikepalanya.
Deddy menatap kearah gadis yang masih terduduk dilantai.
"Anda bisa bangun nona?" ujar Deddy seketika itulah kesadaran si gadis kembali. Ia malu. Karena sepertinya 'takdir' ini membuat ia menjadi pusat perhatian yang sebelumnya tak pernah didapatkannya. Ia berharap takdir masih mau membuat jalannya dengan jalan si dewa tadi bersisian.
***
dokter Rayhan terlihat berbeda dari biasanya. Biandra menatap heran kearah dokter itu.
"Dokter mau kemana" kekepoan menyerang Biandra, ya darah indonesia yang mengalir didalam tubuhnya tidak bisa mencegah jiwa keingintahuan Biandra pergi begitu saja.
Dokter Rayhan menatap kearah Biandra, "Aku ada acara dengan teman-temanku. Ah sebaiknya kau tidak usah memasak lebih untuk malam ini. kemungkinan aku tidak akan pulang" Biandra mengangguk jiwa keingintahuannya menguap begitu saja ketika dokter Rayhan mengeluarkan kalimat yang mencegah percakapan terjadi, dokter itu hanya menyinggung status babunya. Lagi dan lagi.
Bunyi pintu tertutup, menunjukkan dokter Rayhan telah pergi. Tapi mata Biandra memicing ketika menemukan kunci mobil dokter tertinggal. Ia seperti menemukan harta karun. Biandra langsung membawa kunci tersebut dan bergegas muncul menemui dokter Rayhan.
Baru saja lift yang mengantarnya turun ke basement. Ia malah dibuat terkejut melihat penampakan dokter Rayhan dan motor besarnya. Sensualitas lelaki itu makin menguar. Tepat ketika dokter Rayhan menstarter motor besarnya. Disana ia melihat Biandra.
Biandra bergerak perlahan kearah dokter Rayhan ketika ditangkap kerutan bingung dari majikannya.
"Anu, aku kira dokter melupakan kunci mobil dokter. Jadi aku berniat menyusul untuk memberikannya"
Dokter Rayhan mengangguk. Lalu menawarkan senyum pesonanya "kau bisa kembali Biandra" hanya itu yang dikatakan dokter Rayhan. Tidak ada pembahasan lagi. Apalagi Biandra! Cepat gerakan kakikmu darisini. Dokter ini benar-benar tidak ingin melihatmu terlalu lama.
"baik-lah sa-" belum selesai Biandra menjawab dokter Rayhan menambahkan.
"Atau kau mau ikut dengan aku"
Berlian bertaburan. Biandra mengangguk terlalu cepat dan bersemangat mengundang kekehan dari sang dokter.
"Baiklah. Tapi sepertinya kau tidak akan bertahan lima menit jika keluar dengan penampilan seperti itu kan" Biandra melihat kearah pakaiannya. shit! Tentu saja ia akan salah kostum jika ingin duduk dibelakang motor besar ini.
Biandra dengan cepat menjauh dari dokter Rayhan setengah berharap ia tidak akan membuat dokter Rayhan menunggu. Ada apa dengannya? Kenapa ia menyukai berada disekitar sang dokter. Ini jelass-jelas bukan seperti dirinya yang biasanya. Tapi dari itu semua ini terasa menyenangkan.
Berada dekat dengan dokter Rayhan seperti membuat ia merasa telah 'pulang'. Dan aroma dokter itu terlalu memenuhi segenap penyimpanan indera penciumannya. Berhenti memikirkan hal itu Biandra. Kau masih memiliki masalah yang harus kau urus, jika tidak ingin seseorang terkena imbasnya berhenti mengharapkan seseorang.
Kau tidak akan tahu seberapa besar pengaruh seseorang terhadapmu nantinya yang akan ikut mengerogoti dirimu sendiri dan membuatmu tersiksa jika kau tidak dapat menanganinya dengan benar. Dan itulah yang ditakutkan oleh Biandra. Dia terlalu membuat tembok yang tinggi, dan seharusnya dokter Rayhan juga termasuk didalamnya. Tapi entah apa ini aneh! Seperti sesuatu berjalan tanpa seharusnya.
Fokus Biandra! Saat ini lelaki yang kau pikirkan itu tengah menunggumu. Biandra bergegas. Ia meraih baju putih dengan lengan mengantung celana denim dan juga jaket. Ingat mereka berkendara, angin mungkin saja tidak bersahabat.
Biandra memusatkan perhatian kearah wajahnya. Sialan! Kenapa wajahnya sangat lecek. Kemana saja aku selama ini? kenapa dengan diriku ini apa aku terlalu lama menjadi 'gila'?
Oke dia mengambil foundation untuk menyerbu menutupi apapun diwajahnya yang memang sudah cantik, memoleskan warna senada dengan warna bibir. Biandra suka mencoret bagian itu! daan juga ramput yang diikat dua!
Apa aku terlihat girly? Apa ini aneh!.
Sesuatu menyentak Biandra. Nada dering ponselnya terdengar dan jelas id caller dokter Rayhan.
"apa aku harus menunggu putri lebih lama" dari suaranya sepertinya dokter Rayhan berniat membatalkan jika Biandra membuat dokter Rayhan menunggu lebih lama.
"Eumm, tidak! Aku perlu ... eum aku akan kesana sekarang"
"Bagus! Itu menyenangkan untuk melihatmu berada secepatnya disini" Biandra tahu seharusnya ia tidak boleh terbuai dengan kata-kata yang dilontarkan oleh dokter Rayhan dengan nada datar itu. tapi sesuatu didalam hatinya bangkit begitu saja tanpa menunggu seseorang untung memasang kunci dan membukanya.
Biandra berhasil berlari dari lift kearah dokter Rayhan, wanita itu menarik nafas perlahan tubuhnya masih membungkuk ketika berada didekat motor besar.
"Kau terlihat kurang sehat?" ucap dokter Rayhan, Biandra tidak tahu saat ini dokter Rayhan tengah menyindirnya atau mencemaskannya. Suara lelaki itu datar begitu juga dengan wajahnya. Kemana senyuman yang tadi sempat dilemparkan dokter itu kepadanya! Menyebalkan!.
"Tidak – aku baik-baik saja"
"Bagus! Dan ini pakailah. Kau butuh ini untuk melindungi kepalamu. Karena aku tidak yakin untuk membuatmu mendapati perjalanan nyaman" dokter Rayhan berkata sambil melirik arlojinya dan itu jelas menyindir Biandra karena membuat lelaki itu menunggu.
Biandra naik ke motor dengan posisi dibelakang dokter Rayhan, sejenak merasa ragu mencari pegangan dokter Rayhan melirik dari kaca spion motornya "Kamu bisa memeluk pinggangku jika kamu bersedia. Aku tidak keberatan" Biandra mengangguk ragu perlahan tangannya melingkar diarea pinggang sang dokter.
Aroma pria ya ng sebelumnya tercium samar kini semakin tajam mengingat arah penunjuk berada pada 130 KM/H. membuat Biandra tak sanggup menahan tolakan angin yang berlawanan arah dengannya ia merebahkan kepala pada punggung dokter Rayhan. Punggung yang memiliki magnet untuk menarik kepalanya untuk bersandar. Dasar punggung peluk-able! Bathin Biandra.
Biandra terlalu nyaman sehingga tidak menyadari bagaimana dokter Rayhan menggila membelah jalanan ibukota layaknya sirkuit, meliuk menghindari kendaraan yang lain, mendapat makian bahkan hampir menyerempet pedagang asongan. Namun lagi-lagi Biandra tidak ambil pusing alias buta dengan sekitarnya. Dokter Rayhan melirik kearah kaca spionnya ia hanya bisa mengukir senyum diwajahnya melihat ketidakpedulian wanita dibelakangnya.
Biasanya ia selalu mendengar jeritan, teriakan bahkan cubitan disekitar pinggang dari bermacam wanita yang ia ajak duduk dibelakang motor kesayangannya. Tetapi wanita ini yah dia memang berbeda. Dokter Rayhan kembali menambahkan kecepatan berkendaranya berharap wanita yang duduk dibelakangnya melakukan sesuatu. Tapi nihil, mungkin walaupun penunjuk arah kecepatan tak berfungsi lagi. Wanita dibelakangnya akan tetap seperti patung. Memeluk dengan tidak erat dan bersandar.
lanjutkan
wkwkw