Dalam keheningan Zahra hanya bisa menangis karena ia harus menikah dengan orang yang tidak pernah ia cintai.
Menjalalin hubungan bertahun-tahun dengan Danis nyatanya harus kandas karena perbedaan agama.
Zahra yang hatinya terlanjur dipenuhi dengan Danis, ia tidak bisa mencintai Azka~ Suami Zahra dari hasil perjodohan orang tuanya.
Bagaimana akhir dari kisah cinta Zahra? Apakah dia akan kembali pada Danis? Atau hatinya akan berbalik karena kesholehan suaminya tersebut?
Simak terus yuk kisah mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tufa_hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pertama
Arofah kini membereskan barang-barangnya. Wanita itu terus mengatur nafasnya yang terasa sesak dan terus mencoba tersenyum meskipun sulit.
"Kamu lagi apa, Nak?" tanya Nyai Fatimah yang tiba-tiba muncul dari arah pintu kamar gadis tersebut.
Seketika Arofah menghentikan kegiatannya dan menoleh seraya menatap Nyai Fatimah dengan senyum yang mengembang.
Wanita paruh baya itu melangkah mendekati Arofah, lalu duduk di sisi tempat tidur sambil menarik pergelangan tangan Arofah hingga keduanya duduk dengan saling bertatapan lembut.
"Ada apa, Mi?" tanya Arofah tersenyum
"Sepertinya Ummi ingin mengatakan sesuatu?" tanya Arofah menatap Nyai Fatimah dengan senyum lembutnya.
"Kamu yakin akan kembali besok ke Mesir?" tanya Nyai Fatimah seraya menatap putrinya lekat.
Arofah tersenyum, lalu ia menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Mi! Arofah akan kembali ke Mesir besok," ucap Arofah tersenyum.
Nyai Fatimah pun menghela nafasnya karena ia dapat menebak alasan mengapa putrinya ingin kembali mendadak.
"Bukankah kamu akan kembali satu minggu lagi, Nak? Kenapa sekarang kamu seperti terlihat buru-buru? Apakah sama sekali tidak ada kerinduan di hatimu untuk Aba dan Ummi?" tanya Nyai Fatimah dengan wajah sendu dan seketika air mata Nyai Fatimah menetes karena tidak bisa melihat kesedihan di mata putrinya.
Arofah menundukkan kepalanya, lalu air matanya menetes satu persatu hingga membuat Nyai Fatimah seketika memeluk putrinya erat.
"Maafkan Ummy, Nak!" ucap Nyai Fatimah dengan perasaan bersalah.
"Kenapa Ummy minta maaf?" tanya Arofah sambil menangis dalam pelukan Nyai Fatimah.
"Sebenarnya Aba dan Ummi mengetahui tentang perasaanmu pada Azka, tapi Aba dan Ummi tidak bisa mencegah perjodohan itu, karena baik Azka maupun Zahra tidak ada yang menolak perjodohan itu."
Deg
Zahra terkejut mendengar ucapan Nyai Fatimah. "Jadi Aba dan Ummy mengetahui perasaanku pada Azka?" batin Arofah.
Arofah tetap diam tanpa berniat ingin menyelanya untuk mendengarkan apa yang akan Nyai Fatimah katakan selanjutnya pada gadis itu.
"Kamu dan Zahra sama-sama putri Ummy, Nak! Dan Ummy menyayangi kalian sama besarnya. Aba dan Ummy tidak pernah membeda-bedakan kasih sayang untuk kalian,"
"Akan terjadi, Aba dan Ummy sudah menyetujui permintaan Malik dan Kulsum bahwa kami akan menyerahkan tanggung jawab Zahra seutuhnya pada mereka, dan kami tidak akan mencampuri apapun tentang Zahra selama itu demi kebaikannya," ucap Nyai Fatimah dengan air mata yang terus menetes karena tidak bisa membendungnya.
"Ummy juga bisa melihat di antara mereka berdua tidak ada cinta, tapi mungkin itu demi kebaikan Zahra agar dia tidak berhubungan dengan orang non-muslim," ucap Nyai Fatimah seraya menghapus air matanya.
"Maksud Ummy?" tanya Arofah bingung.
Arofah juga menghapus air matanya, lalu menatap Nyai Fatimah dengan wajah seriusnya. Gadis itu tidak pernah mengetahui bahwa saudara kembarnya tersebut pernah terikat dalam hubungan beda agama.
"Apakah Zahra mencintai seseorang dari agama lain?" tanya Arofah memperjelas.
Kulsum menganggukkan kepalanya dengan wajah sendunya. "Iya, Nak! Zahra berhubungan dengan pria yang ber Agama Kristen," jawab Nyai Fatimah.
"Malik dan Kulsum sudah melarangnya, tapi Zahra malah nekat, ia memilih tinggal sendiri di apartemen dengan alasan ingin menjadi wanita mandiri," ucap Nyai Fatimah.
"Sebab itu Malik menjodohkan Zahra dengan Azka, karena Malik yakin Azka bisa mengubah Zahra untuk menjadi seseorang yang lebih baik lagi," ucap Nyai Fatimah.
Nyai Fatimah menghapus air matanya yang terus menetes, lalu membelai rambut sang putri lembut.
"Sayang ... boleh Ummi memberimu nasehat?" tanya Nyai Fatimah seraya menatap putrinya lekat. Wanita paruh baya itu mengambil tangan putrinya dan menatap Arofah penuh harap.
"Kenapa tidak Ummi? Arofah selalu butuh nasehat dari Ummi. Arofah yakin nasehat Ummy adalah demi kebaikan untuk Arofah," jawab Arofah tersenyum.
Nyai Fatimah menatap putrinya lekat tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari gadis tersebut.
"Kamu boleh saja punya perasaan cinta pada siapapun, Nak! Tapi Ummi mohon ... , jangan sampai cintamu itu tumbuh melebihi cintamu pada Allah," ucap Nyai Fatimah.
"Jika kamu mencintai Allah melebihi apapun, maka ke ikhlaskan akan mudah kamu raih, Nak!" ucap Nyai Fatimah tersenyum.
Seketika Arofah menundukkan kepalanya kembali, air matanya pun jatuh menetes lebih deras karena ia mengerti dengan maksud ucapan Nyai Fatimah.
"Apakah artinya aku lebih mencintai Azka, Mi? Makanya aku merasakan sakit sampai seperti ini?" tanya Arofah seraya mengangkat kepala dan menatap Nyai Fatimah dengan air mata yang berderai.
"Bukan seperti itu, Sayang." Nyai Fatimah menghela nafas sambil menggenggam tangan Arofah erat.
"Tentang apa yang kamu rasakan, itu semua kamu sendiri yang lebih tau," ucap Nyai Fatimah tersenyum.
"Ummi hanya ingin mengingatkan Arofah saja, bahwa apapun dia dunia ini adalah milik-Nya dan akan kembali pada-Nya," ucap Nyai Fatimah lembut.
Zahra pun memeluk tubuh Wanita paruh baya itu kembali dengan perasaan yang tidak menentu.
"Baiklah, Ummi. Arofah tidak akan kembali besok. Arofah akan tetap kembali Minggu depan," ucap Arofah tersenyum.
"Arofah akan buktikan pada Ummi, bahwa Arofah bisa menjadi orang ikhlas dan bisa mencintai Allah melebihi makhluk ciptaan-Nya," ucap Arofah.
Seketika Nyai Fatimah merasa lega, karena akhirnya ia bisa membujuk sang putri agar kesedihannya tidak berlarut-larut.
"Terima kasih, Nak! Apapun yang terjadi, jangan pernah berburuk sangka pada Allah, yakinlah bahwa Allah selalu ada bersamamu, dan apa yang Allah berikan mungkin itu adalah sesuatu yang terbaik untukmu, Nak!" ucap Nyai Fatimah tersenyum seraya mengangkat tangannya dan membelai pipi sang putri.
"Iya, Ummi. Terima kasih karena Ummi telah membuat Arofah sadar dari kesalahan Arofah." Gadis itu tersenyum penuh ketulusan.
"Iya, Nak. Sekarang istirahatlah! Jangan pikirkan apa yang membuatmu sakit, jika sakit itu sulit untuk kau hilangkan, ambilah Wudhu dan shalatlah agar perasaanmu lebih tenang," ucap Nyai Fatimah.
Arofah pun menganggukkan kepalanya, sementara Nyai Fatimah beranjak, lalu membelai kepala gadis itu dan melangkah meninggalkan kamar putrinya tersebut.
Setelah Nyai Fatimah menutup pintu kamar Arofah, gadis itu menaruh kopernya kembali, lalu melangkah pergi menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
________
Sementara di tempat lain, Azka dan Zahra kini tidur di ranjang sama, dengan dibatasi guling ditengah-tengah mereka berdua.
"Zaujaty, apa kamu sudah tidur?" tanya Azka dengan posisi tidur terlentang sambil menatap langit-langit kamar.
"Sudah Zaujy, tapi belum terlelap saja," jawab Zahra santai. Wanita itu juga tidur terlentang dengan mata yang terpejam.
"Ya iyalah kamu belum terlelap, kalau terlelap mana mungkin kamu bisa jawab?" ucap Azka tersenyum.
"Kenapa tidak mungkin? Mungkin saja aku jawab, tapi lebih tepatnya bisa dibilang ngigau," jawab Zahra dengan mata yang masih terpejam.
"Zaujaty ... !" panggil Azka lembut.
"Apa sih Zaujy? Aku mau tidur, apa kamu nggak ngantuk dari tadi ngajak ngobrol terus?" ucap Zahra dengan posisi yang masih sama.
Azka menoleh ke samping dan menatap sang istri yang masih tidur terlentang, dengan selimut sebatas dada serta mata yang masih terpejam.
"Ya sudah, kamu tidur saja! Tapi boleh ya, aku memelukmu?" ucap Azka dengan senyum lembutnya.
"Kenapa? Apa sekarang kamu lagi mengingat Arofah?" tanya Zahra tanpa berniat ingin membuka matanya.
Deg
Azka terkejut mendengar pernyataan sang istri. "Apa kamu tau sesuatu tentang Aku dan Arofah? Tapi kenapa kamu diam saja?" tanya Azka dengan keing yang mengerut, ia terus menatap Zahra yang masih betah memejamkan matanya.
Zahra mengehela nafas, namun ia masih tetap tidak membuka matanya. "Maafkan aku, Zaujy! Tadi siang tanpa sengaja aku menyaksikan kalian di musholla, tapi apa yang bisa kulakukan selain pasrah? Aku sudah sah menjadi istrimu dan tidak mungkin juga aku langsung minta cerai saat acara resepsi pernikahan bahkan belum selesai," ucap Zahra dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Jika kamu sudah mengetahui tentang semua ini, apa suatu saat kamu akan minta cerai dariku?" tanya Azka dengan kening yang mengerut.
Zahra tersenyum. "Aku tidak akan pernah meminta cerai darimu tanpa alasan yang jelas, Zaujy. Karena Rasulullah bersabda:
“Siapa saja perempuan yang meminta (menuntut) cerai kepada suaminya tanpa alasan yang dibenarkan maka diharamkan bau surga atas perempuan tersebut.” (HR. Abu Dawud, Al-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Seketika Azka tersenyum mendengar ucapan Zahra, pria itu merasa tersentuh dari setiap jawaban dari pertanyaannya untuk istrinya tersebut.
Jawaban yang selalu membuatnya tenang dan damai dari setiap kata yang terlontar dari bibir sang istri. "Terima kasih, Zaujaty," ucap Azka tersenyum.
"Zaujy ... tidurlah! Aku sudah ngantuk," ucap Zahra yang membalikkan tubuhnya dengan posisi membelakangi pria itu.
"Baca doa dulu!" titah Azka tersenyum lembut.
"Sudah, aku baca dalam hati," jawab Zahra.
Azka pun memejamkan matanya dengan senyum yang mengembang. "Terima kasih, Ya Allah ..." batin Azka seraya balik badan dan ia pun juga memunggungi istrinya tersebut.
Sepasang suami istri itu kini tidur saling memunggungi dan terlelap tanpa melakukan apapun di malam pertamanya.
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...TBC...
alhamdulillah