Andi dan Intan adalah dua kakak beradik yang terlahir dari keluarga sederhana. Andi umur 5 tahun dan Intan adiknya umur 3 tahun. Bapaknya meninggal karena serangan jantung, sedangkan mamaknya menikah lagi dengan seorang pria duda.
Mereka (Andi dan Intan) harus berjuang sendiri tanpa kedua orang tua, hingga menjadi pengemis dan pengamen untuk bertahan hidup. Akan tetapi, Andi dan Intan berpisah karena suatu kecelakaan di sebuah lampu merah.
Bagaimana kisah selanjutnya tentang kedua kakak beradik ini? Ikuti kisahnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tampan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Tinggal Di Panti Asuhan
Selanjutnya..
Bunda Risma yang tengah menonton TV di ruang tamu tiba-tiba melihat Bunda Astri muncul dari dapur.
"Sudah makan Andi-nya, Bun?" tanya Bunda Risma.
"Sudah, Bun" jawab Bunda Astri.
"Iya, kasihan Andi. Ketika aku ke (menyebutkan alamat lampu merah) tadi, aku melihat Adiknya ditabrak orang dan dia menangis histeris. Orangtuanya juga sudah tiada," kata Bunda Risma.
"Ya Tuhan, sungguh kasihan Andi ya, Bun. Jadi, Adiknya dibawa kemana, Bun?" tanya Bunda Astri yang masih berdiri di depan Bunda Risma tetapi sedikit agak ke samping.
"Dibawa ambulance tetapi enggak tahu dibawa ke RS (Rumah Sakit) mana," jawab Bunda Risma.
"Sudah lihat kalungnya, kan?" tanya Bunda Risma kemudian. Bunda Astri hanya mengangguk.
"Ya sudah, jangan dibuka, biar saja dipakai," kata Bunda Risma.
"Iya, Bun. Aku ke kamar dulu ya, Bun" balas Bunda Astri, lalu meninggalkan Bunda Risma.
Andi yang sudah selesai makan datang sendiri ke ruang depan.
"Gantengnya anak Bunda, sini Nak!" kata Bunda Risma yang melihat Andi tiba-tiba. Andi pun datang menghampiri.
"Sudah makan, Nak?" tanya Bunda Risma kemudian setelah Andi berada disampingnya sambil memegang kepalanya. Andi hanya mengangguk.
"Sudah Bunda, bilang Nak!" Bunda Risma mengajari.
Andi tidak terbiasa memanggil Bunda, selama ini dia hanya terbiasa memanggil Mama dan itu pun kepada mamanya.
"Sudah, Bunda" jawab Andi dengan suara pelan seperti malu-malu.
"Abanggg...." panggil Indah tiba-tiba sambil berlari entah datang dari mana dan langsung memeluk Andi.
Bunda Risma pun tersenyum melihat tingkah Indah yang langsung akrab dengan Andi.
"Hmmm... anak-anak Bunda ini," kata Bunda Risma sambil merangkul Andi dan Indah.
"Ayo Nak! Istirahat dulu kamu, mungkin sudah capek nangis tadi dan sekalian Bunda tunjukkan kamar kamu," ajak Bunda Risma kemudian. Mereka pun beranjak dan melangkah menuju kamar tempat tidur Andi nantinya. Bunda Risma memegang sebelah tangan Andi dan Indah.
"Nahhh... ini kamar kamu," kata Bunda Risma kepada Andi setelah tiba di kamar. Kamar tersebut khusus untuk laki-laki seusia atau di atas/di bawah sedikit dari usia Andi.
"Nak, jangan sedih, ya. Kalianlah orang yang beruntung di dunia ini punya banyak Ibu. Bunda yang tinggal di sini dan yang tinggal di luar sana, Ibu kalian juga. Bapak yang tinggal di luar sana, Bapak kalian juga. Abang, Adik, Kakak yang tinggal di sini dan yang tinggal di luar sana, saudaramu juga. Jadi, jangan sedih ya Nak, ya" Bunda Risma menyemangati sambil memegang kepala Andi.
Bunda Risma selalu berkata seperti itu agar anak-anak di panti asuhan tidak merasa minder dan bersedih melihat anak-anak yang masih punya bapak, ibu, dan saudara.
"Iya, Bunda" jawab Andi.
"Ya sudah, istirahatlah Nak," kata Bunda Risma sambil tersenyum. Andi pun membaringkan badannya di atas tikar yang sudah terbentang sebelumnya.
"Ayo Nak! Jangan diganggu Abangnya," kata Bunda Risma kepada Indah, lalu menggendongnya dan melangkah meninggalkan Andi.
****
Setelah matahari kembali keperaduannya, tidak lama kemudian malam pun tiba. PRT di panti asuhan sudah terlihat sibuk mempersiapkan makan malam.
"Anak-anak, makannn... makannn...." pekik PRT.
Mendengar panggilan dari PRT, anak-anak mulai berdatangan menghampiri meja makan.
Dengan maksud mau mengajak makan, Bunda Astri tidak melihat Indah berada dikamarnya.
"Loh, kemana si Indah!" gumam Bunda Astri sedikit terkejut. Dia pun langsung mencarinya.
"Indahhh... Indahhh... di mana kamu, Nak?" panggil-panggil Bunda Astri.
Bunda Risma yang ingin membangunkan Andi bertemu dengan Bunda Astri.
"Ada apa, Bun?" tanya Bunda Risma.
"Indah tidak ada dikamarnya, Bun" jawab Bunda Astri dengan mimik wajah khawatir. Mereka pun sama-sama mencarinya.
"Indahhh... Indahhh...."
"Indahhh... di mana kamu, Nak?"
(Panggil-panggil Bunda Risma dan Bunda Astri)
Tiba di depan pintu kamar Andi yang terbuka, Bunda Risma sedikit terkejut karena melihat Indah bermain bersama Andi. Ternyata Indah di kamar Andi. Bunda Risma kemudian tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Tidak lama kemudian, Bunda Astri yang hampir tiba di depan pintu kamar Andi melihat Bunda Risma berdiri seperti senyum-senyum sendiri.
"Ada apa, Bun?" tanya Bunda Astri.
"Tuh, Indah bermain bersama Andi," jawab Bunda Risma. Bunda Astri pun melihat Andi dan Indah bermain bersama.
"Bundaaa...." panggil Indah yang tiba-tiba melihat Bunda Risma dan Bunda Astri sambil berlari menghampiri.
"Oh, ternyata kamu di sini ya gangguin Abang Andi-nya istirahat, hmmm...." kata Bunda Astri sambil memainkan bibirnya, lalu jongkok dan mencubit pipi Indah dengan gemas.
"Ayo Nak, kita makan," kata Bunda Risma kepada Andi. Mereka pun melangkah menuju meja makan.
Setibanya di meja makan, anak-anak yang jumlahnya sudah pas kemudian menyendok nasi ke piring masing-masing dengan tertib. Hal itu Andi sudah terbiasa. Dia duduk di samping Indah. Sedangkan Bunda Risma, Bunda Astri, dan Bunda Rita duduk selang-seling dengan anak-anak lainnya.
Sebelum makan harus lebih dulu berdoa dan selalu bergiliran, itu sudah peraturan di panti asuhan tersebut. Akan tetapi, Andi seperti merasa kebingungan harus membuat gaya tangan bagaimana.
Melihat Andi merasa kebingungan, Bunda Risma tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya.
"Bentar, bentar, benar! Kakak, Abang dan Adikmu yang seperti itu... kamu harus melipat tangan, Nak" kata Bunda Risma sambil memegang tangan Andi mengajari.
Setelah itu, Bunda Risma kembali ke tempat duduknya lalu menoleh dan mengangguk (seperti kode) kepada anak yang gilirannya memanjatkan doa. Doa pun dipanjatkan.
Begitu terucap kata amin, mereka pun menikmati makan malam bersama. Semuanya hening, tidak terdengar suara selain suara sendok yang bersentuhan dengan piring dan kunyahan dari mulut.
Beberapa menit kemudian, makan malam pun usai. Anak-anak kembali ke ruang depan. Karena malam Minggu, ada yang menonton, bermain, dan belajar.
Andi yang tertinggal dari para abang dan kakaknya, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamar.
"Aku ikut, Bang!" kata Indah tiba-tiba sambil beranjak dari tempat duduknya dan berlari menghampiri Andi.
Andi pun menunggu, lalu memegang sebelah tangan Indah dan melanjutkan langkahnya. Sehingga yang tertinggal di meja makan hanya Bunda Risma, Bunda Astri dan Bunda Rita.
Bunda Risma menoleh kepada Andi dan Indah, kemudian memalingkan pandangannya kepada Bunda Astri dan Bunda Rita.
"Indah kok langsung kompak ya kepada Andi? Tidak biasanya," tanya Bunda Astri.
"Emang bagaimana ceritanya, Ris? Kok bisa kamu bawa Andi kemari," tanya Bunda Rita kepada Bunda Risma.
"Bapaknya sudah meninggal dan Mamanya tidak pulang, tidak tahu tidak pulang dari mana atau tidak pulang kenapa, Bun. Jadi, dia dan Adiknya menjadi pengemis di lampu merah (menyebut alamat lampu merah). Sudah itu, Adiknya ditabrak orang di lampu merah tersebut ketika aku ke sana tadi pagi," jawab Bunda Risma.
"Terus, Adiknya bagaimana?" tanya Bunda Rita.
"Dibawa ambulance, tetapi tidak tahu dibawa ke RS mana, Bun" jawab Bunda Risma.
"Kasihan Andi ya, Ris" kata Bunda Rita.
"Itulah, Bun" balas Bunda Risma.
**
Pina yang ingin ke dapur tidak sengaja mendengar percakapan para bundanya.
"Ya Tuhan, aku sudah bersikap angkuh kepada Adikku Andi. Maafkanlah hamba, Tuhan" batin Pina setelah mendengar cerita tentang Andi.
**
"Ayo Bun, kita ke ruang depan aja," Bunda Risma mengajak Bunda Astri dan Bunda Rita. Mereka pun beranjak dan melangkah menuju ruang depan.
Bunda Astri ke kamar Andi, sedangkan Bunda Risma dan Bunda Rita di ruang tamu.
Sesampainya, Bunda Astri melihat Indah bermain bersama Andi.
"Indah, ayo kekamarmu, Nak" ajak Bunda Astri.
"Enggak mau, aku masih sama Abang Andi," tolak Indah dengan manja.
"Ya sudah, kalau mau tidur pergi kekamarmu, ya" kata Bunda Astri.
"Iya, Bunda" jawab Indah sambil mengangguk. Bunda Astri kemudian meninggalkan mereka bermain bersama.
****
Malam pun mulai larut. Anak-anak berangsur masuk ke kamar mereka masing-masing untuk tidur.
Tidak berapa lama, panti asuhan terlihat sunyi senyap dan tidak ada lagi anak-anak yang bermain. Bunda Risma mengecek setiap kamar, apakan jumlah mereka sudah pas atau tidak. Tiba di kamar Andi, dia melihat Andi tidur bersama abang-abangnya, lalu menutup pintu kamar.
-----
Berbahagialah Bunda/Ibu yang merawat dan membesarkan anak, juga memberikan kasih sayang dengan tulus walaupun tidak darah dagingnya sendiri, begitu juga dengan Ibu kandung terhadap anaknya. Semoga Tuhan memberi rezeki yang berlimpah, kesehatan, dan panjang umur.
-----
BERSAMBUNG..
**Jangan lupa dukung Vote dan Like ya para READER. Terima kasih..**🙏🌹