Jatuh cinta memanglah hal yang membahagiakan. Tapi, jika jatuh cinta tanpa dicintai, apakah masih dikatakan hal yang membahagiakan?
Itulah yang dirasakan oleh seorang wanita yang bernama Mita Yuriko. Jatuh cinta kepada seorang dokter bedah nan tampan yang banyak disukai oleh wanita cantik, merupakan tantangan bagi dirinya.
Ia terus menunjukan rasa sukanya kepada pria itu, namun pria tersebut tak pernah menanggapinya. Sampai pada akhirnya sebuah insiden yang seharusnya tak terjadi kepada mereka berdua, membuat keduanya menjadi terikat. Dan membuat mereka menyandang sebagai suami istri yang dirahasiakan dari orang-orang sekitar.
Apakah Mita masih memperjuangkan rasa cintanya itu? Apakah ia memilih menyerah saat mengetahui jika pria itu masih belum menyukainya?
——————
Info dulu. Cerita ini kelanjutan dari 'Perjuangan Cinta Si Gadis Desa' jadi, jika kalian penasaran awalan cerita mereka bisa baca dulu karya Author yang itu✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wndanaomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 0020. Menunggunya
🍄🍄🍄
-
-
-
Dalam perjalanan, suasana didalam mobil itu nampak hening saja. Baik Mita maupun Miko hanya diam tak bersuara.
Miko, pria remaja itu sedikit melirik kakaknya dengan perasaan takut. Mulutnya terus bergerak ingin mengatakan sesuatu.
“Tentang masalah kemarin....”
Miko terhenyak saat mendengar suara kakaknya. Pria itu pun menoleh kembali kearah kakaknya.
“Kita bahas nanti ketika kakak pulang dari rumah sakit. Jadi kamu tunggu kakak pulang dulu,” ucap Mita.
“Iya kak...” jawab Miko, setelah itu mereka berdua kembali terdiam.
“Tapi kak, kenapa mamanya kak Dafa kayak gitu ya tadi?” tanya Miko yang sejak tadi terus penasaran.
“Sudah, tidak usah kamu pikirkan. Biarkan aja masalah itu.”
Miko tak lagi bertanya, karena tau jika kakaknya tak ingin bercerita masalah itu. Ia akan bertanya lagi jika kakaknya sudah meredakan amarahnya. Dirinya tau jika isi kepala kakaknya itu sedang tak baik-baik saja, apalagi dengan masalah kemarin yang belum dituntaskan.
Miko jadi merasa bersalah sendiri, sebab dirinya menambah beban pikiran kakaknya itu, dengan dirinya yang kabur dari rumah dan menginap dirumah sahabat kakaknya.
°°°°°
Hampir lima kali Fadli bolak-balik menuju ruangan Mita. Sejak tadi, pria berjas putih itu mencari keberadaan wanita itu. Ingin sekali menelponnya, tapi ia masih punya malu. Apalagi dengan dirinya yang kemarin datang ke rumah wanita itu tanpa memberi tahu.
“Apa dokter Mita tidak datang lagi ke rumah sakit? Katanya hanya izin sebentar, tapi ini sudah jam 12...” gumam Fadli sambil melirik jam dipergelagan tangannya.
“Loh, dokter Fadli. Gak makan siang?” tanya salah satu rekan kerja pria itu.
Fadli menoleh, lantas tersenyum. “Iya, ini mau makan siang.”
“Tapi kok, dari tadi terus mondar-mandir didepan ruangannya dokter Mita? Dokter Fadli ada urusan sama dokter Mita?” tanyanya lagi, yang juga merupakan seorang dokter seperti Fadli.
Salah satu dokter lain disana pun ikut nibrung. “Mungkin dokter Fadli pengen Pdkt-an sama dokter Mita kali ya?” ucapnya, terselip nada menggoda.
Fadli tersenyum saja mendengarnya. “Ngak kok... saya disini emang lagi cari dokter Mita, ada yang ingin saya bicarakan kepadanya. Tapi sepertinya dokter Mita tak ada dirumah sakit,”
“Hemm, mungkin ada urusan kali. Lebih baik kita ke kantin aja. Siapa tau gak sengaja ketemu dokter Mita disana?”
“Ah bener, yuk kita ke kantin.” Ucap dokter tersebut, yang kemudian dianguki kepala oleh Fadli.
Sesampainya dikatin khusus untuk staf atau para dokter disana. Mereka ber-empat termasuk Fadli pun mulai menyatap makanannya, setelah makanan yang dipesan sudah datang.
Fadli mulai berbincang seputar pekerjaan kepada para rekan kerjanya, namun setelah beberapa menit fokus pada perbincangan itu. Mata Fadli tak sengaja menangkap sosok yang tengah ia cari sedari pagi, sosok itu berada diantara kerumunan para dokter wanita.
Ya, dialah Mita yang saat itu tengah berbincang-bincang bersama teman dokternya. Sama halnya seperti Fadli, wanita itu duduk dibangku tak jauh darinya dan mulai menyantap makanan yang dipesan.
Fadli terus memperhatikan gerak-gerik wanita itu, seolah tak ingin melepaskan pandangannya dari wanita itu. Dirinya ingin sekali menghampiri Mita, namun ia mencoba bersabar dan menahannya. Sebab, ia sekarang tengah dikeramaian. Tidak mungkin jika ia membicarakan soal itu ditempat umum. Ia akan berbicara jika Mita sudah keluar dari area kantin lebih dulu darinya.
“Dokter Fadli? Dokter Fadli?”
Salah satu teman Fadli memanggil, namun pria itu sepertinya tak menyadarinya. Sampai saat rekan kerjanya itu menepuk bahunya, barulah Fadli tersadar.
“Eh?”
“Dokter Fadli gak denger ya kita panggillin dari tadi?” celetuk salah satu diantara pria-pria disana, memandang Fadli dengan senyum mengejek.
“Ah, maaf... sepertinya tak sadar saya sedang melamun.”
“Ya, tidak apa-apa dokter Fadli, mungkin dokter Fadli sedang banyak pikiran sehingga melamun seperti itu.”
Untung saja para rekan kerjanya memaklumi sikap Fadli, hal itu membuat Fadli bernafas lega. Kemudian Fadli kembali mengarahkan pandangannya kearah Mita, yang pada saat itu masih menyantap makannya.
Entah Mita menyadari tatapan dari Fadli atau tidak, yang terpasti wanita itu nampak anteng-anteng saja.
Sampai 15 menit berlalu, ketika kantin hampir sepi. Fadli masih berada dibangkunya, padahal rekan kerjanya sudah lebih dulu meninggalkan kantin itu. Dan hanya tersisa dirinya saja disana.
Tentu saja ia melakukan itu karena sedang menunggu Mita agar keluar dari kantin. Sebenarnya ia bisa saja mengajak wanita itu keluar, tapi ia menghormati wanita itu dengan membiarkan Mita fokus berbincang dengan rekan kerjanya.
Dan pada saat Mita yang saat itu berdiri lebih dulu dari teman kerjanya, tubuh Fadli refleks tegak sendiri, dan terus mengamati Mita yang berjalan keluar dari area kantin itu.
Kemudian setelah melihat Mita benar-benar keluar dari kantin, barulah Fadli berdiri dari duduknya. Kemudian keluar dari sana dengan langkah yang dilebarkan.
Fadli menoleh kesana kemari, mencari keberadaan Mita. Namun sosok itu cepat sekali menghilang.
“Apa dokter Mita sedang diruangannya?” gumam Fadli, pria itu berniat mencari Mita diruangan wanita itu. Namun suara deheman membuat langkahnya terhenti.
“Ehem! Anda mencari saya dokter?”
Fadli menoleh kesamping, dan melihat sosok Mita yang berdiri menatap dirinya. Dan tak jauh darinya.
“Do-dokter Mit–”
Fadli terhenyak, belum juga menyelesaikan perkataannya. Tangannya saat itu sudah lebih dulu ditarik oleh Mita. Dan menarik dirinya entah dibawa kemana.
-
-
-
🍄🍄🍄
Jangan lupa selipkan komennnnnya.... dan votennyaa... biar author tambah semangat....
untung aja lo selamat dri rayuan si dikta bejat filda
yg lain juga dilanjut donk 😆😆😆
semangat author 💪💪💪