Juliana, si perfeksionis, sinis, ketus dan menjunjung tinggi nilai kehormatan seorang wanita, sementara Harsa adalah bentuk nyata dari kerusakan moral manusia yang ada diseluruh dunia, yeah, setidaknya dimata Juliana.
Mereka adalah musuh bebuyutan sejak jaman primitif hingga takdir membawa dua orang itu bekerja dalam satu divisi dan satu ruangan yang sama. Saling membalas umpatan, makian, dan pertengkaran hingga perdebatan sudah bukan lagi hal baru. Tapi siapa yang menyangka, rupanya kebencian mereka malah membawa mereka berdua terbangun suatu pagi di atas ranjang yang sama!
"Kau pasti menjebakku, kan? Kau sengaja mau mencoreng reputasiku sebagai wanita terhormat!" Tuding Juliana.
"Hei, aku mungkin bejat dimatamu, meski begitu aku mempunyai syarat dan ketentuan berlaku untuk wanita yang bermain denganku, dan kau tidak memenuhi semua persyaratan dan ketentuan yang ada." Harsa menyeringai.
Lalu, bagaimana bisa semua itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiky Mungil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Harsa.
Juliana dan Dimas duduk bersama di teras rumah, sambil menunggu kedatangan keluarga tantenya yang katanya sebentar lagi sampai. Hari masih siang ketika Dimas menyeruput es nutrisari dari gelasnya.
“Katakan saja apa yang mau kau katakan, Dim.” Ujar Juliana. Ia paham betul gelagat Dimas yang ingin sekali mengutaran pikirannya ketika Juliana memberitahukannya dua hari lalu bahwa ia dan Harsa akan menikah. Bukan hanya itu, Juliana pun dengan terang-terangan menceritakan semua kejadian yang sebenarnya pada Dimas dimulai ketika makan malam bersama tim di hari ulang tahun perusahaan. Hingga akhirnya keputusan sandiwara ini akan berlanjut pada sebuah pernikahan.
“Kakak yakin mau mendengarkan semua isi pikiranku?” tanya Dimas.
“Ya. Katakan saja.”
“Baiklah. Begini, Kakak dan Bang Harsa dijebak untuk terlihat seperti tidur bersama, tapi kenapa? Pasti ada alasannya bagi si peneror ini melakukannya. Kedua, orang ini pasti dekat dengan kalian, kenapa? Karena mereka tahu bagaimana kalian bermusuhan, dan membuat jebakan ini. Kalau aku melebarkan lagi sudut pandangku, bisa jadi mereka melakukan jebakan ini bukan untuk menjatuhkan martabat siapa-siapa, tapi untuk membuat permusuhan diantara kalian hilang. Ketiga, kalau memang peneror ini berniat ingin menjatuhkan nama baik seseorang, ia tidak akan membuang waktu untuk menunggu, ia pasti akan menyebarkan poto kalian sejak awal. Untuk apa menunggu selama ini?”
“Dan, inti pemikiranmu?”
“Mungkin… ini hanya mungkin ya, mungkin orang inii menjebak kalian karena terlalu bosan dengan permusuhan kalian, jadi ia menjebak kalian bukan untuk menjatuhkan kalian, tapi untuk membuat kalian akur, dan bersama. Ya, semacam menjodohkan kalian dengan cara yang antimainstream.”
“Apa?” Juliana tak percaya. “Mana ada orang yang bisa tega merencanakan hal seperti ini. Semua orang di kantor tahu bagaimana aku dan Harsa saling membenci. Membuat kami bersama hanya akan menyakiti kami.”
“Tapi siapa yang tahu, bahwa ternyata dengan cara seperti itu justru bisa perlahan membuka mata kalian. Misalnya, seperti Bang Harsa yang sudah lebih dulu membuka matanya untuk melihat Kakak bukan hanya sekadar rekan kerja atau musuh.”
“Kau terlalu banyak minum air es, Dim.” Juliana masih enggan membenarkan omongan Dimas, meskipun sebenarnya omongan Dimas ada benarnya.
***
Keesokkan harinya tante Mila yang hanya datang berdua dengan Om Seno sudah menunggu kedatangan dari keluarga pria yang akan melamar keponakannya itu. Ada perwakilan RT juga di sana, turut menunggu kedatangan calon suami Juliana. Sejak kedatangannya, tante Mila tidak telalu banyak memberikan komentar apa-apa, karena memangn hubungan mereka dengan Juliana dan Dimas tidak terlalu dekat.
Sebuah mini van mewah tak lama kemudian berhenti di depan rumah kontrakan yang ditempati Juliana dan Dimas selama ini. Juliana memicingkan mata. Ia seperti kenal plat mobil itu. Dibelakangnya berhenti mini van lainnya, tapi bukan mini van mewah seperti yang berhenti di depannya.
“Calon mu orang kaya?” Bisik Tante Mila.
Juliana hanya tersenyum saja. Sejujurnya Juliana juga tidak tahu apa-apa soal latar belakang Harsa.
Seseorang keluar dari pintu supir, pria berpakaian rapi dengan batik dan celana bahan, ia menunggu pintu penumpang bergerak bergeser terbuka.
Kehadiran mobil van itu rupanya cukup menyita perhatian para tetangga Juliana. Tak sedikit dari mereka yang berdiri di depan rumah masing-masing atau mengintip dari balik jendela untuk melihat siapa gerangan yang datang berkunjung ke rumah seorang perawan yang tinggal berdua dengan adiknya.
Harsa kemudian terlihat keluar dari dalam mobil van mewah itu. Juliana tidak memungkiri, penampilan urakan dan santai Harsa yang selama ini melekat pada diri pria itu kini lenyap tak bersisa seperti asap yang diterpa angin. Harsa datang dengan mengenakan kemeja batik berlengan panjang, celana bahan dan sepatu formal, rambutnya bahkan disisir rapi. Ia terlihat begitu sopan dan menawan secara bersamaan.
Kemudian disusul dengan seorang wanita yang sangat cantik, rambutnya digelung rapi, memakai dres sopan sepanjang betis. Mata Juliana membulat, melebar hingga rasanya ia akan segera membuat kedua bola matanya menggelinding ke luar.
Itu kan…
Belum usai dengan keterkejutannya, ia dikejutkan lagi dengan tiga orang lainnya yang keluar dari dalam mobil itu.
Beberapa pria yang juga berpakaian batik, keluar dari mobil van belakang, dengan tangan mereka yang membawa serta buah tangan berupa parcel-parcel mahal.
Mereka… tidak mungkin! Ini pasti lelucon!
Juliana bagaikan disiram air es yang sangat dingin hingga tubuh bahkan pipinya membeku untuk sekadar menyunggingkan senyuman.
“Selamat pagi.” Harsa menyapa semua orang yang kini tengah berdiri di teras rumah.
“Selamat pagi.” Sahut Mila dan Seno. Mereka menyambut jabatan tangan keluarga Harsa yang terlihat jelas bukan dari kalangan biasa saja seperti Juliana. “Mari silakan masuk.” Kata Mila.
Dimas sampai menyenggol Juliana agar tersadar dari apa pun yang merasuki kakaknya itu.
“Eh, eum, eh…” Ia tersenyum kikuk, menyalami keluarga Harsa dengan telapak tangannya yang dingin. Padahal keluarga Harsa datang dengan senyum ramah yang menghiasi wajah mereka. Tidak ada satu pun yang memandang rendah atau menatap tidak suka pada Juliana dan keluarganya.
Ketika semua keluarga masuk, Juliana menarik siku tangan Harsa, menahan sebentar pria itu diteras.
“Ada apa ini?” Bisik Juliana, sembari melihat pria-pria berpakaian batik yang menyerahkan buah tangan pada keluarga Juliana di dalam ruang tamu.
“Sebuah lamaran.” Jawab Harsa gamblang.
“Jangan main-main, Sa! Apa kah ini sebuah lelucon? Bagaimana bisa kau dan… dan pemilik perusahaan kita datang bersama? Pak Handan, Ibu Helsa, Kak Aleina dan suaminya, Kak Marvin? Are you kidding me?”
“No I’m not. Aku sudah katakan kalau aku akan datang dengan keluargaku, bukan? Ya sudah, here I am with whole my family, and all those guys.” Harsa mengedikkan bahu santai kemudian melenggang masuk meninggalkan Juliana di teras yang masih syok dengan apa yang terjadi di depan matanya.
***
Handan Raindeer berdeham, ia duduk tegak dan tegap, aura kepemimpinan melekat sempurna pada dirinya. Istrinya duduk dengan anggun, terkadang Juliana penasaran berapa usia istri dari Pak Handan, karena terlihat begitu muda, sama mudanya seperti Aleina.
“Kedatangan kami ke sini pastinya sudah diketahui oleh Nak Juliana dan keluarga, kami datang untuk melamar Nak Juiana untuk anak kami, Harsa Randira, anak bungsu kami. Benar begitu, kan, Sa?” tanya Handan pada Harsa yang disambut anggukan mantap dari kepala Harsa.
Meski begitu, Pak Handan terlihat begitu… membumi saat ini. Ia tidak seperti biasanya yang selalu bersetelan jas, hari ini, sama seperti pria yang lainnya, Pak Handan datang dengan mengenakan batik.
“Jadi bagaimana tanggapan Nak Juliana dan keluarga?” tanya Handan lagi.
Tante Mila berdeham, ia menegakkan punggungnya, ia tersenyum. Meski tidak seramah senyum keluarga Harsa, Juliana paham betul apa yang membuat tantenya tidak bisa langsung begitu saja menerima lamaran keluarga Harsa.
“Kami sudah tahu maksud dan tujuan keluarga Bapak datang ke kediaman kami, tapi saya selaku orang tua pengganti Juliana, boleh kah saya mengajukan beberapa pertanyaan pada Nak Harsa sebelum kita melanjutkan?”
“Tentu saja boleh, Tante.” Jawan Harsa sopan.
Oh, orang itu bisa juga sopan. Tapi bagaimana mungkin dia adalah anak bungsu Pak Handan? Bagaimana mungkin!
"Apakah kau sudah menikah atau sudah pernah menikah?" Pertanyaan Mila yang langsung pada intinya membuat Harsa terbatuk. Keluarganya langsung menatapnya tajam penuh kecurigaan.
“Saya pastikan pada Tante dan seluruh keluarga, saya belum dan belum pernah menikah.” Jawab Harsa.
“Lalu apakah kau ada teman-teman perempuan yang berpotensi sebagai pelakor?”
Pertanyaan Mila kali ini bukan hanya mengejutkan keluarga Harsa, tapi juga Juliana dan Dimas.
“Tante.” Tegur Juliana.
“Kenapa? Tante perlu tahu agar kau tidak-”
“Maaf, Pak Handan, saya rasa saya perlu bicara sebentar dengan Tante saya. Permisi.” Juliana bangkit, mengajak serta Tantenya untuk ikut dengannya ke dapur.
“Apa sih?” Mila menepis tangan Juliana dari lengannya.
“Tante kenapa harus tanya-tanya begitu ke Harsa di depan keluarganya?” tanya Juliana dengan suara rendah.
“Kenapa? Tante hanya memastikan kesalahan Ibumu tidak terjadi padamu juga.” Jawab Mila.
“Tapi Tante, mereka ini adalah keluarganya Harsa.”
“Lalu? Asal kau tahu, dulu ayahmu yang penipu itu juga datang bersama orang-orang yang dia bayar untuk mengaku sebagai keluarganya. Mereka menipu ibumu habis-habisan!”
“Tapi Tante, aku kenal dengan mereka semua.” Jawab Juliana dengan suara yang tetap rendah dan berharap tidak ada satu pun orang-orang di ruang tamu mendengar percakapan mereka.
Mila mendengkus. “Aku melakukan ini untuk kebaikanmu, kau tahu? Aku tidak mau kau dibutakan oleh cinta seperti Ibumu.”
“Ya, Tante, aku mengerti.” Juliana mengela napas, ia tidak sepenuhnya menyalahkan tantenya. Ia sangat mengerti.
Tante Mila akhirnya berlalu, meninggalkan dapur, meninggalkan Juliana dengan perasaannya yang bercampur. Bagaimana jika Tantenya tahu pernikahan ini tidak akan bertahan? Bagaimana jika Tantenya tahu jika pernikahan ini hanya sementara? Lalu bagaimana dengan keluarga Harsa? Pak Handan dan keluarganya pasti tidak akan
menerima jika pernikahan ini hanya sebuah sekenario.
“Jadi, apa kita bisa melanjutkan?” tanya Pak Handan kemudian, ketika Juliana kembali duduk di ruanng tamu bersama semua orang.
Juliana takut-takut melihat Mila yang ekspresinya cukup keras. Apakah tantenya akan mengijinkannya? Apakah keluarga Harsa tidak akan tersinggung? Apakah pernikahan mereka akan batal? Ya ampun, Juliana sungguh tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada hidupnya. Bagaimana mungkin kini ia merasa cemas dan khawatir lamaran Harsa akan ditolak oleh tantenya, seperti sepasang kekasih sungguhan yang tidak direstui.
Aku pasti sudah mulai kehilangan akal sehatku!
.
.
.
TBC~
btw jangan lupa mampir di karya gw yg berjudul Ayunda, gadis pelunas hutang 😘
Akhirnya Every Moment Of You sudah tamat. Terima kasih yang sudah sabar menunggu setiap bab nya update, karena jujur, kisah kali ini cukup menguras energi saya, banyak hal yang saya pertimbangkan untuk saya tulis atau tidak. Misalnya seperti apakah saya perlu menuliskan adegan yang bikin kipas-kipas? Sementara tujuan saya menulis kisah kali ini adalah mengutamakan cerita cinta yang manis di kantor, pertemanan, dan menyampaikan pesan pada pembaca bahwa kita tidak bisa dan tidak boleh menilai seseorang hanya dari melihatnya saja tanpa benar-benar mengenalnya.
Tapi, mungkin ada pembaca yang kecewa karena tidak ada adegan yang bikin degdegserr...maaf yaa🙏🏻
Saya akan membuat kisah yang degdegserr pada kisah lainnya... ditunggu yaa 😊✌🏻