NovelToon NovelToon
Kumpulan Cerpen Saat Hujan Turun

Kumpulan Cerpen Saat Hujan Turun

Status: tamat
Genre:Dunia Lain / Kumpulan Cerita Horror / Horor / Tamat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Regina Maharani Rahman

Dua cerpen menarik dari dua genre berbeda, horor dan juga psikologi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Regina Maharani Rahman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Hujan Turun 2

Bunda masih memakai mukena saat membukakan pintu untukku. Dengan segera aku berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

***

"Payung siapa itu Neng?" tanya Bunda saat melihatku keluar kamar sesudah mandi.

"Punya Kai Bun," aku menjawab sekenanya.

"Oh punya Kai."

Seperti itulah Bunda, beliau bukan tipe orang tua yang selalu ingin tau apapun tentang anaknya. Bagi Bunda, setiap anak punya privasi masing-masing. Dan sebagai orang tua, sudah seharusnya untuk menghargai privasi anak.

Anak harus mulai dipercaya dan diberi ruang kebebasan untuk hal-hal yang sifatnya pribadi. Karena kebebasan itulah aku menjadi percaya pada Bunda dan tanpa disuruh terkadang aku menceritakan hal yang cukup pribadi padanya. Ya, aku bisa menganggap Bunda sebagai sahabatku karena beliau menghargai privasiku.

***

Ting! Sebuah pesan masuk di ponselku.

[Hey Gia. Ini Kia.]

[Oke Kia] Aku membalas pesannya singkat.

Bukan apa-apa. Aku tidak terlalu suka terlibat obrolan atau chat dengan siapapun jika tidak ada urusan yang mendesak. Jika ada yang mengirim chat padaku, aku akan membalasnya dengan sangat singkat dengan maksud si pengirim pesan tidak perlu kembali membalas. Bukannya sombong, aku hanya malas saja.

[Nyampe rumah jam berapa?]

[Lupa. Ngga liat jam 😁] Aku sengaja menyisipkan emoticon untuk menghindari kesan judes.

Pesanku sudah dibaca oleh Kai dan tidak terlihat tanda-tanda jika dia akan membalas. Dengan perasaan lega, kumatikan layar ponsel dan menaruhnya di atas bantal.

***

[Saya harus ngembaliin payungnya ke mana?] Aku mengetik sebaris pesan untuk Kai. Cukup lama sampai akhirnya dia membalas.

[Tau Coffee Cafe ngga?] balasnya.

[Tau]

[Ketemuan di sana aja mau?]

[Ngga. Di halte aja gimana?]

[Kenapa? Takut aku macem-macem ya?]

Aku menghela nafas. Seringkali orang salah paham jika ada orang yang menolak ajakan mereka.

[Bukan. Aku ngga punya uang lebih untuk jajan di sana]

[Hahaha] balasannya membuat keningku berkerut.

Aku memutuskan untuk tidak membalas pesannya lagi.

***

[Maaf Gia, chatnya tadi kepotong. Aku lagi kerja sampai malem. Itu makanya aku minta kamu ke cafe tempat aku kerja]

Aku membaca pesan dari Kai tanpa berkedip. Ternyata itu alasan sesungguhnya.

[Oh gitu. Yaudah nanti sore aku ke sana]

***

Melihatnya berdiri di balik konter sajian kopi seraya melambai membuatku tersadar akan sisi Kai yang lain. Dia terlihat bagus dengan apron kulit yang melindunginya dari percikan kotoran. Rambut gondrongnya diikat asal tapi entah kenapa, aku suka.

"Nih cobain. Gratis buat Gia," suaranya terdengar lembut. Wajar saja, dia sedang dalam mode bekerja. Keramahan menjadi daya tarik sendiri untuk pembeli.

"Makasi," balasku seraya menyodorkan payung.

Dengan tersenyum ia mengambil payung dari tanganku. "Dinikmati ya kopinya, saya kerja dulu."

Aku mengangguk sebelum akhirnya dia melangkah kembali ke balik konter. Memutuskan untuk menyesap minuman di hadapanku, aku langsung menyukai rasanya dalam sekali tegukan. Butuh tiga puluh menit kemudian untuk menandaskan isi dalam gelas. Tiga puluh menit yang kunikmati sembari membaca novel yang hampir selalu ada dalam ranselku.

***

"Enak?" Kai menyapaku saat kondisi kafe sudah sepi dan hanya beberapa meja terisi.

"Enak. Apa namanya?" aku penasaran.

"Cappucino," balasnya seraya duduk di kursi menghadapku. "Kalau mau, Gia bisa kapan aja ke sini. Nanti aku buatin lagi."

"Segelas harganya berapa?" aku bertanya lagi.

"35 ribu," cengirnya.

"Oh oke, bisalah ke sini seminggu sekali," aku memasukkan novel ke dalam ransel.

Tanpa kusadari, langit di luar sudah mendung dengan tumpukan awan yang tebal.

"Bawa lagi aja payungnya," ucap Kai setelah melihat ke luar. "Mau ujan lagi tuh."

Aku menggeleng, "Ngga usah. Aku besok-besok mulai sibuk. Jadi ngga bisa balikin payung kamu kalo sekarang aku bawa lagi."

"Ngga apa-apa, bawa aja sampai kamu ada waktu buat ngembaliin. Daripada kehujanan, nanti sakit."

"Ngga deh, kehujanan aja ngga apa-apa. Aku kan bukan kerupuk," aku nyengir.

"Bukan kerupuk sih emang, tapi kamu bisa sakit," ucapnya keras kepala.

"Serius ngga usah. Itu makanya aku harus cepet pulang sekarang, daripada keduluan hujan."

Kai menyandarkan punggung dan melipat tangan di dada. "Gia, ngga semua kebaikan orang harus kamu bales juga sebagai balas budi. Beberapa datang dari ketulusan, bukan karena niat ingin dibalas."

Ucapan Kai menusuk tajam ke dalam indera pendengaranku dan entah bagaimana menimbulkan cubitan kecil di hari. "Maaf, tapi bener. Aku ngga suka jika ngga bisa membalas kebaikan orang lain buatku."

Perdebatan kami nyatanya cukup memakan waktu sehingga di luar, rinai hujan sudah menutupi pandangan.

"Oke, kalau gitu aku anter kamu ke jalan raya depan. Kamu nunggu angkutan kota di sana kan?"

Aku mengangguk terpaksa. Aku bisa merasakan penekanan dalam suaranya yang dalam dan lembut.

***

Dan di sinilah aku. Berjalan pelan berdampingan dengan seorang pria yang baru saja ku kenal kemarin di bawah lindungan payung dari curah hujan yang cukup rapat.

Setelah sampai di tempat menunggu angkutan kota, Kai tidak langsung segera meninggalkanku.

"Aku tungguin sampai kamu naik."

Aku hanya mengangguk pasrah dan menunggu dalam diam.

"Maaf kalau ada omongan aku yang salah," ucap Kai.

"Ngga apa-apa Kai, aku cuma ngga biasa aja kalau ngga bisa ngebales kebaikan orang," aku membalas.

"Kamu berarti menyamakan kebaikan dengan timbal balik? Jangan gitu, ngga semua orang sama seperti dalam pikiran kamu. Banyak sekali orang yang berbuat baik karena mereka memang orang-orang baik."

Aku ingin mendebat perkataan Kai saat angkutan kota tujuanku terlihat. Dengan berat hati, aku mengurungkan niatku itu.

"Makasi ya," ucapku sebelum menaiki angkutan kota.

Dari jendela tempatku duduk, aku bisa melihat wajah Kai yang dingin dan tanpa senyum.

***

"Di jaman sekarang, sulit menerima kebaikan dari orang lain secara cuma-cuma. Walaupun tidak tertulis, tapi entah kenapa kebaikan yang diterima terkadang menjadi beban saat kita belum bisa membalasnya. Padahal, orang yang melakukan kebaikan belum tentu karena ada niat terselubung. Masih banyak yang melakukannya karena di dasari hati yang tulus."

1
Kristin Hluvart
Luar biasa
Lina Suwanti
kisah hidupnya Axava Kalara sungguh memprihatinkan.....suka sm dokter Tama n ingin mengadu domba antara kak Nday n kak Rebel tp ga berhasil
Rifca Farih Azizah
the best dah
Rifca Farih Azizah
gia bukannya sama Tomo?
Regina Maharani Rahman: iya kalo di radio tengah malam. kalo di sini sama kai
total 1 replies
alena
ini cerita kakanya teh inoxu 😍
Regina Maharani Rahman: Iyaah, ceritanya nyx 😆
total 1 replies
alena
axava kalara yg hantunya nongol di siaran radio tengah malem
Regina Maharani Rahman: Betul banget 😆❤️
total 1 replies
Yurnita Yurnita
hadir Thor
Romi Tama
tidak terduga
Dahlia Oppo
Alurnya keren
Dahlia Oppo
Ceritanya keren
Mami Mara
plot twist yg bagus 👏👏👏
Regina Maharani Rahman: makasiii 🤗❤
total 1 replies
Ai Emy Ningrum
bagus2 cerita nya 🌹🌹🌹🌹🌹
Ai Emy Ningrum: masama 🤗🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!