Aku tidak pernah merencanakan akan jatuh cinta pada siapa. Bukan kuasaku untuk menjatuhkan pilihan sang cinta pada pemiliknya yang entah siapa.
Semula, semua terasa mudah. Semula, aku merasa mampu bertahan dengan segala gejolak yang ada di dalam hati, yang menuntut untuk diperjuangkan. Semula, semua terasa cukup, mengetahui kau akan selalu ada disisiku.
Nyatanya, semua tidak semudah yang kubayangkan.
Ketika keadaan semakin menuntutku untuk memilih, manakah yang harus aku pilih? Karier atau cinta, yang keduanya bahkan baru sama-sama dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Belinda Marchely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Baskoro, Lagi (2)
Marco's POV
“Ibu mau mengadakan coaching (1) untuk karyawan Creative, supaya kalian itu tidak terlalu tegang dalam menghadapi hari-hari. Dan juga, ini akan mempengaruhi semangat kalian dalam menghadapi klien.”
Aku masih berusaha menetralkan perasaanku setelah Ibu Baskoro tiba-tiba masuk ke ruang kerjaku saat aku sedang dalam posisi yang sangat ‘pas’ dengan Anetta tadi.
Aku berdeham, berharap pikiranku yang kacau ini akan hilang. Namun, bukannya hilang, perasaan kesal bercampur deg-degan hingga masih dapat kurasakan debaran jantung yang dahsyat masih saja terjebak di dalamku.
Seketika juga aku merasa kegerahan, padahal pendingin ruangan selalu kusetel dengan suhu yang paling rendah.
“Marco! Kamu dengerin Ibu enggak, sih?” Ibu Baskoro mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.
Aku terkesiap. “Saya dengar, Bu,” jawabku cepat.
“Baik, Ibu minta semua anggota Creative berkumpul di ruang meeting A. Sekarang!” perintahnya tegas, tidak terbantahkan.
Aku lalu menyusul Ibu Baskoro yang sudah lebih dahulu melenggang, meninggalkan ruanganku menuju ruang meeting A. Kusempatkan memberi informasi pada semua karyawan di departemen Creative untuk mengikutiku.
“Semuanya, ke ruang meeting A!” perintahku.
Semua karyawan mengikuti instruksiku. Mereka sudah tahu pasti apabila Ibu Baskoro mampir ke kantor Mills, pastilah dia membawa ‘ide-ide yang kelewat brilian’ untuk dibagikan pada karyawannya.
Aku berpapasan dengan Anetta di pintu ruang meeting. Kami masih sama-sama canggung dan berusaha berekspresi sedatar mungkin. Namun, bisa kulihat semburat merah di pipinya ketika mata kami bertemu pandang.
“Ya, sudah pas, ya! Pasangan terakhir, Marco dan Anetta!” Teriakan Ibu Baskoro yang menyebut namaku dan Anetta itu membuyarkan pandanganku terhadap gadis di depanku ini.
Aku mengerjap. “Bagaimana, Bu?” tanyaku gelagapan. Aku mencoba mendapatkan informasi ulang dari Ibu Baskoro.
“Coaching hari ini dilakukan secara berpasangan. Tidak harus sesama gender, bisa juga campur antara pria dan wanita. Ibu hanya ingin memberi contoh kerja sama yang baik dalam tim,” jelasnya.
"Kok, saya enggak asik gini, ya, Bu? Enggak ada pasangan yang lain, nih? Masa harus pasangan sama Sony, sih?" Frans bertanya sambil setengah merengek.
Saat kulihat, memang hanya dia yang berpasangan dengan Sony, yang memang adalah laki-laki, sementara yang lainnya berpasangan antara wanita dan pria.
Semua yang berada di ruangan ini tergelak, tapi hanya sesaat. Setelahnya, tidak ada yang berani bersuara lagi karena Ibu Baskoro sudah melayangkan tatapan maut demi menyurutkan kebisingan yang terjadi akibat celotehan tidak penting dari Frans tadi.
“Materinya tentang apa, Bu?” Tiba-tiba Digo menyela. Kulihat dia berpasangan dengan Olla, asistenku.
“Positivity and Good Communication (2),” jawab Ibu Baskoro, lalu dia melanjutkan, “Jadi yang akan kita lakukan di sini adalah mengucapkan kalimat positif terhadap rekan kita, yang nantinya akan dibalas dengan kalimat positif lainnya dari rekan tersebut. Ulangi sebanyak masing-masing lima kali.”
Baiklah, sepertinya Ibu Baskoro ingin menamparku melalui materi coaching-nya ini. Demi apa, kenapa harus bawa-bawa sikap positif segala.
Aku melirik Anetta yang terlihat semakin canggung berhadapan denganku. Lalu mungkin kerena sadar aku sedang menatapnya, dia melirikku.
Aku mengunci pandanganku terhadapnya, lalu dengan mengikuti arahan dari Ibu Baskoro, aku mengucapkan kalimat positif yang dicontohkannya.
“Aku percaya padamu,” ucapku sambil terus memandangi Anetta.
“Kamu istimewa,” balas Anetta, yang tentunya sesuai dengan yang dicontohkan Ibu Baskoro juga.
Kami mengulang-ulang kalimat tersebut selama lima kali. Lalu setelah lima kali, dimulai dari Anetta lagi, mengucapkan kalimat positif lainnya dan akan kubalas dengan kalimat lainnya. Begitu seterusnya, kami mengulang sebanyak lima kali juga.
Aku dan Anetta tidak melepas pandangan kami masing-masing. Aku mencoba tersenyum padanya, mudah-mudahan saja dia akan luluh melihat senyuman mautku.
Benar saja, lama-kelamaan Anetta mulai sesekali mengalihkan pandangannya ke arah lain. Seperti ingin menghindari tatapan dan senyuman mautku. Aku terkekeh dalam hati. Kena, kamu!
“Cukup!” Suara Ibu Baskoro menerobos kebisingan di ruangan ini. “Sekarang, semua fokus ke Ibu. Ibu mau memberikan penjelasan kenapa kita harus melakukan hal ini?” Sambil menepuk kedua telapak tangannya beberapa kali, perempuan paruh baya itu berusaha merebut perhatian semua orang yang ada di ruangan ini.
Semua mata tertuju pada Ibu Baskoro seorang. Tidak ada yang berani membuat gerakan di luar aturannya, karena sedikit saja membuat suara atau pergerakan yang mencolok, wanita yang juga dikenal sebagai trainer itu tidak akan segan-segan untuk menegur orang tersebut dan menasihatinya sampai beberapa episode.
Ibu Baskoro kemudian melanjutkan penjelasannya. “Dalam kehidupan sehari-hari, berpikir positif itu adalah prinsip yang wajib diterapkan. Kalau sekali saja kamu memasukkan pikiran negatif ke dalam otak, maka sepanjang hari kamu hanya akan mengingat hal-hal yang negatif. Apapun yang kamu lihat, salah. Apa yang orang lain perbuat, salah. Kamu tidak bisa berpikiran jernih. Hal itulah yang menyebabkan kamu melakukan yang namanya ‘judgment’ atau penilaian sepihak terhadap hal atau orang lain di sekitar kamu. Padahal kamu belum tahu apakah hal yang dilakukan orang tersebut merupakan fakta atau hanya opini kamu saja.”
Kulirik anak buahku yang berada di ruangan ini, hampir semuanya terdiam melongok mendengarkan penjelasan Ibu Baskoro. Namun, aku malah merasa Ibu Baskoro seakan-akan sedang menampar aku berkali-kali dengan semua materi coaching-nya kali ini.
"Nah, positifitas ini juga berkaitan dengan komunikasi yang baik. Di mana, selain kamu harus berpikiran dan berperilaku positif, kamu juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang ada di sekitar kamu. Hal ini akan membantu kamu terlepas dari sikap 'judgment' tadi. Ketika kamu menjalin komunikasi yang baik dengan orang lain, kamu akan tahu fakta yang terjadi seperti apa, sehingga kamu tidak terlanjur salah paham dan terus menerus mempercayai kesalahpahaman yang ada di diri kamu sendiri."
Skakmat! Habis sudah aku! Ibu Baskoro benar-benar seperti tahu isi pikiranku sejak kemarin.
Aku sampai bertanya-tanya sendiri dalam hati, sebenarnya Ibu Baskoro ini siapa? Apakah dia memang hanya seorang istri pemilik perusahaan tempatku bekerja atau dia adalah seorang malaikat—entah malaikat jenis apa—yang dikirim TUHAN untuk berada di sekitarku?
Aku mencuri pandang pada Anetta dan menemukan dia juga sedang menatapku sambil tersenyum penuh arti. Kubalas senyumannya seraya mengedipkan sebelah mataku, bukan saja untuk menggodanya, tapi sebagai bentuk penyesalanku atas kesalahpahaman yang merajai hatiku kemarin malam.
Karena posisi kami yang berada di barisan paling belakang, lalu dengan posisi duduk yang sangat dekat, aku dengan leluasa bisa menggenggam tangan Anetta.
Dia tidak menolak, juga tidak menghindar. Hatiku sungguh tenang mengetahuinya. Anggap saja ini adalah tanda bahwa kami sudah berbaikan.
••••••••••
(1) Pelatihan.
(2) Sikap Positif dan Komunikasi yang Baik.
love u
selalu ku tunggu ceritamu
melelehh hati abangg.
kamu thor sweet bangettt
selalu semangat yaa
pasti jadi romantis duet kalian.. 😍😍