Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Instruksi Sang Ketua
Hari Senin. H-6 Menuju Festival Sekolah.
Ruang OSIS yang biasanya sejuk kini terasa panas dan sesak. Bukan karena AC-nya mati, tapi karena aura kepanikan yang menguar dari tiga puluh pengurus yang berkumpul di sana. Meja panjang penuh dengan proposal, rundown acara, dan sampah bekas makan siang.
"Gimana ini, woy? Manda masih sakit, Sarah masuk rumah sakit. Siapa yang pegang uang operasional buat beli perlengkapan dekor hari ini?" seru Zaki, koordinator perlengkapan, sambil mengacak rambutnya karena frustasi.
"Gue nggak berani pegang duit gede!" sahut siswi lain panik. "Takut ilang!"
"Lo kira gue berani?"
"Terus sound system gimana? Vendor minta DP lunas hari ini, kalau nggak, mereka bakal batalin sepihak!"
Suara-suara keluhan bersahutan, tumpang tindih menjadi polusi suara yang memekakkan telinga. Febby yang duduk di kursi sekretaris memijat pelipisnya. Kepalanya pening. Tanpa Bendahara 1 dan 2, sistem keuangan mereka lumpuh total.
BRAK!
Satu hentakan keras buku tebal ke atas meja membuat seluruh ruangan hening seketika. Senyap. Bahkan suara napas pun terdengar jelas.
Semua mata tertuju ke ujung meja.
Satu siswa laki-laki berdiri di sana. Wajahnya yang datar menyapu seisi ruangan dengan tatapan tajam dan dingin. Ia melipat lengan kemeja putihnya sampai siku, memperlihatkan jam tangan hitam di pergelangan tangannya.
"Udah selesai paniknya?" tanya ketua OSIS mereka.
Tidak ada yang berani menjawab.
Annas berjalan ke papan tulis putih yang penuh coretan jadwal. Dia menghapus semua coretan itu dengan gerakan cepat dan kasar, menyisakan papan yang bersih.
"Kita kekurangan orang. Dua bendahara tumbang. Waktu tinggal enam hari," ucap Annas sambil menulis poin-poin penting di papan tulis. Spidol hitam itu berdecit nyaring.
"Fadhil," panggil Annas tanpa menoleh.
"Siap, Ketua!" Fadhil langsung tegak.
"Lo ambil alih koordinasi lapangan. Pastiin vendor sound dan panggung clear hari ini. Kalau mereka minta pelunasan, kasih kontak gue. Biar gue yang urus transfernya."
"Oke!"
"Zak," Annas menoleh ke koordinator perlengkapan. "Jangan pusingin duit cash. Bikin list kebutuhan lo sekarang, minta tanda tangan Febby, terus kasih ke gue. Gue yang bakal belanja bareng lo nanti sore."
Zaki langsung melongo. "Lo turun tangan sendiri, Nas?"
"Kenapa? Masalah?"
"E-enggak. Oke-oke! Siap!"
Annas kembali menatap forum. Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain. Ia meletakkan spidol, menumpukan kedua tangannya di atas meja. Pemuda itu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
"Denger gue baik-baik," suara Annas merendah, "Acara ini emang penting. Ini wajah sekolah kita. Gue mau festival ini sukses besar, lebih pecah dari tahun lalu."
Annas memberi jeda, memastikan setiap orang mendengarkan kalimat selanjutnya.
"Tapi... nggak ada satu pun acara yang sebanding sama kesehatan lo semua."
Ruangan itu terpaku oleh perubahan nada bicara sang ketua.
"Gue nggak mau denger ada yang tumbang lagi. Gue nggak mau liat ada yang tipes, pingsan, atau masuk rumah sakit gara-gara forsir tenaga buat proker ini. Kalau lo capek, istirahat. Kalau lo laper, makan. Jangan sok kuat."
Annas menegakkan tubuhnya kembali, membenarkan kerah seragamnya.
"Kita kerja cerdas, bukan kerja rodi. Yang sakit, pulang sekarang. Yang masih sanggup, ayo kita kelarin ini. Paham?"
"PAHAM, KAK!" seru adik-adik kelas dengan mata berbinar kagum.
"SIAP! PAHAM KETUA!" sahut teman-teman seangkatannya dengan semangat baru.
Febby menatap Annas dari tempat duduknya.
"Feb," panggil Annas, membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ya?"
"Ikut gue ke ruang Kepala Sekolah sekarang. Bawa proposal final yang udah lo cetak."
"Buat apa?"
Annas berjalan menuju pintu, lalu menoleh sedikit ke belakang. "Minta tanda tangan pencairan dana. Gue nggak percaya kalau bukan kita sendiri yang ngadep."
-BERSAMBUNG