Semua orang pikir hidup Sheana begitu Indah padahal jauh di luar itu. Banyak kesakitan yang ia lalui selama ini. Dan ia menutupi kesakitan nya dengan sikapnya yang seenak sendiri serta arogan. Bukan itu saja banyak keburukan telah ia lakukan selama ini.
Hingga dia bertemu seorang polisi yang menyelamatkan nyawanya dulu, membuatnya perlahan tertarik dengan Polisi yang ia pikir munafik itu.
Zidan Gautam Aditya, Polisi tampan yang harus berurusan dengan perempuan pembuat onar. Dia yang tak perduli, perlahan mulai perduli dan kasihan terhadap perempuan yang terlihat kuat di luar ternyata rapuh didalam. Rasanya ia ingin terus berada disisinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fafacho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 20
“Cupp” Sheana mengecup bibir Zidan tanpa ijin membuat pria itu yang duduk di jok mobil terpaku. Dia terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari perempuan yang ia lebeli gila tersebut.
“Itu hadiah buatmu” pungkas Sheana dan langsung mengitari mobil untuk menuju kursi sebelah Zidan.
Zidan sendiri meneguk ludahnya, stelah mendapat ciuman yang tak terduga itu. dia menghapus pelan bibirnya, tangannya terdiam di depan bibirnya saat ini.
Deg, deg.
Kembali irama jantungnya seakan terasa tak normal sekarang,
“Stop Zidan apa yang kau lakukan” ucapnya mencoba menghalau bayangan yang tak seharusnya dia pikirkan dan rasakan pada perempuan lain selain Gladys.
Sheana masuk kedalam mobil melihat Zidan yang terlihat tak nyaman saat ini, dia tersenyum miring melihat pria tersebut.
“Ayo jalan” perintah Sheana saat dia sudah duduk disebelah Zidan.
“kemana?” tanya Zidan singkat,
“Sudah jalan saja, tidak usah banyak tanya” pungkas Sheana ketus.
“Kau perempuan seenaknya sendiri, pantas kau tidak ada kekasih sehingga bisa memanfaatkan ku seperti ini” cibir Zidan dan sambil menyalakan mobilnya kesal.
“Hey tuan, jangan pikir tidak ada yang suka denganku. Banyak yang suka denganku mengerti, aku saja yang tak berminat dengan percintaan” tukas Sheana kesal menatap Zidan yang mulai menjalankan mobilnya.
Mereka berdua kemudian saling diam tak ada pembicaraan diantara keduanya saat mobil sudah melaju meninggalkan area mabes. Sheana sibuk dengan ponselnya sedangkan Zidan sibuk menyetir, dia terpaksa menuruti keinginan perempuan disebelahnya karena perempuan itu sendiri yang bilang kalau ini persyaratan terakhir yang diberikan. Dan setelah ini perempuan itu tidak akan mengganggunya lagi.
.........................................
Mobil yang dikemudikan Zidan berhenti disebuah halte bus sesuai permintaan Sheana, Zidan mengernyitkan dahinya untuk apa mereka ke halte bus siang-siang begini.
“Ayo turun” ucap Sheana mengajak Zidan untuk turun.
“Untuk apa ke halte bus?” tanya Zidan tak mengerti alasan mereka disini.
“Sudahlah ayo, turun” paksa Sheana dan dia turun lebih dulu. mau tak mau Zidan juga ikut turun dari mobil saat ini.
“Naik bus ini bisa membawa kita ke terminalkan?” tanya Sheana pada seorang kernet bus itu.
“Iya bisa nona” jawab pemuda tersebut.
“Dan di terminal pasti ada bus arah luar kota juga kan?” tanya Sheana lagi.
“Ada nona, di terminal banyak bus yang akan membawa keluar kota”
“Oke,” jawab Sheana dan menghampiri Zidan yang sedari tadi menatap tak mengerti.
“Ayo, kau pernah naik bus kan?” ucap Sheana bertanya pada Zidan.
“Pernah,”
“Bagus, aku tidak salah mengajakmu. Ayo buruan,” ucap Sheana dan langsung menarik tangan Zidan agar ikut dengannya naik bus.
“Hey berhenti, kau mau kemana? Lalu mobilmu?”
“Sudah biarkan mobilku disini pasti akan ada yang mengambilnya” balas Sheana dan menarik Zidan paksa.
“Kau gila, mobil kau tinggal disini. kalau hilang bagaimana, jangan gila..” Zidan masih tak percaya Sheana akan meninggalkan mobilnya begitu saja.
“Bukannya kau menyebutku perempuan gila, ya pasti aku gila. Ayo, polisi cerewet cuman dirimu perasaan” keluh Sheana dan menarik Zidan masuk ke bus. Zidan yang tangannya ditarik cukup kuat terpaksa ikut Sheana masuk kedalam bus.
“duduklah dekat jendela, aku tidak mau” ucap Sheana menyuruh Zidan yang duduk di dekat jendela saat ini. Zidan melakukannya, dia duduk di dekat jendela sesuai keinginan Sheana. Dan perempuan itu langsung duduk disebelahnya.
Sheana tiba-tiba saja menggerayangi paha Zidan, membuat pria itu terkejut dan langsung berdiri.
“Kau gila, sedang apa kau” seru Zidan sambil menatap sheana.
“Apaan sih lebay, aku hanya memeriksa kau membawa dompet atau tidak” ucap Sheana tak merasa bersalah sama sekali.
“Aku bawa, untuk apa?” ucap Zidan masih dengan posisi berdiri.
“bagus kalau bawa” jawab Sheana enteng.
“Kau memang perempuan gila,” gumam Zidan dengan sangat lirih.
“hey, tidak usah mengumpat. Aku mendengarnya” tukas Sheana.
Zidan melihat was-was Sheana sambil mendudukkan dirinya perlahan di kursinya tadi, dia tak habis pikir kenapa ada wanita seperti itu.
“Sebenarnya kau mau mengajakku kemana?” tanya Zidan yang sedari tak mendapat jawab dari pertanyaannya itu.
“Ke semarang” jawab Sheana singkat.
“APA?” kaget Zidan.
“Sudahlah tidak usah kaget begitu, cukup ikut saja kenapa. Bukannya setelah ini aku tidak akan mengganggumu” tukas Sheana.
“Kau memang, aku mau turun.” Zidan akan berdiri tetapi tangannya ditarik oleh Sheana agar duduk kembali.
“lepaskan tanganku, aku besok harus dinas, aku mau turun sekarang” ucap Zidan menatap Sheana.
“Soal itu gampang, duduk saja bisa nggak sih. Mobilnya mau jalan” ucap Sheana saat mobil sudah mulai jalan.
Zidan hanya bisa pasrah karena Sheana mencengkram tangannya cukup kuat saat ini,
“kalau kau ingin ke Semarang kenapa tidak menggunakan mobilmu, kenapa harus naik bus’ tanya Zidan stelah sejenak diam, dia penasaran soal itu.
“suruhan orang-orang tidak berguna itu pasti akan mencari ku” jawab Sheana yang malas untuk membahasnya.
“Orang tidak berguna siapa maksudmu?” tanya Zidan penasaran.
“Sudahlah tidak usah banyak tanya, dan kau pria ingin tahu urusan orang lain” kesal Sheana. Siapa lagi orang yang disebut Sheana seperti itu. tentu saja kakak dan papanya, dia kesal dengan dua orang itu yang tak mau memberitahukan padanya dimana ibu kandungnya saat ini. mereka tidak ingin memberitahu, oke iya cari sendiri.
“Kau tidak mengobati wajahmu?” tanya Zidan hati-hati saat dia melihat masih ada memar di wajah Sheana.
Sheana tak menjawab, dia pura-pura tidak dengar dengan memasang earphone di telinganya. Zidan yang merasa di abaikan hanya menghela nafas pasrah.
...........................................
Malam sudah menyapa, langit yang terang kini menjadi gelap bertepatan dengan Sheana dan Zidan yang baru sampai di Semarang sehabis magrib. Mereka berdua segera turun dair bus yang membawa mereka itu.
Zidan yang masih mengenakan seragam kepolisian tentu saja sedari tadi tak lepas dari penglihatan orang-orang. Tapi mereka mengabaikannya saja, mungkin mereka pikir polisi sedang berkencan dengan pacarnya.
“kita mau kemana sekarang?” tanya Zidan melihat Sheana yang berdiri disebelahnya, perempuan itu tampak bingung dan sesekali menunjukkan wajah sedikit geli.
“Hah apa?” ucapnya langsung menoleh pada Zidan, dia yang tadinya melihat sekeliling terminal yang sedikit jorok membuatnya merasa jijik melihatnya sehingga tak fokus dengan pertanyaan Zidan barusan.
“Kita mau kemana sekarang” Zidan mengulang ucapannya.
“Kita cari hotel sekarang, kau yang cari” ucap Sheana
“kau kesini yang mengajak tapi kau yang memerintah ku” sinis Zidan, tapi dia melakukannya. Kalau dia tak segera mencari hotel mau tidur dimana lagi mereka perempuan itu saja seperti bingung.
Zidan membuka ponselnya dan mencari hotel terdekat dari posisi mereka saat ini,
“Ayo,” Zidan langsung jalan lebih dulu setelah dia melihat hotel di ponselnya yang jaraknya tidak jauh dari tempatnya saat ini.
‘Mau kemana, kau sudah menemukannya?” tanya Sheana yang langsung berlari kecil menyusul Zidan yang berjalan tanpa aba-aba.
“Tunggu aku,” ucap Sheana yang sedikit kesusahan berjalan karena dia menggunakan high hell nya ditambah perempuan itu menghindari jalanan yang becek.
°°°
T.B.C
sbntar author sebut, zidan itu fahri.
sebut sean utu darren. buat bungung z😣😣