[Cover buatan salah satu pembaca baik hati yang mau membuatnya]
"Namaku Yaoma aku hanyalah bocah kecil, yang hidup bahagia, setidaknya itu menurutku sampai kehancuran akibat para Dewa di langit terjadi...."
"Peperangan para Dewa terlalu menghancurkan dunia, ibuku yang seorang Dewi kembali ke langit dan berusaha menghentikannya..."
"Tapi dia tidak pernah kembali, dan senyuman kebahagian keluargaku tidak pernah lagi terlihat..."
"Aku yang masih kecil terkadang berpikir begini 'Apa semua masih bisa kembali?' yah meski setelah melihat fakta hari itu harusnya mustahil yah."
(Authornya jarang off, sorry kalo jarang baca komen + ini novel uji coba. Semoga menikmati)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoake-Sama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 "Ledakan Darah"
Chapter 20
"Ledakan Darah"
*Di dalam gerbang ke-8*
"Sepertinya Biiel gagal yah," ucap Rebbeca merasakan getaran dari ruangan sebelahnya sudah terhenti.
Rebbeca berdiri dan mengangkat 1 bangku ke ruang tengah dan duduk di bangku itu menunggu Yaoma datang.
Rebbeca melihat sekitar ruangan nya tempat ia menunggu tugasnya selama 2 hari, karena Yaoma sudah bertarung di sini selama 2 hari.
"Sayang sekali yah ruangan indah ini akan hancur saat pertarungan nanti," ucap Rebbeca sembari melihat sekitarnya.
"Tapi yah, ini pertarunganku dengan adikku," ucap Rebbeca sembari menunggu Yaoma.
Yaoma berjalan dengan tubuh yang lelah karena ia sudah mengalahkan 12 iblis sendirian jauh di belakang sana.
"Aku harus bertahan.... tersisa sedikit lagi...," ucap Yaoma dipikirannya sembari berjalan dengan tubuhnya yang kelelahan.
Yaoma sampai di depan gerbang dan Yaoma mendorong kembali pintu itu dengan kekuatannya dan pintu ternak dan setelah cukup celah untuknya masuk, Yaoma langsung memasukinya agar ia tidak terlalu membabi-buta.
"Kau datang juga yah," sambut Rebecca pada Yaoma.
"Siapa kau?" tanya Yaoma pada Rebbeca sembari berjalan sedikit maju ke arah Rebbeca.
"Lucifer Rebbeca Bathory, komandan ke-3. 'Sang Ledakan Darah' dan kakak tertuamu," ucap Rebbeca memperkenalkan diri pada Yaoma.
*Ilustrasi
Lucifer Rebbeca Bathory
[Bloody Blast]
"Tunggu, apa maksudmu kakakku?" tanya Yaoma dengan bingung.
"Yah sesuai dengan kata itu, aku adalah anak Dewi Eden, lebih tepatnya anak pertamanya," jawab Rebbeca pada Yaoma.
"Entah kenapa setelah mendengar itu meski awalnya aku sedikit terkejut, cuman rasanya aku tak terlalu perduli," seru Yaoma mendengar kata Rebbeca.
"Heh....," reaksi Rebbeca mendengar perkataan Yaoma.
"Yah intinya, aku hanya perlu harus mengalahkanmu kan? kakak perempuanku?" tanya Yaoma menantang Rebbeca sembari bersiap kuda kuda bertarung kembali.
"Kupikir tadinya ada reuni sedih, ternyata tidak perlu yah," ucap Rebbeca berdiri dari tempat duduknya.
"Yah reuni sedih itu, tidak perlu!" balas Yaoma sembari berlari ke arah Rebbeca dan mempersiapkan tinjunya.
"Baru mulai sudah langsung serang yah," reaksi Rebbeca melihat Yaoma berlari ke arahnya.
"Kalo begitu, aku liat seberapa kuat kau," ucap Rebbeca sembari mengangkat satu jarinya dengan kukunya yang sedikit panjang.
"Jari?" pikir Yaoma sembari berlari ke arah Rebbeca.
"Tapi siapa yang perduli, aku akan langsung serang!" ucap Yaoma sembari tetap menerjang maju untuk menyerang Rebbeca.
"Terlalu naif," pikir Rebbeca melihat Yaoma berlari ke arahnya tanpa berpikir.
Yaoma hampir mendekati Rebbeca dan siap memukulnya.
"Red Lust," seru Rebbeca mengeluarkan jurusnya.
Api darah keluar dari jari Rebbeca yang mengarah ke Yaoma.
"Apa!?" ucap Yaoma dengan panik karena tiba tiba serangan besar langsung di berikan.
"Dark speed!" ucap Yaoma terburu-buru dengan mengeluarkan jurusnya untuk menghindari serangan Rebbeca.
Tangan kiri Yaoma terkena dan langsung hancur bersama dengan seluruh area di belakang Yaoma.
"Cih, tak kena yah?" geram Rebbeca melihat Yaoma menghindar.
Yaoma langsung di belakang Rebbeca dengan kecepatan tinggi dan bersiap memukulnya dengan tangan kanannya.
"Sudah kuduga," ucap Rebbeca dan langsung mengalahkan kelingkingnya ke arah Yaoma yang di belakangnya.
"MATI!" geram Yaoma di pikirannya sambil berusaha memukulnya.
Jari Rebbeca mengkikis sedikit tinju Yaoma namun Yaoma tidak berhasil meninju badan Rebbeca namun malah meninju jari Rebbeca yang mengkikisnya sampai terlepas dari tangan kirinya.
"Sial tak terkena yah?!" geram Yaoma setelah gagal memukul tubuh Rebbeca.
Rebbeca menghindar ke belakang dan memegang jari kirinya yang sudah hilang.
"Hah... sakit sekali... tapi yah sudah cukup, aku akan langsung akhiri saja tanpa banyak bicara," ucap Rebbeca pada Yaoma dengan tersenyum.
"Omong kosong!" bantah Yaoma melihat Rebbeca.
"Benar kah? Kalo begitu lihat saja sekujur tubuhmu!" ucap Rebbeca memperingati Yaoma.
Tubuh Yaoma dari tangan, kepala dan perut penuh dengan pola aneh yang berwarna merah.
"Apa ini!?" tanya Yaoma melihat tubuhnya.
"Fufufu, segel sudah selesai hancurlah!" ucap Rebbeca sambil bersiap mengaktifkan jurusnya.
"Kijitsu : Chi no Bakuhetsu!" ucap Rebbeca mengaktifkan jurusnya.
Pola-pola di tubuh Yaoma mulai berwarna merah terang seperti ingin meledak.
"A-"
Tubuh Yaoma meledak dengan telak dan hanya menyisakan bagian pinggang dan kakinya.
"Ahh, benar juga aku lupa adikku. Aku ini abadi jadi seranganmu tadi percuma!" ucap Rebbeca sembari jari kelingking yang tadi di hancurkan Yaoma tumbuh kembali.
Tubuh Yaoma tersisa berlutut dan jatuh ke lantai.
"Fufufu, ternyata hanya segini saja yah," ucap Rebbeca melihat tubuh Yaoma yang tersisa tak bisa bergerak.
"Siapa yang bilang?"
"Apa?" tanya Rebbeca kebingungan.
Tubuh Yaoma kembali beregenerasi dengan lebih cepat di saat tubuhnya sudah sampe tangannya selesai beregenerasi tangannya menopang tubuhnya dan berusaha berdiri lalu di setelahnya kepalanya pun langsung selesai beregenerasi.
"Yo, kakak apa kau berpikir ini akan selesai begitu saja?" tanya Yaoma setelah tubuhnya kembali seperti semula.
"Yah, aku juga ragu sih. Tapi aku tak sangka kecepatan regenerasimu melebihi kecepatanku," jawab Rebbeca.
"Yah, aku juga tak tau kenapa bisa begini tapi dengan ini permainan bisa lebih lama kan?" tanya Yaoma lagi dengan senyum menikmati pertempuran.
"Boleh juga...," puji Rebbeca.
"Kijitsu : Akuma no Tsume!" ucap Rebbeca mengaktifkan skillnya.
Kuku Rebbeca memanjang dan mengeluarkan darah yang dadi jarinya ke kukunya.
"Heh, Dark : Renzoku Dark Spear!" ucap Yaoma menjawab tantangan secara tak langsung dari Rebbeca.
Yaoma menyerang dengan serangan bertubi dengan tombak hitamnnya ke arah Rebbeca.
Rebbeca langsung dengan refleknya menggunakan cakar iblisnya dan mementalkan semua serangan Yaoma dengan cakarnya sembari darah dari cakarnya menyebar ke seluruh ruangan dengan sedikit percikan darah itu.
"Kijitsu : Tsume no Bakuhetsu!" ucap Rebbeca mengaktifkan jurus darahnya.
Area yang memiliki darahnya meledak dan membuat sekitarnya menjadi penuh dengan asap.
"Pengalihan yah?" ucap Yaoma melihat serangan Rebbeca.
Rebbeca muncul secara tiba tiba di samping asap arah Yaoma.
"Tentu saja!" jawab Rebbeca sembari berusaha menyerang Yaoma.
"Wind Cutter Slash!" ucap Rebbeca menggunakan jurusnya menyerang Yaoma.
Angin tajam di buat oleh kuku Rebbeca dan menyerang Yaoma.
"Cih," seru Yaoma menahan serangan Rebbeca dengan tangan kanannya.
Wind Cutter, memotong setengah daging dari tangan kanan Yaoma dan hampir terbelah.
"Cukup tajam yah," ucap Yaoma setelah menerima serangan Rebbeca sembari beregenerasi otomatis dari tubuhnya.
"Ara, sepertinya yang biasa memang kurang mempan yah, kalo begitu
Kijitsu : Blood Wind Cutter Slash!" Rebbeca kembali menyerang Yaoma dengan jurusnya.
"Dark Aura!" tubuh Yaoma mengeluarkan aura hitam dan dengan refleknya Yaoma langsung membelokan serangan ke samping kanan ruangan.
Tembok ruangan terbelah dengan sangat besar sampe hampir membuat tembok tersebut jatuh.
"Hebat, 4x lipat yah. Kalo aku tidak menggunakan dark aura sepertinya tubuhku akan langsung terbelah dengan sangat mudah," puji Yaoma pada serangan Rebbeca.
"Yah benar sekali, tapi santai saja ruangan disini tidak akan hancur karena akan beregenerasi, ruangan ini adalah bagian dari tubuhku juga karena jika aku mengemuk tanpa pikir panjang kastel ini bisa hancur coba lihat saja di belakangmu," ucap Rebbeca pada Yaoma.
Yaoma melihat kebelakang di gerbang yang sebelumnya ia masuki, yang harusnya hancur akibat serangan pertama Rebbeca yang super besar.
"Tidak ada kehancuran!?" ucap Yaoma melihat belakangnya baik baik saja.
"Benar juga, lantai ini baik baik saja," sambung Yaoma lagi sembari melihat lantai.
"Yah tentu saja, aku sengaja melakukannya kalo tidak kita tak bisa bertarung dengan puas!" jawab Rebbeca.
"Begitu? Kalo begitu itu juga bisa membuatku habis-habisan kan?" balas Yaoma.
"Dark Aura," ucap Yaoma mengaktifkan skillnya sekali lagi.
"Kalo begitu ay-"
"Dark : Super Dark Speed" Yaoma dengan cepat langsung mengaktifkan skillnya lagi dan melesat super cepat.
"Cepa-"
"Dark : Super Speed The Essence Of The Punch!" Yaoma melepaskan serangan telak di perut Rebbeca dan mengarahkannya ke depan dengan kepalan tangan kanannya.
Rebbeca langsung terpental super cepat bahkan hampir tak terlihat oleh serangan Yaoma yang sangat telak menggunakan 3 jurusnya sekaligus pada serangan itu.
"Bagaimana salam dariku kakak?" tanya Yaoma sembari auranya kembali hilang.
Rebbeca terjatuh dan terbatuk darah sembari perutnya dan punggungnya yang hancur berkat serangan super telak barusan.
"Uhuk-uhuk, lumayan...," jawab Rebbeca sembari tubuhnya berusaha meregenerasi kembali.
"Baiklah berikutny-"
"Red Tiriburon," Rebbeca mengaktifkan skillnya di saat setelah dia bisa bergerak kembali setelah terjatuh.
Urat di dalam tubuh Yaoma terpotong tanpa hingga di seluruh tubuhnya.
"UARGHH" reaksi Yaoma sembari memuntah darah.
Tubuh Yaoma langsung lemas dan terjatuh tanpa sedikitpun bisa bergerak.
Rebbeca berusaha berdiri sembari menunggu regenerasinya selesai.
"Hehehe... syukurlah aku sempat melukaimu di kesempatan kecil tadi...," ucap Rebbeca dengan terengah-engah.
"Apa.. saat itu?" gumam Yaoma sembari mengingat saat dia memukul dengan cepat Rebbeca.
"Kau melemahkan? Kau bukan iblis murni sepertiku dan butuh sesuatu di makan untuk dapat energi lebih cepat agar kekuatanmu tetap stabil kan?" tanya Rebbeca pada Yaoma.
"Ugh...," gumam Yaoma dengan panik Rebbeca mengetahui batasannya.
"Kau... memang sangat gila, setelah mengalahkan banyak penjaga itu saja kau masih bisa mengeluarkan jurus sekuat itu... tapi itu sudah hampir mendekati batas kan?" tanya Rebbeca sekali lagi.
Yaoma meregenerasi tubuhnya dan berusaha berdiri dengan hampir sempoyongan.
"Staminamu melebihi penjaga gerbang yang sebelumnya kau kalahkan yah, kau sudah tau beberapa dari mereka bukan iblis murni kan?" tanya Rebbeca sekali lagi.
"Yah aku sudah tau, tubuhku sudah hampir batas juga aku sudah tau. Bahkan perutku dari tadi kelaparan aku tau, mataku mengantuk aku tau, tubuhku lelah aku tau, tapi! Meski sudah hampir 3 hari tanpa istirahat aku harus menang!" jawab Yaoma pada Rebbeca.
"Heh, yah meskipun Iblis sempurna dan stamina tanpa batas juga tidak banyak banyak Iblis bisa regenerasi, bisa jika di alirkan tapi hampir seluruh penjaga gerbang tidak bisa melakukan itu, karena itulah aku dokter disini bisa dibilang. Yah lagipula meskipun kau dan aku hampir kehabisan tenaga kita hanya melemah dalam serangan kita mustahil mati, tapi aku penasaran juga apa kita mungkin tidak, apa aku mungkin dapet energi tanpa batas dan jadi sangat mustahil di kalahkan dengan buang buang tenaga!" terang Rebbeca dan kembali bersiap menyerang.
"Aku tak begitu tau kemampuan ini, aku juga baru menyadarinya beberapa hari lalu. Tapi jika memang tak ada batasannya regenerasi ini maka meski seranganku melemah aku hanya perlu menyerang sampai menang!" jawab Yaoma sembari menerjang ke Rebbeca.
"Akan aku gunakan senjata terkuatku meski aku melemah loh, kakak!" peringatan Yaoma pada Rebbeca sembari berlari ke arahnya.
"Kalo begitu aku juga, majulah!" ucap Rebbeca sembari bersiap mengeluarkan jurus dan tubuhnya juga telah selesai beregenerasi.
"Summon : Dark Excalibur!" ucap Yaoma memanggil pedang suci kegelapannya.
"Summon : Blood Emberance!" ucap Rebbeca memanggil sabit marahnya.
Yaoma bersiap menebas Rebbeca setelah merasa cukup dekat darinya.
"Dark Excalibur : Kuro Blood Surashu!" Yaoma mengaktifkan jurus pedangnya dan berusaha menyerang Rebbeca.
"Blood Emberance : Blood Slash!" Rebbeca membalas dan menyerang Yaoma dengan tebasan sabit darahnya.
Yaoma melewati Rebbeca dan menebasnya bersama dia terkena serangan tebasan di tubuhnya oleh Rebbeca.
"Ugh," reaksi keduanya terkena satu sama lain dan darah mereka muncrat dari bekas tebasan satu sama lain.
"Heh kenapa? Kupikir kau melemah? Bagus, itu baru namanya serangan!" ledek dan puji Rebbeca pada Yaoma.
"Kau juga, aku pikir kau lemah dan cepat aku kalahkan kakak," jawab Yaoma sekaligus balasan ledakannya.
"DARI SINI AKU AKAN MENGHABISIMU!" teriak keduanya pada satu sama lain.
Episode berikutnya "Ledakan Darah, Prt 2"
Note : maaf baru balik setelah sekian lama hehehe, yah mulai sekarang mudah mudahan aja jadwalnya enak dan bisa terus nulis meski masih sepi :'v
well tidak adanya tanda baca disana kau jadi seakan akan menghina ibumu sialan:)
kau ini mau pakai kalimat apa?! jangan dicampur seperti itu coba pelajari lagi tentang tata letak kalimat langsung tidak langsung. ada beberapa hal yg butuh penjelasan latar tapi sudah dilanjut ke adegan berikutnya.
mohon perhatikan lagi.
kata yaoma dengan sedih.
yaoma dengan sedih ....bla bla..
tadi sempat kulihat sudut pandang tokoh aku di tengah sudut pandang penulis.
tolong kurang pengulangan kata. selain boros juga bisa membuat bosan! perhatikan juga latar waktu tempat dan keadaan! bukan hanya suasana.
selain itu. bagus.