mohon bijak 21+
cerita sederhana, tentang cinta yang butuh perjuangan, tentang wanita yang harus memilih antara cinta dan suaminya.
apa dia akan memilih cinta yang dia idamkan atau memilih cinta suaminya yang sudah bnyak memberinya luka, atau dia memilih jalan lain dari keduanya?
ini akan ada dua versi cerita, yang pertama Dila dan Andri, dan cerita kedua ada Diana dan Rusdy...
jadi simak ya gaes... karena ini tentang PIL yang di miliki oleh para wanita, meski tidak semua🤫🤫🤫
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kamu jahat mas
Dila sudah tenang, dan memilih pulang ke kostnya. tapi saat masuk ke kamar itu, Dila kaget melihat Hendra dan Ridwan sedang tertidur lelap.
Dila pun pelan-pelan masuk dan memutuskan untuk mandi dan berganti pakaian.
Dila juga sempat memasak untuk makan malam, Dila menghampiri suaminya.
"mas bangun jangan tidur di lantai, nanti masuk angin," kata Dila lirih membangunkan Hendra.
"emm..." jawab Ridwan yang terbangun.
"eh kenapa dek?" tanya Hendra yang baru bangun.
tapi Dila langsung pergi tanpa bicara lagi, dia pun segera ke dapur untuk menyelesaikan masakannya.
tak butuh waktu lama, masakan selesai, dan Dila mengambil tas dan jaketnya.
"mas ajak teman mu makan dan ada teh panas di dapur, aku mau ambil laundry dulu," kata Dila yang sudah keluar kamar.
"istrimu marah sepertinya?" kata Ridwan yang melihat Dila pergi begitu saja.
"alah tenang, dua itu penurut, jika tidak mau mendengar aku tinggal menunjukkan siapa kepala rumah tangga disini, jawab Hendra tenang.
Ridwan hanya mengeleng pelan, saat melihat kulkas ternyata ada martabak telur di kulkas.
"kamu mau martabak telur, biar aku hangatkan," kata Hendra.
"terserah, aku mau mandi dulu ya," jawab Ridwan yang masuk kedalam kamar mandi.
Hendra tau jika Dila marah, tapi semarah apapun Dila, dia tetap menjalankan tugasnya.
Hendra membawa makanan yang sudah matang untuk di nikmati sambil menonton tv.
"makan dulu sebelum pulang, sudah di masakin," ajak Hendra.
"gila bener, tadi kita sebelum tidur makan, dan sekarang kamu menyuruhku makan lagi, bisa gemuk bro," kata Ridwan.
"sudah makan saja, tuh si kampret baru telpon," kata Hendra menunjukkan bahwa Andi telpon.
"Yo ada apa?" tanya Hendra.
"kalian tega banget, masak aku di tinggal, kita berangkat bareng pulang bareng dong," kesal Andi.
"aku gak mau ganggu, sudah nikmatin saja, kami ikhlas," kata Hendra yang langsung mematikan telponnya.
Dila pulang sambil membawa dua kresek besar laundry, karena itu baju Hendra dan dirinya.
untuk pakaian dalam sengaja di cuci sendiri oleh Dila karena dia tak suka seseorang menyentuh barang pribadi miliknya.
"ah mbak, say pulang dulu ya, jangan marah pada suamimu, maaf semalam kami ketiduran si rumah teman," kata Ridwan saat pamit
"iya," jawab Dila sekilas.
Ridwan pergi, Dila langsung membersihkan rumah, Hendra memeluk Dila dari belakang.
"lepas mas, apa kamu tak capek semalaman, lebih baik tidur saja," kata Dila dingin.
"apa maksudmu Dila?" kaget Hendra.
Dila yang kesal langsung merobek kaos yang dikenakan oleh Hendra, "mas tanya kenapa, ini buktinya!" marah Dila dengan suara meninggi dan tangis yang tak terbendung.
Hendra merasa marah mendengar ucapan dari Dila, langsung menampar Dila cukup keras.
bahkan istrinya itu tersungkur dan membentur lemari pakaian cukup keras.
"jangan pernah berani berteriak padaku," marah Hendra.
Dila hanya bisa menangis sambil memegangi pipinya, tiba-tiba kepalanya pusing matanya gelap.
Dila pun pingsan, hevdra kaget melihat Dila yang tak bergerak, "hei Dila, bangun dek!" panggil hendra.
dia pun membalikkan tubuh Dila, ternyata istrinya terluka di bagian kepala, bahkan sampai berdarah.
Ridwan yang lupa ponselnya kembali dan keget melihat hal buruk itu, "kamu gila ingin membunuhnya, kenapa cuma diam cepat bawa dia ke rumah sakit," kata Ridwan.
hevdra mengambil kaos asal dan mengendong Dila, sedang Ridwan yang membawa sepeda motornya.
tak di kira pak RT melihat semua itu dan buru-buru pulang ke rumah, "Bu tadi bapak lihat Dila berdarah dan di bawa pergi oleh Hendra dan temannya,"
"ayo pak kita pergi, paling mereka ke klinik terdekat," panik Bu Tantri.
bagaimana pun dia sudah mendapatkan amanah untuk menjaga Dila dari Andri.
benar saja saat mereka sampai di klinik, Dila sudah mendapat pertolongan pertama.
"Dila kenapa Hendra," tanya Bu Tantri yang panik.
"tadi dia terpeleset dan jatuh, tak sengaja kepalanya terbentur lemari," jawab Hendra berbohong
"aduh Dila ini memang ceroboh," kata Bu Tantri yang menghela nafas lega.
sedang Ridwan menatap temannya itu karena berbohong, Ridwan melihat benar bagaimana Hendra memukul istrinya.
"ya sudah, ibu kira kenapa, habis tadi bapak bilang Dila berdarah dan pingsan," kata Bu Tantri.
ternyata Dila tak harus rawat inap, dan di perbolehkan pulang, Bu Tantri tetap mengikuti di belakang motor Hendra dan Ridwan.
sesampainya di rumah, mereka berpisah, Ridwan masih tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"kenapa kamu sampai harus keras padanya sih hen, kamu bisa bicara baik-baik," kata Ridwan.
"dua berteriak padaku, dan kamu tau aku tak suka itu, aku tadi reflek dan ya begitulah," jawab Hendra menghela nafas.
"ya sudah ini urusan kalian, tapi ingat Hendra jangan sia-sia apa yang kamu miliki, terlebih istri yang seperti milik mu, karena pasti akan bnyak orang yang menginginkannya," kata Ridwan yang kemudian pergi.
Hendra pun masih duduk di samping Dila yang masih belum sadar, dia pun tau jika perilakunya salah. tapi ini dia lakukan karena tak ingin Dila terluka.
"maafkan aku, aku juga tak ingin seperti ini, asal kamu tau dulu aku tak memiliki apapun, orang tuaku juga hanya memiliki aku untuk bekerja, terlebih setelah ayah kecelakaan, dan inilah yang aku pilih menjadi simpanan Tante-tante," gumam Hendra.
Dila sebenarnya sudah sadar cuma dia tak ingin bangun, dan dia tak menyangka jika suaminya akhirnya mengaku apa pekerjaan sampingannya.
Dila pun membuka mata dan merasa kepalanya sakit, dia ingin bangun tapi Hendra menahannya.
"kamu ingin apa?" tanya Hendra dengan suara lembut.
"haus," jawab Dila lirih.
Hendra pun mengambilkan air hangat campur madu dan juga makanan, karena dia yakin jika istrinya itu belum makan.
Hendra pun membantu Dila bangun dari kasur busa yang selama ini menjadi tempatnya dan Hendra.
Hendra bahkan menyuapi Dila dengan telaten, tanpa sadar air mata Dila menetes.
"kamu menangis, maafin aku dek, aku tak bermaksud menyakitimu," kata Hendra.
di rumah pakde gun, Andri sudah mulai tenang, setelah meminum air putih yang sudah di do'akan.
bahkan pakde gun meminta orang pintar itu untuk bisa melupakan Dila, bagaimana pun keponakannya itu sudah menikah dan berhak bahagia tanpa campur tangan dari Andri.
"maaf pak, saya hanya bisa melakukan sebaik mungkin, tapi sepertinya cinta mereka yang akan terus menjadi penghubung yang tak terpisahkan," kata orang pintar itu.
"ya Allah apa aku salah, tapi mereka berdua masih bersaudara sangat dekat," kata pakde gun.
bapak Dila datang bersama Arif, "memang apa yang saudara dekat gok?" tanya pak Yono.
"tidak ada, wah ada apa nih kesini?" kaget pakde gun.
"ini loh, tadi ada beberapa nangka muda di rumah, dari pada busuk lebih baik gok jual saja ya, sudah le tolong turunkan," kas pak Yono.
"iya pak, oh ya pakde, itu motor siapa?" tanya Arif yang melihat sebuah motor sport terparkir di teras rumah.
"ada Andri dan temannya," jawab pakde gun.
tak di duga pak Yono langsung masuk kedalam rumah, "Andri apa kamu pernah di hubungi Dila?"
"ada apa Yono, kenapa kamu begitu panik saat mendengar nama Andri," tanya pakde gun.
"mau gimana lagi gok, dia itu telpon jarang-jarang, dan semalam aku mimpi buruk melihat putriku penuh darah," panik pak Yono.
sukses
semangat
mksh
udah tahan nafas nih bacanya dr tadiiii
hamil gak yaa dia???
tp klo fatin uda lupa ingat.an bkalan susah.
mending mahi sam husna ajj.
kasian husna nya sdah tdak perawan di tnggl calon nya meninggal