Seorang duda beranak dua harus menikah demi kedua anaknya.
Arbaaz Raonar nama lelaki itu, pemilik perusahaan Arbaaz Studio. Perusahaan dengan lambang elang itu bergerak di bidang animasi.
Syazani Nur Albiru atau yang sering di panggil Biru karena memiliki mata yang kebiruan. Biru seorang pendongeng dengan teknik bayangan tangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon faiz bellzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Pulang
Biru siap-siap untuk berangkat kerja, hari ini Biru tidak masak untuk sarapan ia akan sarapan di jalan saja beli bubur.
Ting....
Ponsel Biru berbunyi menandakan ada pesan masuk, Biru meraihnya dan melihat siapa yang mengirim pesan dan ternyata itu Raon.
'Pagi, sudah sarapan?' itu isi pesan yang di kirim Raon. Biru heran karena tumben-tumbenan bosnya mengirim pesan pagi-pagi begini.
'pagi juga, belum' Biru membalas pesan.
Tiba-tiba ponselnya berdering dan terlihat siapa yang meneleponnya 'bos te sabaran' itu nama yang tertera di ponsel Biru.
Biru memilih mengabaikan nya saja, ia merasa tidak ada hal penting sehingga mengharuskan ia mengangkat telepon dari Raon.
Panggilan itu berhenti di panggilan ke 2.
🌻
Kini Biru telah sampai di lobi kantor, setelah sebelumnya Biru sarapan bubur ayam di pinggir jalan.
Saat di lift Biru bertemu dengan Raon yang baru saja masuk lift "kenapa kau mengabaikan panggilan saya?"
Pertanyaan Raon membuat orang yang ada di dalam lift menoleh ingin tahu dengan siapa bos nya berbicara.
Biru tidak menjawab, ia menunduk karena tidak suka memjadi pusat perhatian.
Dan hal itu sukses membuat Raon kesal.
Biru keluar dari lift tanpa menoleh kiri dan kanan, ia mengabaikan Raon yang menatapnya tajam.
Hari terus berlalu, hari Sabtu telah tiba. Kini Biru tengah bersiap-siap untuk pulang ke Bandung.
"Tumben pulang cepet ada apa bi?" Tanya Gani yang melihat Biru tengah membereskan mejanya.
"Saya mau pulang ke Bandung mas ada perlu" jawab Biru dengan senyum.
"Ooh ya udah hati-hati ya Bi".
"Iya mas terimakasih" ujar Biru.
"Teman-teman saya pulang duluan ya" ujar Biru pamit pada teman-teman nya.
"Iya hati-hati Bi" jawab mereka serentak.
Biru keluar dari ruangannya dan menuju lift untuk sampai di lantai bawah.
Di bawah sudah ada Raon yang menunggu nya.
'Saya tunggu di parkiran' Raon mengirim pesan yang hanya di baca oleh Biru. Kebiasaan Biru memang hanya membaca pesan tanpa di balas. Itu yang baru di ketahui Raon.
Biru menuju parkiran seperti dalam pesan, ia celingak-celinguk mencari Raon. Ternyata Raon menunggunya di dalam mobil, Biru menghampiri dan mengetuk jendela mobil yang di tumpangi Raon.
Raon membukanya "masuk" ujar Raon.
Biru menurut "maaf pak lama" ujar Biru saat sudah duduk di samping pengemudi.
"Tidak apa" jawab Raon singkat.
"Ada apa pak menyuruh saya kesini? Bapak gak kerja?" Tanya Biru yang bingung karena tiba-tiba Raon mengirim pesan.
"Saya antar kamu ke terminal" ujar Raon yang langsung menancap gas.
"Bapak gak usah repot-repot, saya bisa sendiri" ujar Biru menolak. Lagi pula ia belum ganti baju, karena niatnya ia mau pulang ke kost-an dulu.
"Saya gak repot" jawab Raon singkat.
"Tapi saya yang merasa repot pak, saya mau ke kost-an dulu ganti baju" ujar Biru dengan nada kesal, karena bila langsung ke terminal ia akan merasa gerah.
Ciiittt......
Raon langsung menghentikan mobilnya secara tiba-tiba membuat Biru langsung memejamkan mata. Biru masih trauma.
"Bukannya bilang dari tadi" protes Raon.
Tidak ada jawaban dari Biru karena ia masih memejamkan mata dengan mulut merapalkan doa.
Melihat itu membuat Raon bingung, "kamu kenapa?" Tanya Raon sambil menyentuh lengan Biru yang tertutup lengan baju.
Mendapatkan sentuhan Biru memberanikan untuk membuka mata "huuf" Biru menghembuskan nafas nya lega.
"Kamu kenapa?" Tanya Raon lagi.
"Saya tidak apa-apa pak, cuman kaget saja" ujar Biru sambil nyengir.
Raon tidak menanggapi dan langsung putar arah menuju kost-an Biru.
Raon memarkirkan mobilnya di depan ruko-ruko dekat gang kost-an Biru, saat Biru akan membuka pintu mobil, Raon menahannya.
"Biar saya saja" Raon langsung keluar dan membukakan pintu untuk Biru.
"Terimakasih pak".
Raon mengangguk lalu menyusul Biru yang sudah berjalan duluan, tidak ada pembicaraan apa pun saat mereka berjalan menuju kost-an Biru.
"Bapak mau menunggu dimana? Di dalam atau di sini? Saya mau mandi dulu jadi pasti sedikit lama, jika bapak tidak mau menunggu, pulang saja saya bisa naik angkutan umum" ujar Biru.
"Saya menunggu di dalam saja, di sini pegal" jawab Raon, yang memang jika menunggu di luar tidak ada tempat untuk duduk.
"Ya sudah" ujar Biru yang langsung masuk, Raon mengikuti dari belakang.
Saat masuk ke kost-an banyak yang memperhatikan mereka karena ini pertama kalinya Biru membawa seorang lelaki selain keluarga nya.
"Bapak tunggu dulu di sini, saya ke kamar dulu" ujar Biru mempersilakan Raon untuk duduk di ruang tamu, kebetulan sedang tidak ada yang duduk di kursi ruang tamu.
Raon mengangguk, Biru pun melangkahkan kakinya menaiki anak tangga. Dari bawah Raon memperhatikan Biru yang terus berjalan ke ujung.
'Oh itu kamar Biru' ucap Raon dalam hati.
Tidak lama Biru kembali turun membawa nampan "ini pak ada kopi, biar tidak bete saat menunggu" ujar Biru yang menyimpan secangkir kopi dan brownis di atas meja.
"Terimakasih" ujar Raon yang langsung menyeruput kopi.
"Sama-sama pak, maaf pak kopinya cuman kopi seduh" Biru merasa tidak enak, karena setahu Biru orang kaya selalu membuat kopi dengan coffee maker.
"Tidak apa" jawab Raon singkat, Biru pun kembali ke atas menuju kamarnya.
Sambil menunggu Biru Raon membalas pesan dari Ammar yang mengingatkan jika 1 jam 30 menit lagi mereka harus rapat. Sambil membalas pesan Raon sambil ngemil kue kering yang di suguhkan Biru.
Biru turun dengan penampilan yang fresh.
"Maaf pak menunggu lama" ujar Biru yang merasa tidak enak pada Raon yang harus menunggunya lama.
"Tidak apa, ayo saya harus menghadiri rapat satu jam lagi" ujar Raon yang langsung berjalan, Biru mengikuti Raon dari belakang.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka sampai tiba di terminal.
"Terimakasih pak, saya berangkat dulu" pamit Biru pada Raon.
Raon mengangguk "hati-hati"
"Iya pak, assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah melihat bus yang di tumpangi Biru melaju, Raon memutuskan untuk segara kembali ke kantor.
🌻
Matahari mulai terbenam saat Biru sampai di rumah, tadi di jalan Biru terjebak macet sehingga mengharuskannya untuk sampai lebih lama.
"Assalamualaikum" salam Biru saat masuk ke dalam rumah.
"Waalaikum salam" jawab bunda dan ayah yang sedang berbincang di dapur.
"Neng naha ni sore-sore teuing (neng kenapa sore sekali)" ujar bunda yang langsung memeluk anak bungsunya.
"Iya bun tadi kajebak macet" ujar Biru yang langsung meraih tangan bunda dan mencium punggung tangannya, hal yang sama Biru lakukan kepada ayah.
"Ya sudah sekarang istirahat dulu, kamu pasti cape" ujar ayah.
Biru mengangguk lalu masuk ke kamarnya.
🌻
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ka...
keren thor
sukses
semangat
mksh