WARNING!!!
Area 21+🔥🔥
HARAP BIJAK DALAM MEMILIH BACAAN YA.
Martin Williams, seorang pemuda berusia 26 tahun dititipkan seorang anak gadis berusia 05 tahun oleh sahabatnya yang meninggal karena menderita penyakit kanker getah bening stadium akhir.
Martin awalnya akan menyerahkan anak gadis tersebut kepada ayahnya yang keberadaannya belum diketahui. Namun, saat ia mengingat kembali ucapan Larissa, ibu dari gadis tersebut, Martin memutuskan untuk mengurungkan niatnya.
"Martin, kumohon jaga putriku, aku percaya kamu akan merawatnya dengan baik. Dan aku mohon, jangan sekalipun kamu menyerahkan Ayu pada ayahnya, dia bukan ayah yang baik, aku tidak bisa mempercayakan Ayu pada ayahnya untuk dirawat olehnya. Ku mohon."
Martin pun mau tidak mau mengiyakan dan memutuskan untuk merawat Ayu juga menganggapnya sebagai putrinya sendiri. Namun, saat usia Ayu menginjak 18 tahun, Martin malah jatuh cinta pada putri angkatnya tersebut dan bertekad akan menjadikan Ayu sebagai wanitanya. Bagaimanapun caranya. Tidak peduli dengan usianya yang hampir menginjak kepala empat.
Bagaimanakah Ceritanya? Yuk kita ikuti perjalanan cinta Om Martin yang penuh dengan kekonyolan.
IG: @el_gazendra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El_Gazendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter-20
Di restoran mewah dan tentunya di ruangan VVIP, Martin juga tengah makan siang dengan seorang wanita yang berstatus sebagai kekasihnya.
Wanita tersebut tak lain adalah musuh Ayu sejak Ayu masih kecil.
Dan ya, wanita tersebut adalah Clarissa Mayangsari. Martin dan Mayang sudah menjalin hubungan hampir satu tahun ini.
Bukan tanpa alasan Martin memilih mayang sebagai kekasihnya, karena Mayang menurut Martin adalah sosok yang sangat baik juga tulus mencintainya.
Dulu seringkali ia menolak perasaan Mayang karena ia mengira Mayang sama dengan yang lainnya, yang hanya mengincar hartanya.
Tapi kini dia beranggapan Mayang tidak seperti itu, terbukti bertahun-tahun ini Mayang selalu mengejarnya dan menghiraukan para pengusaha lain yang ingin meminangnya.
Itu sudah cukup jelas bagi Martin, bahwa Mayang sangat tulus mencintainya, dan sekarang ia akan mencoba menerima perasaan Mayang walaupun perasaannya belum sepenuh terpaut pada wanita tersebut.
"Sayang kenapa melamun?" Tanya Mayang yang tengah menyuapkan makannya. Melihat Martin melamun, ia pun menghentikan suapan nya dan meletakkan kembali sendok ditangannya.
Martin terhenyak lalu tersenyum pada Mayang. Entah kenapa tiba-tiba pikirannya malah tertuju pada Ayu.
Martin berusaha bersikap biasa saja. Ia tidak ingin Mayang bertanya-tanya karena Mayang termasuk wanita pencemburu.
"Gak pa-pa kok, aku cuma inget kedua orang tua aku aja." Jawab Martin berbohong, padahal sejatinya ia sama sekali tidak peduli pada keadaan kedua orang tuanya itu.
Mayang mengangguk, "Kalo boleh tahu emang Mama sama Papa kamu dimana?" Tanya Mayang ingin tahu, karena selama mereka berpacaran, Martin memang tidak pernah sekalipun menceritakan tentang keluarganya.
Martin terdiam mendengar ucapan Mayang. Entah kenapa ia malas sekali membahas kedua orang tuanya.
Dan selama ini ia pun tidak pernah menceritakan tentang keluarganya pada siapapun, kecuali Bi Darmi karena Bi sangat tahu mengenai keretakan hubungannya dengan kedua orang tuanya.
Namun, sepertinya tidak masalah jika ia membagi ceritanya pada Mayang karena Mayang adalah kekasihnya sendiri.
Martin menghela nafasnya lalu menatap Mayang. Dengan ragu ia pun mulai menceritakan kisahnya.
Flashback
Sekitar 30 tahun yang lalu, saat itu usia Martin baru menginjak 20 tahun. Ia baru duduk dibangku kuliah satu tahunan.
Mario Teguh Williams, Papa Martin saat itu ia sedang masa awal meraih kesuksesan perusahaanya. Lelaki berusia kepala empat itu seringkali dipanggil Tuan Mario (45).
Ia memiliki seorang istri yang amat sangat cantik memiliki darah keturunan Tionghoa namun asli Indonesia. Dia bernama Agatha Maudy Sanchi (32).
Tuan Mario saat itu tengah menggelar pesta besar-besaran untuk merayakan kesuksesan bersama seluruh karyawan juga klien-klien-nya yang membantunya meraih kesuksesan tersebut.
Nyonya Agatha juga turut ikut bersama Martin. Martin sebenarnya saat itu sangat tidak berminat mengikuti pesta tersebut. Tapi karena Mama-nya yang terus memaksa minta ditemani. Ia pun terpaksa ikut dan ya sepanjang berada di acara, Martin tidak pernah sekalipun jauh dari Mama-nya.
Nyonya Agatha berbincang-bincang dengan para istri pengusaha lainnya yang merupakan klien Tuan Mario. Mereka terus mengobrol dengan bahagianya sampai melupakan suami-suami mereka.
Sedangkan disebuah ruangan di lantai paling atas, para suami yang termasuk Tuan Mario juga tengah minum-minum bersama klien yang sudah menjadi teman berjudi nya, mereka ada yang ditemani wanita-wanita bayaran, dan ada juga yang ditemani oleh wanita yang berstatus sebagai selingkuhannya.
Tentunya tanpa sepengetahuan istri-istri mereka. Para suami itu beralasan pada istri mereka masing-masing dengan berkata akan membahas sebentar mengenai kerjasama mereka.
Para istri yang tidak paham mengenai perusahaan juga tengah asyik-asyiknya mengobrol hanya mengiyakan ucapan para suami tanpa merasa curiga sedikitpun. Begitupun nyonya Agatha yang sangat mempercayai suaminya itu hanya mengangguk dengan senyuman manisnya.
Namun tidak dengan Martin. Martin yang sangat tahu dengan gerak-gerik orang yang mau berkhianat tidak langsung mempercayai ucapan Papa-nya. Ia yakin Papa-nya sedang bermain dusta di belakang Mama-nya.
Setelah kepergian Papa-nya, lantas Martin pun berpamitan pada sang Mama dengan berkata akan pergi toilet sebentar.
Padahal kenyataannya ia mengikuti Papa-nya dengan mengambil jarak aman.
Martin mengikuti langkah Papa-nya yang masuk ke dalam lift, Martin menunggu didepan lift sembari melihat ke lantai berapa Papa-nya pergi.
Lantai 30...
Martin menekan tombol bertuliskan Open, setelah lift terbuka ia pun langsung masuk dan menuju ke lantai yang sama.
Setelah sampai Martin bergegas keluar untuk mencari diruang mana Papa-nya berlabuh.
Lantai tersebut memang diperuntukkan bagi petinggi saja. Dan ya di sana terdapat sebuah kamar yang tak lain adalah milik Tuan Mario. Karena gedung hotel tersebut adalah salah satu aset miliknya.
Martin baru kali ini datang ke gedung ini, namun ia yakin ini adalah lantai pribadi Papa-nya karena keadaan lantai yang sangat sepi dan interiornya pun di desain persis seperti di Mansion. Interior kesukaan Papa-nya.
Terdapat empat pintu disana, Martin mencoba mengeceknya satu persatu dengan cara menempelkan telinganya di daun pintu.
Satu dua pintu tidak ada yang mencurigakan, tapi saat mengecek di pintu ketiga Martin sedikit terhenyak karena pintu tersebut tidak tertutup rapat. Martin semakin terhenyak lagi saat mulai mendengar suara ******* wanita dari dalam ruangan tersebut.
"Mainkan sayang... Ahhhh... Terus, lebih cepat sayang...."
Deg!
Suara itu? tidak salah lagi, itu adalah suara Papa-nya. Seketika kedua tangan Martin mengepal kuat. Buku-buku tangannya memerah karena saking kuatnya kepalan tersebut.
Martin berniat menggerebek Papa-nya, namun saat ia akan menendang pintu, tangan seseorang lebih dulu menariknya sedikit kencang.
Martin ingin memarahi orang tersebut karena saking emosinya. Namun saat melihat siapa orang tersebut, Martin terperanjat mendapati keberadaan Mama-nya yang sudah menangis tanpa suara.
"Ma-ma.." Martin tercekat. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Seseorang yang paling tersakiti dalam hal ini adalah Mama-nya.
Nyonya Agatha menggeleng pelan, pandangannya sayu tidak memancarkan gairah bahagia lagi seperti beberapa saat lalu.
Kedua mata Martin berkaca-kaca, dengan cepat ia memeluk ibunya erat seraya menangis.
"Mama harus kuat, masih ada Martin yang akan mencintai Mama dengan tulus. Mama lupakan laki-laki bajingan itu. Mulai sekarang kita pergi dari Mansion, Martin akan cari apartemen yang nyaman untuk kita. Ya?" Ujar Martin masih dalam posisi memeluk sang Mama.
Nyonya Agatha terisak dalam pelukan. Ia hanya mendengarkan ucapan putranya. Telinganya terasa kebas saat masih mendengar suara ******* itu.
"Tolong... Tolong bawa Mama pergi dari sini." Ucap nyonya Agatha lirih.
Martin mengangguk cepat. "Iya, Martin akan bawa Mama pergi, bahkan jauh dari sini.. Ayok." Martin memapah Mama-nya membawanya ke lantai dasar. Setelah menaiki mobil Martin pun bergegas pulang ke Mansion untuk mengambil pakaiannya juga pakaian Mama-nya. Ia juga mengajak Bi Darmi yang menjadi pelayan setia Mama-nya.
Martin membawa Mama-nya ke luar daerah yang tentunya jauh dari jangkauan Papa-nya. Segala akses yang mampu dilacak oleh Papa-nya langsung dimatikan oleh Martin, sampai keberadaan mereka lenyap bagai di telan bumi.
Dan di sisi lain, setelah puas bermain panas dengan selingkuhannya, Tuan Mario mengantarkan sang kekasih mudanya lalu kembali lagi untuk menjemput istri juga putranya.
Namun saat sampai di tempat acara, ia tidak mendapati keberadaan dua orang yang sangat di cintainya itu.
Martin menghubungi istrinya namun tidak ada jawaban, ia pun pulang dan mengira istrinya sudah kembali ke Mansion duluan.
Namun saat sampai di Mansion, penjaga mengatakan jika nyonya Agatha dan Tuan Muda keluar dari Mansion dan mengatakan akan pergi berlibur.
Tuan Mario marah besar, semua pekerja turut terkena amukan nya. Dan dengan sekali bentakan semua pekerjanya resmi di pecat.
Segala pikiran buruk pun mulai berkecamuk di kepala Tuan Mario, ia yakin pasti sang istri sudah mengetahui perselingkuhannya tanpa ia ketahui.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau kehilangan Agatha, cepat kerahkan semua bodyguard untuk mencari keberadaan istri saya!" Perintah Tuan Mario pada asistennya dengan perasaan panik.
Semua bodyguard sudah dikerahkan untuk mencari keberadaan keduanya, bahkan Tuan Mario pun menyewa pelacak handal berharap istri dan putranya segera diketahui keberadaannya.
Namun sayang, semua itu tidak menghasilkan apapun. Keberadaan kedua orang yang sangat dicintainya itu benar-benar tidak bisa diketahui, mereka lenyap bagaikan ditelan perut bumi.
Sejak saat itu Tuan Mario hidupnya terpuruk, namun tak berlangsung lama, saat selingkuhannya ada untuknya ia pun sedikit demi sedikit bisa bangkit kembali. Namun ia masih berusaha mencari keberadaan istri dan putranya. Berharap bisa memperbaiki hubungannya.
skip..malas gw baca😪