Satu kemalangan memunculkan kemalangan yang lain. Anin Prameswari ternoda oleh pria tidak dikenal, dan membuat ia menyetujui pernikahan bersama seorang pria yang nyatanya adalah sahabatnya sendiri. Mampukah sang sahabat mencintai Anin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Musuh Terbesar
"Kemari! Kamu cerita sama Risa, kan?" kata Dama, yang menarik tangan Dona masuk ke dalam toilet pria.
"Lepasin!" ucap Dona. "Kamu kasar kepadaku."
Dama melepas tangannya dan ia tersadar telah berbuat kasar kepada sang istri. Ya ... Dona adalah istri kedua yang Dama nikahi sehari setelah pernikahannya bersama Anin dan sekarang Dona juga hamil.
"Sayang, maafkan aku," ucap Dama, "aku kira kamu cerita sama Risa."
"Kamu gila apa? Mana mungkin aku cerita. Aku juga kaget saat Risa bicara seperti itu, dan lagi ... seharian ini kamu tidak menghubungiku. Mana sok perhatian lagi sama Anin."
Dona juga kaget pada saat Risa bercerita tentang rahasianya. Ia mengira Risa tengah mengetahui hubungan antara dirinya bersama Dama. Dona berpikir kalau Risa sebenarnya tengah menyindirnya. Rupanya tidak. Risa sendiri mengalami hal yang buruk.
Ketika mendengar penuturan Risa, Dama merasa jantungnya akan meledak. Cerita Risa persis seperti apa yang tengah Dama hadapi sekarang. Untungnya itu kisah Risa yang sebetulnya. Dama menjadi lega untuk merahasiakan pernikahan keduanya.
Dama meraih wajah istrinya. "Jangan marah-marah, Sayang. Nanti anak kita ikut ngambek. Aku cuma menjalankan peranku saja. Cintaku ini hanya untuk kamu seorang."
"Aku enggak mau tahu. Besok malam kamu harus tidur di rumah," kata Dona.
"Mana bisa begitu. Aku dan Anin belum pindah rumah. Setelah aku pindah dari rumah orang tua Anin, aku janji akan terus bersamamu," ucap Dama.
"Aku akan bersabar. Secepatnya cari rumah untuk pindah."
Dama tersenyum, "Tentu, Sayang. Aku akan secepatnya cari rumah untuk pindah."
Dona mengangguk, "Kita lekas keluar. Nanti Anin dan Risa curiga lagi "
Dona keluar dari toilet terlebih dulu, lalu disusul oleh Dama. Keduanya bersandiwara di hadapan Anin dan Risa.
"Udah selesai makannya?" tanya Dama kepada Anin. Di bawah meja, tangan Dama mengenggam tangan Dona karena memang posisi duduk Dama di apit oleh Dona dan Anin, sedangkan Risa di depannya.
"Sudah, kita pulang sekarang?" tanya Anin.
"Sudah malam juga. Lebih baik kita pulang saja," ucap Dama.
"Kalian hati-hati di jalan." Risa memeluk Anin.
"Kamu juga, kan, kita sama-sama hamil," seloroh Anin.
Seharusnya kamu ucapin itu juga kepadaku Anin. Aku hamil anak suamimu, batin Dona.
Dona memandang Dama yang keluar restoran dengan mengenggam tangan Anin. Dalam hati ia merasakan kecemburuan. Dona tidak ingin berbagi, ia ingin memiliki Dama hanya untuknya sendiri.
"Don, kamu mau aku antar pulang?" tawar Risa.
Dona menggeleng, "Aku pulang sendiri saja. Kamu hati-hati di jalan."
*****
"Aku kasihan pada Risa. Dia sangat mencintai suaminya, tetapi suaminya sudah memiliki istri. Di satu sisi aku memikirkan istri tua yang tersakiti," kata Anin.
Andai Anin tahu bahwa nasibnya juga sama seperti Risa. Bahkan yang lebih parah, madunya sendiri adalah seorang sahabat yang selalu ia percaya.
"Jangan dipikirkan. Itu urusan mereka," sahut Dama.
Kamu juga begitu Anin, bahkan sahabatmu sendiri menjadi madumu. Tapi ini semua bukan kesalahan kami karena kamu sendiri seorang pelakor, batin Dama.
Musuh terbesarmu adalah sahabatmu sendiri. Musuh terbesarmu adalah orang-orang terdekatmu. Dua kalimat yang memang benar adanya. Anin dikeliling orang-orang seperti itu. Suami dan sahabatnya tengah mempermainkannya saat ini.
Bersambung
Dukung Author dengan vote, like dan koment.
🤣🤣🤣🤭