Yang mau ngobrol shantuy dengan saya, bisa langsung follow instagram saya ya (@kangrebahan_03). Kebetulan saya baru aktif lagi di instagram, insya allah nanti saya infokan jadwal up di sana.
*******
"mari bermain"
Bagi siapa pun yang mendengar kalimat itu dari mulut seorang gadis cantik yang bernama Elza, lebih baik memilih untuk segera mengakhiri hidupnya dari pada mati di tangan gadis berhati iblis namun berwajah malaikat itu. Kecantikannya bisa menjadi daya pikat untuk memancing targetnya agar memasuki perangkap dalam jebakan maut yang sudah ia buat.
Ya itulah Elza, gadis mungil yang memiliki wajah super cantik membuat siapa pun akan tertipu dengan mudah. Di balik itu semua, ada iblis di dalam diri Elza yang siap bangkit kapan pun ketika ia lepas kendali.
***
Melvin Andrea Micheal.
Nama itu sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat, Melvin itu bisa di bilang suami idaman bagi kaum hawa. Dia tampan, kaya, seorang pengusaha sukses juga. Paket konplit bukan? Maka tidak heran jika Melvin menjadi rebutan cewek cewek.
****
Misi nya di New York membawa petaka bagi seorang Elza. Ciuman pertama nya di ambil paksa oleh bajingan tampan, bernama Melvin. Elza tidak terima dengan kelakuan Melvin yang secara tidak langsung sudah menodai bibirnya yang suci, maka dari itu Elza langsung memberikan pelajaran kepada Melvin berupa tendangan super kencangnya di area sensitif Melvin.
Harusnya Melvin marah dengan perlakuan gadis itu kepadanya, tapi melihat wajah kesal gadis itu membuat seringai muncul di wajahnya yang tampan.
"mine"ucapnya.
+++++
Hanya penulis pemula yang ingin menuangkan kehaluan nya😴. Berhubung ini karya pertama saya, mohon bantuannya untuk para senior yang sudah banyak pengalaman nya. 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vifinefianti_033, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Melza
Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, Melvin dan Elza memutuskan untuk numpang bermalam di sebuah rumah sederhana yang mereka lihat. Untungnya mereka mau membantu, sehingga mereka mengizinkan Melvin dan Elza bermalam dirumah mereka yang sederhana itu. Mereka tidak punya pilihan lain, karena matahari hampir tenggelam.
Di ruang yang sempit, terdapat satu ranjang kecil dan diatas nya ada kasur kapuk yang tampak lusu dan kusam. Selain itu, seluruh dingding kamar ini terbuat dari anyaman bambu sehingga udara malam masuk melalui lubang lubang kecil disana. Tidak hanya itu saja, lantai yang mereka pijak masih berbentuk tanah liat dan untuk penerangan kamarnya masih menggunakan cempor.
"Dingin? "Tanya Melvin dengan nada berbisiknya.
"Tidak" Jawab Elza datar.
Melvin terkekeh pelan ketika melihat raut wajah Elza yang tampak tegang itu, ia tahu jika Elza pasti gugup karena malam ini mereka harus berbagi ranjang bersama.
Hening, tidak ada percakapan diantara mereka berdua. Mereka sama sama sibuk menatap langit langit kamar yang masih terbuat dari anyaman bambu.
"Kalau Elsa tahu kalau kita tidur bersama pasti dia bakalan mentertawakan kita" Celetuk Melvin sambil tersenyum membayangkan raut wajah Elsa jika gadis itu sampai tahu apa terjadi malam ini "Pasti dia bakalan ngejek lo karena selalu menolak untuk bertemu sama gue"
Elza mengabaikan ucapan Melvin, ia memiringkan tubuhnya sehingga membelakangi Melvin.
Melvin melirik kearah punggung Elza, sudut bibirnya tertarik hingga membentuk sebuah senyuman yang lebar. Apakah Melvin harus berterimakasih kepada orang orang yang hendak membunuhnya? Berkat mereka Melvin mendapatkan waktu seharian bersama Elza, rasanya seperti mimpi.
Mungkin alasan Elsa menolak perasaannya karena Elsa tahu jika ia tidak mungkin bertahan ketika menjadi pendamping nya, maka dari itu Elsa selalu mengatakan jika Elza lebih cocok untuk menjadi pendampingnya dari pada Elsa. Sekarang Melvin mulai paham setelah menjadi seorang CEO di perusahaan besar, ia butuh seseorang yang tangguh untuk bertahan di sisinya.
Setelah melewati hal berbahaya bersama Elza, selama dua kali berturut turut. Melvin bisa menyimpulkan jika Elza adalah kandidat yang paling cocok untuk menjadi pendamping dirinya. Tidak hanya cantik, Elza juga cerdas dan tangguh. Itulah mengapa Melvin langsung menyukai Elza saat pertemuan mereka di New York.
Mine
Kata itulah yang Melvin ucapkan.
"Lo udah tidur?"
"Hmmm"
"kawyanya gue juga nggak bisa tidur"
Elza menghela napas kasar, ia langsung merubah posisinya menjadi menghadap kearah Melvin.
"Jadi, kita mau ngapain sampai hari menjelang pagi? "Tanya Elza.
Senyum jahil langsung tercetak di wajah Melvin.
"Menurut lo apa yang akan orang lakukan ketika seorang wanita dan laki laki berada didalam kamar yang sama?"Tanya Melvin.
"Main monopoli "Jawab Elza yakin.
Melvin berdecak kesal.
"Bukan! "
"Lalu? "
"Bersenang senang"
"Maksudnya? "
"Cihh so polos " Dengus Melvin kesal.
Elza tersenyum mengejek.
"Apa otak lo isinya selalu berbau hal mesum?"
Melvin menggelengkan kepalanya cepat.
"Kalau otak gue isinya hal mesum, mungkin gue bakalan bikin perusahaan di bidang industri perfilman dewasa"
"Sinting! "
Melvin tertawa.
"Gue cuma becanda elah"
Melvin menatap lekat wajah cantik Elza yang ada dihadapannya, lalu tangannya terulur untuk mengelus elus pipi Elza pelan. Terasa lembut bahkan kulit nya seperti kulit bayi.
Elusan tangan hangat Melvin di atas permukaan kulitnya memunculkan perasaan nyaman, sudah sangat lama Elsa tidak. merasakan senyaman sekaligus sedamai ini. Maka dari itu Elza hanya bisa diam, membiarkan Melvin mengelus permukaan kulitnya.
Suasana malam ini terasa sangat dingin, bahkan selimut yang menutupi tubuh mereka dari udara malam terasa tidak berguna. Hanya elusan tangan Melvin di permukaan kulitnya yang bisa menghangatkan wajahnya dimalam ini.
"Bisakah kita seperti ini, Elza? "Tanya Melvin dengan nada pelannya "Melarikan diri dari dunia yang kejam dan hidup bahagia dengan cinta"
Ucapan Melvin tidak terdengar seperti sebuah pertanyaan, lebih tepatnya sebagai pernyataan. Elza bingung harus menanggapi ucapan Melvin dengan apa, Elza pun sama lelahnya dengan Melvin. Jika Elza melarikan diri dari kehidupannya, maka Elza akan mengecewakan banyak orang. Tapi, jika Elza tetap bertahan di kehidupannya, maka Elza akan tetap dalam lingkaran setan yang sudah ia masuki sejak ia terlahir ke dunia ini.
Elza menghela napas panjang.
"Kita nggak bisa lari, Melvin"
"Kenapa? "
"Melarikanq, diri adalah tindakan pengecut. Seberat apa pun masalah lo, lo harus yakin kalau lo bisa menyelesaikan masalah yang lo hadapi. Dan setiap masalah pasti akan ada solusinya"
Elza menyentuh kepala Melvin, lalu di usapnya kepala itu dengan pelan.
"Gue yakin lo pasti bisa Vin, kalau emang lo nggak bisa, mungkin sejak awal lo udah melarikan diri. Tapi lihat sekarang, lo masih ada di sini dan mampu untuk bertahan dari segala tekanan kan"
Melvin terdiam.
"Lo nggak boleh menyerah gitu ajah, ada banyak orang yang menggantungkan hidupnya sama lo. Mereka semua tanggung jawab lo, Vin"
"Lo nggak bisa egois!!, lo harus pikirkan nasib mereka kalau lo mau menyerah gitu ajah"
"Elza"
"Ya? "
"Terimakasih " Melvin tersenyum lebar bahkan matanya nyaris tidak terlihat.
Elza bisa melihat dengan jelas kalau itu bukan senyum jahil yang sering di tunjukkan oleh Melvin kepadanya, senyuman itu terlihat begitu tulus.
"Makin sayang deh"
Mata Elza terbelalak kaget saat Melvin menarik tubuhnya secara tiba tiba sehingga Elza tidak mampu melepaskan diri ketika Melvin sudah mendekap tubuhnya dengan erat.
"Love love pokoknya" Bisik Melvin sambil mengecup puncak kepala Elza berulang kali.
"Melvin!! "
*****
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke lokasi keberadaan Melvin, akhirnya Alex bisa bernapas lega ketika ia sudah sampai di lokasinya. Sayangnya mobilnya tidak bisa masuk kedalam gang kecil yang Alex yakini hanya muat untuk dua motor saja, itu pun mereka harus saling bergantian agar tidak menyenggol satu sama lain.
Setelah mengirimkan pesan singkat kepada Melvin, kini Alex memutuskan untuk mendudukan bokongnya diatas kap mobil barunya.
Udara yang masih segar membuat Alex tersenyum lebar tanpa sadar, sudah sangat lama ia tidak merasakan sesuatu seperti ini. Hidup di kota besar yang penuh dengan polusi, akan terasa sulit untuk mendapatkan udara yang masih bersih seperti ini.
Kedua mata Alex terpejam ketika merasakan udara segera mulai menerpa tubuhnya, ia tersenyum ketika merasakan udara itu membelai setiap lekuk wajahnya yang di gilai oleh banyak wanita.
Hiruk pikuk yang ia rasakan selama ini seketika terlepas dari diri Alex setelah merasakan ketenangan yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Alam seakan akan sedang memanjakan Alex dengan memperlihatkan pepohonan yang tumbuh subur dengan dedaunan berwarna hijau, pemandangan hijau itu memanjakan indra penglihatan Alex. Tak hanya itu, suara kicauan burung yang saling bersahutan menjadi melodi pengantar tidur untuk Alex.
Alex membuka matanya ketika ia mendengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, ia terkejut ketika melihat sosok Melvin sudah berdiri di depannya dengan wajah super datarnya.
"Astagfirullah "
Alex langsung turun dari atas kap mobilnya lalu menatap Melvin dengan takut.
"hantu dari mana lo? "tanya Alex "gue nggak takut, mau gue bacain ayat kursi hah!!" bentak Alex.
Melvin memutar bola matanya malas.
"Nggak usah becanda Lex, ayok balik" Ajak Melvin.
Alex menatap Melvin curiga, ia takut jika sosok didepannya adalah hantu yang sedang menyamar sebagai Melvin. Tapi melihat kaki Melvin yang menyentuh tanah, membuat Alex bisa bernapas lega.
"Maaf, gue pikir lo hantu" Kekeh Alex.
Melvin berdecak sebal.
Alex hanya bisa menampilkan cengir khasnya, lalu tatapannya jatuh kearah seseorang yang berdiri di belakang Melvin.
"Elza" kagwet Alex saat ia mengenali sosok wanita yang sejak tadi berdiri di belakang Melvin.
Dengan gerakan cepat, Alex langsung mendorong tubuh Melvin dengan kuat agar Melvin bisa menyingkir dari hadapannya.
"Sialan! " Umpat Melvin karena dorongan Alex yang cukup kuat membuat dirinya hampir terjatuh.
"Kenapa lo bisa disini? "Tanya Alex bingung.
"Tersesat" Jawab Elza datar.
"Kalian saling kenal? "Tanya Melvin menatap mereka satu persatu.
"Tentu kami saling kenal" Jawab Alex girang.
"Elza? " Melvin menatap Elza agar menjawab pertanyaannya.
"Iya" Jawab Elza datar.
"Jadi cewek yang kita maksud selama ini adalah wanita yang sama? "Tanya Melvin menatap Alex dengan serius "Gue harap lo menjawab nggak Lex"
"Setelah gue amati, ternyata cewek yang kita maksud adalah dia" Alex menujuk Elza dengan telunjuk tangannya "Jadi? Apa kalian berpacaran? "
"Ya"
"Tidak"
Alex berdecak sebal.
"Yang bener yang mana woy"
"Tentu ajah kita pacaran" Melvin langsung merangkul bahu Elza agar merapat dengan tubuhnya "Iya kan sayang"
Elza langsung menarik tubuhnya menjauh dari Melvin, ia menatap Melvin dengan pandangan datarnya.
"Kita nggak pacaran, bisa mati muda kalau gue pacaran sama lo"
"Huahahahahh"
Melvin mendengus kesal saat melihat Alex sedang menertawakannya.
Alex berdehem beberapa kali untuk menghentikan suara tawanya itu.
"Kayanya masih ada peluang buat gue nih"
Elza tidak mengerti dengan apa yang mereka ucapkan saat ini, mata nya sibuk menelusuri area hutan ini. Hingga matanya tidak sengaja melihat sesuatu yang tampak aneh.
"Loh datang sendirian?" Tanya Elza.
Alex menoleh kearah Elza.
"Iya gue sendirian" Jawab Alex bingung "Ada apa? "
"Arah jam 3 ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan kita"
Alex dan Melvin langsung mengikuti arah pandang Elza, tapi mereka tidak menemukan apa pun selain pepohonan di sini.
"Sebaiknya kita pergi sekarang! "
Kakinya langsung melangkah mendekat kearah mobil BMW M3 dengan warna hijau menyala, entah mengapa Elza merasa deja vu saat melihat mobil ini. Ia teringat dengan teman temannya yang masih belum ia ketahui keberadaannya.
Elza menghembuskan napasnya kasar, langsung saja Elza membuka mobil itu lalu masuk kedalam mobil tanpa mengucapkan apa pun lagi.
*****
Mobil hijau itu langsung melaju dengan perlahan menyusuri jalanan yang sempit dan di sekelilingnya di penuhi oleh pepohonan yang rindang, bahkan jalanan ini terlihat agak gelap dan menyeramkan karena cahaya matahari terhalang oleh dedaunan.
Jalanan yang agak sedikit bergelombang membuat Alex harus bener bener fokus untuk mengendarai mobil barunya dengan benar.
"Kita di ikuti"
Kalimat itu berhasil membuat Melvin langsung menoleh kearah Elza yang duduk di jok belakang.
"wdi ikuti? " Melvin kemudian menatap kearah belakang, disana ia melihat sebuah mobil hitam sedang melaju pelan di belakangnya.
"Nggak usah panik, gue pastikan jika kita bisa lolos" ucap Alex yakin.
"Lo bawa senjata? "
Alex mengerutkan keningnya bingung.
"Bawa, kenapa? "
"Mana? "
"Emang lo bisa?"
"Ya"
Alex melirik kearah Melvin meminta persetujuan dari pria itu, lalu Melvin membalas dengan anggukan pelan.
"Dibawah, itu ada tas hitam. Buka ajah"
Elza langsung memgambil tas hitam yang berada di samping kaki nya, ia menaikan tas hitam itu ke kursi sebelah kirinya. Dengan perlahan Elza membuka ritsleting tas hitam itu hingga menampakan berbagai jenis senjata disana.
Dari semua jenis senjata didalam sana, perhatiannya tertuju kepada pistol berwarna silver. Ia langsung meraih Desert Eagle Mark XIX , jenis pistol ini sering di gunakan di berbagai film dengan genre action. Selain mudah di bawa, pistol ini cukup mematikan. Maka dari itu Elza mengambil pistol ini.
"Lo bisa isi peluru? "tanya Elza menatap Melvin yang sedang menatapnya juga.
"Bisa"Jawab Melvin yakin.
Elza mengambil 2 pistol silver itu dan beberapa magasin.
"Lo yakin bisa? "Tanya Alex masih tidak percaya.
"Lo pasti akan terkejut Lex" Ucap Melvin menatap Alex dengan senyuman misterius nya "dqia lebih jago dari pada loh"
Alex berdecak sebal.
"Terserah lo! "
Elza memposisikan tubuhnya menyamping, menatap mobil hitam dibalik kaca gelap. Orang luar tidak akan bisa melihat kedalam mobil ini, tapi orang dalam bisa melihat keadaam di luar. Maka dari itu Elza bisa tenang mengawasi pergerakan mereka dari sini tanpa takut ketahuan oleh mereka.
"Jadi kapan lo bakalan menyingkir nyamuk itu? "tawnya Alex mulai tidak sabar ingin melihat kemampuan Elza dalam membidik musuh.
"Setelah berada di jalan besar"
"Kenapa? Bukankah lebih baik kita singkirkan mereka sekarang? "
"Kita nggak tahu tujuan mereka mengikuti kita apa, maka dari itu kita tunggu sampai mereka yang nyerang duluan" Jelas Elza.
Sudut bibir Alex tertarik hingga membentuk sebuah smirak.
"Gue setuju sama ide lo"
Melvin yang sejak tadi mendengarkan argumen mereka, memilih untuk diam saja. Lagi pula itu bukan bidangnya sekaligus bukan keahlian nya, maka dari itu Melvin percaya jika Alex dan Elza bisa membuat mereka selamat.
Setelah 2 jam lamanya, mereka akhirnya sampai di sebuah jalanan beraspal. Tidak ada lagi jalan bergelombang, kini jalanan yang mereka lewati terasa mulus bahkan Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Alex membanting stir ke kiri dan ke kanan untuk melewati berbagai jenis kendaraan yang berada di depannya.
"Mobil pilihan lo bagus Lex" Sindir Melvin.
Alex membalas dengan seringai nya.
Mobil dengan warna hijau yang mencolok bisa di temukan dengan mudah oleh mobil yang sejak tadi mengikuti nya.
Tiba tiba sebuah mobil hitam berhasil mengejarnya, sekarang mobil itu berada tepat di sampingnya dan sialnya mereka sedang berjalan beriringan melintasi jalanan yang padat.
"Merunduk! "
Dengan gerakan kompak mereka langsung membungkukkan posisi duduk mereka saat mobil di sebelahnya menurunkan jendela kaca lalu orang didalamnya mengarahkan moncong pistol kearah mereka.
Dorr..
Prayyy..
"Sialan" Umpat Alex marah.
Kaca mobil barunya langsung pecah karena ditembus oleh peluru yang diarahkan oleh mereka.
Elza langsung menurunkan jendela kaca mobil sehingga udara di luar langsung berhembus kencang ke dalam, rambut Elza yang semula terikat rapih kini tampak acak acakkan. Elza langsung mengarahkan moncong pistolnya kearah ban mobil tersebut.
Dor...
Seringai muncul diwajah Elza saat melihat mobil yang ia tembak di ban nya langsung oleng, bahkan sang pengemudi kesulitan untuk menghindar dari truk bermuatan besi dihadapannya.
Duarrrr
Tabrakan antara mobil hitam dengan truk bermuatan besi tidak bisa terelakkan sehingga mobil hitam itu langsung meledak dengan kencang, bahkan api langsung melahap mobil tersebut bulat bulat.
Senyum kagum langsung muncul diwajah Alex saat wanita itu berhasil menyingkirkan mobil yang hampir membuat mereka terbunuh.
Elza kembali menaikkan jendela kaca mobil,
Elza kembali duduk di posisinya sambil membenarkan ikatan di rambutnya yang sudah acak acakkan.
"Gila, lo hebat banget" Puji Alex dengan mata berbinar.
"Lebay lo" Melvin menoyor kepala Alex "Gue udah liat kemampuan yang lebih wow lagi dari pada tadi"
"Seriusan? "Tanya Alex penasaran.
"Iya, gue serius "
"Nggak usah seneng dulu, gue yakin mereka akan langsung meminta bala bantuan"
"Iya juga si"
Apakah Alex juga harus menujukan kemampuan mengemudinya kepada Elza?
Benar apa yang di katakan oleh Elza, karena mobil mobil itu langsung muncul dari segala arah. Sepertinya Alex harus menunjukkan kemampuannya kepada Elza mulai sekarang, karena sebentar lagi ia akan beraksi. Alex yakin jika Elza akan kagum dengan kemampuannya, atau Elza akan langsung jatuh cinta kepadanya. Membayangkan saja sudah membuat Alex tersenyum seperti orang tidak waras, sungguh kalau sampai Alex dan Elza berpacaran. Maka, mereka akan jadi pasangan yang sangat kuat dan tidak terkalahkan.
Ketiga manusia itu sibuk dengan tugas mereka masing masing. Alex yang sedang fokus mengendarai mobilnya, Melvin membantu Elza untuk mengisi magasi di pistol yang sudah kosong, sementara Elza sibuk mempersiapkan pistol di tangannya.
Tubuh Elza masuk kedalam jendela kaca yang sudah ia turuni, dengan cepat Elza langsung menghujanji mobil mobil yang ada di belakangnya dengan tembakan tidak beraturan yang di arahkan oleh Elza.
"Shittt terlalu banyak"
Elza melempar pistol yang kosong itu kepada Melvin, lalu mengambil pistol yang sudah di isi magasin penuh. Mobil mobil itu terus bergerak gerak di belakang mereka bahkan tidak ada yang berani mendekat kearah mereka, sungguh Elza merasa kesal karena ia tidak berhasil menyingkirkan salah satu dari mereka.
"Gue punya ide"
"Ide? "
Melvin seketika menelan ludahnya kasar ketika Elza mengatakan ide.
"Gue yang ambil kemudi, lo yang nembakin mereka"
"Lo yakin? "
"Ikuti apa kata gue! "Bentak Elza.
Alex tidak tahu ide yang mungkin sudah tersusun di otak Elza, maka dari itu Alex tidak punya pilihan lain selain membiarkan Elza mengambil alih kemudi mobil nya. Alex menatap Melvin, memberikan kode agar Melvin mengambil alih stirnya untuk. sementara sampai Alex dan Elza berhasil bertukar tempat.
Akhirnya Elza bisa sedikit bernapas lega ketika bokongnya berhasil mendarat di kursi kemudi, ia menatap Melvin sebentar sebelum akhirnya Elza memgambil alih kemudi mobil Alex. Elza menginjak pedal gasnya semakin dalam, mempercepat laju kendaraannya menembus jalan raya yang tampak lenggang.
Berbagai umpatan langsung di lontarkan para pengendara kepada sang pengemudi gila yang sudah berani menyenggol kendaraan nya sampai lecet.
Mobil mobil hitam yang sejak tadi mengejarnya melakukan hal sama dengan apa yang di lakukan oleh mobil hijau di depannya, mereka tidak punya pilihan selain mempercepat laju kendaraannya agar tidak kehilangan mobil hijau yang sudah menjadi incarannya.
Kemunculan mobil mobil hitam itu membuat Elza tersenyum tipis, mereka memakan umpannya ternyata. Secara perlahan lahan Elza menuruni kecepatan mobilnya, saat mobil itu sudah berada di dekatnya. Elza langsung membelokan mobilnya ke kiri lalu menginjak pedal rem nya secara mendadak.
Brakkk...
Mobil hitam itu langsung menabrak mobil yang sedang melaju pelan di hadapnnya sehingga mobil yang di tabrak langsung oleng dan menghantam pembatas jalanan.
Seringai muncul di wajahnya, ia menurunkan jendela kaca mobilnya lalu mengarahkan moncong pistolnya kearah tangki besin mobil hitam tersebut.
Dorrr...
Duarrr
Mobil itu langsung meledak ketika Elza berhasil membidik tangki besin, mungkin karena mobil itu menabrak mobil lainnya sehingga menimbulkan kerusakan pada mesin mobil. Kerusakan itulah yang memicu percikan api, sehingga Elza memanfaatkan percikan api itu untuk meledakan mobil dengan menembak tangki besin.
Kini mobil yang di kendarai oleh Elza tidak bisa berkutik saat mobilnya terperangkap dalam sebuah pormasi kerjasama dengan mobil lainnya. Di sisi kanan dan kirinya sudah ada mobil yang menghimpit bagian tubuh mobil yang di naikinya, sementara di belakang ada mobil yang menubruk bagian belakangnya sehingga beberapa kali Elza hampir terbentur ke stir.
"Sialan! "Umpat Alex marah.
"Shittt" Umpat Elza marah.
Dengan emosi yang meledak, Elza tidak mampu berpikir jernih lagi.
"Maaf untuk mobil lo Alex"
Pada saat itu juga Elza langsung membanting stirnya ke kanan, lalu ke kiri lagi. Elza terus melakukan itu, hingga akhirnya Elza memiliki celah untuk kabur setelah mobil mobil itu sedikit menjauh darinya.
Elza langsung menginjak pedal gasnya dalam dalam lalu membelokan stir mobilnya kearah kiri secara mendadak, bahkan Elza harus menekan sedikit pedal rem nya supaya mobilnya tidak blablas ke arah lain.
Alex ikut berpartisipasi dalam pertempuran itu, ia langsung menghujani banyak peluru ke mobil hitam yang sedang mengejarnya di belakang.
Salah satu mobil di belakangnya langsung oleng ketika Alex berhasil membidik sang pengemudi, mobil itu langsung terjungkal lalu meledek dalam waktu bersamaan.
Gesekan demi gesekan mulai terjadi saat Elza dan sang musuh saling beradu kekuatan mobil masing masing, Elza menyeringai saat sang pengemudi memberikan senyuman mengejek kearahnya. Elza membalas dengan menujukan jari tengahnya sambil tersenyum tipis kepada sang pengemudi.
"****!! "
Pada saat itu juga Elza langsung menginjak pedal rem nya sehingga mobil yang sedang beradu kekuatan dengan nya langsung membelok secara tiba tiba, mobil itu tidak bisa menghindar ketika di depannya ada sebuah mobil pengangkut kayu ada didepannya. Mengerem pun tidak bisa, karena mobilnya berada di kecepatan tinggi sehingga mobil itu langsung menghantam mobil pengangkut kayu di bagian belakang dengan kuat.
Elza tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk menabrak mobil hitam itu dari belakang.
Duarrrrr....
Mobil itu langsung meledak saat bagian mesin itu terbakar.
Elza langsung membelokan mobilnya untuk menghindar dari mobil yang sedang di lahap oleh api.
Tinggal satu yang tersisa, sepertinya Elza akan bermain main dengan mobil yang terakhir itu. Elza membelokkan mobilnya ke kiri ketika di depannya ada sebuah belokan.
Kedua mata Elza terbelakak kaget saat di depannya ada seseorang yang berdiri di tengah jalan, sialnya orang yang berdiri itu adalah orang yang ia kenal.
Citttttttttt....
Suara decitan antara ban mobil dengan permukaan aspal terasa memekikkan telinga bahkan kepulan asap muncul di ban ban itu, suara gemeletuk gigi nya terdengar saat Elza berusaha menghentikan mobil ini. Keringat dingin menetes di pelipisnya, Elza tidak yakin apakah ia bisa menghentikan mobil ini sebelum seseorang yang berdiri di tengah jalan tertabrak. Padahal Elza sudah menekan klakson beberapa kali, tapi pria sialan itu belum juga pergi dari sana.
"*******! "umpwat Elza marah.
Untungnya Elza bisa menghentikan mobilnya sebelum mobil itu menghantam tubuh pria gila yang berdiri dengan santai di tengah jalan, Elza mencengkeram kuat stir mobilnya dengan napas tersenggal. Dada nya naik turun, bahkan telapak tangannya sudah di penuhi oleh keringat dingin. Sial, tadi itu berhasil membuat jantung nya berdebar dengan begitu cepat.
Melvin dan Alex saling menatap satu sama lain, ia tidak tahu siapa pria yang kini tengah berdiri di depan mobilnya. Kalau memang pria itu orang jahat, mungkin Elza bisa menabraknya langsung tanpa bersusah payah menghentikan mobil yang sedang melaju begitu kencang.
Setelah cukup tenang, Elza membuka sabuk pengaman lalu membuka pintu mobilnya dengan cepat. Tangannya sudah gatal ingin menghajar wajah pria gila itu, Elza melangkah menghampiri pria gila yang sedang tersenyum begitu lebar saat melihat kemunculannya.
Alex dan Melvin memilih untuk diam didalam mobil, mereka ingin tahu apa yang akan Elza lakukan terhadap seseorang yang ingin menabrakkan dirinya ke mobil yang mereka naiki.
Bughhh..
Elza langsung melayangkan pukulan keras di wajah pria gila itu dengan kuat.
"sikap gila lo emang nggak pernah berubah " teriak Elza menatap pria itu dengan tajam.
Alex dan Melvin saling melepaskan tatapan satu sama lain, mereka dengan kompak menggelengkan kepalanya karena tidak tahu apa yang membuat Elza memilih untuk menghajar pria itu.
Bahkan pria itu sampai mengeluarkan darah di lubang hidung mancungnya, seketika Melvin dan Alex begidik ngeri saat hajaran Elza ternyata sangat kuat.
Elza menatap pria itu dengan tatapan berkaca kacanya, bahkan tubuhnya masih gemetaran karena rasa takut yang ia rasakam sebelum mobil itu bisa berhenti. Elza tidak bisa membayangkan kalau sampai mobil itu tidak bisa berhenti, maka pria gila ini akan mati karena terhantam oleh badan mobilnya. Tentu, Elza tidak akan bisa memaafkan dirinya karena ia harus kembali kehilangan orang berharganya karena terbunuh olehnya.
Pria itu masih bisa menampilkan senyum lebarnya walau hidung mancungnya berdarah, ia langsung menarik tubuh Elza kedalam pelukannya berusaha menenangkan gadisnya. Ide gilanya membuat Elza tampak sangat ketakutan, itu salahnya.
"Abang kangen sama elo dek" Bisiknya pelan.