Pikiran Nara masih saja penuh dengan ajakan menikah dari direktur gilanya itu, Nara jadi tidak begitu konsen dalam bekerja.
Kenapa aku bisa sesial ini pergi ke perjodohan malah ketemu sama bos sendiri?!
Masalahnya Nara hanya wanita yang menyamar sebagai sahabatnya.
Akankah perjalanan cinta Nara dengan statusnya sebagai janda berjalan mulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Duajempol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Memilih Lawan
Nara mengintip dari pintu di ujung lorong kantor, dia membetulkan letak kacamata hitamnya. Tersenyum lebar dan mengibaskan rambutnya, Bagus lorong lantai 8 juga aman!
Nara berjalan penuh kepercayaan diri, menyapa orang di sekitar.
"Belakangan ini sinar matahari sangat luar biasa yah hahaha jangan lupa menjaga kesehatan mata kalian." Nara tetap tersenyum lebar meski mendapat tatapan aneh dari karyawan lain.
"Aah halo pak kepala bagian!" Nara membungkukkan badan, "Bapak juga jangan lupa! Kaca mata hitam! Itu sangat penting! Haha." Sapaan Nara membuat pak kepala bagian memasang wajah bingung sekaligus terkejut.
Sudah seminggu seperti ini, aku sudah terbiasa. Aku juga tidak bertemu dengan pak direktur di kantor!
Nara tersenyum penuh percaya diri.
Tentu saja aku kan sedang di Uruguai! Kerja bagus Naranika Atmadja!
Nara berdiri di depan lift menunggu gilirannya, rasa senang akan keberhasilannya membuat dia terbahak sendiri. "Hahahahaha!" Luar biasa prestasiku ini. Nara menggelengkan kepalanya perlahan dan tersenyum bangga.
"Astaga apa dia salah makan??"
"Sebaiknya jangan terlalu dekat!"
Beberapa bisik bisik dari karyawan lainnya diabaikan oleh Nara.
"Hei!!" Suara itu cukup menggelegar di lorong kantor. "KA.MU YA.NG DI.SA.NA!!"
Nara menoleh kearah sumber suara dengan jantung yang berdegup super kencang. DEG DEG DEG!
Matanya hampir melompat keluar melihat Rey berjalan sedikit cepat menghampiri dia.
OWHH MY BOSSS!!!!!! Secepat kilat Nara langsung berlari dari sana tanpa berpikir panjang, kabur adalah jalan ninjanya saat ini.
"Berhenti!!!" Teriakan Rey tentu saja dia abaikan.
Nara belari secepat yang dia bisa dengan sepatu hak tinggi 7 centi, dan itu menyebalkan karena dia kesulitan berlari dengan cepat. Matanya menajam melihat lift di lorong lainnya yang akan menutup, dia langsung melompat menggapai tombol lift dan masuk sesegera mungkin. Jarinya gemetaran memencet tombol tutup pada lift berulang kali, "Bagus bagus bagus cepat menutup!! Ayo tutup tutup!!!!"
'Tak tak tak' Nara tidak berhenti sama sekali memencet tombol itu.
Pintu akan mentup, tersisa celah 5 centi dan senyum Nara hampir terbit karena senang tetapi surut seketika karena dari celah itu muncul jari jari yang menahan pintu. "Kamu tidak dengar aku menyuruhmu untuk berhent..." Suara itu terdengar sangat horor di telinga Nara.
TIIIDAAAAAKKKKKK!!!!!!!! jika bisa Nara ingin pura pura mati saja.
"Hah?? Kamu yang waktu itu..." Rey terkejut melihat Nara.
"Se.. selamat pagi pak direktur!!!!" Nara menundukkan kepalanya dalam dalam menyapa Rey.
Rey terdiam menatap Nara, "kenapa anda memakai kacamata hitam??? Saya pikir anda mata mata dari perusahaan saingan!"
"Ka.. karena ini sedamg trend!! Hahaha memakai kacamata hitam di ibu kota kan sedang trend!"
Nara tertawa canggung membuang pandangannya ke arah lain. Apa yang aku bicarakan saat ini?!
"Anda habis operasi?"
"Tidak."
"Apa lampu lantor kelewat terang?"
"Tidak sampai seperti itu."
"Anda hobi bermain mata mata atau menyamar seperti itu?"
"Tidak."
"Anda habis mengalami kekerasan??"
Nara terdiam karena kesal Rey tidak berhenti bertanya.
Dia tidak menjawab! Jangan jangan dia mengalami kekerasa di kantor!! Rey berasumsi.
"Anda benar benar habis di pukul seseorang?? Coba saya lihat!"
"Apa? Tidak!" Nara reflek menoleh pada Rey.
"Buka kacamata anda!"
"Tidak!!!" Nara menahan kacamatanya dan membuat Rey mengenyitkan alisnya.
"Buka!" Rey menarik gagang tengah kacamata Nara.
"Tidak!!! Pak direktur anda kenapa memaksa saya???" Nara bersikeras menahan kacamatanya.
"Sudah jelas kan, di kantor itu dilarang memakai kacamata hitam!!" Rey masih memaksa membuka kacamata Nara.
Nara memaksa untuk mundur namun kekuatan Rey menahan kacamatanya juga tidak bisa dibilang ringan. 'Trrinnngg Trinnggg'
Seperti mendapat angin keselamatan, ponsel Rey bebunyi. "Ponsel anda berdering pak!"
Rey masih saja menahan kacamata Nara, terjadi aksi saling tarik menarik. "Ada telepon!!"
Rey melepas begitu saja tangannya dan mengangkat ponselnya.
Eh!!!! Nara terkejut karena beban tarikan menghilang begitu saja dan tentu saja dia akan jatuh. 'Brukkkkkk'
"Halo pak direktur." Bastian yang menelpon Rey.
"Aduh." Nara meraba matanya dan terkejut kacamatanya sudah terlepas. Saat dia sadar Nara langsung menutup bagian wajahnya dengan tangan lalu melihat kearah Rey dan pria itu sedang menatap matanya dan terdiam.
'Ting' Denting pintu lift berbunyi dan Nara langsung meraih kacamatanya dan berlari keluar lift setelah pamit tergesa.
"Halo.. halo.. halo pak direktur apa anda mendengar saya?"
"Iya saya mendengarkan." Ucap Rey.
"Manager Wulan sedang ada dinas kekuar, besok beliau akan segera menemui anda. Dan satu lagi... nnnnhhhhgg.. itu nona Narnia sepertinya agak sulit di temukan jadi.. lebih baik direktur menye..."
"Kembali ke kantor, tidak perlu mencarinya lagi." Rey mematikan sambungan teleponnya.
Karena aku sudah menemukannya!
****
Sore hari saat jam pulang kantor setidaknya cukup melegakan bagi Nara karena dia benar benar bisa keluar gedung kantor tanpa ada halangan lagi.
"Naraaaaa!!!" Natha melambai dari jendela mobilnya yang terbuka, lalu keluar menyambut Nara.
"Kamu masih menjemput aku?? Kan aku sudah bilang tak apa, lihat memarnya hampir menghilang semua kok."
"Ada yang ingin aku bicaraka."
"Ada apa??" Nara melihat raut wajah Natha tidak biasa.
"Kamu... di pecat." Cicit Natha.
"Pe.. peeepp. Peee.. pecaaat????!!" Nara hampir pingsan mendengar pernyataan itu.
"Di pecat dari menjadi kekasih kontrak dengan direkturmu! Yaaayy selamat!" Natha tertawa riang.
"Aaah gila! Kamu jika bicara tolong yang lengkap!!!! Aku hampir jantungan." Nara memegang dadanya yang berdegup kencang, "Tapi apa itu benar???" Nara memasang wajah bahagia.
"Benar!" Jawab Natha antusias, "Bastianku yang memberitahu."
"Bastianmu." Nara memasang wajah mual, "Terserah yang penting aku bebas! Terimakasih Tuhan!!" Nara mengangkat kedua tanganny tinggi tinggi.
"Yayyy aku kita rayakan dengan minum beer malam ini sambil makan bbq!" Natha tak kalah antusias.
Ini sungguh tak apa kan yah?? Semoga ini memang awal kebebasan Nara.
Flash back on
Natha sedang membereskan dokumen keperluan meetingnya siang nanti, ponselnya diatas meja bergetar. Ada panggilan dari nomor tidak di kenal,
"Halo."
"Halo, nona Natha."
"Ini.." Natha melebarkan matanya karena familiar dengan suara tersebut.
"Iya ini aku Bastian."
"Ah yah, tuan Bastian. Ada apa?" Natha menahan rasa groginya.
"Mulai sekarang panggil saja aku Bastian, tanpa embel embel tuan." Bastian terkekeh ramah.
"Baik, kamu juga silahkan panggil aku Natha. Tanpa nona." Natha ikut tertawa ringan, "kamu tau nomor ponselku dari..."
"Ah ini pak direktur yang memberitahu, apa aku mengganggu menelpon pagi pagi seperti ini?"
Natha menahan senyumnya,
Akhirnyaaaa dapat juga nomor ponsel Bantian-ku setelah beberapa kali pertemuan aku tidak berani memintanya!!
"Ah tidak mengganggu kok, ada apa?"
"Ini persoalan teman kamu, yang bekerja sebagai kekasih kontrak direktur."
"Ada apa lagi???" Natha mendadak cemas.
"Ja.. jangan khawatir, semua baik baik saja. Pak direktur hanya ingin menyampaikan pesan bahwa teman kamu tidak perlu bekerja sampingan lagi sebagai kekasih kontrak."
Flash back off
****
Rey masih betah duduk dalam kantornya meskipun jam pulang kantor telah berlalu lama, dia memangdangi monitor komputernya dengan seksama.
"Namanya Naranika Atmadja, usia 26 tahun. Wakil divisi II bagian keuangan." Rey berdecih. "Setidaknya dia masih memakai hati nurani untuk menggunakan suku kata dari namanya menjadi Narnia!"
Rey membaca detail setiap informasi data karyawan milik Nara, "Dia tidak berbohong sol statusnya yang... janda. Anak sulung dari dua bersaudara, memiliki adik laki laki dan ini tahun ketiganya bekerja di perusahaan ini." Rey menjeda, "Bahkan dia juga memakai fasilitas pinjaman kantor, apa karena itu dia bekerja sambilan?"
Rey mengusap dagunya, "Walaupun dia memiliki alasan kuat, tapi dia sudah salah memilih lawan. Beraninya menipu Reynold Orlando Giordan!"
"Naranika, Naranika... Naranika!" Rey tersenyum miring. "Bagaimana cara menghukum seorang penipu?!"
aku baca bab ini pas lagi makan Ampe keselek,gara2 Nara baca UUD.
KK jgn sampe Nara dan Natha musuhan karna cowo.