Kirana Dwi Lestari, seorang gadis belia berusia 17 tahun.
Tari, begitu Sapaanya di sekolah. Memiliki tiga orang adik yang sudah dua tahun ini ia hidupi sendiri. Kemana orangtuanya? Mereka meninggal dunia dua tahun lalu.
Tari dan adik-adiknya tinggal di sebuah rumah sederhana hasil kerjanya selama dua tahun ini.
Saat pagi menjelang, Tari akan berangkat kesekolah dan bekerja saat malam tiba. Selama dua tahun ini, kehidupan Tari tenang-tenang saja. Sampai suatu saat, ia bertemu dengan pria sebaya yang mampu menggetarkan hatinya.
Apakah cinta Tari akan terungkap dan terbalaskan?
Apakah pria itu akan menerima seorang ... Tari?
Ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tataxx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 19
"Sayang, aku merindukanmu!" ucap papi sembari berhambur memeluk gadisnya.
Ana membalas pelukan itu dengan erat. Beberapa hari tak bertemu, menumbuhkan rindu yang mengakar dalam hati mereka. Tuan Anton melepas pelukannya dan segera menghujani wajah Ana dengan banyak kecupan. Pipi, mata, hidung, dan ... Terakhir bagian pucuk kepala. Kecupan tuan Anton pada bagian itu cukup lama, mennyalurkan rasa rindu mendalam pada gadisnya itu.
Malam ini, mereka bertemu di rumah baru. Tempat yang kini menjadi tempat kedua mereka untuk saling bertemu. Pelayan sudah menyiapkan makan malam untuk mereka dan setelah puas saling melepas rindu, mereka segera makan malam di meja makan.
"Pih, apa Papih tidak menjaga pola makan?" tanya Ana saat mengamati tubuh tuan Anton yang terlihat berbeda.
"Papi tidak bisa memikirkan yang lain. Papi hanya fokus pada pekerjaan agar cepat selesai dan segera pulang menemuimu." jawab tuan Anton dengan tersenyum.
"Ya, tapi kan tidak seperti itu juga. Kalau Papi sakit, Ana tidak akan tenang." Ana mulai melayani tuannya. Mengambilkan makanan untuk sang papi. Setelah selesai, Ana mendekati tuan Anton dan duduk di sampingnya.
"Ini Pih, makan yang banyak! Ana tidak mau Papi sakit karna tidak menjaga pola makan."
"Astaga sayang ... Kenapa banyak sekali? Ini bukan porsi Papi sayang." Tuan Anton terkejut saat melihat isi piring yang lebih banyak dari biasanya.
Ana tergelak, ia mengatakan agar tubuh tuan Anton menjadi berisi seperti sebelumnya. Karna bukan porsi makannya, akhirnya tuan Anton mengajak Ana untuk makan sepiring berdua. Menghabiskan makanan di atas piring bersama.
Ana menyuapi tuannya dengan telaten. Seperti dirinya saat menyuapi adik kecilnya Adnan. Tentu saja pria itu yang meminta disuapi. Setelah acara makan sepiring berdua itu selesai, tuan Anton mengajak Ana ke halaman belakang. Ana begitu terkejut ketika melihat sebuah taman yang besar dan luas berisi banyak sekali jenis bunga yang tertanam disana.
"Wah, indah sekali." ucap Ana ketika melihat indahnya warna-warni bunga yang bermekaran. Penerangan di sana sangat terang. Bahkan sudah seperti saat siang hari.
"Kamu suka sayang?" tanya pria itu sembari memeluk gadisnya dari belakang.
Tuan Anton memeluk erat tubuh gadis itu. Meletakkan kepalanya di bahu Ana. Sungguh seperti sepasang kekasih yang saling menyayangi. Ah tidak, pada kenyataannya, Ana menuliskan nama Yoga dalam hatinya dan bukan tuan Anton. Pria yang sudah menyematkan dirinya sebagai pemilik seutuhnya kehidupan tuan Anton.
Malam ini, mereka habiskan dengan berbincang seperti biasa. Tuan Anton benar-benar tidak memaksakan cintanya. Ia selalu bersabar menunggu hingga Ana siap menerima cintanya.
***
Tuan Anton tidak pernah mengurangi kadar cintanya untuk Ana, ia selalu memberi yang terbaik untuk gadisnya itu. Begitupun dengan Yoga, semakin hari ia semakin penasaran dengan sosok Ana. Si gadis manis pekerja klub malam milik papanya. Itu yang ia tahu selama ini.
Waktu terus berjalan, hari terus saja berganti. Hari ini, hari dimana Tari dan Yoga akan mengambil hasil ujian kenaikan kelas. Tari terlihat keluar dari sebuah kelas dengan membawa hasil ujian dengan wajah yang sumringah. Dari belakang, keluar juga bu Mae yang menjadi wali untuk Tari.
"Wah, senengnya yang dapat hasil memuaskan dan naik kelas." ucap bu Mae dengan tersenyum.
Tari menoleh dan berjalan berdampingan dengan bu Mae. "Seneng banget Bu, ngga nyangka aja Tari bisa masuk 10 besar dari 40 siswa."
"Itu tandanya kamu juga ngga kalah pintar sama adik-adik kamu Tar. Jadi jangan minder lagi ya!"
"Ini Ibu nyemangatin atau meledek Tari?" bu Mae tergelak mendengar pertanyaan Tari. Tari itu selalu merasa paling rendah sendiri jika menyangkut tentang kecerdasan otak. Jauh dari kata setara dengan Farhan atau Bilal. Kedua adiknya selalu mendapat peringkat 3 besar. Kini, dengan hasil yang diperolehnya, ia menjadi percaya diri dengan kemampuannya sendiri.
Keduanya langsung berjalan keluar sekolah untuk pulang. Namun di depan gerbang, Tari tak sengaja melihat Yoga yang keluar dari mobil bersama seseorang. Ketika mempertajam pengelihatannya lagi, Tari langsung terkejut.
"Kamu kenapa Tar?" tanya bu Mae keheranan melihat Tari tiba-tiba terdiam.
"Eh, engga bu. Ayo langsung pulang! Kasihan adik-adik di rumah sendirian."
Mereka pun segera pulang ke rumah dengan menaiki angkutan umum. Selama di perjalanan, Tari terus saja terdiam. Ia memikirkan apa yang ia lihat beberapa waktu yang lalu. Yoga, ia datang bersama tuan Anton. Ada hubungan apa mereka? Selama ini Yoga hanya bercerita tentang dirinya yang akan menggantikan posisi papa nya setelah lulus kelak. Dan tuan Anton, hanya pernah bercerita tentang istrinya yang sudah meninggal dan anak semata wayangnya tinggal di luar negeri.
Pasti mereka ada sesuatu! Atau apakah Yoga adalah anak papinya? Tapi sang papi tidak pernah bercerita jika anaknya berada di Indonesia. Ah, banyak sekali pertanyaan yang Tari pikirkan. Hingga ia tak sadar bila sudah waktunya turun dari kendaraan umum itu.
"Tari!" panggil bu Mae dengan suara sedikit keras.
Tari menoleh dan ternyata bu Mae sudah turun dari angkutan, ia sangat terkejut dengan suara bu Mae. "Kamu itu malah melamun. Ayo turun!"
Akhirnya Tari turun dari angkutan dan hanya bisa tersenyum malu.
***
Setelah menerima hasil ujian kenaikan kelas, semua siswa dan siswi menikmati libur sekolah selama 2 minggu. Liburan Tari masih sama dengan hari biasanya, yang membedakan adalah kini Tari atau Ana datang ke klub hanya sesekali saja karna tempat pertemuannya dengan tuan Anton kini berpindah ke rumah baru. Rumah yang sengaja disiapkan tuan Anton untuk ia tinggali bersama Tari dan adik-adiknya nanti.
Malam ini, Tari berada di sebuah kafe bersama Yoga. Laki-laki muda itu sengaja meminta Tari untuk menemaninya bermalam minggu. Layaknya para muda-mudi yang tengah menikmati masa mudanya.
"Mau makan apa Tar?"
"Ikut kamu aja Ga,"
"Kamu ini, selalu ikut apa yang aku pilih. Manut banget sih jadi orang."
Yoga menjetikan jarinya untuk memanggil pelayan. Setelah datang, Yoga segera memesan makanan dan minuman sesuai seleranya.
"Tari," panggil Yoga. Ia menatap wajah Tari dengan serius. Mendengar namanya disebut Tari langsung melihat ke arah Yoga. Pandangan mereka saling bertemu dan membuat Tari menjadi salah tingkah.
Mereka terdiam sejenak, Yoga pun tak mengalihkan pandangannya pada Tari barang sedikitpun. Tiba-tiba jemari Yoga menggengam tangan Tari yang berada di atas meja.
Deg,
Jantung Tari tiba-tiba berdetak sangat kencang. Ah, bayangkan saja bagaimana rasanya tangan kita tiba-tiba digenggam oleh orang yang diam-diam namanya telah terukir dalam hati.
Tari terus tertunduk, tak berani lagi menatap mata itu. Bahagia, terkejut, bercampur menjadi satu saat ini. Ingin sekali rasanya gadis itu menenggelamkan diri dalam lautan bunga yang kini tengah memenuhi hatinya.
"Tar, aku boleh ngomong sesuatu?"
To Be Continue ....
LANJUT THOR.....🙏🙏
ayooo lanjut 🚴🚴🚴
uuuuuhhhh Miss u om
lagipula saat itu Tari atau Ana dalam keadaan mabuk seeeh
disebelah ada nyawa yang harus kamu jaga tuuuuh