NovelToon NovelToon
Om Duda Teman Bapak

Om Duda Teman Bapak

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Contest / Duda / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: yati suryati

Dea merupakan putri tertua Pak Bani dan Alm. Bu Ida. Karena ditipu teman bisnis akhirnya Pak Bani bangkrut. Mereka menjual seluruh aset demi menutupi hutang di bank dan membayar gaji karyawan.
Suatu hari, Yudi yang merupakan mantan karyawan Pak Bani datang mencarinya. Karena Yudi merasa hutang budi kepada keluarga itu. Karena Pak Bani lah, dia bisa menjadi pengusaha mebel sukses.
Pak Bani meninggal dalam kecelakaan menuju tempat kerja, sebelum dia meninggal. Pak Bani menitipkan Dea kepada Yudi. Yudi seorang duda yang berpisah karena istrinya selingkuh. Hingga suatu rencana busuk dibuat mantan istri Yudi untuk memisahkan Yudi dan Dea.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yati suryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

part 19

Om Duda Teman Bapak

Part 19

"Terima kasih, De," bisik Om Yudi lalu memelukku.

Awalnya tubuh ini kaku, lama kelamaan alam bawah sadar menggerakkan tangan untuk menyambut pelukkan Om Yudi.

Ketukkan pintu oleh Dokter visit, melepaskan pelukkan kami. Aku tersipu malu.

Jika hari ini kondisi Om Yudi semakin membaik, besok pagi sudah diperbolehkan pulang. Bik Nah dan Widi datang ke rumah sakit mengantarkan

pakaian ganti untukku dan Om Yudi. Mereka tidak ikut menjaga Om Yudi malam ini dengan alasan takut meninggalkan rumah kosong.

"Tidur, ya, Om!" ucapku setelah selesai memberinya obat.

"Kenapa tetap panggil 'om'?" Dia menyentuh pipiku lembut.

Aku salah tingkah, apa ini benar-benar jatuh cinta.

***

"Hai pelakor!" Terdengar suara seseorang berteriak di depan pagar rumah.

Om Yudi mengintip dari balik kain jendela. "Ivi," gumamnya.

"Mau apa dia, Om?" bisikku.

"Mana saya tau." Om Yudi menarikan kedua bahu.

Sepertinya dia sengaja membuat keributan. Agar semua mata mengarah dia dan rumah ini. Berkali-kali dia meneriaki kata pelakor.

"Om, apa benar Dea pelakor?" tanyaku lirih.

Om Yudi memegang bahuku dengan kedua tangannya. Tatapan kami saling beradu. "Dea dengar! Saya sudah lama pisah jauh sebelum bertemu kamu," ucap Om Yudi meyakinkanku. "Jadi kamu jangan pedulikan ocehan dia!" Sambung Om Yudi.

Pintu pagar masih terkunci, sehingga Ivi tidak bisa masuk. Membuat dia dan mamanya semakin kencang berteriak. Sepertinya mereka bangga jadi bahan tontonan.

"Om, kenapa diam aja?" tanyaku sedikit kesal.

"Tunggu! Saya lagi menunggu semakin banyak orang," jawab Om Yudi santai. Dia sedang mencari sesuatu.

"Yudi keluar! Di mana tanggung jawab kamu sebagai seorang ayah? Tidak pernah kamu membiayai anak kamu." Terdengar teriakkan 'nenek lampir'.

"Ok, De. Yuk kita keluar!" Om Yudi menggenggam tanganku. Dia juga terlihat membawa sebuah map.

Keadaan di luar sudah ramai.

"Silahkan masuk," ucap Om Yudi sambil membuka kunci pagar.

"Ini, nih, pelakornya!" teriak Ivi, berusaha menggiring agar warga ikut menyalahkanku.

"Sudah? Sudah selesai memaki-makinya?" Nada bicara Om Yudi sangat santun. "Sekarang giliran saya yang bicara." Sambung Om Yudi.

Tanpa aku sangka, Om Yudi membeberkan semua yang terjadi. Tanggal berapa mereka bercerai, apa alasan sampai mereka bercerai, dan juga mengatakan tentang Malika.

"Ivi, jangan kamu kira saya bodoh. Saya sudah tes DNA, benar dugaan saya. Malika bukan anak saya." tutur Om Yudi sambil menunjukkan hasil tes DNA mereka.

Kertas itu di rebut paksa oleh Ivi. Tangannya bergetar kelihatan dari kertas yang ia pegang. Raut wajah kedua wanita tidak sadar diri itu memerah menahan malu. Sekarang warga yang awalnya mendukung telah berbalik menyorakki mereka.

"Awalnya Malika saya yang jaga, dengan paksa kalian ambil dia. Dengan alasan apa? Dengan alasan Malika, kalian akan memoroti saya terus. Jadi minta biaya kepada ayah kandung Malika! Bukan saya." Om Yudi menari nafas dan membuangnya perlahan.

Ivi menanatapku begitu tajam, seperti srigala akan menerkam mangsanya. Mereka akhirnya pergi, dan warga pun bubar dengan sendirinya.

"Sebentar lagi kakak viral, nih," ucap Widi saat aku dan Om Yudi masuk rumah.

"Jangan sampai. Amit-amit," jawabku sambil mengetok-ngetok pelan kening.

Om Yudi tertawa dan langsung naik ke lantas atas. Aku mengikutinya.

"Om,"

"Apa De?"

"Dea bisa pindah kamar, kan?"

Om Yudi menghentikan langkahnya menaiki anak tangga. Ia berbalik dan memandangiku lekat. "Kalau itu yang terbaik untuk kamu, De."

"Makasih, Om," ucapku pelan.

***

Semua berjalan seperti biasa, makin hari, aku semakin merasakan jatuh cinta kepada Om Yudi. Sikapnya memperlakukanku membuat hati ini tidak dapat menolak rasa yang muncul tanpa sengaja.

Ivi dan Jevan sudah tidak lagi mengganggu, semua terasa amat indah. Menikah dan menjalani rumah tangga seperti orang kebanyakan seperti mimpiku.

Om Yudi tiba-tiba datang dan merangkulku. Ketika aku sedang asik menonton drama korea. Ia pun menirukan adegan yang ada di drama tersebut.

Ciuman Om Yudi terhenti saat Bik Nah terdengar masuk ke rumah, ternyata dia telah pulang dari pasar. Aku merasakan pipi ini memerah. Aku malu tapi bahagia.

"Jalan, yuk, De! Main ke pantai atau kemana terserah."

"Sekarang, Om?"

"Tahun depan," jawab Om Yudi kesal.

"Sa ae, Mas," Aku tertawa sambil mendorong badan Om Yudi.

"Ya Allah terima kasih, akhirnya dia nggak manggil Om lagi," ucap Om Yudi sambil menengadahkan kedua tangan.

"Lebay," cibirku dan beranjak dari tempat duduk.

"Kemana?" teriak Om Yudi.

"Ganti baju, lah."

"Ikut."

Aku menunjukkan tangan yang terkepal ke arah Om Yudi. Ia terkekeh.

Tanpa di sangka kami sama-sama menggunakan switer rajut lengan panjang dengan bawahan celana hitam beserta sepatu kets.

"Apa, sih, niru-niru gaya Dea," ucapku kesal setelah melihat Om Yudi keluar dari kamar.

Sebenarnya, aku mengaguminya, dia masih terlihat muda.

"Kamu, tuh, niru-niru gaya saya. Dasar anak kecil!" upat Om Yudi.

"Enak aja. Kecil-kecil bisa buat anak kec ...," ucapanku terhenti. Aku langsung menutup mulut.

Om Yudi malah tertawa. "Kita nginap, yuk! Buktikan kamu bisa buat anak kecil," bisik Om Yudi dengan nada bicara sedikit nakal.

"ah, mesum ih."

Om Yudi langsung menarik tanganku menuruni anak tangga.

"Mau ke mana?" teriak Widi yang baru keluar kamar saat melihat kami bergandengan.

"Anak kecil di rumah aja! Saya mau culik kakaknya dulu," kelakar Om Yudi.

"Bawa dia jauh sekalian, bikin repot aja, tu, kakak!" Widi tertawa setelah itu.

"Kok jahat-jahat banget, sih, kalian?" ucapku memelas.

"Let's go sayang, kita ke pantai." Kini genggaman tangan telah berganti jadi rangkulan.

Tiga jam perjalanan tidak terasa sudah ditempuh, aku merasa seperti ABG yang jatuh cinta lagi. Benar kata orang, pacaran setelah menikah itu lebih indah.

Tibalah kami di pantai yang dituju. Kebetulan di sini ada penyewaan sepeda. Om Yudi mengajak balap sepeda sepanjang pantai.

"Ok, siapa takut," tantangku.

"Maaf, Mas. Sepedanya tinggal satu. Satu yang ini sudah disewa orang." ucap bapak yang memiliki penyewaan sepeda. Kebetulan memang tersisa dua sepeda di sini.

"Gimana, De?"

"Gonceng Dea, ya, Mas! Seperti drama korea. Kapten Ri gonceng Yoon se ri."

Om Yudi menjitak kepalaku. "Korban drakor."

Om Yudi menyanggupinya. Kini kami menikamati suasana pantai dengan bersepeda. Aku duduk di depan--di batang sepeda.

Ada saja hal kecil yang bikin kami perang mulut. Rambutku yang terkibas karena angin mengenai wajahnya. Hal itu membuat Om Yudi kesal.

Gayuhan sepeda berhenti saat ponsel Om Yudi berbunyi. Seperti nada pesan masuk. Aku lihat raut wajah Om Yudi berubah. Dia melirikku sebentar lalu fokus lagi ke ponsel.

"Pulang yuk! Saya tiba-tiba nggak mood," ajak Om Yudi, terdengar nada bicara sedikit kesal.

"Kenapa, Mas? Baru juga nyampe," tanyaku heran.

"Saya bilang pulang. Ya, pulang!" bentaknya. Padahal dari dulu sampai sekarang aku tidak pernah mendengar Om Yudi berbicara dengan nada seperti ini.

Baiklah, untuk tidak memperkeruh suasana, aku ikuti saja kemauan Om Yudi. Aneh. Sepanjang perjalanan Om Yudi hanya diam. Banyak hal sudah aku ucapkan untuk mencairkan suasana, tetapi tidak ada respon.

Pekanbaru, 25 Mei 2021

1
Sri Keren Mutamimah
Luar biasa
Sri Mulyati
👍
Anik
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Chika Ayuu
terharu sungguh
Chika Ayuu
seru banget
Ariyani Ariyani
hadir menyimak
Rose Angle
ini novel terpendek yang pernah aku baca tapi bagus cetitanya singkat padat jelas
Yati Suryati: baca ceritaku yang lain ya kak.
total 1 replies
indriyani
ceritanya sangat bagus
Yati Suryati: terima kasih
total 1 replies
💕💕syety mousya Arofah 💕💕
semangat kakkkk,,,sesakit apapun yg kita rasakan ,,,nyatanya hidup terus berjalan,,,
Yati Suryati: benar sekali kk
total 1 replies
SR.Yuni
setuju sama Widi...kamu bodoh Dea udah tahu jevan sodara ulet bulu kenapa diterima kayak ga ada lelaki lain aja....kecewa
SR.Yuni
Ceritany udah ok tapi jujur aku gak suka tipe lelaki Cemen gini masa udah jelas ulet bulu ganggu Dea kok gak dilawan...tegas dikit jadi lelaki
Kinan Kevin
bagus
Lulu Nasya
bagus ceritanya
Yati Suryati: terima kasih kk
total 1 replies
Yety Mulyaty
bagus
Yati Suryati: terima kasih
total 1 replies
Devi Handayani
keren ceritanya thorrr...... akhirnya tamat yaaa😍😍
Yati Suryati: terima kasih kk.
baca cerita ku yang lain juga ya
total 1 replies
Devi Handayani
fitnah... sekali lagi fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan..... ada inget ucapan dari tokoh siapa kah gerangan🤓🤓🤓
Devi Handayani
dea mau juga dinikahin ama om gantengnyaa.... wes lahh maju terus pantang mundur😍😍
Devi Handayani
semangat thorr😍😍
Yati Suryati: terima kasih.

coba baca ceritaku yang lain ya
total 1 replies
Nuranita
wah jdi iri ini sama mba authorx....anakx banyak...seneng donk pasti rumahx rame...nah aq anakx satu klo anakq sekolah aq hnya berdua aja sama cio kucing belang tigaq😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Yati Suryati: salam kenal mbak, makasih banyak sudah baca2 ceritaku
total 1 replies
Nuranita
kalo nglamar mbo y jgn gtu atuh....lari kn cewekx🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!