Di dunia yang selalu mencari pemenang, ia memilih untuk berjalan sendirian, tidak untuk menang tapi untuk menghentikan sesuatu yang tak pernah benar-benar ia pahami.
Ia kembali, bukan sebagai anak yang ingin belajar, tapi sebagai seseorang yang sudah tahu terlalu banyak, dan percaya terlalu sedikit. Di matanya, dunia ini belum berubah, hanya lebih pandai menyembunyikan niat buruk di balik tradisi dan kehormatan.
Ia tak datang mmembawa dendam. Tapi tidak juga datang dengan damai.
Dalam bayang-bayang kesunyian malam, medan perang telah menanti di ujung waktu, satu langkah kecil menjadi pemantik sejarah baru. Atau hanya jejak lain yang hilang bersama debu?
(Remake)
Zhong Li -> Shi Yexian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raffa Alief, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 19 - Akhir dari Satu Bulan
“Senior! bukankah ini sudah terlalu berlebihan?” Zhong Li yang berada di sekitar Hou Tian hanya bisa meringis kesakitan selagi menutupi lukanya yang terbuka lebar.
“Ayolah, apa kau masih ingin menjadi anak-anak? Tahan saja rasa sakit itu, jika kau segera ingin menyelesaikan ini semua cepat pelajari semua yang sudah ku katakan tadi! Maka ini semua akan selesai.” Hou Tian menyiapkan kuda-kudanya tanpa pedang.
“Yang tadi? Maksudmu yang teknik lanjutan Pengendalian Qi?” Zhong Li menatap Hou Tian dengan serius. “Dengan begitu, apakah semua ini akan selesai.”
“Yha semua ini akan selesai setelah kau menguasainya sepenuhnya.” Hou Tian menyungging bibirnya tipis.
“Baiklah jika begitu.” Zhong Li menguatkan pondasi kuda-kudanya sekali lagi, berniat akan menyerang Hou Tian sekali lagi. ‘ Pertama-tama, aku harus sedikit menghentikan pendarahan yang timbul dari luka ini.’
Zhong Li kembali menggunakan teknik pernafasannya yang sudah di pelajari nya. Teknik pernafasan ini tidak hanya berguna dalam membantu pertarungan saja, melainkan juga hal yang berhubungan dengan pertarungan. ‘Setelah itu, jika aku ingin menguji teknik lanjutan Pengendalian Qi ini maka jelas aku tidak butuh pedang bukan.’
Zhong Li sedikit melirik pedangnya yang masih berada di genggaman tangan kanannya. ‘Tidak, dalam rencana ku kali ini aku butuh pedang, dan keyakinan yang kuat. Jadi kenapa tidak membawanya saja.’
Zhong Li menghembuskan nafasnya pelan sebelum memulai pertarungan. Seperti pertarungan sebelumnya, dirinya berinisiatif memutuskan untuk maju menyerang terlebih dahulu.
Meskipun kekuatan Qi nya tidak tersisa terlalu banyak, tapi dirinya yakin bisa membawa kemenangan ke dirinya sendiri. ‘Demi menjadi yang terkuat, aku membutuhkan semua perasaan ini, entah itu kebahagian, kesedihan, kemarahan. Aku butuh semuanya!’
‘Semuanya memang kau butuhkan, tapi ada satu perasaan yang sama sekali tidak kau butuhkan!’ Karena tidak ingin diam saja, Hou Tian memacu kakinya untuk maju menyerah ke arah Zhong Li. ‘Orang yang dihantui oleh ketakutannya sendiri lah yang tidak akan bisa menjadi yang terkuat… Majulah! Zhong Li’
Zhong Li menyipitkan matanya, sekarang kepalanya penuh dengan berbagai prediksi yang akan terjadi kedepannya. ‘Aku tidak butuh teknik itu… Rencana ini masih terlalu banyak celah, aku harus membuatnya lagi… Tidak, itu hanya akan memperpanjang waktu, jika begitu jelas aku akan kalah… Mungkin membuat jebakan untuk mengunci gerakannya adalah yang paling tepat.’
Pemuda bermata merah itu akhirnya menemukan rencana yang tepat untuk di siuasinya saat ini, ‘Kekuatan Qi ku muncul di tangan ku bukan di alirkan ke tangan ku. Heh, ini harus berhasil dalam satu percobaan saja. Jadi mari kita awali semua ini…’
“Aliran Pendekar Sejati…”
Hari Ke-Tujuh Belas
‘Kemunculan adalah sebuah awal dari Perluasan. Perjelas pikiran mu, ikuti arah hati mu yang sedang mengalir.’
‘Senjata tertajam adalah senjata yang kau bentuk sendiri, senjata itu menyatu dengan jiwa dan raga mu. Kau harus mengasahnya dengan benar.’
‘Kekuatan yang tidak tampak sedang meluas di depan mu, membuat wilayah sendiri untuk berkuasa, ini adalah kekuatan yang tiada tanding.’
Hari ini adalah hari tersial yang pernah ku hadapi di dalam hidupku. Bagaimana tidak, Senior Hou memberi ku tugas tentang hal-hal yang sangat berhubungan dengan jimat dan obat.
Itu semua harus ku pelajari setelah selesai mempelajari Kitab Rahasia Semesta, yang artinya waktu tidur ku akan terpotong, belum lagi dirinya mengatakan jika aku tidak boleh tidur sebelum aku memahaminya, ah aku sangat frustasi.
Pelajaran hari ini adalah tentang teknik yang baru ku gunakan kemarin, tenik ini bisa di bilang adalah lanjutannya lagi. Entah aku harus terkejut atau tidak, aku tidak tahu.
Hari Ke-Delapan Belas
‘Dunia yang berwarna ini hanya kau lihat dari mata yang kau punyai saja, tidak dengan hatimu.’
‘Pakailah hati mu untuk melihat lebih luas lagi, warna yang kau lihat dengan mata mu amat begitu terbatas.’
‘Padukan semua kekuatan mu menjadi satu kesatuan, maka kau bisa menjadi sesosok makhluk atau sesuatu benda yang tidak di ketahui namanya.’
Aku tidak tahu kenapa Senior Hou memaksa ku untuk langsung lanjut ke teknik selanjutnya, padahal teknik sebelumnya belum aku kuasai sepenuhnya.
Teknik yang ku pelajari hari ini adalah tentang aliran pedang. Tetu saja aliran pedang yang berhasil membuat telinga ku terlepas kemarin. Namanya adalah “Aliran Tanpa Nama” apakah kalian merasa namanya sama sekali tidak cocok, aku juga berpikir seperti itu.
Aliran Tanpa Nama ini terdiri dari lima belas jurus yang sangat mematikan, Senior Hou berkata jika Aliran ini sangatlah membebani tubuh penggunanya, dirinya juga menekankan sekali lagi jika Aliran ini akan sangat berbahaya bagi penggunanya yang tidak memiliki cukup banyak Kekuatan Qi.
Saat itu aku bertanya seberapa banyak kekuatan Qi yang di keluarkan untuk mengeluarkan satu jurusnya saja. Dia menjawabnya dengan kebingungan, tapi tidak lama setelah itu dirinya berkata jika itu tidak lebih dari semua kekuatan Qi yang aku punya saat ini.
Hari Ke-Dua Puluh
‘Semua kekuatan akan hancur bersamaan dengan dunia ini. keberadaan yang memiliki awal, akan di pastika memiliki akhir.’
‘Pedang yang menggapai langit masih tidak akan pernah mencapai keabadian. Seseorang hanya akan melihat dari luarnya saja, tidak akan pernah menyentuh bagian yang lebih dalam.’
‘Tanpa ribuan penyangga, gunung tidak akan pernah berdiri. Tapi itu tidak akan berlaku bagi langit.’
Aku mengira jika teknik yang ku pelajari dalam dua hari penuh kemarin adalah Aliran pertama dari pedang Tanpa Nama, tapi tidak ku sangka itu hanya bagian paling dasarnya saja. Dan sekarang ini adalah baru yang terpenting.
Hari Ke-Dua Puluh Delapan
Setelah mempelajari Aliran ini dengan sangat serius tapi dalam waktu singkat, pada akhirnya aku lelah juga. Senior Hou memutuskan untuk tidak melanjutkan pelajaran ini dan menyuruhku untuk menghafal sisa isi Kitab ini yang belum ku pelajari.
Selama dua hari ke depan Senior Hou mengehentikan kelasnya, tapi dia menyuruhku untuk mempelajari tentang obat-obatan dan jimat, juga hal lainnya.
Kupikir ini adalah jalan terbaiknya.
Hari Ke-Tiga Puluh
Akhirnya aku berhasil menguasai tentang banyaknya ilmu. Aku juga berhasil menghafal sisa pelajaran yang belum ku kuasai, di hari ini akhirnya aku bebas dan tinggal menunggu hari esok untuk pulang di dunia ku.
Mungkin setelah pulang nanti aku bisa menikah dengan Qiqi, yah semoga masa depan akan seperti yang ku harapkan.
Hari Ke-Tiga Puluh Satu (Terakhir)
“Bisakah Senior memberi tahu akan kemana?”
“Ke Danau yang ada di depan Gunung Agung.”
“Eh, Kenapa kita akan ke sana?” Zhong Li memiringkan kepalanya, mereka sudah berjalan hampir satu jam dari kediaman Hou Tian, tapi belum tampak belum sampai juga.
“Jelaslah, untuk memulangkan mu! Yah lupakan saja itu, bolehkan aku bertanya…”
“Silahkan.” Alis Zhong Li sedikit terangkat menanggapi perkataan pria paruh baya yang tidak jauh di depannya, membimbing perjalanan ini.
“Apa Unsur Jiwa mu? Raja Pedang Zhong Li.”