NovelToon NovelToon
Cinta Terdinginmu

Cinta Terdinginmu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Contest / Balas Dendam / Romansa-Teen school / Tamat
Popularitas:13k
Nilai: 5
Nama Author: ARIFA IFTITA RAHMA

Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.

Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.

Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA MERIKA

Hari telah berlalu, perdebatan menyakitkan sudah terjadi hari kemarin. Namun, sosok bayangnya masih membekas di hati. Aku kesal padanya, untuk itu kuputuskan tukaran bangku. Semoga saja ia sadar betapa ia telah mengecewakan banyak orang.

Aku  memilih tukaran bangku dengan Ali, teman sebangku Rasyid. Ali bukanlah orang yang penuru,t bisa dibilang begitu. Jika ada kemauan, harus disertai dengan alasan. Begitulah terkadang malasnya bicara dengan Ali, tidak peka terhadap lingkungan. Akan tetapi, alasan yang tak bermutu pun pasti ia terima. Ali bukan tipe orang yang suka menolak permintaan orang lain.

Ali mengambil tasnya dan lekas duduk di sebelah Mer. Ah, nama itu saja rasanya sulit sekali untuk diucapkan. Duduk manis seolah dunia kosong, hiraukan keadaan sekitar, aku tak sudi jika harus bersanding dengannya. Kusantap habis buku novel di depanku. Aku tak melihat dirinya, malas melihat ekspresi wajahnya. Bukan benci, hanya saja kesal.

“Vi, balik ke bangku!”

“Kenapa lo? Bukannya lo udah nggak nganggep gue sahabat lo lagi?”

Ia tampak terdiam sejenak. Lantas, dengan raut ekspresinya itu, ia mengatakan perkataan yang sungguh menyebalkan.

“Oh, tentu. Silahkan saja duduk samping Rasyid. Gue baru tau ternyata sahabat gue suka banget sama bekas. Ups.”

Mer menutup bibirnya dengan jemari tangannya. Seolah ia keceplosan, tapi sungguh berniat mengatakannya.

Pipiku memerah menahan gejolak api yang ada dalam hatiku. Mer sungguh berubah total. Ia sungguh menjadi sosok yang tak kukenal. Mau bagaimana pun permasalahan yang ia punya, aku sungguh tak bisa mempercayai sahabatku ini. Mer masih sangat jauh, sangat jauh untuk bisa kumengerti.

 

 

---

 

 

VALLEN POV

 

Aku masih tak menyerah untuk menggapainya. Ini baru permulaannya. Awal dari perjuanganku memahami dirinya terlepas ia sudah sangat berjuang meraihku. Meski dilain sisi status ‘adik’ masih saja menggangguku. Aku tak bisa terima bahwa ia sungguhan adikku. Aku tak bisa membohongi perasaanku yang menyukai adik sendiri. Aku harap ia benar-benar tak mengetahui status kita sampai aku siap mengatakan sejujurnya. Sampai aku siap menatap matanya sebagai saudara seibu.

Aku kembali mengunjungi kelasnya, memintanya untuk pulang bersama. Namun, lagi-lagi tidak ada kesempatanku untuk mendekatinya. Tidak tampak sosok dirinya dalam kelas 10 IPA 4.

“Maaf kak, Mer nya udah pulang duluan. Gue nggak bisa nyegah buat nungguin lo,”

Suara Via membuat pandanganku teralihkan padanya. Aku kecewa, Mer tidak ada niatan untuk menungguku. Aku ingin berjuang padanya lagi, tapi disamping itu, aku penasaran apa yang membuatnya menjauhiku. Apakah Mer semarah itu padaku? Namun, apa yang telah kuperbuat?

Aku tersenyum tipis, “Oh begitu, makasih banyak infonya Vi, nggak perlu minta maaf juga, lo kan nggak salah apa-apa,”

“Yaudah Vi, gue duluan,”

Aku hendak berbalik arah, tapi Via lebih dulu menghentikanku. Ia menggenggam lenganku sebelum aku hendak meninggalkannya.

“Kak Vallen, mau pulang bareng gue?”

Kepalanya tertunduk selama ia berucap. Entah apa permasalahannya, aku tak begitu mengerti sikap perempuan. Aku melepaskan genggaman Via lembut, tetap tersenyum ramah sebisaku sembari menahan perih atas apa yang telah terjadi padaku dan Mer.

“Nggak usah Vi, gue balik sendiri aja, rumah gue—“

“Kak, please, ada yang mau gue omongin,”

Sungguh tak enak aku menolaknya. Via sudah tak lagi menundukkan kepalanya, ia tampak menatapku dengan tatapan serius. Mau tak mau, aku mengiyakan tawarannya selagi aku penasaran apa yang ingin Via katakan hingga melontarkan ekspresi seriusnya.

Kami berjalan beriringan. Via ikut berjalan bersamaku, menuju rumahku. Katanya, ia telah meminta sopir pribadinya agar menjemputnya di rumahku. Jangan ditanya kenapa Via tahu keberadaan rumahku, tentu saja karena letak rumahku berada di samping rumah sahabatnya.

“Jadi, lo mau ngomong apa?”

“Ehmm, itu, se, seberapa besar cinta kak Vallen ke Mer?” tanyanya gugup.

Aku sempat terkejut akan pertanyaan Via. Sungguh tak mengerti mengapa ia bertanya sesuatu yang sudah jelas.

Aku menghentikan langkahku. Memandang birunya langit di atas sana. Terdapat pula burung yang beterbangan hendak kembali ke sarangnya, mungkin sudah waktunya untuk para burung beristirahat.

Tanpa sadar, aku melukiskan senyum tulusku sembari menatap langit dari bawah.

“Mer itu unik, dia sosok wanita yang nggak bisa gue jelaskan hanya dari perkataan. Dia matahari gue yang sungguh ingin gue gapai. Tapi gue nggak bisa menggapainya, sekarang maupun selamanya,”

“Apa kak Vallen nggak ada niatan untuk mencari pengganti matahari yang lebih mudah digapai?”

Aku menatap wajah Via yang tampak serius ingin mendengar jawabanku. Sedikit terkagum padanya yang peduli pada sahabatnya. Aku berpikir, betapa Via sangat menyayangi  Mer hingga bertanya seperti itu padaku. Mungkin Via tidak ingin melihat Mer sedih jika aku meninggalkannya.

“nggak akan, gue nggak akan mencari pengganti matahari gue kecuali matahari gue sendiri yang memutuskan untuk mencari kekasih lain,”

“Ehmm, ka, kalau, gue bilang ada wa, wanita lain yang menyukai kakak gimana?”

Aku tersenyum ke arah Via. Tak menyangka Via akan benar-benar menjaga sahabatnya. Sedetik kemudian, kupegang pundaknya untuk meyakinkan dirinya.

“Lo tenang aja Vi, selamanya gue nggak akan bikin Mer sedih, gue akan pastiin itu, jadi lo nggak usah khawatir,”

Entah kenapa, ia tampak tak puas dengan jawabanku. Apa perkataanku ada yang salah? Ah, aku sungguh tak tahu bagaimana caranya memastikan Via agar ia tak perlu khawatir lagi merelakan sahabatnya padaku.

 

 

---

 

 

Sabtu, 15 Desember 2018

Aku masih terus mengejarnya. Namun lagi-lagi ia tak ada di kelas saat jam istirahat telah tiba. Aku tak ingin menyerah seperti hari lalu yang hanya menunggu di kelas Mer sampai jam istirahat berakhir. Kali ini, aku ingin mencarinya. Aku telah mencari ke seluruh sekolah, tapi aku masih belum menemukannya. Aku penasaran kekuatan apa yang dia punya sehingga selalu lolos dalam pencarianku. Seolah ia benar-benar tak memberikanku kesempatan untuk bertemu.

“Eh, katanya Mer kena bola basket sampai jatuh di lapangan, lihat yuk!” ucap seorang siswi yang berbicara pada temannya.

Aku terkejut mendengar kabar buruk itu. Tanpa menunggu waktu lama, aku segera berlari ke arah lapangan untuk melihatnya. Inilah kesempatanku, aku tak boleh menyia-nyiakannya.

“MER!”

Telah terlihat disana orang-orang tengah bergerombol ingin membantu. Aku segera menyelinap ke dalam. Disamping aku ingin menemuinya, aku sungguh khawatir padanya. Semoga saja ia tidak terluka.

“LO GAPAPA?!”

Sungguh paniknya aku sehingga baru sadar orang itu bukanlah Mer, orang yang tengah kesakitan memegangi lututnya yang berdarah, orang itu bukanlah Mer.

“Gapapa kak, Cuma perih sedikit,”

“Loh Vi?”

Aku masih terheran kenapa Via yang justru ada disana bukannya Mer. Akan tetapi aku tak peduli itu, aku tetap membantu Via, memapahnya ke ruang UKS. Mau Mer ataupun bukan, aku tak boleh mengabaikannya begitu saja. Terlebih lagi yang terluka adalah sahabat baik Mer.

“Lo duduk dulu, gue panggilin penjaga UKS nya!”

Lagi-lagi, Via menghentikanku sebelum aku hendak pergi meninggalkannya.

“Lo di sini aja kak, gu, gue takut sendiri,”

 Ia mengeluarkan ekspresi yang sedari dulu sulit kumengerti. Wajahnya yang tiba-tiba tertunduk, suaranya yang lebih pelan dari biasanya, dan pipinya yang tiba-tiba menghangat. Apa mungkin ia sudah sakit akhir-akhir ini?

“Yaudah, buar gue aja yang ngobatin kaki lo,”

Aku mengambil obat merah dan juga  hansaplast dari kotak obat P3K, kubersihkan luka itu dengan seciduk air untuk mensterilkan lalu kuteteskan obat merah. Terakhir, kututup luka itu menggunakan hansaplast agar tidak ada bakteri yang masuk ke lukanya.

Entah kenapa, ia memperhatikanku dengan sangat ketika aku mencoba mengobati lukanya. Tak kusangka, setelah selesai, ia langsung memelukku. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya. Kucoba melepaskan pelukannya tapi ia semakin erat saja memelukku.

“Ehmm, Vi?”

“Gu, gue suka lo kak, dari dulu, dari pertama OSIS gue udah suka lo!”

 

 

---

 

 

MERIKA POV

 

“Gu, gue suka lo kak, dari dulu, dari pertama OSIS gue udah suka lo!”

Misi selesai. Aku tersenyum tipis melihat mereka. Begitu mesra hingga tak menyadari keberadaanku. Aku bahagia melihat Via bahagia. Dengan begitu, utangku padanya lunas. Aku tak ingin terus-terusan ditipu olehnya, tak ingin terus-terusan menyakitinya tanpa sepengetahuanku. Via telah banyak berkorban untukku. Inilah saatnya aku bisa membalas kebaikannya. Walau menyakiti perasaanku, tak masalah. Aku bahagia. Aku yakin Via bisa memperlakukan Vallen lebih baik dariku.

Aku berjalan meninggalkan ruang UKS. Kuseret langkahku dengan perlahan. Sepi rasanya, entah kesepian apa yang kurasakan. Aku tak mengerti lagi akan perbuatanku. Apakah aku bahagia? Ataukah aku menyesal? Tentu saja tak ada yang perku kusesali. Semua berjalan sebagaimana mestinya.

Aku teringat kembali kala itu. Memory pikiran yang memutar masa laluku. Setelah bertemu Vallen di pesta ulang tahun Via, aku menyuruhnya untuk duluan menuju ruang utama karena aku yang ingin buang air kecil terlebih dahulu. Aku tak ingin ia menungguku, karena disana ia bisa terasa lebih aman dengan banyaknya orang. Aku tak ingin ia kesepian sembari hujan masih mengguyur seisi bumi. Tentu saja Vallen menolaknya, ia tak ingin meninggalkanku. Akan tetapi, aku benar akan marah jika ia menolaknya kali ini. Aku khawatir padanya dan aku tak ingin ia merasakan kesakitan.

Setelah selesai, aku meraup wajahku. Aku tak ingin terlihat habis menangis di hadapan sahabatku. Aku ingin pesta ulang tahunnya penuh dengan tawa dan tidak ada air mata di hari spesialnya. Akan tetapi, saat aku hendak kembali, aku tak sengaja mendengar suara Via tengah berbincang dengan seorang pria.

“Udahlah, lo ikutin aja apa kata gue!” ucap pria itu

“Nggak akan! Sampai kapan pun gue nggak akan ngehianatin sahabat gue!”

Pria itu tersenyum miris, ia tampak puas dengan getaran yang ada ditubuh Via.

“Bisa lo pikirin lagi, kalo lo ikutin saran gue, lo bisa dapetin cinta lo itu,”

Via tampak kesal. Ingin sekali kumasuk dan membela Via, tapi ada ganjalan rasa penasaran yang menghentikan langkahku untuk masuk. Cinta? Ya, aku baru sadar selama ini Via tidak pernah bercerita soal perasaannya. Ia hanya pernah bilang mengagumi sosok Rasyid. Akan tetapi, aku dapat merasakan bukan Rasyid orang yang selama ini dicintai oleh Via.

“Gue memang suka kak Vallen, tapi bukan berarti gue mau ngerebutnya dari sahabat gue!”

Aku terkejut dengan ungkapan Via. Jadi selama ini, cowok yang dicintai oleh Via adalah cinta pertamaku. Aku tak tahu lagi harus bagaimana selanjutnya kumenjalani hidupku. Aku sungguh mencintai Vallen, tapi rasa sayangku pada sahabatku ini tidak ada duanya. Via sangat berarti bagiku, ia sangat peduli padaku. Disaat aku sedih, disaat aku terluka, ia orang pertama yang mengkhawatirkanku setelah ibuku.

Tanpa kusadari, aku telah lama menyakiti perasaannya, tentang ungkapanku, perasaanku yang terus terang padanya, ia seolah baik-baik saja dan terus mendukungku walau hatinya teriris. Aku memang sahabat yang tak baik untuknya selama ini. Aku sadar betapa aku tak berguna untuknya.

 

 

---

 

 

“Bagaimana?”

“Misi selesai,”

Aku menghembuskan napas berat. Tersenyum seraya memandangi dedaunan pohon di taman sekolah. Aku menyandarkan tubuhku ke belakang dengan kedua lengan sebagai tumpuannya. Duduk di atas rerumputan memang menyenangkan. Setidaknya, untuk menutupi rasa sakitku itu.

“lo nggak keliatan puas,”

Aku melirik ke arah Rasyid. Tersenyum sebisaku. Rasyid memang teman yang bisa kuandalkan setelah Via. Meski Rasyid pernah menyukaiku, rupanya perkataannya itu benar, ia bukan tipikal pria yang tergila-gila pada wanita yang dicintainya.

“gue sangat puas,” ucapku berusaha kumantapkan.

Meski kubilang begitu, pandanganku terasa buyar. Aku merasakan wajah Rasyid terbendung oleh air. Itulah air mataku. Aku tak ingin menangis. Tidak, jangan sekarang. Aku tak ingin terlihat rapuh di hadapan Rasyid. Sungguh memalukan jika aku menangis akan rencanaku sendiri.

“GUE SANGAT PUAS!” hiks hiks.

Aku sudah tak bisa menahannya. Hatiku teriris mengingat Vallen berpelukan dengan wanita lain. Mengingat ia yang tak melepaskan pelukan dari Via. Hatiku sungguh sesak. Telah sekian lama kuberjuang mendapatkannya, telah kupendam lama ketika aku ingin mengejarnya, semua sudah berakhir. Aku tak bisa merebutnya kembali. Sesak, napasku tersenggal saking derasnya air mata. Rasanya sakit sekali menghirup udara. Akankah aku dapat bertahan hidup tanpanya?

“Syid, gue harus gimana?”

Aku memeluk Rasyid. Aku butuh senderan untuk melampiaskan rasa sakit ini. Aku tak bisa melakukannya pada Vallen maupun Via. Yang bisa kuandalkan saat ini adalah Rasyid.

“Gue harus gimana Syid?” suaraku melemah, bahkan aku sudah putus asa mengeluarkan suara.

“Lo cuma perlu ikhlas. Lo udah ngelakuin hal yang benar,”

Rasyid mengelus pundakku untuk menguatkan. Namun rasa ini telah menjalari sekujur tubuhku yang memanas. Sudah berapa banyak air mata yang kuteteskan pada seragamnya? Bisa kuperkirakan itu lebih banyak dari tetasan air mata yang pernah kutumpahkan sebelumnya. Aku selalu berharap air mataku hanya jatuh pada pelukan  Vallen, tapi ternyata Vallen tak ada bersamaku disaat aku sedang rapuh-rapuhnya.

 

 

---

1
Lusiana Karangan
ditunggi up tetap semangat nulisx
Fugi Martha
😭😭😭 sesulit inikah cinta thor ? merasa terpukul endingnya 😣
Fugi Martha: kapan thor?
total 2 replies
Rize
POV 1 nya mayan bikin ngeh, hehe. nanti tak lanjut baca kak,
Arifata: terima kasih sudah mau mampir dan membaca🤗
total 1 replies
Arifata
hai cilamici👋🏻 terima kasih sudah mau membaca karya saya😀 dukunganmu sangat berarti untuk semangatku😚😇
Cila Mici
karakter via membuat cerita menjadi berwarna. aku suka cara menulisnya, enak dibaca.

aku akan lanjutin nanti... 🥰

salam cilamici
Arifata
habis baca jangan lupa like ya😊 biar author makin semangat ngelanjutin ceritanya🥰 terima kasih pada readers yang sudah mau mampir dan membaca cerita ini😀❤
Fina.zher
aaaaa😭 kok sad thor:/ ga terimaaa!!!! ditunggu buku kelanjutannya thor😭😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
manisnya mereka😍
Arifata: terima kasih sudah membaca cerita saya😅🙏
total 1 replies
Fina.zher
jadi sebel sama Vallen:/ narik ulur perasaan orang😭 untung Vallen kece:)
Fina.zher
lanjut buku keduanya thor 😍 kasian Mer nya:( jangan dibuat sadgirl lah thor😭
Arifata: iya.. ditunggu cerita kelanjutannya ya😅🙏
total 1 replies
Aisyah Kamila
Ma syaa Allah ta, km udah berhasil bikin aku gregetan bgt loh, gud ta, aku suka. Ada nama aku lagi 😂
Arifata: authornya ga disapa jg nih?🤭🤣💔
total 2 replies
Hulk
Baca cerita kakak kayak lilin yang terkena api.. meleleh banget..
Arifata: Terima Kasih sudah membaca cerita saya😄😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!