Ririn, seorang gadis sederhana yang tiba-tiba mendapat lamaran dari Devan yang merupakan direktur perusahaan tempat Ririn bekerja.
Devan, seorang direktur perusahaan sekaligus seorang suami dari wanita bernama Citra.
Citra, seorang istri yang baik tetapi malang nasibnya. Dokter telah memvonisnya mandul, tidak bisa mempunyai anak. Karena rasa sayang luar biasa pada suaminya, Citra menyuruh suaminya yaitu Devan untuk menikah lagi agar bisa mempunyai keturunan.
Bagaimana kelanjutan cerita Ririn, Devan dan Citra? Yuk baca novel ini sampai tamat😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zien, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's a Big Day
Akhirnya hari yang dinanti pun tiba. Walaupun Citra sudah banyak mempersiapkan segala sesuatunya termasuk menyewa orang untuk kelancaran terselenggaranya pernikahan Ririn dan Devan, tetap saja ini menjadi hari yang heboh untuk Ririn dan keluarganya.
Seperti keinginan Citra, resepsi pernikahan Ririn dan Devan diselenggarakan di gedung. Untuk transportasi para tetangga Ririn, Citra sudah menyiapkan bus untuk mengangkut mereka ke tempat resepsi. Ketika para tetangga tahu untuk transportasi ke lokasi resepsi disediakan bus, mereka senang dan bersemangat ikut, katanya serasa mau piknik sekampung.
Sedangkan Ririn dan keluarganya, termasuk keluarga Mang Ino, keluarga Wa Ucup dan keluarganya Bu Atin sudah dijemput pada pagi harinya oleh kendaraan yang disewa oleh Citra.
Kini Ririn sedang dirias oleh pihak MUA. Pengantin dan keluarga pengantin ditempatkan dalam ruangan berbeda tapi bersebelahan.
"Mbak nanti jangan menangis ya .. biar makeupnya nggak berantakan," Mbak periasnya memberikan instruksi pada Ririn
"Iya Mbak." Lagian apa yang perlu ditangisi? Aku yakin pasti tak akan menangis.
Ririn memperhatikan cermin didepannya, riasannya bagus, rapi, dan nggak tebal kebangetan. Ini gaun terindah yang pernah kukenakan. Sepatunya juga indah banyak hiasan mutiaranya
"Mempelai perempuan dipersilahkan memasuki ruangan," terdengar suara MC memanggil.
Bi Atin dan Wa Rida datang menjemput Ririn.
"Euleuh Ririn meni cantik pisan."
"Iya biasanya jarang pake makeup, terus sekarang didandani jadi pangling ... terlihat cantik," Wa Rida dan Bi Atin tak henti memuji.
Mereka melangkah menuju ruangan tempat akad dilangsungkan. Ririn berjalan ditengah sedangkan Wa Rida dan Bi Atin disisi kiri dan kanannya, menggandeng tangan Ririn.
Devan sudah duduk didepan Mang Ino dan Pak Penghulu. Devan menatap Ririn yang akan duduk disebelahnya. "Cantik sekali,"pikir Devan.
Terdengar MC mulai dengan kata-kata pembuka kemudian dilantunkan bacaan ayat suci Al-Quran. Setelah itu terdengar Pak Penghulu melakukan khutbah nikah.
Setelah selesai khutbah nikah, kemudian Pak Penghulu bertanya pada Devan tentang statusnya.
"Saya sudah menikah sebelumnya, ini pernikahan saya yang kedua, saya menikah lagi dengan seijin istri pertama saya"
Citra berdiri dari duduknya. "Saya istri pertama Mas Devan, saya mengijinkan suami saya untuk menikah lagi," kata-kata yang terdengar dari bibirnya begitu mantap.
Ririn menatap pada Citra, ia tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu Pak Penghulu bertanya tentang mas kawinnya
"Seperangkat alat sholat, seperangkat perhiasan dan uang 100 juta rupiah." Devan meletakkan mas kawin yang telah dipersiapkannya diatas meja.
"Silahkan pihak wali dan mempelai pria... kita mulai ijab qobulnya." Mang Ino memegang tangan Devan.
"Ananda Devan Rahadian bin Arif Rahadian saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Ririn Wulandari binti Didi Wahyudi dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat, seperangkat perhiasan dan uang 100 juta rupiah TUNAI."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Ririn Wulandari binti Didi Wahyudi dengan maskawinnya yang tersebut DIBAYAR TUNAI."
"Bagaimana saudara saksi SAH?"
"SAAAAHHH!"
Setelah selesai ijab qobul, dilanjutkan dengan pembacaan sighat ta'liq talaq oleh pengantin laki-laki, isinya adalah sebuah perjanjian dari suami tentang jatuhnya talak dengan kondisi tertentu.
Kemudian Pak Penghulu membacakan doa nikah, lalu dilanjutkan dengan penandatanganan buku nikah.
...***...
Saat ini Ririn dan Devan sudah berada diatas pelaminan. Sungguh indah hiasan pelaminannya, begitu banyak bunga yang dipakai, bunga asli bukan bunga plastik. Diliriknya Devan yang ada disampingnya, cocok sekali warna jas yang dipakainya, ia memang pintar dalam memilih warna dan model jasnya, terlihat sangat tampan, dan ia sekarang telah resmi menjadi suaminya.
Semua kerabat terlebih dahulu memberikan ucapan selamat. Kemudian dilanjutkan dengan tamu undangan yang lainnya. Mas fotografer tak henti-hentinya mengabadikan setiap momen.
Dari sebagian besar tamu undangan yang hadir, Ririn mengenalnya, karena mereka adalah tetangga sekampungnya Ririn. Ririn sengaja tidak mengundang teman-teman di tempat kerjanya dahulu. Sepertinya Devanpun demikian, sebab tidak ada rekan kerja Devan dari kantor yang hadir. Mungkin untuk mencegah terjadinya kehebohan di kantor. Walaupun mungkin pada akhirnya, rekan-rekan sekantor akan mengetahui tentang dilangsungkannya pernikahan Ririn dengan Devan.
Akhirnya pesta resepsi pun selesai sudah. Ririn merasa sangat lelah, ia bangun subuh sekali, terus harus berdiri lama menggunakan sepatu berhak tinggi. Orang tua Devan dan Citra sudah pamit untuk pulang terlebih dahulu. Para kerabatnya Ririn pun mulai pamit satu persatu. Terakhir Bu Nani dan kedua adik Ririn yang pamit mau pulang.
"Mas, aku juga mau pulang biar barengan sama Emak dan adik-adikku" Ririn pamit pada Devan.
Devan melongo lalu kemudian tertawa. "Lho Rin, kamu sekarang sudah menjadi istriku, berarti kamu harus pulang bareng sama aku."
"Pulang bareng? Pulang bareng kemana Mas?"
"Rahasia..." Devan berbisik ke telinga Ririn. Seketika bulu kuduknya meremang... bukan karena melihat hantu... tapi ia tidak terbiasa begitu dekat dengan laki-laki. Pipinya langsung merona.
"Kamu cantik sekali." Devan menyentuh pipinya Ririn. Ririn tersipu, jantungnya jadi berdebar tidak karuan.
Devan menuntun Ririn kearah pintu keluar gedung. "Tunggu sebentar Mas, aku ambil dulu baju ganti di ruangan tempat aku dandan tadi..."
"Kamu capek Rin?" tanya Devan sesaat sesudah mereka masuk kedalam mobil.
"Kakiku pegal sekali." Ririn membuka sepatunya. Kemudian ia meluruskan kakinya, "Mmm... enaknya"
"Sandaran kursinya setel lebih ke belakang, biar seperti rebahan."
"Ah biarin... nggak usah... nanti aku malah ketiduran."
"Kita ini mau kemana Mas?"
"Nanti juga tahu..." Devan mengedipkan sebelah matanya pada Ririn. Ririn terpana, belum pernah Devan segenit itu padanya. Sampai di daerah Ciumbuleuit, mobil berbelok memasuki sebuah hotel berbintang lima.
Ririn tambah berdebar, belum pernah ia masuk kedalam hotel, apalagi bersama seorang laki-laki.
Mereka memasuki lobby, lalu mendekati meja resepsionis. "Selamat sore Mbak, saya sudah melakukan reservasi atas nama Devan Rahadian."
Petugas tersebut memeriksa komputernya. "Oh betul, ada reservasi atas nama tersebut, ini kartunya, silahkan ikuti petugas itu yang akan menunjukkan kamarnya."
Kamarnya bagus sekali, tempat tidurnya luas, ada sofa, tv yang besar...
"Lihat ini Rin, pemandangannya indah sekali bukan?" Devan membuka pintu balkon, terlihatlah pemandangan senja pada lembah yang banyak pepohonannya.
Ririn mendekati Devan yang sudah berdiri didekat balkon. Devan memegang tangan Ririn. Ririn merasa tubuhnya seperti gemetar
"Apa kita akan menginap disini malam ini?" Ririn memberanikan diri untuk bertanya.
"Iya sekarang kan malam pengantin kita.." Devan tersenyum penuh arti.
Malam pengantin? Waduh... waduh... Ririn panik memikirkan apa yang akan terjadi malam ini.
"Kenapa? Kamu takut?" Devan menatap lekat wajah Ririn tanpa melepaskan pegangan tangannya. Ririn hanya tertunduk.
"Kamu mau mandi dulu?... atau mau mandi bareng?" Devan menggoda Ririn.
"Aku nggak bawa baju tidur Mas"
"Tidurnya nggak usah pakai baju." Mau pingsan rasanya Ririn mendengar Devan mengatakan itu.
*********************************************
terima kasih sudah membaca novel ini, mohon beri dukungan author dengan memberikan rate, vote, comment n like ya 😘😘😘
*********************************************
ceritanya kyk keseharian bagus 👍
mampir juga di karya ku ya Tangis Gadis Tegar dan Dikhianati tapi Dicintai karya Fiwanaka
terimakasih
yg maksa minta devan nikah lagi sopo,,, devan jelas² saranin adopsi, citra ngeyelll !!!
akh sumpah kasian aku mah sama Ririn, sekolah yg tinggi Rin, trus berkarier, buka usaha ato apa,,, hempaskan lah Devan n Citra,,, seumur hidup makan ati klu kayak gitu ceritanya,,,