Zora pulang ke kampung halaman Setelah sekian lama tinggal di kota, kepulangan dia kali ini tentu untuk merawat orang tua yang sudah begitu lanjut usia dan hanya Dia anak yang dimiliki oleh keluarga tersebut.
Rumah yang begitu besar dan terkesan begitu menyeramkan sekali bila hanya dilihat dari luar, tapi ternyata bukan hanya di luar dan di dalam telah menyimpan misteri yang begitu mengerikan sekali, bahkan Zora sama sekali tidak menyangka bahwa itu semua bersangkutan dengan dirinya.
Apa yang terjadi dengan rumah itu?
Apa kah Zora bisa bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Membuat pedang
Tante Rika menatap seluruh isi ruangan ini dengan pandangan yang begitu penuh kecurigaan sehingga membuat Devano saja merasa agak merinding dengan tatapan wanita ini, sejujurnya wanita itu seperti menyimpan sesuatu yang tidak biasa sehingga membuat Siapa saja yang merasa akan tidak nyaman bila berdekatan dengan Tante Rika ini saat sedang merasakan sesuatu.
Seolah saat ini dia merasakan sesuatu yang berbeda di dalam rumah itu dan ingin banyak bertanya, namun lidah wanita ini begitu belum ketika Zora sudah keluar dari dalam kamar dan wanita itu terlihat sangat elegan sekali sehingga membuat Siapa saja yang menatap akan merasa minder untuk berbicara dengan dirinya.
Terlebih lagi Tante Rika juga melihat Mama Susi yang sudah duduk di atas meja makan seperti sehat semua, seolah dia tidak pernah mengalami sakit seperti yang telah terjadi kemarin dan tentu saja kantor Rika merasa heran atas perubahan Mama Susi yang hanya dalam waktu semalam saja.
Padahal selama ini sudah berobat berbulan-bulan ke tempat sana dan kemari tetap saja tidak mendapat kesembuhan, tapi kenapa mendadak saja hanya dalam waktu satu malam dia sudah sehat seperti sedia kala dan tidak pernah merasakan sakit, Tante Rika segera duduk di sebelah Mama Susi untuk memastikan terlebih dahulu bagaimana keadaan dia saat ini.
''Mbak sudah sehat?'' Tante Rika duduk di sebelah Mama Susi.
''Seperti yang kau lihat saat ini, aku sudah sembuh dan tidak mau pernah sakit lagi.'' Mama Susi Berkata sambil tersenyum.
''Apa apa yang terjadi tadi malam sehingga Mbak Susi langsung sembuh seperti sekarang?'' Tante Rika begitu penasaran.
''Aku berusaha menemui Ustadz yang baik agar bisa mengobati keadaan Mama.'' Zora juga membuka suara.
''Ustad? Kenapa kau lancang sekali membawa Ustad datang ke sini!'' Tante Rika langsung menatap penuh kemarahan.
''Memang nya kenapa? kan aku hanya memanggilnya ustad biasa.'' Zora berkata dengan emosi juga juga kepada Tante Rika ini tentang respon dia.
''Kau apa tidak tahu bahwa saat ini begitu banyak penipuan yang mengatasnamakan agama!'' Tante Rika langsung emosi.
''Dia tidak begitu! Andai saja aku tidak memanggil Ustad itu maka malam ini juga Zora akan meninggal dunia.'' Devano membuka suara kembali.
''Lancang!'' Tante Rika sampai mengangkat tangan karena dia akan menampar wajah Devano.
Devano pasrah saja bila memang harus kena tampar karena menurutnya saat ini Tante Rika perlu diberi pemahaman bahwa Ustadz yang mereka panggil tidak seperti itu, entah apa yang akan terjadi tadi malam ketika mereka tidak memanggil Ustaz masuk ke dalam rumah ini saat Zora mendapat malapetaka yang sangat besar seperti itu.
''Aku sembuh seperti ini namun kau malah banyak ribut seperti itu.'' Susi menatap sang adik.
''Itu semua hanya sihir dan nanti kita akan terpengaruh oleh ucapan yang tidak berdasar itu.'' Tante Rika tetap saja membantah.
''Tante takut sihir atau takut sesuatu yang ada di dalam rumah ini akan segera terbongkar?'' Zora bertanya langsung ke sana.
Mendengar pertanyaan itu tentu saja membuat mereka semua menjadi terdiam, Tante Rika sendiri terlihat begitu kaget karena dia tidak menduga bahwa sang keponakan akan sangat marah seperti itu sehingga justru mengungkit masa lalu yang ada di dalam rumah ini, rahasia itu tidak akan pernah bisa terbongkar karena selama ini juga telah tersimpan begitu rapat.
''Kau bicara apa?'' Tante Rika langsung mencekam tangan keponakan dia sendiri.
''Tidak perlu kalian menutupi apa yang ada di dalam rumah ini, aku yakin ada sebuah rahasia yang begitu kelam.'' Zora berkata dengan lantang.
''Zora, Kenapa berpikir seperti itu?'' Mama Susi masih bertanya dengan suara yang sangat lembut.
''Mama sudah sakit seperti itu dengan waktu yang begitu lama dan sekarang masih tetap berusaha untuk menutupi apa yang telah terjadi.'' Zora menatap Mama Susi dengan penuh kekecewaan.
''Bukan saya ingin ikut campur dalam masalah ini, namun menurut saya lebih baik terus terang apa yang telah terjadi.'' ujar Devano.
Mama Susi sama sekali tidak membantah tentang ucapan tersebut namun dia justru berkelebat pergi meninggalkan begitu saja ruang makan ini, karena menurut dia percakapan ini justru akan mengarah pada hal yang tidak benar sehingga lebih baik bila Dia segera pergi saja dari hadapan mereka semua.
Zora juga hanya menatap langkah wanita tua itu karena menurut nya jelas ada sebuah rahasia yang tersimpan begitu rapat, Oleh sebab itu Mama Susi tetap tidak mau berterus terang apa yang telah terjadi meski dia sudah mengalami sakit yang begitu parah selama beberapa bulan belakangan ini.
...****************...
"Ya allah anak Mama datang.'' Purnama menyambut kedatangan Felix dengan perasaan gembira.
''Aku ada bawa pisang goreng kesukaan mama yang di Simpang sana.'' Felix mengulurkan tangan membawa makanan.
''Ayo masuk, tadi Mama juga ada pesan makanan sih.'' Purnama mengajak sang anak masuk ke dalam rumah.
''Paman.'' Felix juga bersalaman dengan Arya yang sedang duduk menggambar.
Arya tersenyum dan memeluk Felix dengan perasaan gembira juga karena biar bagaimanapun dia telah menganggap Felix seperti anak dia sendiri, dia sama sekali tidak pernah membedakan antara Arka dan Felix dan juga Zadeen, semua dia anggap sama dan berusaha untuk menyayangi mereka bertiga tanpa ada perbedaan sama sekali.
''Paman sedang menggambar apa?'' Felix penasaran juga dengan gambar milik Arya.
''Ada rencana untuk membuat pedang baru jadi Paman sengaja menggambar agar detailnya lebih bagus.'' jawab Arya.
''Aku sudah ada gambar pedang yang seperti ini juga tapi aku masih belum tahu mau membuat di mana.'' Felix berkata dengan penuh semangat.
''Nanti Paman bisa mengajak kamu ke tempat kenalan paman, Dia paling top kalau untuk membuat pedang seperti ini.'' Arya terus mengajak Felix untuk mengobrol.
Purnama tersenyum senang karena biar Felix tidak mendapat kasih sayang dari ayah kandung dia sendiri, namun dia mendapat kasih sayang yang berlimpah dari orang lain sehingga hidup pemuda itu tidak seberapa kesepian, walau tetap saja masih ada rasa sedih di dalam hati Felix karena dia tetap mengharapkan kasih sayang dari orang tua kandung.
''Aku membuat ukiran nama dan huruf N di mata pedang itu.'' Felix menunjukkan gambar pedang milik dia.
''Oh nama Ayah mu.'' Arya berkata demikian dengan sengaja karena dia ingin memancing reaksi Felix.
''Hehehe bukan, N nama nya Ibu.'' Felix tersenyum kecil karena memang Ibu Felix bernama Nirma.
Arya mengangguk karena sebenarnya dia juga sudah tahu namun sengaja berkata demikian karena hanya ingin melihat reaksi pemuda itu, tapi karena Felix sama sekali tidak sungkan untuk mengakui maka dia tidak ingin memperpanjang obrolan tersebut karena nanti justru akan membuat luka hati pemuda itu semakin dalam saja.
Selamat sore, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita author Novita Jungkook ya.
Zora ,Devano ,kenapa lah ga cepat cepat pergi dari rumah yang jadi sarang iblis ?