Mita tidak pernah meminta takdir ini. Baginya, Sam adalah kakak, pelindung, dan satu-satunya tempat bersandar setelah kedua orang tuanya tewas demi menyelamatkan keluarga Sam. Namun, sebuah pernikahan atas dasar utang budi mengubah segalanya dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eleanor kici kici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Sandiwara yang Melelahkan
Sepanjang perjalanan pulang, otak Mita berputar dengan sangat cekatan. Kepanikan baru mendadak menyergapnya. Ayah dan Ibu mertuanya ingin berkunjung ke rumah, sedangkan selama ini ia dan Sam tidur di kamar terpisah. Jika Diana sampai naik ke lantai atas dan melihat kamar utama kosong dari jejak perempuan, rahasia pernikahan semu mereka pasti akan terbongkar hari ini juga.
Mita merutuki kelalaiannya. Seharusnya sejak awal ia berjaga-jaga dengan menaruh beberapa potong pakaian atau barang pribadinya di kamar utama milik Sam. Namun, nasi sudah menjadi bubur, dan sekarang ia harus bergerak cepat.
Begitu mobil Baskoro berhenti di halaman rumah, Mita turun sambil menahan rasa nyeri di tubuhnya. Ia membuka pintu depan dan langsung mempersilakan kedua mertuanya untuk duduk.
"Ayah, Ibu, silakan istirahat dulu di ruang tamu. Mita buatkan air minum hangat ya," ujar Mita berusaha ramah meski wajahnya kian memucat.
"Duh, Neng, tidak usah repot-repot. Kamu itu sedang sakit, mending langsung istirahat saja di kamar," sahut Diana iba melihat kondisi menantunya.
"Tidak apa-apa, Ibu. Sekalian Mita mau izin naik ke atas sebentar untuk mengambil obat di kamar," dusta Mita.
Mendengar itu, Diana langsung berdiri dari sofa. "Ibu temani saja ke atas ya? Sekalian Ibu mau lihat kamar kalian."
Jantung Mita seakan mencelos. Ia buru-buru menahan langkah mertuanya dengan gestur sungkan. "Eh, tunggu sebentar, Ibu. Jangan sekarang... Mita agak malu karena di atas ada sesuatu yang berantakan dan enggak mengenakkan dilihat. Mita harus beres-beres kamar dulu sebentar, malu sama Ibu."
Diana terkekeh pelan mendengar alasan menantunya. "Aduh, kamu ini kenapa harus malu sama Ibu sendiri? Lagian, kenapa sih di rumah sebesar ini enggak ada pembantu? Kalau ada pembantu kan mudah, tinggal suruh-suruh saja buat beres-beres," keluh Diana.
"Kami sengaja ingin mandiri dulu, Bu. Mita ke atas sebentar ya," pamit Mita yang langsung bergegas menaiki anak tangga sebelum Diana sempat membantah.
Begitu sampai di lantai dua, Mita tidak langsung menuju kamar Sam. Ia menyelinap masuk ke kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar utama. Dengan gerakan cepat dan napas memburu, Mita membuka lemari pakaiannya. Ia mengambil beberapa setel baju sehari-hari miliknya, lalu membawanya lari ke kamar Sam. Dengan tangan gemetar, ia menggantung pakaian-pakaian itu di dalam lemari besar Sam, membaurkannya di antara kemeja kerja pria itu.
Tak lupa, Mita juga menyambar beberapa buku pelajaran perkuliahannya dari kamar sebelah dan meletakkannya secara acak di atas meja kerja Sam agar terkesan kamar itu memang dihuni oleh mereka berdua. Setelah memastikan tidak ada lagi kejanggalan, Mita kembali turun ke bawah dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki.
Melihat Mita kembali turun dengan napas yang agak terengah-engah dan wajah yang semakin kuyu, Diana tidak tega. Ia langsung menghampiri menantunya itu.
"Sudah, sudah, tidak usah buatkan air. Kamu ini pucat sekali dan kelihatan kelelahan banget. Ayo, Ibu antarkan kamu ke kamar utama buat istirahat," ujar Diana tegas sambil merangkul pundak Mita, menuntunnya naik kembali ke lantai atas.
Mita hanya bisa pasrah membiarkan mertuanya membimbing langkahnya masuk ke dalam kamar Sam. Saat pintu kamar utama dibuka, Diana mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan.
"Loh, katanya berantakan dan bikin malu? Ini rapi begini kok, bersih malah. Kamu ini jangan suka malu-malu sama Ibu sendiri," ucap Diana sambil tersenyum hangat, sama sekali tidak menyadari sandiwara yang baru saja disusun menantunya dalam hitungan menit.
Diana kemudian menuntun Mita mendekati ranjang polos tanpa sprei tersebut, lalu menyuruhnya berbaring. "Sudah, sekarang kamu berbaring di sini. Jangan pikirkan apa-apa dulu."
Mita merebahkan tubuhnya perlahan di atas kasur. Rasa nyeri yang sejak semalam ia tahan, berpadu dengan rasa lelah yang teramat sangat setelah bersandiwara, membuat pertahanan tubuh Mita benar-benar runtuh. Begitu kepalanya menyentuh bantal, kelopak mata Mita terasa sangat berat. Dalam hitungan detik, di hadapan ibu mertuanya yang menatap dengan penuh kasih, Mita pun akhirnya tertidur pulas karena betul-betul kehabisan energi.(Jangan lupa klik tombol like di bawah ya, Kak!)