Niat baik tidak selamanya berakhir baik, hal ini terjadi pada rumah tangga Hanna dan Rizal
Malam itu keduanya menyelamatkan seorang wanita yang mendapat kekerasan dari suaminya
Mereka membawa tubuh lemah itu kerumah dan memberikan perawatan hingga wanita bernama Arum itu pulih
Namun nasib buruk menghampiri Hana, wanita yang telah ia selamatkan ternyata menjadi racun bagi rumah tangganya bersama sang suami
Pada akhirnya Rizal terjerat oleh pesona wanita lugu bernama Arum itu, hingga pernikahannya yang telah dikaruniai dua buah hati berakhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Aku juga tidak ingin kehilangan Hanna Bu!" Ujar Rizal dengan bersungguh-sungguh
"Sebentar lagi Arum akan meninggalkan rumah ini, dan Rizal sudah memutuskan untuk fokus pada Hanna dan anak-anak saja!" Sambungnya
"Kamu tidak akan mengkhianati Hanna lagi setelah ini?" Tanya Widuri memastikan dan Rizal mengangguk dengan yakin
"Rizal janji sama ibu!" Ucapnya "Tapi aku mohon tolong rahasiakan semua ini dari Hanna! Rizal tidak ingin kehilangan Hanna"
Arum merasakan sakit pada hatinya, entah kenapa dirinya merasa cemburu mendengar jika Rizal tidak ingin kehilangan istrinya
Arum yang merasakan sakit, berlari menuju kamarnya. Sakit pada pipi yang ditampar rasanya tidak ada apa-apanya saat ini
Ia menangis, menangisi nasib malangnya yang tidak bisa bersama pria pujaannya
Dirinya benar-benar mencintai Rizal, ia menemukan sosok suami idamannya dalam diri pria itu
"Kamu tega mas!"
Kembali pada ibu dan anak yang masih berada di pintu depan, Widuri benar-benar marah pada kelakuan putranya
Dirinya berpisah karena perselingkuhan mendiang suaminya, lalu putra sulungnya malah mengikuti jejak buruk sang ayah
"Kenapa kamu tega nak? Apa kamu lupa bagaimana menderitanya ibu saat perselingkuhan bapak kamu terkuak?"
Widuri menitihkan air matanya, ia tidak membayangkan jika menantu yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri merasakan semua ini
"Rizal sudah menyadari semuanya. Rizal akan melupakan Arum dan menganggap bahwa semua ini tidak pernah terjadi!"
Rizal mencoba menyentuh ibunya lagi namun wanita paruh baya itu malah mundur
"Rizal mohon maaf buk, Rizal tau Rizal salah tapi Rizal tidak ingin kehilangan Hanna!"
Widuri menghela napasnya yang terasa begitu berat "Ibu akan merahasiakan semuanya! Bukan untuk kamu tapi untuk kebaikan Hanna dan calon anaknya!"
"Merahasiakan apa?"
Rizal membola, ia memandangi sang istri yang menuruni anak tangga dan menghampiri mereka
"Sayang!" Rizal berusaha tersenyum untuk menutupi kegugupannya "Hati-hati dong turun tangganya!"
Hanna tak menjawab, ia menatap kearah suami serta ibu mertuanya secara bergantian
"Ada apa buk? Rahasia apa yang ibu katakan?" Tanya Hanna
"Bukan apa-apa sayang!" Rizal yang menjawab, pria tampan itu terlihat khawatir karena sang ibu diam saja
"Bu?" Widuri tersadar dari lamunannya saat sang menantu menyentuh bahunya
"I-iya nak, tidak ada apa-apa! Kamu sebaiknya tidak memikirkannya!" Widuri memaksakan senyumnya lalu mengusap kepala menantunya
"Tapi tadi ibu mengucapkan rahasia, rahasia apa?" Hanna sepertinya masih penasaran, jika tidak mendapatkan jawaban wanita ini jelas akan terus bertanya
"Itu sayang! Tapi kalau aku bilang bukan rahasia lagi dong!" Hanna mengernyit
"Ada apa mas?"
"Aku lagi bahas kejutan anniversary kita yang kesepuluh! Aku bilang sama ibu supaya kamu jangan tau dulu!"
Rizal tersenyum, Widuri menatap putranya itu dengan tatapan jijik. Jika bukan demi keselamatan Hanna, maka ia akan mengatakan semuanya
"Anniversary kita kan masih dua bulan lagi mas! Kamu berlebihan!" Hanna menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya
"Ya biar semuanya siap dengan baik, makanya aku minta bantuan ibu" Rizal terkekeh sementara Widuri diam saja
"Bu!" Hanna kembali menyentuh bahu mertuanya "Ibu baik-baik saja?"
Widuri mengangguk "Iya nak, maaf yaa! Harusnya itu jadi kejutan, tapi sekarang bukan kejutan lagi karena kmu sudah tau"
Widuri memasang wajah cerianya. Ia merasa teriris melihat senyum tulus menantunya itu
"Astaga ibu" Hanna memeluk mertuanya itu dengan penuh haru, Widuri mengusap punggung menantunya itu dengan lembut sambil menatap tajam kearah Rizal
"Sudahlah! Kita lupain aja masalah anniversary ini! Ayo masuk mas! Aku akan siapkan makan malam!" Hanna menggandeng lengan suaminya
"Ibu mau pulang saja nak! Ibu sedang tidak enak badan!" Rasanya Widuri sudah muak melihat wajah putranya barang satu menit saja
"Ibu sakit? Kalau gitu mending ibu disini aja! Biar Hanna yang temenin, kasian ibu kalau dirumah sendiri!" Ujar Hanna khawatir
Widuri tersenyum hangat "Ibu baik-baik aja nak! Ibu cuma mau pulang aja!"
"Beneran?" Tanya Hanna, raut kecemasan tidak bisa dihilangkan dari wajahnya
"Beneran sayang! Ibu pulang yaa! Makasih loh ibu udah dibolehin mampir!"
"Apaan sih Bu! Tentu saja ibu bisa datang kapan saja, Hanna kan anak ibu" Hanna tidak suka mendengar ucapan mertuanya itu
"Ibu pulang dulu yaa! Kamu baik-baik dirumah. Kalau suami kamu berbuat jahat, kamu langsung kasih tau ibu, biar ibu yang balas!" Widuri terdengar bercanda, namun Rizal tau jika ucapan itu memang ditujukan untuknya
"Makasih yaa buk, Hanna sayang banget sama ibu" Dua wanita beda usia itu saling berpelukan sementara Rizal hanya menunduk penuh sesal
"Ibu dianterin sama Ipul yaa!" Widuri tidak menjawab ucapan putranya, Rizal memanggil supir pribadinya untuk mengantarkan sang ibu
"Ayo sayang! Kita masuk" Rizal merangkul bahu istrinya lalu keduanya melangkah masuk kedalam rumah
"Kok ibu kayaknya marah yaa mas?" Hanna tidak biasa melihat ibu mertuanya menjadi pendiam seperti itu dan hal itu membuatnya khawatir
"Enggak sayang! Sudahlah! Kamu itu gak boleh banyak pikiran" Hanna mengangguk, tapi tetap saja hal ini mengganggu pikirannya
"Mama.." Fathan berdiri didepan pintu kamar kedua orang tuanya dengan wajah murung
"Ada apa sayang? Ayo sini!" Fathan ikut naik, duduk diantara kedua orang tuanya "Ada apa? Muka Fathan kok kayak gitu?"
"Beneran yaa mah, kalau Hafiz mau pergi?" Tanya bocah laki-laki itu
Rizal dan Hanna saling menatap, mereka tau apa yang sudah membuat wajah putra sulung mereka sampai murung seperti ini
"Hafiz sama ibunya mau pulang kampung, sayang. Rumah mereka kan disana!" Hanna berucap lembut
"Gak bisa yaa mah, Hafiz selamanya tinggal disini?"
"Gak bisa sayang! Mereka kan punya rumah sendiri" Kali ini Rizal yang bicara
"Tapi Fathan udah sayang banget sama Hafiz" Bocah tampan itu menunduk lesu
"Fathan gak boleh seperti itu, Hafiz memang harus pindah"
"Ya udah" Wajah sedih Fathan membuat Hanna terdiam. Namun Arum memang harus meninggalkan rumah ini. Tidak seharusnya wanita seperti dia ada dirumah ini
semoga byk yg baca