Aruna mencoba segala cara agar pertunangannya dengan seorang Panglima TNI bernama Axel dibatalkan. Tapi semua cara yang ia lakukan itu justru tidak membuahkan hasil sama sekali. Axel justru semakin menyukai dirinya, dan memberikan apapun yang dia mau. Bagaimana kelanjutan kisahnya? ikuti terus hanya disini..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Penyesalan.
Matahari bersinar cerah namun suasana hati Aruna terasa mendung. Gadis itu berdandan dengan sangat cantik mengenakan gaun putih panjang dengan renda yang menjuntai indah. Gaun itu pas sekali di tubuhnya memperlihatkan setiap lekuk tubuh yang mempesona membuatnya terlihat seperti seorang putri sejati.
Aruna berjalan keluar dari mobil dengan diapit kedua orang tuanya. Di sana, Axel sudah berdiri menunggu dengan gagah. Wajahnya tampan namun tatapan matanya jauh dan sulit ditebak.
Acara pertunangan berjalan dengan sangat megah dan mewah. Semua tamu terkesan, semuanya berjalan lancar dan sukses sesuai rencana. Tapi... di balik senyuman dan kebahagiaan yang dipamerkan, hati Aruna terasa sangat hampa.
Sepanjang hari, Axel bersikap sangat dingin. Ia melakukan tugasnya sebagai calon tunangan dengan baik, namun tak ada satu kata manja pun yang terucap. Tak ada sentuhan hangat, tak ada tatapan lembut. Axel seolah-olah sedang berhadapan dengan orang asing.
Hingga acara usai dan mereka hendak masuk ke kamar hotel tempat mereka akan menginap. Saat Axel masih sibuk bicara dengan orang tuanya, Aruna tak tahan lagi. Dengan langkah tegas ia mendekat, menarik tangan pria itu masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.
"Axel!!" seru Aruna dengan napas memburu. "Kenapa seharian ini kamu abaikan aku begitu saja?! Apa kamu marah padaku?!"
Axel tetap diam. Ia berdiri mematung di tengah ruangan, wajahnya yang biasanya selalu hangat dan penuh senyum untuk Aruna kini terlihat begitu datar dan membeku.
"Aku lelah, Aruna..." jawabnya pelan dan singkat. "Besok saja kita bicara. Aku tidak punya energi untuk berdebat sekarang."
"LELAH? BESOK?!" Aruna tak terima, suaranya meninggi. "Enggak perlu besok!! Kita selesaikan sekarang juga semuanya!!"
Mata Aruna mulai berkaca-kaca, campuran antara kesal, sedih, dan frustrasi meledak sekaligus.
"Kamu mau apa sebenarnya dariku? Kalau kamu mau aku pergi... ya bilang saja. Aku siap. Aku siap pergi dan menghilang dari hidupmu. Kenapa harus menyiksa aku begini? Kenapa harus bersikap seolah aku tidak ada?!" teriaknya meluapkan semua emosi yang tertahan seharian.
"Aruna... berhentilah bicara hal yang tidak masuk akal!! Kapan aku bicara menginginkanmu untuk pergi?" potong Axel tegas. Suaranya berat, penuh penekanan, namun ia tidak sampai membentak.
"Jelas sekali aku sedang marah besar padamu!! Sangat marah!!" tambahnya kemudian.
Axel menarik napas panjang, mencoba menahan dadanya yang sesak.
"Aku tahu semuanya... aku tahu apa yang terjadi semalam!!" serunya lagi. "Aku sudah mengecek CCTV di rumahmu, dan gambarnya jelas sekali. Kamu bersama Zayn. Aku lihat dia memeluk, menciummu. Dia yang mengantarmu pulang, dia yang bersamamu selama kamu kabur kan?!!"
Mata Axel berkaca-kaca menahan sakit yang luar biasa. Ia mencengkram bahu Aruna dengan kuat, memperlihatkan betapa sakitnya dia kala itu.
"Dan semua bekas ciuman merah di leher dan tubuhmu itu... itu pasti dari dia kan?! Kamu pikir aku buta?! Kamu pikir aku tidak tahu? Atau justru kamu berpikir aku ini bodoh? Atau mudah dibodohi?!"
Axel menatap lurus wajah Aruna yang kini mematung.
"Kamu yang tidak menghargai aku, Aruna... kamu yang menghancurkan kepercayaanku sampai ke titik ini... kamu yang hancurkan aku sehancur-hancurnya hanya dalam waktu semalam."
Suaranya bergetar hebat. Setiap perkataannya, menyiratkan rasa sakit yang ia rasakan. Bahkan panglima gagah seperti dia saja, masih bisa meneteskan air mata, hanya karena wanita yang dicintainya.
"Apa... apa ini semua masih bagian dari trik jahilmu? Apa ini caramu membatalkan pertunangan kita?! Kamu sengaja melakukan itu semua supaya aku pergi?!"
Aruna terdiam kaku. Kakinya terasa lemas. Ia tahu, ia benar-benar salah besar. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan tindakannya. Ia bingung, ia sedih, tapi ia sadar bahwa luka yang ia buat di hati Axel sangat dalam.
"Ya..." jawab Aruna pelan, suaranya parau. "Ya... aku salah. Aku mengakuinya."
Ia mengangkat wajahnya menatap pria itu dengan tatapan kosong.
"Tapi kalau begitu... lalu kenapa kamu masih memaksakan diri untuk bertunangan denganku tadi?! Kenapa tidak kita akhiri saja sekarang?!" tanya Aruna menantang, hatinya perih.
Axel tertawa kecil, sebuah tawa yang terdengar sangat pahit dan menyedihkan.
"Karena orang tua kita... mereka sudah menyiapkan semua ini jauh-jauh hari. Mereka berharap begitu banyak pada hubungan ini..." jawab Axel lambat.
"Kalau aku tiba-tiba membatalkannya sekarang... mereka pasti akan sangat kecewa dan hancur. Aku tidak tega melihat mereka seperti itu. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku masih bertahan di sini dan menyelesaikan acara ini. Dan satu hal lagi, meski kamu menyakitiku, membuatku kecewa, Tapi... hatiku berat melepasmu begitu saja. Aku tak rela... aku tak bisa mundur lagi Aruna. Meski menyakitkan, tapi rasa sayangku padaku jauh lebih besar dari rasa sakit yang kamu berikan... ironis memang, mengingat kamu tidak perduli dengan hal itu."
Suasana di kamar itu menjadi hening, membeku, dan penuh dengan kepahitan. Cinta mereka kini terasa begitu asing dan menyakitkan. Air mata Aruna akhirnya jatuh membasahi pipinya. Rasa bersalah, rasa sedih, terutama saat Axel menyatakan rasa Cintanya yang begitu besar padanya. Semakin membuatnya sakit, dan merasa sangat bersalah, juga rasa tidak berdaya bercampur menjadi satu hingga ia tak sanggup lagi menahannya.
Dengan tangan yang gemetar, ia melepaskan paksa cincin berlian indah yang baru saja terpasang di jarinya. Cincin itu dilemparnya begitu saja ke lantai keras, berguling jauh hingga tersembunyi di balik karpet.
"Aku memang tidak pantas untukmu!!" teriak Aruna di sela isak tangisnya. "Jadi tidak usah lagi berpura-pura baik. Akhiri saja semua ini sekarang. Untuk apa dilanjutkan kalau di hatimu sudah aku kotori. Mundur saja Axel... kamu pantas dapat yang lebih baik dariku, aku terlalu egois untukmu..."
Napasnya memburu, dadanya terasa sesak menahan beban rahasia yang selama ini ia pendam.
"Dan soal Zayn... dengarkan aku baik-baik Axel!!"
Aruna menatap tajam mata pria itu, matanya merah dan bengkak namun penuh ketegasan.
"Awalnya aku tidak tahu itu dia. Dia datang menyerupaimu. Memakai baju yang sama, pakai parfum sama persis dengan baumu. Aku tertipu! Aku kira itu kamu! Dan dia menculikku. Aku benar-benar diculik olehnya!"
Suaranya bergetar hebat mengingat kejadian itu.
"Dan semua bekas ciuman merah di tubuhku ini... ya... memang dia yang melakukannya. Dia melakukannya dengan paksa! Tapi bagaimana aku bisa melawannya?! Kamu tahu kan siapa dia?! Dia itu bos mafia yang kejam. Aku berada tepat di kandang singa. Di markasnya sendiri. Dan aku... aku hanya wanita biasa... Aku tak bisa melawan dia.. Dan kamu juga tidak disana.. Aku hanya bisa pasrah sampai akhirnya Zayn membawaku pulang."
Suara Aruna melemah, berubah menjadi isak tangis yang menyayat hati.
"Aku tidak punya kekuatan apa-apa untuk melawan dia... Saat itu aku benar-benar takut, Axel... Aku kira aku akan mati di tangannya kala itu. Aku kira aku tidak akan pernah bisa melihatmu lagi..."
"Kamu pikir aku senang melakukan itu semua?!" seru Aruna semakin keras, tangannya memukul-mukul dada bidang Axel dengan penuh emosi.
"Kamu mengurungku selama beberapa hari sebelum acara. Kamu melarangku pergi kemana-mana. Kamu berpikir itu semua demi kebaikanku?! Tapi nyatanya... justru semua penjagaan ketatmu itu yang membuatmu lengah dan akhirnya aku terjebak dengan dia!!"
Pukulan-pukulan itu lemah dan penuh keputusasaan, bukan untuk menyakiti, melainkan untuk meluapkan rasa frustrasi yang menumpuk.
DUG... DUG... DUG...
Axel sama sekali tidak menepis. Ia berdiri tegap menerima setiap pukulan itu, membiarkan Aruna meluapkan semua amarah dan kesedihannya.
Wajahnya perlahan berubah. Kemarahan dan kekecewaan tadi perlahan berganti menjadi rasa bersalah yang mendalam dan rasa kasihan yang luar biasa.
Ia mulai paham. Ia mulai menyusun potongan-potongan kejadian. Axel mulai berpikir jika, Aruna tidak berselingkuh, Aruna tidak mengkhianatinya. Gadis itu benar-benar menjadi korban. Korban dari kelalaiannya sendiri, korban dari obsesi gila Zayn.
Perlahan namun pasti, Axel mengulurkan tangannya. Ia menangkap kedua tangan Aruna yang masih memukulnya, lalu menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat dan erat.
"Sudah... sayang... jangan diteruskan lagi..." bisik Axel parau tepat di telinga gadis itu. Suaranya terdengar sangat berat dan sakit.
"Itu semakin membuatku hancur mendengarnya, semakin menyadarkanku bahwa aku memang lalai. Aku gagal menjagamu..."
Axel mengecup kening Aruna dengan sangat lembut dan penuh penyesalan.
"Aku yang salah... semua ini salahku... Maafkan aku, Aruna... Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu dengan baik..."
Di dalam pelukan itu, air mata Aruna semakin deras mengalir, namun rasa takut dan marahnya perlahan mulai mereda, digantikan oleh rasa lega karena akhirnya pria itu mengerti dan memeluknya kembali. Meski dalam hati kecilnya, Aruna semakin merasa sangat bersalah, karena berbohong padanya.
Di luar, hubungan mereka terlihat sudah membaik. Axel kembali bersikap manja dan protektif seperti biasa, dan Aruna pun kembali tersenyum dan bermanja-manja dengan tunangannya itu.
Namun... di dalam hati terdalam Aruna, ada sebuah rahasia gelap yang terus menghantuinya.
Gadis itu berdiri mematung di depan jendela kaca besar kamar hotel mereka. Angin sore berhembus pelan menerpa wajahnya, membuat kulitnya merinding, tapi tidak seberapa dibandingkan rasa dingin yang menjalar di dalam dadanya.
Aruna memeluk tubuhnya sendiri erat-erat.
Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri.
Saat mengingat kembali kejadian malam itu... saat Zayn mencumbunya, saat pria itu menghamburkan ciuman dan rasa memiliki di sekujur tubuhnya...
Aruna sadar... ia tidak sepenuhnya menjadi korban yang tak berdaya. Ada bagian dari dirinya yang menikmati setiap detik itu. Ada getaran aneh, rasa penasaran, dan sensasi yang membuat jantungnya berdegup kencang bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain... sesuatu yang terlarang.
Ia membiarkan Zayn melakukannya. Ia bahkan merespons tanpa sadar. Dan itulah dosa terbesarnya.
"Ya Tuhan..." gumamnya pelan, matanya berkaca-kaca menatap pemandangan kota di bawah sana.
"Bagaimana bisa aku melakukan itu? Bagaimana bisa aku merasa senang saat disentuh oleh pria lain... sementara Axel begitu mencintaiku?"
Rasa bersalah itu menggerogoti hatinya perlahan. Ia merasa kotor, merasa seperti penipu ulung yang sedang bermain dengan dua hati yang tulus. Axel tidak tahu apa-apa, dan Aruna pun berjanji untuk membawa rahasia ini sampai mati, menyembunyikannya di sudut paling gelap dari hidupnya.