NovelToon NovelToon
Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Isi Anak Kampung Penakluk Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Faris Arjuna hanyalah pemuda kampung yang datang ke Jakarta dengan modal nekat, sebuah tas usang, dan mimpi besar untuk mengubah nasib keluarganya.
Diremehkan karena miskin, dihina karena tidak punya koneksi, Faris harus menghadapi kerasnya kehidupan ibu kota. Dari jalanan yang penuh preman, persaingan bisnis yang kejam, hingga konflik dengan orang-orang berkuasa, semuanya menjadi ujian yang harus ia taklukkan.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Di balik penampilannya yang sederhana, Faris memiliki keberanian, kecerdasan, dan tekad yang tidak bisa dihancurkan.
Mampukah seorang anak kampung menaklukkan Jakarta dan membuktikan bahwa kesuksesan bukan milik orang kaya saja

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Pembuktian di Depan Mata

Suasana di halaman pabrik itu hening seketika, cuma ada suara napas berat dan gemetar dari rombongan Mang Kuncung. Mereka dikepung rapat, diterangi terang benderang, dan di hadapan mereka berdiri satu orang yang kemarin saja sudah bikin mereka kalah telak, apalagi sekarang ada bantuan banyak orang lagi.

Mang Kuncung menelan ludah susah payah, tangannya yang megang parang gemetar hebat. Dia natap ke kiri ke kanan, semua jalan tertutup rapat. Dia natap ke arah mobil Pak Hendro yang tadinya tempat dia berharap perlindungan, tapi malah melihat bos besarnya itu ditangkap diam-diam oleh dua orang asing.

"Kamu... kamu siapa sebenarnya?!" seru Mang Kuncung bergetar, suaranya hilang wibawanya sama sekali.

Faris jalan makin mendekat, berhenti cuma dua langkah di depan si bos preman itu. Dia mengeluarkan rokok lagi, cekrek! buka bungkus, nyalain pelan cesss, hisap dalem-dalem terus tiupkan asapnya pelan ke arah muka Mang Kuncung.

"Orang biasa aja Pak, kayak Bapak. Bedanya satu... saya kerja buat lindungin yang punya hak, Bapak kerja buat ngerusak dan ambil hak orang lain. Itu bedanya langit sama bumi, Pak," jawab Faris santai banget, lalu dia menunjuk ke arah layar besar yang tiba-tiba menyala di dinding gudang.

Di layar itu, terlihat jelas rekaman video dan suara pertemuan mereka kemarin malam di gudang tua. Terlihat jelas wajah Pak Hendro, terlihat jelas wajah Mang Kuncung, terdengar jelas pembicaraan rencana penyerangan, pembakaran, sampai penyerahan uang sogokan.

Semua anak buah Mang Kuncung melongo nggak percaya. Mereka baru tau kalau ternyata semuanya udah terekam rapi.

"Lihat itu ya, rekaman asli, nggak ada editan. Ini bukti kalau kalian masukin penjara puluhan tahun pun, masih kurang setimpal sama perbuatan kalian," kata Faris dingin.

Dia melangkah mundur sedikit, memberi isyarat ke atas. Viona perlahan muncul di atas tangga, berdiri tegak, wajahnya tegas, tatapannya tajam natap Mang Kuncung dan anak buahnya.

"Viona... Nona Viona..." gumam Mang Kuncung, menunduk malu dan takut.

"Kalian tau nggak sih, betapa baiknya perusahaan saya sama kalian? Banyak dari orang tua kalian, atau saudara kalian, dulu pernah kerja di sini, pernah dibantu sama Bapak saya. Tapi apa balasan kalian? Kalian malah dibeli uang kotor buat hancurin tempat yang kasih makan banyak orang. Kalian nggak punya hati sama sekali," suara Viona bergema kencang, penuh rasa kecewa dan marah.

Dia menunjuk ke arah mobil Pak Hendro yang sekarang didekati beberapa orang dan diarahkan masuk ke halaman pabrik itu juga. Pak Hendro dituntun turun, wajahnya pucat pasi, lututnya lemas banget, nggak berani natap mata Viona.

"Dan Bapak... Pak Hendro. Bapak yang paling saya percaya, Bapak yang selalu dibilang teman setia Bapak. Ternyata Bapak dalang di balik semuanya ya? Mau ambil perusahaan ini dengan cara kotor, mau nyawa saya, mau nyawa karyawan saya. Demi uang, Bapak rela jual harga diri, jual persahabatan, jual segalanya ya?" tanya Viona dengan suara bergetar campur marah dan sedih.

Pak Hendro cuma menunduk dalam, mulutnya bergetar tapi nggak ada suara yang keluar. Dia tau dia kalah telak, dia tau semua bukti sudah ada di tangan Viona, dia tau masa depannya hancur malam ini juga.

Faris jalan mendekat ke Pak Hendro, berdiri di sebelah Viona kayak pelindung setia. Dia tepuk-tepuk bahu orang tua itu pelan, tapi tepukan yang bikin nyali ciut sampai ke tulang.

"Udah kelihatan kan Pak? Sandiwaranya udah kelar. Niat jahat itu nggak bakal pernah bawa untung, sepihat apa pun caranya. Kalau Bapak mau saham ini, belilah dengan harga wajar, minta dengan sopan, mungkin dikasih. Ini malah mau rampok pake kekerasan. Dasar mulut manis hati busuk," sindir Faris tajam banget.

Dia berbalik natap semua orang yang dikepung itu.

"Oke, semuanya udah jelas, semuanya udah ketangkep basah, bukti lengkap. Sekarang kalian punya dua pilihan. Pertama: diam aja, terima akibatnya, masuk penjara, menyesal seumur hidup. Kedua: bantuan kami buat ungkap semua kejahatan lain yang pernah kalian lakuin atas perintah Pak Hendro. Kalau jujur, hukumannya bisa diringanin dikit. Gimana? Mau pilih yang mana?"

Suasana hening sebentar, lalu satu per satu anak buah Mang Kuncung mulai menunduk, menjatuhkan senjata mereka ke tanah... klang... kling... bunyi bersahutan. Mereka sadar perlawanan sia-sia, mereka sadar mereka cuma dijadikan alat sama orang kaya licik, dan mereka sadar kalau orang di depan mereka ini jauh lebih hebat, jauh lebih pinter, dan jauh lebih berkuasa di jalan kebenaran.

"Kami... kami ngaku... kami mau ngomong semuanya... kami cuma disuruh..." kata salah satu dari mereka gemetar, diikuti yang lain serentak.

Mang Kuncung menatap Pak Hendro dengan pandangan benci. "Semua gara-gara loe... loe yang janjiin uang banyak, loe yang bilang aman, loe yang bilang nggak bakal ada masalah! Eh ternyata kita yang jadi korban!" bentak Mang Kuncung, rasa hormatnya hilang sama sekali.

Pak Hendro cuma bisa diam, matanya berkaca-kaca menahan penyesalan yang telat banget datang.

Faris tersenyum puas. "Nah... gitu dong, baru enak denger. Sekarang urusan kita selesai. Tinggal nunggu polisi datang, laporin semuanya, serahin bukti, serahin orangnya, beres deh."

Dia natap Viona yang kelihatan lega luar biasa. Ancaman terbesar sudah terungkap, musuh utama sudah jatuh, kedamaian perlahan kembali datang.

1
Samsul Samsi
😍😍😍😍
Watono
teruskan Faris bela yang benar
FARIZARJUNANURHIDAYAT: siap kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!