Di Benua Langit Biru, hukum kultivasi berlaku mutlak: fokus pada satu elemen murni adalah satu-satunya jalan pintas menuju keabadian. Mereka yang lahir dengan banyak elemen justru dianggap memiliki meridian cacat—sebuah wadah bocor yang hanya akan memperlambat kultivasi dan berakhir sebagai sampah masyarakat.
Namun, takdir justru menertawakan Ling Yun. Ia lahir dengan kutukan terjahat: memeluk empat elemen utama bumi sekaligus—Tanah, Air, Api, dan Udara—di dalam satu tubuh. Dicaci, dikhianati, dan dibuang oleh dunianya, ia menolak untuk berlutut pasrah pada nasib. Dengan tekad seteguh karang, ia merayap dari titik terendah demi membalikkan takdir langit.
Menggenggam bara api, membelah samudra, menggoncang bumi, dan memotong badai, Ling Yun menantang dunia:
"Siapa bilang empat elemen adalah sampah? Dengan empat elemen ini, aku akan menghancurkan para dewa yang angkuh, membakar kesombongan langit, dan menulis ulang hukum alam semesta!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blizzardauthor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Formasi Pusaran Qi Sembilan Langit
Sore hari di bukit Divisi Alkimia menyuguhkan pemandangan yang tenang, dengan semburat warna jingga yang perlahan tertutup oleh kabut tipis beraroma tanaman obat. Namun, ketenangan ini tidak membuat pikiran taktis Ling Yun mengendur. Di dalam halaman paviliun giok barunya yang terisolasi di puncak bukit, pemuda berjubah hitam itu berdiri tegak, menatap sembilan batu array tingkat satu yang didapatkannya dari Tetua Song dengan dalih untuk "belajar".
Di atas meja batu, batu-batu tersebut hanya memancarkan pendaran energi abu-abu yang sangat redup—khas barang kualitas rendah untuk murid baru.
"Tetua Song pasti berpikir aku hanya murid baru yang penasaran dengan Formasi Segel Tingkat Satu yang Sederhana," batin Ling Yun, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang penuh arti. "Bagi kultivator biasa di sekte ini, kualitas bahan baku adalah segalanya. Namun, mereka tidak tahu bahwa dengan manipulasi rute aksara kuno yang tepat, struktur energi apa pun bisa diubah menjadi kualitas tertinggi. Ya walaupun hanya pada batas tertinggi tingkat satu."
Ling Yun memejamkan mata perlahan. Di dalam kesadarannya, seberkas pendaran kuno dari Mutiara Primordial Empat Penjuru bergetar halus, mengalirkan pengetahuan instan mengenai diagram formasi tingkat tinggi langsung ke benaknya.
Begitu matanya kembali terbuka, aura Ling Yun mendadak berubah menjadi sangat fokus. Dia mengangkat tangan kanannya, menggerakkan jari-jarinya di udara. Menggunakan bubuk perak spiritual, dia mulai menggambar garis-garis formasi baru di atas lantai batu halaman paviliun, membalikkan kutub aliran energi spiritual pada sembilan batu array tersebut.
BZZZZTTT!
Apa yang Ling Yun buat saat ini adalah sebuah formasi tingkat satu dengan kesulitan tertinggi, Formasi Elemen: Pusaran Qi Sembilan Langit.
Sebuah Formasi tingkat satu berskala mikro. Melalui bimbingan Mutiara Primordial, formasi ini tidak hanya akan menyedot Qi spiritual dari urat nadi gunung secara halus dari sekitar dimana formasi tersebut di pasang.
Ia melakukan ini agar tidak memancing kecurigaan para Tetua, tetapi juga mengisolasinya secara total. Begitu malam tiba dan formasi ini aktif sepenuhnya, seluruh paviliun ini akan tampak seperti area mati tanpa fluktuasi dari luar. Bahkan jika indra spiritual Tetua Mo memindai tempat ini, dia tidak akan menemukan keanehan apa pun.
Dengungan halus terdengar saat lingkaran perak di lantai menyala sesaat, menandakan garis-garis formasi telah menyatu sempurna dengan udara dan siap diaktifkan kapan saja. Ling Yun menurunkan tangannya, mengembuskan napas panjang sembari menatap pekerjaannya yang tanpa cacat.
"Fondasi awal untuk ruang kultivasiku selesai," pikir Ling Yun puas. "Di ruang terisolasi ini, aku akhirnya memiliki privasi mutlak untuk mulai memulihkan Dan Tian Primordial-ku. Namun sebelum itu, aku harus mengurus Kakak Lu dahulu. Membiarkan seorang tanpa perlindungan kultivasi tinggal di dalam pusaran Qi yang sepekat ini sama saja dengan merusak organ dalamnya secara perlahan. Aku harus menyiapkan meridian tubuhnya terlebih dahulu."
Tepat ketika Ling Yun selesai menimbang rencananya, gerbang halaman terbuka pelan. Lu Han melangkah masuk sembari membawa sebuah kuali perunggu kecil dan beberapa kotak kayu giok berisi sampel tanaman obat dasar yang diminta Ling Yun tadi siang. Wajahnya masih menyisakan sisa-sisa semangat dari obrolan mereka di taman.
"Yun, ini kuali dan sampel tanaman obat yang kamu minta dari gudang logistik," ucap Lu Han agak terengah-engah, meletakkan barang-barang tersebut di atas meja batu dengan sangat hati-hati.
Ling Yun menghampiri meja dan memeriksa kotak-kotak kayu tersebut tanpa mengubah ekspresi santainya. "Gudang logistik tidak membuatmu kesulitan, kan, Kak?"
Lu Han langsung menegakkan tubuhnya, tersenyum lebar penuh percaya diri. "Tidak Perlu Khawatir! Diaken yang berjaga di jalur pendakian bukit sudah kuwanti-wanti dengan dekret Tetua Liu. Tidak ada murid biasa yang berani mendekat ke area paviliun ini. Aku juga sudah menolak semua titipan pesan dari murid baru yang hendak bertemu denganmu dengan alasan pernah akrab dulu. Tapi..." Lu Han mendadak menjeda kalimatnya, wajahnya terlihat agak kusut.
"Tapi kenapa, Kakak Lu?" tanya Ling Yun santai.
"Ada beberapa murid luar senior yang dulu dekat dengan mendiang Zhao Hu... mereka terlihat sering berkumpul di kaki bukit sejak siang tadi," bisik Lu Han dengan raut cemas. "Mereka tidak berani naik karena larangan Tetua Liu, tapi tatapan mereka saat melihatku lewat mengambil barang benar-benar tajam."
Mendengar hal itu, seulas senyuman yang teramat samar terukir di sudut bibir Ling Yun. Dia menutup kembali kotak kayu giok tersebut dengan ketukan pelan yang berirama.
"Tetua Mo rupanya langsung menggerakkan bidak-bidak kecilnya," analisis Ling Yun dalam hati, merasa geli dengan keputusasaan rubah tua itu. "Ya mengingat status Dual Divisi-ku membuatnya mati kutu secara hukum, jadi dia menggunakan murid senior untuk mengintai dan mungkin berniat untuk memprovokasiku juga agar keluar dari bukit." Batin Ling Yun.
Ling Yun membalikkan tubuhnya, menatap kuali perunggu kecil yang dibawa Lu Han, lalu menepuk pundak kakaknya itu dengan hangat.
"Tikus-tikus di bawah tidak usah dipikirkan, Kak. Bawa kuali ini ke dalam paviliun dan istirahatlah sejenak," ucap Ling Yun dengan nada santai seraya melempar senyum tipis. "Malam ini, seperti yang kujanjikan, kita akan mulai melatih kultivasi mu kak."
Lu Han sempat tertegun sejenak mendengarnya, namun rasa percaya yang mendalam kepada adiknya membuat dia segera mengangguk penuh semangat. "Baik, Yun! Aku akan segera menyiapkannya di dalam!"
Ling Yun berdiri sendirian di halaman, menatap matahari yang perlahan tenggelam di balik cakrawala. Semua rencana matang sudah tersusun rapi di kepalanya, membuat wajahnya kini tampak sangat tenang.
Dia mendongak menatap langit yang mulai menggelap, menantikan malam tiba. Malam ini akan menjadi awal dari segalanya bagi Lu Han—saat di mana ia akan memulai langkah pertama menjadi sosok yang ia damba-dambakan.
>>>>>> Bersambung
~ Salam hangat dari author jangan lupa tinggalkan jejak ya. semoga sehat selalu untuk saudara-saudara ku.