Menjalin hubungan serius dan hari pernikahan pun telah ditetapkan, tentunya membuat gadis manapun akan berpikir bahwa pria itulah yang akan menjadi imam dalam rumah tangganya, tak terkecuali gadis cantik bernama Azira putri. Namun semua mimpi dan harapan indah itu hancur seketika, dengan kedatangan seseorang dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19.
"Papah...mamah....mas Tomi...." Zira terkejut dengan kedatangan kedua orang tua serta kakaknya di rumah sakit.
Sesaat kemudian, Lexi terlihat menyusul langkah anggota keluarga Zira memasuki ruang perawatan, dan hal itu sontak membuat senyum di bibir Zira perlahan surut.
Tuan Andrean langsung memeluk tubuh lemah putrinya yang kini terbaring di tempat tidur rumah sakit.
"Maafkan papah, Zira! Seharusnya papah menjadi garda terdepan untuk melindungimu, bukannya justru menambah kesedihan dihati kamu, nak."
Deg
Keberadaan Lexi serta perkataan ayahnya sudah cukup menjadi jawaban bagi Zira atas kedatangan keluarganya.
"Tuan Lexi sudah mengakui semuanya dihadapan kami, nak. Maafkan papah karena sempat meragukan akhlak kamu, anakku." Tuan Andrean tak sanggup membendung air matanya. Bukan hanya karena telah menghukum putrinya, tapi juga karena sempat meragukan akhlak baik putrinya.
Zira menatap Lexi yang kini berdiri di samping Tomi. "Terima kasih atas pengakuan anda, tapi sepertinya sekarang kehadiran anda sudah tidak dibutuhkan lagi. Jadi, sebaiknya anda pergi dari sini, tuan Lexiano Fernandez!."
"Kamu ini bicara apa Zira...Kamu tidak boleh bicara seperti itu pada calon suami kamu, nak!." Tegur ibu.
"Calon suami? Apa maksud mamah?." Zira nampak bingung.
"Tuan Lexiano Fernandez bersedia bertanggung jawab atas perbuatannya padamu, Zira." Tomi mewakili untuk menjawab kebingungan di wajah adiknya.
"Tidak....Zira tidak butuh pertanggungjawaban dari pria jahat seperti dia." Zira keberatan. "Lagipula, apa nanti kata orang-orang, setelah memutuskan hubungan dengan adiknya, Zira malah menikah dengan kakaknya. Zira tidak bisa, pah...mah...."
"Tidak bisa begitu, nak. Harga diri seorang wanita terletak pada kesuciannya, Zira. Kamu telah kehilangan hal yang paling berharga dalam hidup kamu, papah khawatir dengan masa depan kamu nanti, nak. Sekalipun pria itu bukanlah tuan Lexiano Fernandez, papah akan tetap menerima lamarannya, karena sudah seharusnya seperti itu, Zira." Hubungannya dengan keluarga terutama sang ayah, baru saja membaik. Jika terus berdebat, pasti akan berujung kesalahpahaman lagi. Pada akhirnya Zira memilih diam dan menurut pada keputusan ayahnya.
"Untuk urusan keluargaku, biar menjadi urusanku, kamu tidak perlu memikirkannya!." Tutur Lexi.
"Tunggu.... Apa kamu belum mengembalikan cincin pertunangan kamu dengan Leon?." Tanya Tomi melihat keberadaan cincin berlian yang kini tersemat di jari manis adiknya.
"Aku sudah mengembalikannya pada malam itu juga, mas." Jawab Zira, belum paham dengan alasan Tomi sampai bertanya demikian.
"Kalau benar begitu, lalu bagaimana dengan cincin itu?." Tomi menuding ke arah jari manis Zira.
"Cincin berlian itu merupakan cincin pilihan mommy untuk calon istri saya kelak dan pada malam itu Zira diminta oleh mommy untuk membantu mencobanya. Tapi siapa sangka, cincinnya justru sulit dilepaskan dari jari manis Zira." Ayah, ibu dan juga Tomi langsung saling melempar pandangan satu sama lain setelah mendengar penjelasan dari Lexi.
"Bagaimana ini bisa terjadi?." Batin Tomi. "Apa mungkin alam ingin membuktikan bahwa pasangan yang ditakdirkan untuk Zira adalah Lexi, bukannya Leon?." Lanjut batin Tomi. Tomi lantas memindai penampilan Lexi dari ujung kaki hingga ujung rambut. Lexi memang jauh lebih tampan dan postur tubuhnya pun lebih tinggi dari adiknya, Leon. Sebagai sesama pria, yang kini ada di dalam pikiran Tomi justru mengarah pada kejadian di saat putra sulung dari keluarga Fernandez tersebut merenggut kesucian adiknya. Ia tidak sanggup membayangkan bagaimana kewalahannya Zira yang hanya memiliki tinggi badan seratus enam puluh sentimeter menghadapi keper-kasaan pria bertubuh tegap dengan tinggi badan seratus sembilan puluh sentimeter.
"Argh...." Erang-an kesal Tomi berhasil memancing atensi semua yang ada di ruangan itu, tak terkecuali Lexi.
"Ada apa, Tomi?." Tanya ibu.
"Bukan apa-apa kok, mah." Tomi kembali memasang wajah seriusnya.
Lexi melangkah mendekati ranjang Zira.
"Kenapa belum disentuh makan siangnya, hm?." Lexi melihat jatah makan siang dari rumah sakit masih utuh, belum disentuh sama sekali oleh Zira.
"Saya tidak lapar." Cetus Zira tanpa memandang ke arah lawan bicaranya.
"Nggak boleh seperti itu, Zira! Bagaimana kamu bisa cepat sembuh kalau nggak mau makan, nak." Ibu pun ikut menegur putrinya.
"Zira nggak suka mah, buburnya hambar nggak ada rasanya."
Mendengar keluhan Zira, Lexi lantas berlalu pergi dan tak lama kemudian pria itu kembali dengan menenteng kresek berisi bubur ayam yang baru saja dibelinya dari restoran yang terletak di depan rumah sakit.
"Kalau tidak suka dengan bubur buatan rumah sakit, makan bubur yang ini saja!." Lexi mengeluarkan wadah bubur dari dalam kresek dan bersiap menyuapi Zira.
Tomi hanya bisa geleng kepala melihat sikap lembut Lexi pada adiknya. Rupanya seorang Lexiano Fernandez bisa bersikap lembut juga pada wanita.
Setelah Zira selesai makan siang, dokter terlihat memasuki kamar perawatannya untuk melakukan pemeriksaan. Semestinya dalam sehari hanya ada dua kali pemeriksaan yakni pada pagi dan juga malam hari sebelum pasien beristirahat, tapi nampaknya ada pengecualian bagi Zira dan tentunya semua itu berdasarkan instruksi dari Lexi.
"Kondisi pasien semakin membaik, dok. Sepertinya dalam satu atau dua hari kedepan sudah boleh pulang." Jelas dokter Riki pada Lexi setelah selesai memeriksa kondisi Zira.
"Dok? Mengapa pak dokter memanggil Lexi dengan sebutan dok?." Hari ini Tomi mendapat begitu banyak kejutan tentang sosok Lexiano Fernandez.
"Terima kasih banyak, dokter."
"Ohiya dokter Lexiano, sebenarnya saya ingin berkonsultasi pada anda tentang kondisi penyakit jantung ayah saya. Saya sangat berharap dalam waktu dekat ini dokter Lexiano dapat meluangkan waktu." Ayah dari dokter Riki sudah lama mengidap penyakit jantung koroner dan pria itu ingin sekali mengkonsultasikan kondisi ayahnya kepada Lexi yang terkenal sebagai dokter spesialis jantung yang pernah bekerja di salah satu rumah sakit ternama di Amerika.
"Nanti kalau ada waktu luang, saya akan segera menghubungi anda, dokter Riki." Balas Lexi.
"Terima kasih banyak sebelumnya, Dok.". Dokter Riki memilih mengubur perasaannya terhadap Zira. Ya, disaat Zira masih bersama Leon saja, pria itu merasa tidak sanggup untuk bersaing, apalagi jika seorang Lexiano Fernandez telah mengakui wanita itu sebagai calon istrinya.
Tomi sampai kehabisan kata-kata, rupanya seorang Lexiano Fernandez bukan hanya seorang pengusaha serta pebisnis sukses, namun pria itu juga berprofesi sebagai seorang dokter spesialis jantung.
"Semoga nanti anda tidak sampai terkena serangan jantung karena menghadapi sifat adikku, tuan Lexiano Fernandez." Batin Tomi
Kedua orang tua serta kakak Zira baru meninggalkan rumah sakit pada malam harinya. Awalnya ibu ingin menemani Zira di rumah sakit namun Lexi menyarankan pada wanita paruh baya tersebut untuk pulang saja agar bisa beristirahat dengan nyaman. Dengan begitu, kini hanya tinggal Lexi seorang yang menemani Zira di rumah sakit.
"Kamu mau pergi kemana?." Lexi sontak bangkit dari duduknya di sofa saat melihat Zira turun dari tempat tidur dengan menenteng botol infusnya.
"Toilet."
Lexi mendekat dan...."Argh....." Tiba-tiba Zira merasa tubuhnya seperti melayang. Lexi menggendong tubuhnya menuju toilet.
"Diam lah! Apa kamu ingin suara teriakan kamu itu terdengar sampai keluar."
Zira sontak saja mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Lexi mendudukkan tubuh Zira pada toilet duduk.
"Kenapa masih di sini?." Zira mengernyitkan dahi melihat Lexi masih berdiam diri dihadapannya, bukannya buru-buru keluar.
"Aku khawatir terjadi apa-apa jika kamu hanya sendirian di toilet." Jawaban Lexi secara tidak langsung mengatakan bahwa ia ingin tetap berada di dalam sana untuk memastikan Zira baik-baik saja.
"APA?." Kedua bola mata Zira langsung membulat dengan sempurna.
"Tidak perlu malu! Lagipula, bagian tubuhmu mana yang belum pernah aku lihat, hm?."
Zira seperti ingin mengguyur Lexi dengan air hingga basah kuyup, saat mendengar perkataan pria itu.
"K-E-L-U-A-R...!." Saking kesalnya, Zira sampai mengeja kosa kata keluar, hingga pada akhirnya Lexi mengalah dan beranjak keluar dari toilet.
kamu benci banget ma Lexi,tanpa kamu sadari suami mu banyak pengagumnya
dan aku begitu juga 😆😆😆
kesian dia karena ambisi gila orang tuanya yang ingin berbesan dengan orang tua mu
Mimi aja Lex 🤣