NovelToon NovelToon
Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Jatuh Cintanya Seorang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta Terlarang
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di balik dinding suci sebuah pondok pesantren, tersembunyi seorang buronan. Reyshaka El Zhafran atau Shaka—tak pernah membayangkan hidupnya akan berakhir di tempat yang paling ia hindari. Demi lolos dari kejaran polisi, pengedar narkoba itu nekat bersembunyi di pesantren milik Ustadz Haidar, seorang ulama yang dikenal bijak dan disegani.

Awalnya, Shaka hanya ingin selamat. Namun hari demi hari, ketenangan, nasihat, dan ketulusan Ustadz Haidar perlahan meruntuhkan tembok keras di hatinya. Untuk pertama kalinya, Shaka mulai mengenal arti penyesalan dan harapan untuk berubah. Semua menjadi semakin rumit saat ia bertemu Hanindya Daisha Ayu—putri sang ustadz yang berhati lembut dan shalihah. Tanpa disadari, perasaan itu tumbuh diam-diam, menyiksa shaka dalam keheningan.

Tapi bagaimana mungkin seorang mantan pengedar narkoba seperti dirinya pantas mencintai perempuan sebersih Hanindya?
Terlebih, Hanindya telah dijodohkan dengan Ustadz Ilyas—lelaki yang jauh lebih layak dibanding dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Shaka mengikuti langkah Ustadz Ilyas menuju pintu utama mushola dengan perasaan yang masih bercampur aneh di dalam dadanya. Dari luar, mushola itu terlihat sederhana. Bangunannya tidak terlalu besar, namun bersih dan terasa hangat. Lampu-lampu kuning kecil menyala lembut di teras. Begitu mereka melewati pintu mushola, aroma khas karpet bersih dan kayu tua langsung menyambut Shaka. Suasana di dalam terasa tenang. Beberapa santri sudah duduk rapi sambil membaca Al-Qur’an. Ada yang berzikir dan ada juga yang sedang merapikan saf.

Begitu melihat Ustadz Ilyas masuk ke dalam mushola, para santri laki-laki yang tadinya duduk perlahan mulai berdiri satu per satu.

“Assalamualaikum ustadz.”

“Waalaikumsalam.”

Suara-suara itu terdengar bersahutan dengan penuh hormat. Lalu tanpa perlu diperintah, satu per satu santri mulai mendekati Ustadz Ilyas untuk mencium tangannya sebelum kembali ke tempat masing-masing. Shaka langsung sedikit terdiam ketika melihat pemandangan itu. Seorang santri remaja yang memakai peci hitam menundukkan tubuhnya dengan hormat sebelum mencium tangan Ustadz Ilyas.

“Ustadz.”

“Bagaimana hafalannya, Rifqi?” tanya Ustadz Ilyas dengan lembut.

“Alhamdulillah sudah tambah dua halaman, ustadz.”

“Bagus. Terus dijaga ya hafalannya.”

Santri itu tersenyum senang lalu kembali ke saf belakang, setelah itu datang lagi santri yang lain. Semuanya melakukan hal yang sama. Mereka terlihat begitu menghormati lelaki muda di samping Shaka itu. Sementara Ustadz Ilyas sendiri membalas semua itu dengan tenang. Tidak sedikitpun ia terlihat sombong ataupun merasa tinggi. Ia menyapa beberapa santri dengan ramah, menanyakan kabar mereka dengan singkat, bahkan mengingat nama-nama mereka dengan baik dan membuat Shaka memperhatikan semuanya dalam diam. Entah kenapa pemandangan itu terasa asing baginya.

Di dunia tempat ia hidup selama ini, orang dihormati karena takut, karena kekuasaan, karena uang ataupun ancaman. Tapi di sini lelaki bernama Ilyas itu dihormati dengan tulus. Dan semakin lama, semakin banyak santri yang mulai menyadari sesuatu. Bahwa Ustadz Ilyas datang bersama seseorang yang tidak mereka kenal. Tatapan demi tatapan mulai mengarah ke Shaka. Awalnya hanya sekilas lalu semakin jelas. Beberapa santri tampak saling melirik diam-diam karena memang penampilan Shaka terlihat sangat berbeda dibanding penghuni pesantren lainnya.

Rambutnya lebih panjang dari kebanyakan laki-laki di sana. Meski tadi sudah dirapikan seadanya dengan tangan, tetap saja terlihat sedikit berantakan. Tubuhnya tinggi dan berisi. Ada bekas-bekas keras kehidupan di wajahnya. Tatapannya tajam meski saat ini sedang berusaha ditundukkan, bahkan cara berdirinya pun masih terlihat seperti orang jalanan. Dan itu membuat beberapa santri mulai penasaran.

“Siapa tuh?”

“Santri baru ya?”

“Kayak preman...”

Bisik-bisik kecil mulai terdengar samar meski tidak terlalu keras, telinga Shaka tetap bisa menangkap beberapa di antaranya. Dan seketika rasa tidak nyaman mulai naik di dadanya. Ia langsung menundukkan pandangannya, Rahangnya sedikit mengeras.

Tangan di samping tubuhnya mengepal pelan. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan asing yang sudah terlalu sering ia rasakan sepanjang hidupnya. Dianggap berbeda, dipandang aneh dan diwaspadai. Beberapa santri masih meliriknya diam-diam. Ada yang terlihat bingung, ada juga yang penasaran. Bahkan ada yang tampak sedikit takut.

Shaka tahu kenapa, karena bahkan tanpa perlu bicara pun, wajahnya memang tidak terlihat seperti santri pesantren. Ia terlalu menakutkan untuk tinggal di tempat seperti ini. Shaka merasa dirinya seperti orang yang kotor dan jauh dari dunia mereka. Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke pesantren itu, rasa malu mulai muncul dalam diri Shaka. Malu bukan karena ia takut ataupun karena ia lemah, tapi karena tiba-tiba ia merasa benar-benar tidak pantas berada di tempat itu.

Matanya perlahan menatap lantai mushola. Ia bahkan mulai berpikir mungkin dirinya memang tidak seharusnya masuk ke sana.

Namun di tengah suasana itu, suara tenang Ustadz Ilyas tiba-tiba terdengar.

“Anak-anak.” Suasana mushola langsung sedikit hening. Para santri seketika menoleh ke arah ustadz Ilyas. “Saya harap kalian bisa menjaga adab.”

Kalimat itu terdengar sederhana tapi cukup membuat beberapa santri yang tadi berbisik langsung terdiam. Ustadz Ilyas lalu melanjutkan dengan suaran tenang dan berkata,

“Perkenalkan, kakak ini namanya Shaka.”

Shaka sedikit menegang ketika namanya disebut. “Mulai hari ini dia akan tinggal di pesantren kita.” Beberapa santri kembali saling bertukar pandang, namun kali ini mereka diam mendengarkan. “Dia juga akan belajar di sini bersama kalian.” Nada suara Ustadz Ilyas tetap terdengar tenang. Tidak terdengar menggurui ataupun marah. “Tolong sambut dia dengan baik.”

Suasana mushola kembali hening selama beberapa detik. Shaka masih menunduk. Ia tidak berani melihat wajah para santri itu. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Karena lagi-lagi orang-orang di tempat ini memperlakukannya jauh lebih baik dari yang ia bayangkan. Padahal mereka bahkan tidak tahu siapa dirinya sebenarnya.

“Dia juga akan belajar di sini bersama kalian. Di tempat ini kita belajar bersama sama.”

Tatapannya perlahan menyapu para santri. “Tidak ada yang lebih mulia hanya karena masa lalunya terlihat baik.” Beberapa santri mulai mendengarkan dengan serius. “Dan tidak ada yang pantas direndahkan hanya karena masa lalunya buruk.” Kalimat itu membuat Shaka perlahan mengangkat wajahnya sedikit. Matanya tanpa sadar menoleh ke arah Ustadz Ilyas. Lelaki yang masih berdiri dengan tenang sembari membuat santri santrinya bisa menerima kehadirannya. “Tugas kita bukan untuk menghakiminya. Tugas kita adalah saling membantu untuk menjadi lebih baik.”

Mushola kembali sunyi. Beberapa santri mulai terlihat malu sendiri karena tadi sempat memandang Shaka dengan aneh. Salah satu santri yang tadi berbisik pelan akhirnya menundukkan kepala. Sementara yang lain mulai menyadari kesalahan mereka. Ustadz Ilyas lalu menepuk pelan bahu Shaka yang mana gerakan kecil itu membuat Shaka sedikit terkejut.

“Shaka,” ucap ustadz Ilyas pelan dan membuat Shaka menoleh. “Saya harap kamu juga merasa nyaman tinggal di sini.”

Shaka terdiam, lidahnya terasa kelu. Sudah lama sekali tidak ada orang yang berbicara padanya seperti itu dengan tulus tanpa curiga, tanpa hinaan ataupun ancaman. Dan anehnya itu justru membuat dada Shaka terasa semakin berat. Beberapa detik kemudian, seorang santri muda akhirnya maju perlahan.

Wajahnya terlihat canggung. Ia menatap Shaka sebentar lalu berkata,

“Assalamualaikum.”

Shaka sedikit kaget namun akhirnya menjawab pelan,

“Waalaikumsalam.”

Santri itu menggaruk tengkuknya sedikit.

“Nama saya Faris.”

Shaka diam sebentar sebelum menjawab pendek,

“Shaka.”

Santri bernama Faris itu tersenyum kecil.

“Semoga betah di sini ya bang.”

Tak lama kemudian santri lain mulai ikut mendekat.

“Assalamualaikum bang, saya Fikri.”

“Saya Salman.”

“Saya Arga.”

Satu per satu dari mereka mulai menyapa dirinya. Masih ada rasa canggung tentu saja, namun suasananya perlahan berubah. Tatapan aneh yang terlihat tadi mulai menghilang sedikit demi sedikit. Beberapa santri bahkan mulai tersenyum ramah pada Shaka dan membuat Shaka sendiri masih terlihat kikuk. Ia tidak terbiasa berada di situasi seperti ini. Biasanya orang-orang mendekatinya karena takut atau karena ada urusan bisnis haram, bukan untuk menyambutnya dengan tulus seperti ini. Seorang santri kecil yang mungkin baru belasan tahun bahkan berkata polos,

“Abang tinggi banget.” ujarnya yang membuat beberapa santri lain langsung menahan tawa mereka.

1
Putri_a_s
pake acara sumpah sumpahan lagi/Drowsy/
Yuni Avita
ozy ibarat musuh dalam selimut.
Yuni Avita
moga aja kamu cepat sadar dengan apa yang kamu lakukan, Ozy.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Biar ganteng Shaka 😁
Suhadi Mulyo
jangan bawa nama tuhan dengan mulut kotormu itu Ozy, nggak usah sok suci lho/Panic/
Suhadi Mulyo
tega banget kamu ozy/Smug/
Suhadi Mulyo
punya salah apa Shaka sama kamu Ozy? sampai kamu tega banget fitnah dia /Scowl/
Khumaira Nur Rahma
jahat banget kamu ozy, udah lempar batu sembunyi tangan, sekarang malah fitnah Shaka /Panic/
Suhadi Mulyo
bagus banget, ada cuplikan ayat Al-Qur'an nya juga, jadi tambah ilmu.
Suhadi Mulyo
ustadz Ilyas beruntung bisa dicintai oleh perempuan seperti Hanin😍
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
bagus Shaka harus move on dong.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Selagi mau berubah, Allah selalu dekatkan dgn org yg baik bukan. Good morning aku sempetin baca sebelum kerja💙
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
Jodoh adalah bagian dari takdir Allah, namun ikhtiar menjemputnya tetap menjadi bentuk ketaatan.
Dengan ikhtiar, tawakal dan kesabaran, setiap langkah menuju jodoh bisa menjadi jalan ibadah yang diridhai Allah.
Kondisi dalam hubungan percintaan barangkali tidak akan semulus kelihatannya.
Tentu saja setiap orang akan selalu berharap mendapatkan pasangan yang ia cintai dan mencintai dirinya. Akan tetapi, dalam hidup tentu harus realistis.
Tidak semua yang kita inginkan itu bisa terwujud.
Apa yang menurut kita baik, belum tentu baik menurut Allah.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui".
Percayakan kepada Allah yang Maha Mengetahui, Allah Sang Pemilik Hati Manusia. Jodohmu sudah diatur oleh-Nya...🤭
sakura
..
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
oh apakah Hanindiya itu anak ustadz Haidar.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Thor harusnya di tulis jga bawahnya surah mana atau hadis doa mana biar tahu para pembaca gitu.
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: bukan doa kak, tapi sholawat.
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tanda hati Shaka mulai terenyuh.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
lagi dakwah kaya gini terus di bawahnya ada iklas dramashot mana tokohnya Hb lagi nggak etis banget ih 🤦
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
apakah ustadz Ilyas tau soal ini🤭
✦͙͙͙*͙❥⃝🅚𝖎𝖐𝖎💋ᶫᵒᵛᵉᵧₒᵤ♫·♪·♬
"Maula ya sholli wasallim daiman abada" adalah adalah sholawat yang termasuk bagian dari Qasidah Burdah.
Sholawat ini diciptakan oleh Imam Bushiri, penyair sekaligus ulama yang tersohor di kalangan umat Muslim.
Kata burdah secara bahasa diartikan sebagai mantel.
Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa burdah berasal dari kata bur’ah yang berarti shifa (kesembuhan).
Sholawat Burdah sendiri merupakan sajak-sajak pujian kepada nabi Muhammad SAW, pesan moral, nilai-nilai spiritual, semangat perjuangan, dan sebagainya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!