Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.
Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.
Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pangeran Kael Berulah
Tiga hari berlalu sejak Nana menemukan buku harian ayahnya.
Tapi ia tidak sempat memikirkan Teluk Hantu. Karena Kael kembali — dan kali ini, ia tidak datang sendirian.
"Yang Mulia," lapor Zara di pagi hari, wajahnya tegang. "Pangeran Kael mengirim surat. Bukan surat biasa... ini ultimatum."
Nana mengambil surat itu. Tangannya dingin saat membaca.
"Ratu Nanara,
Aku sudah bersabar. Aku sudah menunggu. Tapi penolakanmu yang terus-menerus mulai menguji kesabaranku.
Kerajaan Utara tidak terbiasa menunggu. Ayahku, Raja Aldric, mengirim pasukan ke perbatasan Aequoria. Bukan untuk menyerang — setidaknya belum.
Kau punya waktu satu minggu untuk menerima lamaranku. Jika tidak, aku tidak bisa menjamin keselamatan kerajaanmu.
Pangeran Kael,
Kerajaan Aquilae"
Nana meletakkan surat itu di atas meja. Tangannya gemetar — bukan takut, tapi marah.
"Dia mengancamku," katanya pelan. "Dia mengancam kerajaanku."
Jeno membaca surat itu dari balik bahu Nana. Matanya berubah gelap — biru pucat itu kini seperti laut sebelum badai.
"Aku akan bunuh dia," kata Jeno.
"Kau tidak akan bunuh siapa pun," potong Nana. "Kau Kepala Penjaga. Tugasmu melindungi, bukan membunuh tanpa perintah."
"Maka perintahkan aku."
"Tidak."
Jeno menggertakkan gigi. "Nana—"
"Kita tidak bisa memulai perang hanya karena aku marah," kata Nana. Suaranya tegas, meski masih serak. "Kael ingin provokasi. Dia ingin kita menyerang duluan, sehingga dia bisa membalas dengan alasan 'mempertahankan diri'."
Lira yang mendengar dari pintu masuk. "Jadi kita hanya diam?"
"Kita bersiap," jawab Nana. "Kita kuatkan pertahanan. Kita kirim utusan ke kerajaan tetangga untuk mencari sekutu. Dan kita... kita cari kelemahan Kael."
Ia menatap Zara. "Kau punya mata-mata di Kerajaan Utara?"
Zara mengangguk. "Beberapa. Tapi mereka tidak bisa bergerak bebas. Kael sangat paranoid."
"Suruh mereka bergerak. Aku perlu tahu apa yang Kael rencanakan. Juga... cari tahu apakah Raja Aldric benar-benar mendukungnya, atau Kael bertindak sendiri."
"Baik, Yang Mulia."
Rapat selesai. Para penasihat keluar satu per satu. Hanya Nana dan Jeno yang tersisa di ruang singgasana.
"Kau hebat," kata Jeno.
"Apa?"
"Di rapat tadi. Kau tegas. Kau tidak panik. Kau... terlihat seperti ratu."
Nana tersenyum tipis. "Aku memang ratu."
"Aku tahu. Tapi baru sekarang aku benar-benar melihat."
Mereka berdua terdiam. Jantung Aequoria di dada Nana berdenyut — pelan, hangat.
"Jeno," kata Nana.
"Ya?"
"Apa kau takut?"
Jeno meraih tangannya. "Aku takut. Tapi aku lebih takut jika kehilanganmu."
"Kau tidak akan kehilangan aku."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku tidak takut."
Malam harinya, Zara kembali dengan kabar.
"Yang Mulia, salah satu mata-mataku berhasil masuk ke istana Aquilae. Raja Aldric sakit — parah. Dia tidak bisa memerintah. Kael yang memegang kendali penuh atas kerajaan."
Nana mengernyit. "Jadi tidak ada yang bisa menghentikan Kael?"
"Tidak dari dalam. Tapi dari luar... mungkin."
"Apa maksudmu?"
Zara mendekat. Suaranya berbisik, meski hanya mereka berdua di ruangan.
"Kael punya saudara tiri. Pangeran Theron. Selama ini ia dibuang ke kerajaan kecil di Timur karena dianggap tidak sah. Tapi Theron punya klaim atas takhta. Dan dia... membenci Kael."
Nana menatap Zara. "Kau kenal Theron?"
"Aku tidak kenal. Tapi aku tahu di mana dia berada."
"Bawa aku ke sana."
Zara terkejut. "Sekarang, Yang Mulia? Tapi Kael—"
"Kael memberi waktu seminggu. Itu cukup."
Nana berdiri. Ia menatap Jeno yang sudah mendengar semuanya dari pintu.
"Kita pergi ke Timur," kata Nana. "Kita cari Pangeran Theron. Dan kita pulang sebelum Kael sadar."
Jeno mengangguk. "Aku siap."
"Aku tidak bertanya."
"Kau ratu. Kau tidak perlu bertanya."
Nana tersenyum — senyum tipis yang Jeno kenal. Senyum yang berarti ada rencana jahat.
"Berangkat subuh," kata Nana. "Jangan bilang siapa pun."