Hanya anak muda yang ingin mendapatkan kebaikan dalam hidupnya, mencintai wanita tapi tak seorangpun menginginkannya. Cakka, fisik tubuhnya memanglah idaman semua kaum hawa. Namun wajahnya? terdapat bintik-bintik merah yang timbul dari kulit yang seharusnya menjadi rupa pertama dari setiap pertemuan. Selain itu, kulit wajahnya seperti lelehan plastik yang tak bisa terbentuk rapih mengikuti rahang. Buruk rupa, itu sebutan orang-orang untuk Cakka. Sejak kecil, sejak ia lahir kedunia. Hidupnya nelangsa, bukan karena wajahnya saja tapi karena ayah ibunya pergi lebih dulu darinya. Belum lagi Gempa, yang berhasil menghancurkan rumah tempat berlindungnya dan merenggut sang nenek yang mengasuhnya sejak kecil. Sedih, kesepian, dan sebatang kara. Itu yang Cakka alami ketika usianya beranjak sebelas tahun. Apakah Cakka akan berputus asa dengan hidup yang terus menerus di uji? Apakah wajah Cakka akan tetap seperti itu untuk melanjutkan hidup? Simak ceritanya Di Dua Dimensi!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
identitas Aulia
"Aulia?!!!!"
Cakka terkejut, perempuan yang memeluknya semalam ada disini. Disamping Cakka.
"Kok kamu bisa tahu aku ada di sini?! Kamu ngikutin aku?" Mata Cakka membulat.
Cakka tak percaya kehadiran Aulia ada disampingnya.
Kok bisa dia datang ke gedung kosong ini tanpa seorangpun yang tahu? Kok bisa mereka! Anak buah Kleo, tidak mengetahui kehadirannya?.
Cakka tak habis pikir, dia mengunci tatapannya pada Aulia. Pun Aulia sendiri, kini duduk di depannya.
"Tidak perlu merasa sendiri, aku janji, aku akan selalu ada untuk kamu"
Cakka menekuk keningnya "Sebenarnya kamu siapa sih? Kok bisa begitu hebat ke sana kemari tanpa aku tahu kapan kamu datang dan pergi? Kamu juga sepertinya tidak mudah terlihat oleh orang lain"
Aulia mengetuk-ngetuk kakinya ke kaki kursi, memangku kedua tangan dan mimik mukanya seolah sedang berfikir.
"Gimana ya cara jelasinnya ke kamu?"
Cakka setia menunggu untuk mendengar siapa Aulia sebenarnya. Beberapa kali dia meneguk air liurnya sendiri saking sudah siapnya Cakka jika Aulia mengatakan bahwa dirinya bukan manusia biasa.
"Aku... Hantu?" Aulia mengakui dirinya hantu tapi, menjadi pertanyaan pula untuk Cakka.
"Kaki mu menyentuh lantai, tubuh mu juga tidak menembus kursi, kamu bukan hantu!"
Aulia mengangguk-anggukkan kepalanya, sembari menenggelamkan bibir kedalam mulutnya sendiri.
"Lalu aku apa ya?" Malah balik bertanya.
Hening, keduanya berfikir keras.
"Asal usul mu bagaimana? Orangtua mu? Kamu bukan pribumi di Blok-e kan?" Cakka menghujani Aulia pertanyaan yang siapa tahu itu dapat membuka identitasnya.
"Sebenarnya....."
Sepuluh tahun yang lalu, Aulia adalah gadis kecil yang hidup didesa. Dia tinggal bersama ayah ibunya. Mereka adalah keluarga bahagia yang selalu menjadi contoh, panutan bahkan mimpi bagi perempuan-perempuan yang tak beruntung memiliki suami tak seperti ayah Aulia.
Sampai akhirnya, satu perempuan yang katanya mengagumi, memuji bahkan selalu tersenyum ramah disaat keluarga Aulia lewat, berhasil menghancurkan keluarga impian semua orang itu.
Namanya Ibu Rumi, suaminya main judi, hutang dimana-mana sedangkan pekerjaannya hanya sebatas ojek pengkolan. Pun anak-anaknya disekolah selalu jadi langganan guru BK. Awalnya Bu Rumi memang mengagumi ayah Aulia yang bertanggung jawab, pintar berbisnis dan sayang keluarga. Namun lama-kelamaan, puji itu berubah menjadi iri dengki. Setiap ayah Aulia mencium istrinya didepan rumah, ibu Rumi yang selalu kebetulan lewat, berbicara pada dirinya sendiri.
"Lihat saja! Aku akan hancurkan ciuman disetiap pagi itu!"
Pada suatu hari, mobil hitam yang sudah bersih dimandikan oleh ayah Aulia kini tengah dipanasi, untuk dipakai mudik ke Panyaweuyan. Bu Rumi yang melihat dan kebetulan disana hanya ada Ayah Aulia saja, ia berani mendekat, menyapa sang pemilik mobil.
"Pagi ayah!" Seru Bu Rumi.
"Pagi Bu..." Jawab ayah.
"Mau kemana nih? Sudah rapih aja, mobil juga sudah bersih" Bu Rumi.
"Mau mudik Bu, seminggu lagikan lebaran" ayah.
"Oh begitu..." Ucap Bu Rumi seraya melihat kendaraan yang terbuat dari besi itu.
Tiba-tiba dari dalam rumah, ibu Aulia memanggil ayah.
"Ayah! Ayah! Tolong dong bantuin ibu sebentar, kopernya agak susah diresleting nih!"
Mendengar itu ayah Aulia langsung meminta izin kepada bu Rumi untuk masuk ke dalam.
"Duh! Maaf ya Bu saya tinggal, sepertinya istri saya kerepotan" ayah langsung pergi masuk kedalam rumah. Sedangkan Bu rumi, ia langsung mencari cara untuk mengganggu perjalanan mudik mereka. Tanpa berpikir panjang Bu Rumi, membuka tutup pentil divelg, ia membuka jarumnya untuk membuang angin ban. Banyak sekali.
"Minimal gak jadi jalan deh!" Ucapnya kesal, lalu meludah ketanah seolah menyumpahi keluarga Aulia.
Cuih!!!!!!
Semua siap, tanpa mengecek apapun ayah langsung mengendarai mobil hitamnya itu. Sebenarnya ayah sudah merasakan ketidak nyamanan saat berkendara tapi, beliau berfikir.
nanti sajalah kebengkel setelah tol, tanggung!.
Pada kenyataannya, ditengah perjalanan, empat puluh kilometer tol Salahuni. Kecelakaan tragis terjadi. Ban mereka meledak. Boom!!! Mobil pun kehilangan keseimbangannya hingga menabrak pembatas jalan.
Brak!!!!
Ayah dan ibu meninggal dunia. Hanya Aulia yang masih hidup, ia terbanting keluar dari mobil.
Orang-orang yang iba langsung menepikan mobil mereka, ada yang menghubungi polisi dan ambulan, pun ada yang memangku Aulia untuk diselamatkan. Seketika dunia Aulia terasa hancur, roda berputar dan kini saatnya Aulia berada dibawah.
Ekonomi, kasih sayang, dan harmonisnya keluarga langsung lenyap. Yatim piatu, Aulia harus menyandang gelar itu. Hidup bersama nenek dari keluarga ayah bukanlah hal yang mudah, ia harus beradaptasi, terlebih lagi soal uang jajan yang biasa diberi dua puluh ribu sehari. Kini, Aulia harus kuat memegang uang lima ribu rupiah, itupun nenek selalu bawel untuk menyuruhnya menabung.
Singkat cerita, Aulia sudah besar. Delapan belas tahun, ia harus kuliah untuk hidup yang lebih baik lagi. Tapi sayang, nenek tak memberinya kesempatan untuk mengenyam pendidikan seperti anak yang lain. Selain karena keuangan, sodara nenek yang lain berhati dengki. Tak suka jika Aulia harus bergantung kepada nenek terus menerus. Bahkan kakak dari ayah Aulia mengusirnya.
"Pergi kamu! Kerja! Jangan diam disini terus, dasar lintah darat!"
Mendengar itu Aulia tentu tersinggung, gelap mata dan tak memikirkan kedepannya ia pergi dari rumah bukan untuk bekerja. Tapi, untuk menukar kehidupan sedihnya menjadi bahagia dibawah naungan iblis. Dengan syarat, ia tak bisa terlihat oleh sembarang orang, sekalinya terlihat umurnya berkurang. Seratus tahun! Hidup Aulia dibumi ini.
Tak tahan dengan kisah hidup yang begitu merana, Aulia menyetujuinya. Kembang tujuh rupa, menyan dan wewangian minyak menabur, mengguyur tubuh Aulia. Segala ajian ia baca, demi bisa hidup bahagia.
Malam hari ditengah hutan, Aulia fokus membaca jampi-jampi yang sudah diberikan oleh gurunya. Tiba-tiba dari belakang, seperti ada tangan yang meraba punggung Aulia. Kecil dan panjang, perlahan maju ke atas kewajah Aulia. Mengusap pelan hingga tak sadar, Aulia jatuh pingsan!.
Brak!!!!!!!
Bagai masuk kedalam lorong waktu, Aulia membuka matanya melihat semua kisah sedih yang sudah ia berhasil lewati. Sampai pada masa bahagianya ia rasakan sebentar dan...
Srak!!!!!
Tubuh Aulia terlempar ketanah basah, memakai baju yang terbuat dari jerami. Namun, disampingnya ada koper besar yang sudah terbuka lebar. Berisikan gepokan uang. Merah dan biru berjajar, menjadi miliknya.
Aulia tidak menyangka jika kehidupannya berhasil ditukar, melihat uang sebanyak itu rasanya seperti mimpi, Aulia mencubit pipinya sendiri, menyadarkannya untuk bangun. Namun, benar!Uang-uang itu miliknya dan kehidupan Aulia pun dimulai.
(***)
"Jadi sebenarnya kamu ini, manusia setengah setan?" Tanya Cakka tak menyangka.
"Lebih tepatnya, aku... Bagian dari keluarga iblis" tutur Aulia.
Cakka mengambil nafas yang begitu dalam, matanya membulat dan seketika hidupnya terasa berhenti detik itu juga. Aulia hanya tersenyum canggung, ia menggaruk punggung lehernya.
"Maaf jika selama ini aku mungkin membingungkan mu, tapi tenang! Aku tidak akan membahayakan mu. Soal pak Kleo, yang minta tanda tangan kamu untuk menjadi artis. Dia jujur. Dia benar, kamu ikuti saja cara mainnya. Sebentar lagi kamu menjemput kebahagiaan yang tak terkira!"
Cakka mengernyitkan keningnya, dan secara tiba-tiba pintu masuk gedung kosong, yang dingin dan lembab ini, terbuka lebar.
Brak!!!!!!!!!