Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Garis Batas Bantal Guling
Pintu kamar tidur utamaku ditutup rapat dari luar oleh Garda. Bunyi klik dari kunci otomatisnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis tak terbantahkan.
Protokol Tingkat Merah. Kami tidak boleh berpisah ruangan.
Kamar tidur ini berukuran sangat luas, dirancang dengan nuansa abu-abu hangat dan pencahayaan temaram yang elegan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang king-size beralas seprai sutra putih berdiri mendominasi. Biasanya, ranjang itu terasa terlalu besar dan sepi untukku sendiri. Namun malam ini, dengan kehadiran pria setinggi 185 sentimeter di ruangan yang sama, ranjang raksasa itu mendadak terlihat sempit seperti matras lipat anak kos.
Keheningan yang canggung mengudara, kental dan bisa diiris.
Aku berdiri mematung di dekat meja rias, masih mengenakan piyama satin panjangku, sementara Bumi berdiri kaku di dekat pintu kamar mandi. Kemeja cadangan yang tadi ia kenakan asal-asalan kini sudah ia kancingkan dengan benar, menyembunyikan perban di lengannya.
Bumi berdeham, memecah kebisuan. Telinganya masih semerah tomat ceri. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pandangannya terkunci pada pola karpet di bawah kakinya seolah itu adalah mahakarya seni yang sangat rumit.
"Aku... aku bisa tidur di lantai," ucap Bumi akhirnya, memecah keheningan. "Atau di sofa bed dekat jendela itu. Kamu pakailah ranjangnya, Aruna."
"Jangan konyol," balasku cepat, mungkin terlalu cepat. Aku menarik napas, berusaha menetralkan suaraku yang sedikit bergetar. "Sofa itu terlalu kecil untuk kakimu yang panjang. Lagipula, kamu sedang terluka. Jika kamu tidur di lantai dan lukamu tertekan, nanti bisa terbuka lagi."
"Tapi... ini tidak pantas." Bumi mendongak, menatapku dengan sorot mata penuh pertimbangan. "Perjanjian kita—"
"Perjanjian kita batal jika menyangkut nyawa," potongku. Aku melangkah mendekati ranjang, menahan debaran jantungku yang berpacu gila-gilaan. "Kita sudah melewati malam yang gila. Ada pembunuh bayaran di lantai bawah, Garda sedang berjaga di luar pintu, dan kita sama-sama kelelahan. Ini hanya... berbagi tempat tidur. Kita dua orang dewasa yang bisa berpikir rasional."
Rasional apanya, batinku menjerit. Melihatnya saja hormonku sudah berantakan.
Bumi menelan ludah. Jakunnya bergerak naik turun. Ia akhirnya mengalah dengan satu helaan napas panjang. "Baiklah. Kalau begitu..."
Bumi berjalan mendekati ranjang dari sisi kiri. Dengan wajah serius dan konsentrasi tingkat tinggi, ia mulai mengambil bantal-bantal ekstra dan dua guling dari lemari penyimpanan di bawah ranjang.
Satu per satu, ia menyusun guling dan bantal itu tepat di garis tengah kasur king-size tersebut, membentang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sebuah Tembok Besar Cina versi domestik.
"Garis demarkasi," ucap Bumi dengan nada sangat formal, meski wajahnya masih memerah. "Aku tidak akan melewati batas bantal ini. Kamu bisa tidur dengan tenang di sisi kanan. Jika... jika aku tanpa sengaja berguling melewati batas ini saat tidur, kamu berhak menendangku hingga jatuh ke lantai."
Aku harus menggigit bibir bawahku sekuat tenaga untuk menahan tawa. Di tengah situasi hidup dan mati ini, kepolosannya benar-benar menjadi oase yang menyegarkan.
"Diterima," jawabku, ikut tersenyum tipis. "Tapi tolong, jangan sampai lukamu terbentur."
Kami naik ke atas ranjang dari sisi masing-masing. Aku menarik selimut sutra itu hingga sebatas dada, memunggungi 'Tembok Bantal' yang ia buat. Di sisi lain, aku bisa mendengar bunyi pegas kasur yang sedikit berderit saat Bumi membaringkan tubuh besarnya.
Lampu utama dimatikan melalui remote di nakasku, menyisakan hanya lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memancarkan cahaya jingga redup.
Gulita tidak membuat kesadaranku menurun, justru membuat indraku semakin tajam.
Di ranjang yang sama, hanya terhalang beberapa bantal, terbaring seorang pria yang secara agama dan hukum adalah suamiku. Aku bisa mendengar helaan napasnya yang berat dan teratur. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang bersih, mengalahkan aroma diffuser lavender di kamarku.
Satu jam berlalu. Mata ini menolak terpejam. Adrenalin dari serangan tadi perlahan menguap, meninggalkan rasa lelah yang meremukkan tulang, namun otakku terus berputar. Fakta bahwa Pak Haris, orang kepercayaanku, adalah pengkhianat yang membuka pintu bagi pembunuh...
"Aruna?"
Panggilan dengan suara bariton yang serak itu terdengar sangat pelan, memecah kesunyian malam.
Aku memutar tubuhku, menghadap ke arah Tembok Bantal. Di celah antara dua bantal, aku bisa melihat siluet wajah Bumi yang juga sedang menghadap ke arahku.
"Kamu belum tidur?" balasku dengan bisikan.
"Belum," gumamnya. Matanya yang gelap memantulkan titik cahaya dari lampu tidur. "Luka di lenganku sedikit berdenyut."
Rasa bersalah kembali menyengat dadaku. Aku beringsut sedikit lebih dekat ke arah batas bantal. "Sakit sekali? Apa perlu aku ambilkan obat pereda nyeri? Ada ibuprofen di laci bawah."
"Tidak perlu," Bumi tersenyum tipis. "Sakitnya masih bisa ditahan. Hanya saja... pikiranku juga terlalu berisik untuk diajak tidur."
"Memikirkan Haris?" tebakku.
Bumi mengangguk pelan. "Ya. Kita dikelilingi serigala berbulu domba. Mulai besok, kita tidak bisa mempercayai siapa pun di kantor. Semua makanan, minuman, dan dokumen harus melewati pemeriksaanku lebih dulu."
Mendengar nada protektifnya, hatiku menghangat. "Bumi... kenapa kamu melakukan semua ini?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja.
"Maksudku," lanjutku, suaraku sedikit bergetar, "kamu sudah melunasi utang operasi Sifa. Kamu bisa saja mengambil uang sisa di rekening yang kuberikan, membawa ibumu pergi malam ini juga, dan membiarkanku mengurus sisa masalah ini dengan Garda. Kenapa kamu memilih tinggal dan mengorbankan darahmu?"
Keheningan membentang di antara kami selama beberapa ketukan detik. Di balik celah bantal, aku melihat tangan Bumi perlahan bergerak maju, hingga jari telunjuknya menyentuh ujung jariku yang bertumpu di atas seprai. Hanya sentuhan di ujung kuku, sangat ringan, tapi getarannya menjalar hingga ke ulu hati.
"Karena aku sudah berjanji di depan saksi dan di hadapan Allah," jawab Bumi. Suaranya sangat rendah, mengalun seperti melodi yang menenangkan badai di kepalaku. "Akad nikah itu bukan sekadar formalitas untuk menipu direksi, Aruna. Saat aku menjabat tangan wali hakim, aku mengambil alih tanggung jawab atas dirimu. Keamananmu, kehormatanmu, napasmu... semuanya menjadi bagian dari hidupku sekarang."
Aku menelan ludah, menahan air mata yang tiba-tiba mendesak naik. "Bahkan jika nyawamu sendiri taruhannya?"
"Bahkan jika nyawaku taruhannya," jawabnya tanpa sedikit pun keraguan. Ibu jarinya perlahan mengusap punggung tanganku. "Tidurlah, Aruna. Jangan takut. Selama aku masih bernapas, Rendra tidak akan bisa menyentuhmu."
Air mata sebatang lolos membasahi pipiku. Tapi kali ini, itu adalah air mata kelegaan. Sepanjang hidupku, aku selalu dididik untuk menjadi wanita karir yang mandiri, untuk tidak bergantung pada laki-laki. Namun malam ini, aku menyadari bahwa bergantung pada bahu yang tepat bukanlah sebuah kelemahan.
"Selamat malam, Bumi," bisikku, menutup mata dengan senyum tulus yang mengembang di bibirku.
"Selamat malam, istriku," balasnya lembut.
Panggilan itu... istriku... menjadi mantra pengantar tidur paling ampuh yang akhirnya menarikku ke alam mimpi yang dalam dan damai.
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk dari celah gorden tebal, menimpa kelopak mataku.
Aku mengerang pelan, enggan meninggalkan alam mimpi. Tubuhku terasa luar biasa nyaman. Hawa dingin dari pendingin ruangan tidak terasa karena ada sumber kehangatan yang sangat solid dan padat melingkupi tubuhku.
Sebuah bantal guling yang sangat besar, hangat, dan... bernapas?
Kesadaranku kembali dalam sekejap. Otakku melakukan loading cepat.
Mataku terbuka perlahan. Pemandangan pertama yang kulihat adalah bidang dada berbalut kemeja biru yang kancing atasnya terbuka. Aku mengerjapkan mata, menengadah perlahan.
Wajah Bumi yang sedang tertidur lelap hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahku.
Napas ku terhenti seketika. Mataku membelalak lebar melihat posisi kami saat ini.
Tembok Bantal yang tadi malam disusun dengan begitu rapi kini telah hancur berantakan, terlempar entah ke mana. Tubuhku sepenuhnya menempel pada tubuh Bumi. Kepalaku bersandar nyaman di ceruk dadanya. Lengan kananku melingkar posesif di atas perutnya, dan yang paling parah... salah satu kakiku menumpang santai di atas kakinya.
Dan seolah itu belum cukup memalukan, lengan kanan Bumi (yang tidak terluka) melingkar erat di pinggangku, mendekapku seperti guling kesayangannya.
Ya Tuhan, Aruna! Wajahku terasa seperti dipanggang di atas bara api. Bagaimana aku bisa tidur secemberut ini?! Aku selalu berpikir gaya tidurku elegan seperti putri keraton, tapi kenyataannya aku tidur seperti koala yang menempel pada pohon kayu putih!
Aku harus melepaskan diri sebelum dia bangun. Jika Bumi melihat ini, dia pasti akan panik, atau lebih buruk lagi, mengira aku sengaja merayunya di tengah malam.
Dengan gerakan super slow-motion, setara dengan adegan menjinakkan bom waktu, aku mulai menarik lengan kananku dari atas perutnya. Satu sentimeter. Dua sentimeter. Berhasil.
Selanjutnya, kakiku. Aku perlahan menggeser kakiku turun dari atas kakinya.
Sial. Saat kakiku bergeser, kain piyamaku bergesekan dengan celananya, membuat tubuh Bumi sedikit bergerak.
Napas Bumi yang teratur tiba-tiba terhenti sejenak. Aku langsung mematung, menahan napas hingga paru-paruku terasa mau meledak.
Aku melihat kelopak matanya bergetar. Bulu matanya yang panjang dan tebal—yang baru kusadari sangat lentik untuk ukuran laki-laki—perlahan terbuka.
Mata cokelatnya yang masih diliputi kabut kantuk menatap lurus ke arahku.
Kami saling bertatapan dalam jarak yang sangat intim. Lengannya masih melingkar di pinggangku, dan wajahku masih berada di dadanya.
Waktu seakan membeku. Aku bisa melihat proses loading terjadi di mata Bumi. Dari pandangan sayu khas orang bangun tidur, berubah menjadi kebingungan, lalu seketika membelalak sempurna saat ia menyadari betapa minimnya jarak di antara kami dan ke mana perginya Tembok Bantal buatannya.
Telinga dan wajah Bumi langsung berubah semerah kepiting rebus dalam hitungan detik.
"A-Aruna..." suaranya serak dan berat khas morning voice, terdengar begitu seksi namun dipenuhi kepanikan murni.
Aku buru-buru menarik tubuhku menjauh dengan kecepatan cahaya, nyaris terguling dari sisi ranjang kalau saja tangan Bumi tidak refleks menahan pinggangku sesaat sebelum melepaskannya sepenuhnya.
"M-maaf!" seruku panik, duduk bersila di ujung ranjang sambil memeluk bantalku sendiri seperti perisai. "Aku tidak sengaja! Aku sering banyak bergerak kalau kedinginan saat tidur, dan... bantalnya jatuh, lalu..."
Bumi juga langsung terduduk tegak di sisi ranjangnya, mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangan. Pria itu tampak sangat terguncang oleh pelanggaran batas demarkasinya sendiri.
"A-aku yang minta maaf," ucapnya terbata-bata, tidak berani menatapku. "Aku pasti yang menarikmu saat tidur. Tanganku... astaghfirullah."
Melihatnya yang begitu merasa bersalah karena memelukku—istrinya sendiri—saat tidur, membuat kepanikanku perlahan memudar, digantikan oleh rasa gemas yang luar biasa.
"Bumi, tidak apa-apa," panggilku lembut, menahan senyum. "Kita berdua sama-sama tidak sadar. Lagipula, kamu kan tidak melakukan hal yang... aneh-aneh. Kita hanya berpelukan saat tidur."
Bumi akhirnya berani menoleh sedikit dari sela-sela jarinya. "Kamu... tidak marah?"
"Marah karena dipeluk oleh suamiku sendiri saat aku kedinginan?" Aku memiringkan kepalaku, menatapnya dengan senyum jahil yang baru pertama kali kukeluarkan. "Kurasa itu bukan pelanggaran hukum, Mas Staf Khusus."
Semburat merah di wajah Bumi makin menjadi-jadi mendengar nada godaanku. Dia berdeham keras, buru-buru menyibakkan selimut dan berdiri dari ranjang.
"A-aku harus mengecek parameter keamanan di komputer Garda," ucapnya dengan nada profesional yang terlalu dipaksakan. "Lalu kita harus bersiap ke kantor. Jadwal kita hari ini adalah mengupas tuntas divisi Pak Haris."
Bumi berjalan setengah berlari menuju pintu keluar kamar tanpa menoleh lagi.
Aku tertawa kecil, memeluk bantalku dengan erat. Rasanya beban seberat ton yang bertengger di pundakku semalaman sedikit terangkat. Setidaknya, di tengah perang korporat dan ancaman pembunuhan ini, ada sebuah tempat pulang yang nyata untukku.
Namun, tawaku tidak berlangsung lama.
Begitu pintu kamar tertutup, sebuah rasa sakit yang tajam dan tak terduga menghantam perutku.
Rasanya seperti ada tangan tak kasatmata yang memeras lambungku dengan sangat kuat. Pandanganku mendadak berkunang-kunang. Ruangan luas ini tiba-tiba berputar seperti komidi putar yang lepas kendali.
Ugh...
Aku membekap mulutku sendiri saat rasa mual yang luar biasa kuat menyodok kerongkonganku. Keringat dingin langsung membanjiri dahi dan leherku. Tubuhku yang tadi terasa hangat mendadak menggigil hebat.
Efek adrenalin (adrenaline crash) dari kejadian semalam, ditambah pola makan dan tidurku yang sangat buruk selama berbulan-bulan, akhirnya menagih bayaran secara tunai pada tubuhku.
Aku mencoba berdiri untuk mencari obat di laci, tapi kakiku sama sekali tidak memiliki daya topang.
____________________________________________
Pandanganku memudar menjadi bintik-bintik hitam. Suara derap langkah Bumi dan Garda di lorong luar terdengar semakin jauh. "Bu... mi..." bisikku lemah, sebelum akhirnya duniaku menjadi gelap gulita dan tubuhku ambruk menghantam lantai kayu kamar tidur dengan bunyi gedebuk yang keras.
𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣
𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...
𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘