NovelToon NovelToon
Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Ibu Susu Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Duda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.

Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.

Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.

Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Di lokasi syuting, Inara tampak murung. Meskipun kini ia sudah mengetahui alasan mengapa Reno berubah dingin padanya, tetap saja hatinya sulit menerima kenyataan itu. Bagaimana mungkin hubungan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun hancur hanya karena sebuah kesalahpahaman? Bukankah itu terdengar sangat klise?

"Tante, jangan sedih terus. Om emosian gak perlu disedihin."

Inara menoleh dan mendapati Baba berdiri di hadapannya sambil menyodorkan satu cup es krim stroberi.

Senyum tipis akhirnya terbit di wajah Inara. "Baba kok tahu Tante suka rasa stroberi?"

"Tahu dong." Baba mengangkat dagunya bangga. "Tante kan manis dan cantik, jadi pasti sukanya stroberi."

Inara terkekeh pelan. Tangannya terulur mengusap pucuk kepala bocah itu dengan gemas. Sudah lama sekali ia tidak menikmati es krim rasa favoritnya. Entah sejak kapan setiap kali membeli es krim, yang dipilih justru selalu rasa kesukaan Zidan atau Reno.

"Terima kasih ya, Baba."

"Sama-sama. Pokoknya Tante gak boleh sedih lagi."

Inara mengangguk pelan. Sayangnya, sebelum Baba sempat menghiburnya lebih lama, suara ayahnya terdengar memanggil dari arah lokasi syuting. Bocah itu langsung berdiri dan berlari kecil menghampiri sang ayah.

Sepeninggal Baba, Altaf justru datang dan mengambil kursi kosong di samping Inara.

"Kamu menyukai Baba?" tanyanya tiba-tiba.

Inara mengangguk tanpa berpikir panjang. "Dia lucu, imut, dan entah kenapa aku merasa dekat sekali dengannya."

Kalimat itu membuat dirinya sendiri terkejut. Inara buru-buru menggeleng dan mencoba memperbaiki ucapannya.

"A-aku cuma suka anak kecil, Pak. Jangan salah paham."

Sudut bibir Altaf terangkat tipis. "Aku rasa kamu gak perlu panik seperti itu. Lagi pula Baba juga sangat menyukaimu."

"Tapi itu bukan berarti aku mau jadi ibunya Baba," sahut Inara polos.

Altaf tertawa kecil. "Aku juga gak bermaksud sejauh itu."

"Lalu maksud Bapak apa?"

"Kalau kamu menyayangi Baba, anggap saja dia seperti anakmu sendiri."

Inara mengernyit bingung. "Kenapa Bapak bilang begitu?"

Karena pertanyaan itu, senyum di wajah Altaf perlahan memudar. Pria itu menatap ke arah Baba yang sedang bersiap mengambil adegan sebelum akhirnya berkata pelan, "Sejujurnya aku sempat mencari tahu kenapa Baba bisa sangat dekat denganmu."

"Kenapa?"

"Karena ASI-mu."

Inara langsung menoleh.

"Aku juga baru tahu beberapa waktu lalu kalau Baba termasuk salah satu bayi yang pernah menerima donor ASI darimu." Altaf berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Jadi aku gak heran kalau dia begitu cepat akrab dan nyaman berada di dekatmu."

Cup es krim di tangan Inara mendadak terasa berat. Ia menatap Altaf tanpa berkedip, berusaha mencerna informasi yang baru saja didengarnya. Jadi selama ini, tanpa ia sadari, ada ikatan yang memang telah terjalin di antara dirinya dan Baba.

Inara langsung menoleh ke arah Baba yang kini sibuk memerankan perannya. Setiap kali terdengar suara "cut" dari sutradara, bocah itu selalu mencari keberadaannya dengan mata bulatnya sebelum melambaikan tangan penuh semangat.

Setiap kali itu pula, tanpa sadar Inara membalas lambaian tersebut. Dadanya terasa hangat, tetapi di saat yang sama juga sesak.

"Jadi... selama ini Baba minum ASI-ku?" tanyanya pelan, masih sulit mempercayai apa yang baru saja didengarnya.

Altaf mengangguk.

"Waktu itu Baba lahir prematur. Kondisinya cukup lemah dan ibunya..." Altaf menggantung kalimatnya sejenak. "Saat itu tidak bisa memberikan ASI karena egonya."

Inara terdiam. Ia memang pernah menjadi ibu donor untuk banyak bayi. Namun jumlahnya cukup banyak hingga ia tidak mungkin mengingat satu per satu. Karena itulah ia tidak pernah menyangka salah satu bayi yang pernah menerima ASI darinya adalah Baba.

"Pantas saja..." gumamnya lirih.

"Pantas saja apa?" tanya Altaf.

Inara tersenyum tipis sambil menatap ke arah bocah itu.

"Pantas saja aku merasa sangat dekat dengannya."

"Tapi jangan terlalu dipikirkan." Altaf bersandar santai di kursinya. "Aku hanya memberitahumu karena kupikir kamu berhak tahu."

Inara mengangguk pelan. Namun sebelum sempat mengatakan sesuatu dan bertanya tentang ibu Baba, ponselnya yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Nama Reno kembali muncul di layar.

Awalnya Inara memilih mengabaikan panggilan itu. Namun setelah panggilan pertama terputus, Reno kembali menghubunginya. Lalu sekali lagi. Kini sudah tiga panggilan yang sengaja tidak ia jawab.

Altaf yang sedari tadi duduk di sampingnya melirik sekilas ke arah layar ponsel tersebut sebelum akhirnya menebak, "Reno ya?"

Inara hanya mengangguk.

"Aku kenal Reno sejak SMP," ucap Altaf sambil menatap ke arah lokasi syuting. "Kalau dia sudah menginginkan sesuatu, dia gak akan membiarkannya lolos begitu saja. Kamu harus hadapi dia, bukan menghindar."

Inara menunduk menatap ponselnya. Jujur saja, bukan karena ia takut bertemu Reno. Hanya saja ia sudah terlalu lelah menghadapi semua ini.

"Tapi aku sudah gak ingin kembali," jawabnya pelan. "Bagaimanapun aku ini wanita, Pak. Aku tahu persis posisi aku sekarang."

Altaf tidak langsung menyahut. Ia membiarkan Inara menyelesaikan isi hatinya.

"Dulu mungkin aku masih bisa bertahan karena aku percaya hubungan kami baik-baik saja. Tapi sekarang aku tahu kalau selama ini Reno bahkan gak pernah benar-benar mempercayaiku. Kesalahpahaman itu mungkin memang sudah selesai, tapi rasa sakitnya gak hilang begitu saja ditambah statusnya yang masih memiliki pernikahan."

Untuk beberapa saat hanya terdengar suara kru yang sibuk berlalu-lalang di sekitar mereka.

"Kamu tahu," ujar Altaf akhirnya, "hubungan itu seperti dua orang yang berada dalam satu perahu."

Inara menoleh.

"Kalau salah satu dayung patah, perjalanan memang jadi sulit. Bahkan kadang perahu itu hampir tenggelam. Tapi selama masih ada orang yang berusaha mendayung, perahu itu tetap punya kesempatan sampai ke pelabuhan."

Tatapan Altaf jatuh pada ponsel Inara yang kembali bergetar untuk keempat kalinya.

"Menurutku Reno sedang berusaha melakukan itu."

Inara menggigit bibir bawahnya.

"Tapi aku lelah."

"Aku tahu." Altaf mengangguk pelan. "Karena itu aku gak bilang kamu harus kembali padanya."

Inara sedikit terkejut mendengar jawaban tersebut.

"Aku cuma bilang kamu harus menemuinya. Setelah itu putuskan apa yang benar-benar kamu inginkan. Kalau memang sudah gak ada yang bisa diperjuangkan, katakan langsung. Jangan menggantung seseorang hanya karena kamu takut menghadapi kenyataan."

Kalimat itu membuat Inara terdiam cukup lama. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Altaf benar.

Cepat atau lambat, ia memang harus bertemu Reno. Bukan untuk kembali, bukan pula untuk memberikan harapan, melainkan untuk menyelesaikan apa yang selama ini terus mereka seret tanpa ujung.

"Aku tidak percaya Pak Al bisa berbicara seperti ini," ucap Inara.

"Aku pun juga tidak menyangka, mungkin ini pengaruh dari Baba," jawab Altaf.

Keduanya kini saling tersenyum canggung, mereka tidak percaya bisa duduk dan berbicara dengan santai seperti ini setelah beberapa kejadian sebelumnya. Namun, senyum itu perlahan menghilang dari bibir Inara saat membaca pesan dari Reno.

[Ara, penyakit Zidan kambuh. Dia terus memanggilmu.]

1
Anonim
Thor buat nadia lebih pinter thor ,lebih tegas ,tau mana tipuan mana engga .jadikan dia wanita cerdas dan tegas 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: nadia siapa kak? 🤣🤭
total 1 replies
Anonim
Thor jangan tidur terus thor ,,cerita nya belum di lanjutin ini udah berapa purnama 🤭
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: 🤣🤣 autornya siap2 nanti malam update kakak, maafkan autor ini
total 1 replies
Anonim
Mampus kau inara jadi viral nanti di anggap pelakor lagi lu,lu masih percaya aja sama si reno,heran jadi perempuan ko bego
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: kasian ya
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
Anonim
Jangan balikin inara sama reno y thor,ga rela aku 🤭 huss sana reno
Anonim
Enak aja lu reno,egois banget lu mau inara jadi pengasuh gretongan lagi
Run inara run
Agunk Setyawan
up nya lama pake banget
Soraya
lanjut
Soraya
mampir thor
falea sezi
😒 jangan balik kayak pengemis aja
falea sezi
😒 inara🤣 knp nama ini selalu goblok y
falea sezi
oon
falea sezi
males cwek bego😒 tinggal prgi aja ngapain ngemis kayak lacur aja menjijikkan
falea sezi
pergi Glblok
Dew666
💄💄💄💄
Anonim
Bagus inara jangan mau balik sama reno,orang egois kaya gitu belum jadi laki aja ribet g percayaan kek mana jadi suami nanti yg ada di jadikan keset terus
Anonim
Ambil aja reno sama kamu zoya,inara mah sama altaf aja.buat inara sama altaf thor biar bisa bareng baba
Anonim
Semangat inara tinggalkan reno,ayo gas altaf pepet terus inara
Anonim
Lanjut up thor banyakan dong seru ,semangat thor
𝐇⃟⃝ᵧꕥ📴𝓗𝓪𝔂𝓾𝓻𝓪𝓹𝓾𝓳𝓲: siap kak, masih satu bab 1 lagi tapi review
total 1 replies
Dew666
🩵🩵🩵🩵
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!