Elora Kirana bukan lagi nama yang dipuja seperti dulu. Sekali waktu dia adalah bintang yang bersinar terang, tapi satu skandal cukup untuk menjatuhkannya tanpa ampun. Dalam semalam, dunia yang dulu memujanya berubah jadi lautan hujatan. Kariernya hampir runtuh, kontrak diputus, dan kepercayaan publik hilang begitu saja. Saat semua orang menjauh, satu orang justru datang dengan cara yang paling tidak ia duga. Arshaka Bhumisvara. Seorang CEO muda yang dikenal dingin, tak tersentuh, dan selalu terlihat terlalu sempurna untuk dunia yang penuh drama seperti milik Elora. Tidak ada yang mengira dia akan ikut campur dalam skandal seorang artis. Tapi Arshaka datang bukan untuk simpati. Dia menawarkan sebuah kesepakatan. “Jadilah pacarku di depan publik.” Sebuah hubungan palsu untuk menutupi skandal, meredam media, dan menyelamatkan nama baik mereka berdua. Syarat yang terdengar sederhana, tapi jelas bukan tanpa risiko. Awalnya, Elora hanya menjalani semuanya seperti akting. Senyum di depan kamera, genggaman tangan yang dibuat seolah nyata, dan tatapan hangat yang sebenarnya kosong makna. Tapi Arshaka… terlalu meyakinkan untuk sekadar berpura-pura. Dan Elora mulai sadar, batas antara sandiwara dan kenyataan perlahan menghilang. Di balik sikap dinginnya, Arshaka menyimpan cara memandang Elora yang membuatnya ragu. Terlalu dalam. Terlalu nyata untuk dianggap pura-pura. Masalahnya sekarang bukan lagi soal skandal yang ingin mereka tutupi… Tapi perasaan yang diam-diam tumbuh di antara dua orang yang sama-sama tidak siap untuk jatuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanda Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 - Kesepakatan yang Tidak Sederhana.
Elora tidak tidur malam itu.
Bukan karena ia tidak bisa, tapi karena pikirannya terlalu bising untuk diberi kesempatan beristirahat. Kata-kata Arshaka masih menggantung di udara seperti bayangan yang menolak hilang. Jadi pasangan. Dua kata sederhana, tapi dampaknya seperti menghantam sesuatu di dalam dirinya yang selama ini ia jaga rapat-rapat.
Ia duduk di tepi ranjang hotel, selimut masih menyentuh kakinya tapi tidak memberi rasa hangat apa pun. Di luar jendela, lampu kota masih menyala seperti biasa, seolah tidak ada kehidupan yang baru saja runtuh di salah satu sudutnya. Elora menatap kosong ke arah kaca, melihat pantulan dirinya sendiri—wajah yang dulu selalu tersenyum di depan kamera, sekarang tampak asing bahkan untuk dirinya sendiri.
Di lantai bawah pikirannya, ia tahu ini gila. Kesepakatan dengan CEO asing, hubungan pura-pura di tengah skandal besar, semua terdengar seperti jebakan yang terlalu mudah untuk dipercaya. Tapi di sisi lain, Elora juga tidak punya banyak pilihan. Dunia sudah lebih dulu menghakimi sebelum ia sempat menjelaskan apa pun. Dan semakin ia mencoba melawan, semakin dalam ia tenggelam.
⸻
Pagi datang tanpa terasa, membawa rasa lelah yang tidak bisa dijelaskan dengan tidur semalam. Elora sudah bersiap sejak jam delapan, meski sebenarnya ia tidak tahu kenapa ia masih peduli dengan penampilannya. Mungkin kebiasaan. Mungkin sisa dari hidup lamanya yang belum sepenuhnya ia lepaskan.
Jam sembilan tepat, Arshaka datang lagi.
Kali ini tanpa mengetuk lama. Seolah ia memang tidak pernah meragukan bahwa Elora akan membuka pintu. Pria itu berdiri sama seperti kemarin—rapi, tenang, dan terlalu terkendali untuk seseorang yang menawarkan sesuatu seaneh kontrak hubungan.
“Sudah baca?” tanyanya langsung, tanpa sapaan tambahan.
Elora menatapnya sebentar sebelum mengangguk pelan. “Sebagian.”
Arshaka melangkah masuk tanpa menunggu dipersilakan, lalu duduk di kursi dekat meja seperti ruangan itu memang miliknya. Elora memperhatikan gerakannya—terlalu efisien, terlalu yakin. Tidak ada keraguan sedikit pun di caranya membawa diri.
“Kamu tahu ini terdengar gila, kan?” Elora akhirnya bersuara, berdiri di dekat jendela.
“Aku tidak butuh ini terdengar masuk akal,” jawab Arshaka. “Aku butuh ini berhasil.”
Elora tertawa pelan, tapi kali ini tidak ada humor di dalamnya. “Dan kamu pikir aku akan setuju begitu saja jadi bagian dari permainan kamu?”
Arshaka menatapnya. Lama. Seolah sedang membaca sesuatu yang tidak Elora tunjukkan di wajahnya.
“Ini bukan permainan,” katanya akhirnya. “Ini kesepakatan.”
Kalimat itu membuat Elora terdiam sejenak. Ada sesuatu di nada suara Arshaka yang membuat kata kesepakatan terdengar lebih berat dari seharusnya. Lebih nyata. Lebih berbahaya.
⸻
Arshaka lalu mendorong map yang sama ke arah Elora, kali ini dibuka. Di dalamnya ada halaman-halaman rapi dengan pasal-pasal yang ditulis terlalu detail untuk sesuatu yang katanya hanya “pura-pura pacaran”. Durasi kontrak, batasan publik, aturan komunikasi, bahkan sampai skenario jika media mulai curiga.
Elora membaca pelan, matanya bergerak dari satu baris ke baris lain. Semakin ia membaca, semakin ia sadar bahwa ini bukan sekadar ide impulsif. Ini rencana yang sudah dipikirkan dengan matang.
“Kamu sudah siapkan ini sejak lama?” tanyanya tanpa menatap Arshaka.
“Tidak,” jawabnya cepat. “Tapi aku tahu cara kerja media. Dan aku tahu kamu sedang dalam posisi yang tidak bisa memilih banyak hal.”
Kata-kata itu membuat jari Elora berhenti di atas kertas.
“Jadi kamu memanfaatkan situasiku?” suaranya lebih dingin sekarang.
Arshaka tidak langsung menjawab. Untuk pertama kalinya, ada jeda kecil yang tidak biasa dari dirinya.
“Aku menyebutnya saling menguntungkan,” katanya akhirnya.
Elora menutup map itu perlahan. “Dan kalau aku menolak?”
Arshaka berdiri, memasukkan tangan ke saku jasnya. “Kamu akan tetap jadi bahan konsumsi publik sampai mereka bosan. Lalu kamu hilang.”
Kalimat itu tidak diucapkan dengan nada mengancam. Justru terlalu datar. Dan itu yang membuatnya terasa lebih jujur daripada ancaman biasa.
⸻
Ruangan kembali sunyi.
Elora menunduk, menatap map di tangannya. Ada bagian dari dirinya yang ingin membuang semuanya, membuka pintu, dan pergi sejauh mungkin dari pria ini dan semua yang ia tawarkan. Tapi ada bagian lain yang sudah terlalu lelah untuk melawan dunia sendirian.
Ia menghela napas panjang.
“Kalau aku setuju,” katanya pelan, “apa yang kamu dapat dari ini?”
Arshaka menatapnya lagi, lebih lama dari sebelumnya. Kali ini bukan seperti membaca, tapi seperti memastikan sesuatu.
“Stabilitas,” jawabnya singkat.
Elora mengangkat alis. “Itu jawaban paling dingin yang pernah aku dengar.”
“Karena ini bukan tentang hangat atau tidak,” balas Arshaka. “Ini tentang kontrol.”
Dan untuk alasan yang tidak bisa Elora jelaskan, kata kontrol dari mulut Arshaka terdengar seperti sesuatu yang lebih dalam dari sekadar bisnis.
⸻
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Sampai akhirnya Elora meletakkan map itu kembali di meja.
“Baik,” katanya pelan.
Satu kata.
Tapi cukup untuk mengubah arah hidupnya lagi.
Arshaka tidak tersenyum. Tidak menunjukkan reaksi berlebihan. Hanya mengangguk kecil, seperti seseorang yang memang sudah memperkirakan jawaban itu sejak awal.
“Kita mulai hari ini,” katanya.
Elora menatapnya. “Mulai apa?”
Arshaka berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh.
“Menjadi pasangan yang seluruh dunia akan percaya.”
Dan saat pintu itu tertutup di belakangnya, Elora sadar satu hal—
Ia baru saja menandatangani sesuatu yang bukan hanya kontrak.
Tapi awal dari sesuatu yang belum ia mengerti akan membawanya ke mana.
————
Kalau kamu di posisi Elora... kamu bakal nolak, atau mulai tergoda sama tawaran itu?
Jangan lupa vote & komentar ya—aku baca semua 💌
See you di bab selanjutnya...