Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Bayangan yang Mengekor dan Sabit Sang Pemotong Angin
Matahari sore memancarkan warna jingga keunguan di ufuk barat saat empat sosok berjalan melintasi gerbang utama Kerajaan Valeria. Di barisan paling depan, Ajil melangkah dengan postur tegap, Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap cahaya senja, membuatnya tampak seperti siluet dewa kematian yang tak tersentuh. Di sebelah kanannya, Erina berjalan anggun dengan zirah sutra mithril yang memantulkan cahaya, rambut peraknya berkibar lembut tertiup angin sore.
Sepuluh langkah di belakang mereka, berjalanlah dua mantan petualang elit Kelas A+. Rino yang bertubuh raksasa dan Richard yang memegang tombak esnya. Mereka tidak lagi membusungkan dada atau berjalan dengan angkuh. Mereka menundukkan kepala, memanggul karung-karung berisi material berharga hasil buruan Ajil di gurun dengan penuh rasa hormat. Pandangan sinis dan cibiran dari petualang lain di jalanan tak lagi mereka pedulikan. Harga diri mereka telah lebur, digantikan oleh rasa haus yang tak terpuaskan untuk mempelajari apa arti kekuatan sejati dari sang Algojo.
Keempatnya melangkah masuk ke dalam gedung Guild Petualang Valeria.
Udara di dalam aula yang tadinya dipenuhi tawa kasar dan dentingan gelas bir seketika menjadi hening. Semua mata tertuju pada Ajil, namun kali ini tatapan mereka juga beralih pada Rino dan Richard yang rela menjadi kuli panggul pria berjaket hitam tersebut.
Ajil mengabaikan lautan manusia itu dan berjalan lurus menuju meja resepsionis.
Di balik meja kaca mahoni, Karin sedang sibuk menyortir koin emas. Begitu mendengar derap langkah sepatu bot yang khas, Karin mendongak. Saat mata birunya bertemu dengan sepasang mata kelam Ajil, keajaiban kecil yang selalu terjadi belakangan ini kembali terulang. Jantung resepsionis muda itu berdegup dua kali lebih cepat. Darah seketika mengalir deras ke wajahnya, mengubah warna pipinya yang putih menjadi merah merona seperti buah ceri yang matang. Tangannya mendadak basah oleh keringat dingin.
"S-Selamat sore, T-Tuan Ajil..." sapa Karin. Suaranya sedikit bergetar, nada profesionalnya hancur lebur oleh kegugupan seorang gadis yang tengah dimabuk asmara. Ia buru-buru merapikan kerah kemeja seragamnya dan membetulkan letak kacamatanya. "A-Anda kembali l-lebih cepat dari perkiraan. A-Apakah ada yang b-bisa saya..."
Brak!
Erina melangkah maju, dengan sengaja menabrakkan pinggulnya dengan anggun ke tepi meja kaca, memotong pandangan Karin terhadap Ajil. Mata zamrud sang High Elf menyipit tajam, memancarkan aura dingin yang bisa membekukan darah.
"Dia kembali untuk melaporkan misi, Resepsionis," potong Erina dengan nada merdu namun sarat akan racun. "Berhentilah menatapnya dengan mata yang seolah ingin menelannya hidup-hidup. Wajahmu yang memerah itu membuat pemandangan di Guild ini terasa sangat murah."
Karin tersentak. Rasa malu dan cemburu yang bergejolak di dadanya mengalahkan rasa takutnya pada sang peri Kelas SSS. Karin menegakkan punggungnya, menatap Erina dengan rahang mengeras, meski pipinya masih merah merona.
"Saya sedang menjalankan tugas saya untuk melayani petualang Kelas S kebanggaan kami, Nona Elf," balas Karin dengan senyum yang dipaksakan dan nada yang sangat formal namun menusuk. "Mungkin di hutan Anda, menatap seseorang dengan rasa hormat dianggap 'murah'. Tapi di dunia manusia, itu adalah bentuk pelayanan. Dan jika Tuan Ajil tidak keberatan, saya rasa Anda tidak memiliki hak untuk melarang saya menatap klien saya."
"Klien?" Erina tertawa sinis, sebuah tawa merendahkan yang sangat khas dari ras bangsawan telinga runcing. "Manusia sepertimu hanya mencari celah untuk mendekati pria yang tidak akan pernah bisa kau sentuh. Turunkan pandanganmu sebelum aku membutakannya dengan angin suciku."
Udara di sekitar meja resepsionis itu seketika dipenuhi oleh percikan listrik tak kasat mata. Perang dingin berlanjut. Rino dan Richard yang berdiri di belakang Ajil saling berpandangan dan menelan ludah. Mereka lebih memilih berhadapan dengan monster Kelas S daripada harus melerai pertikaian antara dua wanita yang memperebutkan dewa kematian ini.
Ajil, yang sedari tadi hanya diam dengan wajah sedatar balok es, akhirnya membuka mulutnya. Ia tidak peduli dengan drama percintaan atau kecemburuan ini. Baginya, wanita hanyalah Ami, dan selamanya akan tetap Ami.
"Cukup," potong Ajil dingin. Suaranya yang berat mematikan aura permusuhan di antara kedua wanita itu seketika.
Ajil memberi isyarat dengan kepalanya. Rino segera maju dan meletakkan karung besar ke atas meja.
Bruk!
"Kaisar Kalajengking Baja. Level 95. Gurun Pasir Hitam. Selesaikan administrasinya, aku ingin makan," ucap Ajil datar.
Karin buru-buru mengalihkan pandangannya dari Erina, wajahnya kembali merona merah menatap Ajil. Ia memeriksa isi karung itu dengan tangan gemetar. "B-Baik, Tuan Ajil! Inti Baja Racun Kelas S... I-Ini luar biasa! S-Sistem Guild akan segera mentransfer lima belas keping emas murni ke cincin Anda."
Tanpa menunggu Karin selesai berbicara, Ajil membalikkan badannya dan melangkah menuju area kedai di lantai dasar Guild. Erina tersenyum penuh kemenangan ke arah Karin, mengibaskan rambut peraknya, lalu melangkah mengekor di samping Ajil. Di belakang mereka, Rino dan Richard mengikuti layaknya dua ekor anjing penjaga yang setia.
Mereka memilih sebuah meja bundar besar di sudut ruangan yang agak remang, jauh dari keramaian petualang lain. Meja itu terbuat dari kayu Pohon Besi yang tebal.
Seorang pelayan yang sangat gugup membawakan pesanan mereka. Ajil tidak memesan makanan mewah. Di depannya tersaji seporsi Nasi Bakar Jamur Kegelapan—nasi berbumbu rempah yang dibungkus daun teratai roh dan dibakar hingga menghasilkan aroma asap yang khas, disajikan bersama Dada Burung Unta Gurun Panggang yang dilumuri saus pedas manis dari ekstrak buah beri merah.
Ajil membuka bungkusan daun itu. Aroma nasi yang pulen dan wangi rempah bawang putih sihir menguar. Daging burung unta itu sangat tebal, namun teksturnya sangat empuk saat dipotong dengan pisau perak. Saus pedas manisnya meledak di lidah, memberikan sensasi hangat yang menjalar hingga ke perut.
Erina duduk di sampingnya, hanya memesan Teh Daun Surga dan menatap wajah Ajil saat pria itu makan. Sementara itu, Rino dan Richard berdiri tegak di belakang kursi Ajil, kedua tangan mereka terlipat di belakang punggung, memposisikan diri layaknya pelayan.
Ajil menghentikan kunyahannya. Ia melirik kedua pria besar itu dari sudut matanya.
"Duduk," perintah Ajil dingin.
Rino terkejut. "T-Tuan Ajil? Kami tidak pantas duduk satu meja dengan Anda. Kami di sini untuk melayani—"
"Aku bilang duduk," potong Ajil, suaranya sedikit merendah. "Aku tidak sedang bermain menjadi raja, dan aku tidak butuh pelayan. Jika kalian ingin mengikutiku, jangan bertingkah seperti orang bodoh yang mencari perhatian. Pesan makanan kalian."
Rino dan Richard saling bertukar pandang dengan mata berkaca-kaca. Di balik wajahnya yang sedingin es dan mulutnya yang tajam, pria ini tidak menganggap mereka sebagai budak. Dengan canggung, keduanya menarik kursi kayu dan duduk berhadapan dengan Ajil dan Erina. Mereka memesan makanan porsi besar dan mulai makan dalam keheningan yang sangat canggung, tak berani mengeluarkan suara dentingan sendok.
[SISTEM: Peringatan Jaringan Guild. Pembaruan Darurat Kelas S.]
Sebuah layar hologram merah berkedip di atas cincin Ajil. Di saat yang sama, Master Leon berjalan tergesa-gesa menuruni tangga dari lantai dua, wajahnya terlihat sangat tegang. Jenderal perang itu berjalan lurus menuju meja Ajil.
"Maaf mengganggu waktu makanmu, Ajil," ucap Leon dengan nada serius, mengabaikan kehadiran Erina dan dua mantan elit di meja itu. "Kita memiliki keadaan darurat. Rute pasokan gandum dan kristal sihir kita dari perbatasan timur terputus total sejak dua hari lalu. Tiga kelompok Kelas A yang dikirim untuk menyelidiki, semuanya tewas tanpa ada yang selamat. Tubuh mereka... dipotong menjadi potongan kecil dengan presisi yang sangat mengerikan.".
Ajil menelan makanannya, menatap Leon dengan mata kosong. "Monster apa?"
"Tim pengintai Silver Fang yang tersisa menemukan jejaknya dari kejauhan," jelas Leon, mengusap dahinya yang berkeringat. "Itu adalah mutasi langka. Mantis Bayangan Eksekutor (Shadow Executor Mantis). Level 99. Ia sangat kecil untuk ukuran monster Kelas S, hanya seukuran manusia dewasa. Tapi kecepatannya melampaui suara, dan cangkangnya memiliki kemampuan kamuflase absolut yang membuatnya bisa menyatu dengan bayangan. Ia membunuh sebelum targetnya menyadari bahwa mereka telah diserang.".
Rino tersedak minumannya. "Level 99?! Itu hanya satu tingkat di bawah batas legendaris Level 100! Monster bertipe Speed-Assassin adalah musuh alami dari semua petualang!"
Ajil tidak merespons kepanikan Rino. Ia menatap sisa nasi di piringnya, memikirkan poin experience yang sangat besar yang akan ia dapatkan. Ia berada di Level 98. Jika ia membunuh makhluk ini, ia akan mencapai Level 100 dan Segel Kedua dari Pedang Petir Hijau Abadinya akan terbuka.
Ajil berdiri, mengusap mulutnya dengan punggung sarung tangannya. "Di mana posisinya?"
"Ngarai Angin Mati. Sepuluh kilometer dari sini," jawab Leon lega. "Aku akan menyiapkan lima petualang Kelas S lainnya untuk membantumu—"
"Tidak perlu," potong Ajil. Ia menoleh pada Rino dan Richard. "Kalian ingin belajar? Ikut aku. Tapi jangan harap aku akan menolong kalian jika kepala kalian terlepas dari leher."
Rino dan Richard langsung berdiri tegap, wajah mereka pucat namun dipenuhi tekad. "S-Siap, Tuan Ajil!".
Malam turun dengan cepat di Ngarai Angin Mati. Tidak ada dua bulan Ridokan yang terlihat malam ini; awan tebal menutupi langit, membiarkan ngarai berbatu itu tenggelam dalam kegelapan gulita. Angin berhembus kencang melintasi celah-celah tebing, menciptakan suara desisan yang mengerikan.
[SISTEM: Memasuki Zona Bahaya Ekstrem. Deteksi Ancaman Kecepatan Tinggi Aktif.]
Ajil berjalan di depan. Setelan Malam Abadi-nya membuatnya nyaris tak terlihat di dalam kegelapan. Erina melayang dengan sihir anginnya di sebelah kiri, sementara Rino dan Richard berjalan dengan langkah gemetar di belakang, menggenggam senjata mereka erat-erat.
"A-Aku tidak bisa melihat apa-apa, Richard," bisik Rino, keringat dingin membasahi zirah merahnya.
Tiba-tiba, insting God-Tier Ajil berteriak. Sistem di kepalanya berkedip merah terang.
[SISTEM: SERANGAN DARI ARAH JAM 6!]
Namun, peringatan itu bahkan terlambat satu milidetik dari pergerakan sang monster.
WUSSSHHH!
Sebuah hembusan angin yang sangat tajam membelah udara di belakang Ajil. Bukan menyerang Ajil, melainkan mengincar kelemahan di kelompok itu: Richard.
Sesosok bayangan yang terbuat dari perpaduan kegelapan murni bermanifestasi tepat di belakang punggung Richard. Bentuknya menyerupai belalang sembah raksasa seukuran manusia, dengan zirah eksoskeleton berwarna hitam keunguan. Kedua lengan depannya bukanlah capit, melainkan dua bilah sabit tipis yang bergetar dengan frekuensi tinggi, memancarkan aura sihir pemotong ruang.
[Nama: Mantis Bayangan Eksekutor]
[Level: 99]
[Kelas: S (Mutasi Assassin Ekstrem)]
Sabit itu diayunkan lurus ke leher Richard. Kecepatannya tak tertangkap oleh mata telanjang. Richard bahkan belum sempat menoleh.
TRANGGG!!
Percikan api menyambar di tengah kegelapan.
Ajil tidak menggunakan pedangnya. Ia telah memutar tubuhnya dengan kecepatan Tinju Petir Ungu dan menangkap bilah sabit tajam itu dengan tangan kirinya yang kosong!
Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya berdesis hebat. Untuk pertama kalinya, kain absolut itu robek tipis. Kekuatan kinetik dan frekuensi pemotong dari sabit Level 99 itu berhasil menggores kulit telapak tangan Ajil. Darah segar menetes ke atas tanah berbatu.
"Tuan Ajil!" jerit Rino dan Richard, mundur dengan wajah sepucat mayat.
Mantis itu mengeluarkan suara klik yang aneh dari rahangnya, terkejut ada manusia yang bisa bereaksi terhadap serangan gaibnya. Sebelum Ajil sempat membalas dengan petir ungu di tangan kanannya, molekul tubuh Mantis itu bergetar hebat.
Wush. Tubuhnya berubah menjadi bayangan asap, lolos dari cengkeraman Ajil, dan menghilang kembali ke dalam kegelapan ngarai dalam sekejap mata.
Ajil menatap telapak kirinya yang berdarah. Luka itu tidak dalam, dan Mana Tak Terbatas-nya langsung menutup luka itu dalam hitungan detik. Namun, kenyataan bahwa monster ini bisa melukainya dan bergerak begitu cepat membuat Ajil menyadari satu hal: kekuatan mentah dan tebasan mematikan tidak akan berguna jika ia tidak bisa menyentuh targetnya.
"Monster itu... ia bisa mengubah tubuhnya menjadi ethereal (tak berwujud) sesaat sebelum serangan mengenainya," analisis Erina dengan wajah tegang, busurnya sudah ditarik dengan panah angin suci yang menyala terang. "Dia hanya memadatkan tubuhnya tepat di milidetik saat sabitnya menyentuh kulit target! Jika kau menyerangnya dengan petir atau pedangmu saat dia dalam wujud bayangan, seranganmu akan tembus!"
Ini adalah kesulitan dari bos Level 99. Sebuah mekanik pertarungan yang membutuhkan presisi absolut, bukan sekadar daya hancur.
SRIIING! Mantis itu kembali menyerang dari dinding tebing sebelah kanan. Kali ini ia mengincar Erina.
Ajil menghentakkan kakinya. Aura Gravitasi Jiwa diaktifkan, namun tidak untuk menghancurkan tanah. Ajil memfokuskan gravitasi itu menjadi sebuah medan perlambatan ruang dalam radius sepuluh meter di sekitarnya.
Mantis yang melesat secepat peluru itu tiba-tiba melambat saat memasuki zona gravitasi Ajil, gerakannya seperti terjebak di dalam air yang sangat kental.
Namun, Mantis itu sangat cerdas. Menyadari ia terjebak, ia langsung mengubah tubuhnya kembali menjadi bayangan asap hitam.
Ajil melesat maju, Tinju Petir Ungu-nya menghantam asap tersebut. Zdaarr! Ledakan listrik merobek udara, tapi serangan itu tembus sepenuhnya. Asap itu kembali bermanifestasi di luar jangkauan gravitasi Ajil, mengeluarkan suara klik mengejek, lalu menghilang lagi.
"Sial," umpat Ajil pelan. "Kecepatannya memungkinkannya bereaksi untuk berubah wujud sebelum seranganku mendarat."
Rino menggertakkan giginya. "Tuan Ajil! Jika dia hanya memadatkan tubuhnya saat menyerang... biarkan aku menjadi umpannya! Zirahku sangat tebal! Saat dia menebasku, dia pasti akan berwujud padat. Di saat itulah Anda menyerangnya!"
"Zirahmu akan terbelah beserta tulang punggungmu," tolak Ajil dingin. "Mundur dan tetap diam.".
Ajil menutup matanya. Ia mematikan indra penglihatannya. Di dalam kegelapan mutlak, mata terkadang hanya menipu otak. Ia menajamkan pendengaran dan kepekaan mana-nya terhadap aliran udara di ngarai tersebut.
Monster itu ada di sana. Bergerak mengelilingi mereka dari dinding ke dinding, menunggu momen Ajil lengah.
Ajil menarik napas panjang. Ia menyadari satu-satunya cara untuk membunuh pembunuh bayaran tercepat adalah dengan memberikan celah mematikan yang tidak bisa ia tolak, dan menerima serangannya.
"Jika kau takut terluka, kau tidak akan pernah bisa melukai musuhmu," batin Ajil.
Ia mengendurkan kuda-kudanya, menurunkan kedua tangannya ke samping. Seluruh Aura Gravitasi dan petir ungunya dimatikan. Ia sengaja menciptakan celah pertahanan yang sangat terbuka.
Di dalam bayangan, Mantis Eksekutor melihat peluang itu. Insting membunuhnya terpancing.
WUUUSSSHHH!
Udara di depan Ajil terbelah. Mantis itu muncul tepat berhadapan dengan Ajil dari ketiadaan, sabit kanannya memadatkan diri dari asap menjadi logam tajam, menebas lurus secara horizontal ke arah leher Ajil.
Erina menjerit histeris. "AJIL! MENGHINDAR!"
Ajil tidak menghindar. Ia mendongakkan kepalanya sedikit ke belakang di detik terakhir.
SRAAAKKK!
Ujung sabit itu merobek kerah jaketnya dan menyayat pipi kanan Ajil. Darah segar menyembur, menodai wajah Ajil yang sedingin gletser. Rasa perih yang membakar menjalar di wajahnya.
Namun, di milidetik di mana sabit itu merobek kulitnya, Ajil tahu bahwa tubuh Mantis itu sedang berada dalam wujud padat 100%.
Tangan kiri Ajil melesat seperti kilat yang menyambar ke atas. Bukan untuk meninju, melainkan menangkap bilah sabit yang tajam itu dengan tangan kosongnya! Darah memuncrat dari telapak tangannya saat ia menggenggam mata pisau sabit tersebut, mengunci pergerakan sang monster.
Mantis itu terbelalak (jika ia memiliki mata). Ia mencoba berubah menjadi bayangan, namun Ajil menyalurkan Amukan Petir Abadi dari telapak kirinya, menyetrum tubuh padat sang monster, melumpuhkan sistem saraf mutasinya sesaat sehingga ia gagal bertransformasi.
"Kena kau," bisik Ajil. Wajahnya yang berdarah terlihat begitu mengerikan, dihiasi senyum dingin yang membekukan jiwa.
Tangan kanan Ajil terentang. Pedang Petir Hijau Abadi tertarik keluar dari dimensi hampa, langsung berada di genggamannya dalam wujud badai petir yang menyala-nyala.
Mata hitam Ajil menatap lurus ke dalam mata sang monster. Ia tidak mengayunkan pedangnya dengan teknik yang elegan. Ia hanya menusukkannya lurus ke depan, menembus cangkang dada Mantis tersebut dengan daya hancur murni dari pedang God-Tier.
JLEB!
ZDAAAAARRRRRR!!!
Bilah zamrud itu menembus tubuh sang Mantis. Ajil memutar pedangnya dan melepaskan ledakan petir hijau-ungu berskala raksasa dari dalam tubuh sang monster.
Tubuh Mantis Bayangan Eksekutor itu meledak dari dalam. Potongan eksoskeleton dan darah hitam berhamburan ke segala arah, menghanguskan dinding-dinding ngarai. Monster pembunuh berkecepatan suara itu mati secara brutal, tertusuk di ujung pedang sang Algojo.
[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Mantis Bayangan Eksekutor (Lv.99). EXP Mutlak Ditambahkan!]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 99.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 100.]
[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 102.]
[Peringatan: Syarat Terpenuhi! Membuka Segel Kedua dari 'Pedang Petir Hijau Abadi'.]
Ajil mencabut pedangnya, yang kini bergetar hebat. Retakan kedua muncul di bilah pedangnya, mengelupas titik segel kedua, mengubah pendaran pedang itu menjadi jauh lebih pekat dan mematikan. Namun, ia tak punya waktu untuk memeriksanya. Ia memasukkan kembali pedang itu ke dalam cincinnya.
Ajil berdiri tegak, terengah-engah. Darah mengalir dari pipinya, menetes dari dagunya, dan telapak tangan kirinya terluka cukup dalam. Mana Tak Terbatas-nya langsung bekerja perlahan menyembuhkan luka-luka itu, menghentikan pendarahan.
Rino dan Richard berlari menghampiri dengan wajah pucat dan penuh ketakutan. Mereka melihat bagaimana Ajil sengaja membiarkan dirinya ditebas hanya untuk mengunci pergerakan monster itu.
"T-Tuan Ajil! Anda terluka!" panik Rino, tak tahu harus berbuat apa karena ia bukan penyembuh.
Erina melesat ke sisi Ajil, tangannya memancarkan cahaya hijau yang menenangkan, langsung menyentuh pipi Ajil yang berdarah. Air mata menggenang di pelupuk mata sang peri. "Kau gila! Kau membiarkan benda itu menyayat wajahmu! Kau bisa kehilangan kepalamu!"
Ajil tidak menepis tangan Erina yang gemetar menyentuh lukanya. Ia menatap Rino dan Richard yang masih syok. Ajil tahu, kedua pria ini membutuhkan tamparan realita jika mereka ingin bertahan hidup mengikutinya.
Dengan darah yang masih membekas di wajahnya, dan mata yang menyorotkan ketegasan tak terbantahkan, Ajil berbicara.
Suaranya menggema di Ngarai Angin Mati.
"Kalian mengagumi kekuatan dari pedang dan otot," ucap Ajil berat, sebuah ajaran terakhir untuk kedua anjing penjaganya. "Tapi ingat ini. Kecepatan sejati bukanlah seberapa cepat kau bisa berlari atau menghindar dari kematian. Kecepatan sejati adalah seberapa tenang kau berdiri diam, mengorbankan sebagian dari darahmu sendiri, demi menangkap kematian itu tepat saat ia berada satu jengkal dari lehermu.".
Rino dan Richard menelan ludah. Mereka menundukkan kepala, meresapi setiap kata mutiara yang diucapkan oleh pria yang rela berdarah demi mencapai tujuannya.
Malam itu, di tengah kegelapan ngarai, Ajil tidak hanya membuktikan dirinya sebagai monster yang kuat, namun juga seorang petarung yang akalnya diasah tajam oleh rasa sakit kehidupan. Dan Erina... ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa mencegah pria ini untuk terluka, ia hanya bisa bersumpah untuk selalu ada untuk menyembuhkannya.