NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: tamat
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO / Tamat
Popularitas:565.6k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman untuk Arimbi

#23

Suasana sekolah kala jam istirahat, Arimbi dan sekelompok teman-temannya sedang ada di kantin dan bersenda gurau. Tanpa rasa berdosa, Arimbi bahkan mentraktir teman-temannya dengan uang hasil menjual ponsel milik kakak iparnya. 

“Asik, traktiran lagi,” kata salah satu teman karib Arimbi. 

“Sering-sering, ya, Mmbi, kalau mau jadi orang sukses, memang harus sering berbagi, biar berkah gitu, duitnya,” sanjung yang lain. 

Kembang kempis hidung Arimbi, baginya gaya tetap nomor satu, meski belum bisa menghasilkan uang sendiri. 

“Tenang saja, pokoknya, kalian kudu rajin doain aku, biar cepet dapet agensi, dan mulai kerja. Nanti gaji pertamaku, aku pake buat traktir kalian, deh,” janjinya pongah, padahal belum juga menjajaki langkah menjadi calon model, tapi gayanya saja sudah melebihi tingginya langit. 

Sementara Arimbi tak sadar bahwa ada juga teman yang tak menyukai keangkuhan serta kesombongannya. Tapi orang itu hanya diam di pojokan, berpura-pura tersenyum, kelak jika Arimbi terjatuh, maka dialah orang pertama yang bertepuk tangan. 

“Mmbi, kamu dipanggil Bu Ratih dan Pak Rahmad.” 

“Ada apa, ya?”

“Nggak tahu.” 

Arimbi pun pamit, tapi sebelum itu ia membayar semua yang dipesan teman-temannya. 

Beberapa saat kemudian, Arimbi pun tiba di ruang guru. “Permisi, Bu. Saya dipanggil kemari oleh Bu Ratih.” 

“Oh, Bu Ratih di ruang BK.” 

Arimbi masuk ke ruang guru, karena ruang BK berada di ujung ruangan guru. 

Tok! 

Tok! 

Tok! 

“Masuk.” 

Setelah mendengar instruksi, barulah Arimbi memutar handle pintu. “Permisi, Pak, Bu. Ada apa memanggil saya?” tanya Arimbi dengan sopan. 

Suasana ruangan sangat tegang, tak ada secuil pun tawa yang menyambut kedatangan Arimbi. Hingga gadis itu semakin pucat ketakutan, ditambah lagi, ada dua pria asing yang ikut duduk di ruangan tersebut. 

“Duduk dulu, Mmbi.” Pak Rahmad guru BK mempersilahkannya untuk menempati salah satu kursi kosong di ruangan tersebut. 

“Mmbi, Bapak dan Ibu mau bertanya, kamu jawab yang jujur, ya?” 

“I-iya, Bu,” jawab Arimbi dengan suara terbata. 

“Beberapa jam yang lalu, kami menerima laporan, bahwa kamu telah mencuri ponsel milik seseorang.” Pria berpakaian non formal itu menjelaskan maksud kedatangannya. 

Brak! 

Arimbi menggebrak meja, demi menutupi kegugupannya. “Fitnah, dia pasti menyebar fitnah!” elah Arimbi keras serta tegas, agar semua percaya dengan kebohongannya. 

“Tapi dia juga datang dengan membawa bukti rekaman CCTV.” 

Rekaman CCTV, sejak kapan di rumahnya asa CCTV? Pasti kakak iparnya hanya mengada-ada. “Apalagi rekaman CCTV, apa Bapak percaya, di rumah saya tidak ada CCTV, jadi mana mungkin ada rekaman?” kata Arimbi dengan percaya diri, tanpa sadar ia telah masuk jebakan dengan mudah. 

Pria berpakaian non formal, yang ternyata seorang polisi yang sedang bertugas itu, nampak tersenyum tipis. Sedikit bersilat lidah, demi menjebak tersangka mengakui kejahatannya, adalah hal biasa baginya, dan Arimbi terlalu mudah memperlihatkan kejahatan yang ia anggap kecil itu. 

“Rumah? Jadi kamu mencuri ponsel itu di rumahmu sendiri? Begitu?” 

Arimbi terkejut, tak siap dengan pertanyaan pak polisi itu selanjutnya, “Emp, aku, s-saya—” Arimbi semakin gugup, hingga meremas ujung rok sekolahnya. 

“Mmbi, apa itu benar?” tanya Bu Ratih sedikit tak percaya. 

Selama ini ia selalu mendengar hal yang baik-baik saja dari Lilis, kakak tiri Arimbi yang selalu datang ke sekolah sebagai, bila waktu pembagian raport tiba. “T-tidak, Bu. Tentu saja tidak!” 

Arimbi masih berusaha mengelak, tapi Polisi itu sudah bisa menyimpulkan, hanya berdasarkan satu kalimat kecil Arimbi, serta gerak gerik tubuhnya yang mulai aneh. 

Pak polisi pun menyalakan layar laptop yang sesaat lalu, di setel ke mode sleep. 

Nampak di layar monitor, kedatangan Arimbi ke counter HP, untuk menjual barang yang ia curi. 

Lemas sudah tubuh Arimbi, bila melihat rekaman itu ia tak mungkin bisa mengelak lagi, maka Arimbi hanya bisa mengangguk pasrah sambil menangis memohon keringanan hukuman. 

Begitu pula bapak dan ibu guru Arimbi yang masih mengusahakan agar ada keringanan, mengingat sebentar lagi gadis itu menjalani ujian kelulusan. 

Tapi polisi itu berkata, bahwa si pelapor tetap ingin memberi hukuman pada Arimbi, agar Arimbi belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. 

Akhirnya Arimbi hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah yang basah, karena air matanya tak berarti apa-apa. 

•••

Di rumah Lilis, belum lagi kering kesedihan Lilis setelah Bu Saodah diseret pergi, kini dada wanita itu seolah kembali dihantam batu besar, setelah mendengar kabar penangkapan Arimbi. 

Tak percaya rasanya, karena Arimbi lah yang tega mencuri ponsel suaminya, apakah uang begitu berharga bagi sang adik, hingga tega berbuat hal yang mempermalukan dirinya sendiri? 

 

“Apakah hari-hari biasa, Mas Rayyan juga  se-tegas itukah, Nyonya?” gumam Lilis belum mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini. 

Rosa mengusap punggung Lilis dengan sabar, “Jangan terlalu bersedih, Lis. Suamimu hanya ingin mereka belajar bertanggung jawab,” hibur Rosa di tengah isak tangis sedihnya Lilis. 

“Hari-hari biasa dia cukup humoris, dan sangat baik pastinya. Tapi dia akan tetap tegas pada saatnya.” 

Ponsel Rosa tiba-tiba bergetar. “Halo, Ray.” 

“Halo, Tante. Bagaimana Lilis?” 

“Shock tentu saja, apalagi memangnya?”

Di tempatnya sana, Rayyan menyeringai. “Boleh aku bicara dengan Lilis?”

“Kalau mau bicara dengan Lilis, kenapa menghubungi nomorku?!” tanya Rosa gemas. 

“Aku— belum menyimpan nomor ponsel Lilis,” ungkap Rayyan malu-malu harimau. 

1
Hasanah Purwokerto
Ih....si Nang Ning Nung ga peka bgt sih...kelamaan jomblo kali ya...🤭🤭🤭🤭
Nanda Kitt
🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
ada yg panas,,tp bukan kompor..🤭🤭🤭🤭
Anonim
Kak ini cerita rapi,mskpn berganti2 orang yg diceritakan dan q tdk membaca dr cerita papa gusman tp q paham, mgkn bs dilanjutkan dg cerita dr versi nanang dan cantika kak? Hidupku sendiri skrg adl seorang ibu pekerja,jd merasa mellow tb2 g tw knp. Antata cerita di novel yg tll bagus shg tdk berbanding lurus dgn hidup yg nyata. Atau memang ad kah kehidupan di dunia nyata yg spt rayyan dan lilis?
moon: pada kenyataannya mencari pasangan sempurna seperti rayyan dan lilis amat sangat susah, tapi bukan berarti tidak ada.

pasti ada, tapi langka.

karena tidak ada suami atau istri yang sempurna, semua punya sisi lemah dari segala arah.

karena begitulah manusia /Smile/
total 2 replies
Khairul Azam
hahahah ini salah cantik 😆😆😆😆 nanang gak salah lho ya gak salah dia mah 🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
Bu Saodah kali yaa
Hasanah Purwokerto
Gasssss lah,,,jodohmu Nang,,jgn sampai kabur lagi
Hasanah Purwokerto
👍👍👍👍👍😄😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Sekali sendal tetap lah sendal...
eh...sun dal maksudnya...🤭🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Lagi ikut sedih,,tiba" ngakak aja...🙈🙈🙈🙈😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Eh...Gwen dah punya anak,,pantesan Rayyan dipanggil eyang...😄😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Sandi kabur,,ga inget ma kamu Fat..
Hasanah Purwokerto
Emang kucing mas,,banyak anak...🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Tenang Lis,,,uang suamimu tdk berseri,,ga bakalan habis 10 tikungan 10 tanjakan...😄😄😄😄😄
Hasanah Purwokerto
Semua karya kak Moon aku suka..👍👍👍👍
moon: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
Hasanah Purwokerto
Anakan ulet bulu sedang menggatal,,,untung halal...🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Hasanah Purwokerto
astaga.....ckckckckk...
Hasanah Purwokerto
Wah...Dio tertipu hanis habisan ternyata,,,
Selamat ya bu Fatma,,calon cucumu bukan cucumu....🤭🤭🤭🤭
Hasanah Purwokerto
Hahahhaa..om Agung iri,,pdhl dia juga dulu begitu...
Hasanah Purwokerto
Hhhhmmmmm...iya dech..iya ,,kamu memang tampan ,,rupawan,,menawan...🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!