NovelToon NovelToon
Tergoda Janda Kembang

Tergoda Janda Kembang

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Romansa pedesaan / CEO
Popularitas:348.4k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.

Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.

Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?

Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hukuman untuk Arimbi

#23

Suasana sekolah kala jam istirahat, Arimbi dan sekelompok teman-temannya sedang ada di kantin dan bersenda gurau. Tanpa rasa berdosa, Arimbi bahkan mentraktir teman-temannya dengan uang hasil menjual ponsel milik kakak iparnya. 

“Asik, traktiran lagi,” kata salah satu teman karib Arimbi. 

“Sering-sering, ya, Mmbi, kalau mau jadi orang sukses, memang harus sering berbagi, biar berkah gitu, duitnya,” sanjung yang lain. 

Kembang kempis hidung Arimbi, baginya gaya tetap nomor satu, meski belum bisa menghasilkan uang sendiri. 

“Tenang saja, pokoknya, kalian kudu rajin doain aku, biar cepet dapet agensi, dan mulai kerja. Nanti gaji pertamaku, aku pake buat traktir kalian, deh,” janjinya pongah, padahal belum juga menjajaki langkah menjadi calon model, tapi gayanya saja sudah melebihi tingginya langit. 

Sementara Arimbi tak sadar bahwa ada juga teman yang tak menyukai keangkuhan serta kesombongannya. Tapi orang itu hanya diam di pojokan, berpura-pura tersenyum, kelak jika Arimbi terjatuh, maka dialah orang pertama yang bertepuk tangan. 

“Mmbi, kamu dipanggil Bu Ratih dan Pak Rahmad.” 

“Ada apa, ya?”

“Nggak tahu.” 

Arimbi pun pamit, tapi sebelum itu ia membayar semua yang dipesan teman-temannya. 

Beberapa saat kemudian, Arimbi pun tiba di ruang guru. “Permisi, Bu. Saya dipanggil kemari oleh Bu Ratih.” 

“Oh, Bu Ratih di ruang BK.” 

Arimbi masuk ke ruang guru, karena ruang BK berada di ujung ruangan guru. 

Tok! 

Tok! 

Tok! 

“Masuk.” 

Setelah mendengar instruksi, barulah Arimbi memutar handle pintu. “Permisi, Pak, Bu. Ada apa memanggil saya?” tanya Arimbi dengan sopan. 

Suasana ruangan sangat tegang, tak ada secuil pun tawa yang menyambut kedatangan Arimbi. Hingga gadis itu semakin pucat ketakutan, ditambah lagi, ada dua pria asing yang ikut duduk di ruangan tersebut. 

“Duduk dulu, Mmbi.” Pak Rahmad guru BK mempersilahkannya untuk menempati salah satu kursi kosong di ruangan tersebut. 

“Mmbi, Bapak dan Ibu mau bertanya, kamu jawab yang jujur, ya?” 

“I-iya, Bu,” jawab Arimbi dengan suara terbata. 

“Beberapa jam yang lalu, kami menerima laporan, bahwa kamu telah mencuri ponsel milik seseorang.” Pria berpakaian non formal itu menjelaskan maksud kedatangannya. 

Brak! 

Arimbi menggebrak meja, demi menutupi kegugupannya. “Fitnah, dia pasti menyebar fitnah!” elah Arimbi keras serta tegas, agar semua percaya dengan kebohongannya. 

“Tapi dia juga datang dengan membawa bukti rekaman CCTV.” 

Rekaman CCTV, sejak kapan di rumahnya asa CCTV? Pasti kakak iparnya hanya mengada-ada. “Apalagi rekaman CCTV, apa Bapak percaya, di rumah saya tidak ada CCTV, jadi mana mungkin ada rekaman?” kata Arimbi dengan percaya diri, tanpa sadar ia telah masuk jebakan dengan mudah. 

Pria berpakaian non formal, yang ternyata seorang polisi yang sedang bertugas itu, nampak tersenyum tipis. Sedikit bersilat lidah, demi menjebak tersangka mengakui kejahatannya, adalah hal biasa baginya, dan Arimbi terlalu mudah memperlihatkan kejahatan yang ia anggap kecil itu. 

“Rumah? Jadi kamu mencuri ponsel itu di rumahmu sendiri? Begitu?” 

Arimbi terkejut, tak siap dengan pertanyaan pak polisi itu selanjutnya, “Emp, aku, s-saya—” Arimbi semakin gugup, hingga meremas ujung rok sekolahnya. 

“Mmbi, apa itu benar?” tanya Bu Ratih sedikit tak percaya. 

Selama ini ia selalu mendengar hal yang baik-baik saja dari Lilis, kakak tiri Arimbi yang selalu datang ke sekolah sebagai, bila waktu pembagian raport tiba. “T-tidak, Bu. Tentu saja tidak!” 

Arimbi masih berusaha mengelak, tapi Polisi itu sudah bisa menyimpulkan, hanya berdasarkan satu kalimat kecil Arimbi, serta gerak gerik tubuhnya yang mulai aneh. 

Pak polisi pun menyalakan layar laptop yang sesaat lalu, di setel ke mode sleep. 

Nampak di layar monitor, kedatangan Arimbi ke counter HP, untuk menjual barang yang ia curi. 

Lemas sudah tubuh Arimbi, bila melihat rekaman itu ia tak mungkin bisa mengelak lagi, maka Arimbi hanya bisa mengangguk pasrah sambil menangis memohon keringanan hukuman. 

Begitu pula bapak dan ibu guru Arimbi yang masih mengusahakan agar ada keringanan, mengingat sebentar lagi gadis itu menjalani ujian kelulusan. 

Tapi polisi itu berkata, bahwa si pelapor tetap ingin memberi hukuman pada Arimbi, agar Arimbi belajar bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri. 

Akhirnya Arimbi hanya bisa menunduk pasrah dengan wajah yang basah, karena air matanya tak berarti apa-apa. 

•••

Di rumah Lilis, belum lagi kering kesedihan Lilis setelah Bu Saodah diseret pergi, kini dada wanita itu seolah kembali dihantam batu besar, setelah mendengar kabar penangkapan Arimbi. 

Tak percaya rasanya, karena Arimbi lah yang tega mencuri ponsel suaminya, apakah uang begitu berharga bagi sang adik, hingga tega berbuat hal yang mempermalukan dirinya sendiri? 

 

“Apakah hari-hari biasa, Mas Rayyan juga  se-tegas itukah, Nyonya?” gumam Lilis belum mempercayai apa yang sedang terjadi saat ini. 

Rosa mengusap punggung Lilis dengan sabar, “Jangan terlalu bersedih, Lis. Suamimu hanya ingin mereka belajar bertanggung jawab,” hibur Rosa di tengah isak tangis sedihnya Lilis. 

“Hari-hari biasa dia cukup humoris, dan sangat baik pastinya. Tapi dia akan tetap tegas pada saatnya.” 

Ponsel Rosa tiba-tiba bergetar. “Halo, Ray.” 

“Halo, Tante. Bagaimana Lilis?” 

“Shock tentu saja, apalagi memangnya?”

Di tempatnya sana, Rayyan menyeringai. “Boleh aku bicara dengan Lilis?”

“Kalau mau bicara dengan Lilis, kenapa menghubungi nomorku?!” tanya Rosa gemas. 

“Aku— belum menyimpan nomor ponsel Lilis,” ungkap Rayyan malu-malu harimau. 

1
Bunda Aish
laah malah jalan-jalan,kalau tiba-tiba mules di jalan gimana 🤭
Patrick Khan
wah bapak sopo iku🤔🤔🤔🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
eh bapak kandungnya kah 🤔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh itu kan mobil sport Lis 🤭🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
🤭🤣🤣🤣
Rahmawati
calon penerus senopati lagi berulah ini😂
weh siapa itu yg dipanggil bapak sama lilis
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
nah loh siapa tuh yang dipanggil bapak sama Lilis..
Siti Siti Saadah
jangan jangan bapak nya Lilis masih hidup
Felycia R. Fernandez
siapa nih?? 🤔
Esther
Bapak nya siapa yg dipanggil Lilis
Nar Sih
wah...kira,,,siapa yg di panggil lilis dgn sebutan bapak tersebut ,jdi penasaran nih kak moon ,tpi mesti nunggu up lgi ,💪💪
Aditya hp/ bunda Lia
"Bapak ... " ... siapa tuh? masa iya bapaknya Lilis
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Sing lungsur langsar berkah salamet 🤲🏻🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul daripada bolak balik 😔
Nar Sih
bnr,,nih psngn yg bikin baper dgn kemesraan nya ,contoh suami siaga ya rayyan ,makasih kak moon udh up lgi🙏🥰🥰
Nar Sih: gak apa,,kak moon yg penting tetep lanjut hingga end 👍🥰
total 2 replies
Rahmawati
kalo masalah ena ena gk perlu saran dokter ya ray, itu memang sudah jd hobimu😂
moon: udah kayak makan pagi makan siang makan malam🤣🤣
total 1 replies
Sh
what....Authornya udah polos ??? Mau ngapain..awas masuk angin 🤣🤣
moon: minim tolak angin biar pinter 👻👻
total 1 replies
Frida Fairull Azmii
jangan jangan sebernya aku anak nanang dan cantika,karna nama bapakku sma🤣🤣
moon: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
di kehidupan sebelumnya
total 1 replies
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
akhirnya berhasil juga😅😅😅
Patrick Khan
gollllll😂😂😂💃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!