"Tega kamu, Mas." Kanaya menatap suaminya dengan sorot mata yang tenang namun penuh luka. Kecewa luar biasa wanita itu rasakan setelah tau kalau suaminya ternyata sudah menikah dan memiliki istri lain tanpa sepengetahuannya.
"Aku minta maaf, aku tau kamu kecewa. Tapi ini semua udah terlanjur terjadi, aku harap kamu bisa berlapang dada menerima istri baruku." Jawab Andra dengan nada bersalah.
Tapi Kanaya tau, suaminya itu tidak benar-benar menyesal. Sedikit pun.
Siang dan malam ia berdo'a kepada Tuhan, meminta kelimpahan dan kelancaran untuk bisnis juga rezeki suaminya.
Tapi ketika pria itu benar-benar diberi kekayaan, ia malah menduakannya diam-diam.
Kanaya tidak akan diam aja, ia akan membalasnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA PULUH DUA
"Aku udah selesai, yuk." Kanaya berjalan melewati Andra yang masih duduk manis menunggunya di atas soffa.
Wanita itu melangkah keluar tanpa menunggu suaminya dan langsung masuk ke dalam mobil mereka.
"Kita makan siang di restaurant favorite kita ya?"
Tanya Andra mengonfirmasi, pria itu menutup pintu mobil dan mengenakan sabuk.
Kedua matanya tak lepas dari memandangi Kanaya yang sejak tadi enggan melihatnya.
"Hmm, iya. Boleh. Tapi aku nggak bisa lama-lama, setelah makan siang langsung pulang."
"Kenapa? Kamu nggak enak badan?"
Andra mencondongkan kepalanya hendak memeriksa keadaan Kanaya, tapi wanita itu menjauh dan menepis tangannya yang bahkan belum sempat menempel di kening wanita itu.
"Nggak, aku sehat. Aku cuma mau pulang karena tadi kan baru selesai perawatan. Ini ada masa downtime-nya. Aku nggak nyaman aja kalau jalan-jalan keluar muka merah-merah kaya begini."
Ucap Kanaya beralasan, ia kembali memperbaiki posisi duduknya meski masih terlihat sangat risih karena Andra yang masih berada terlalu dekat dengan wajahnya.
"Padahal muka kamu lucu merah-merah begitu kaya tomat, tetep cantik juga."
Puji Andra serius, pria itu bukan hanya sedang menggombal, tapi Kanaya sama sekali tidak terkesan.
Pipi Kanaya yang dulu selalu tersipu malu hanya dengan dipandangi olehnya, kini bahkan tak pernah lagi bersemu saat berada di dekat atau mendengar pujian darinya.
"Setelah makan siang langsung pulang,..." Ulang Kanaya dengan tegas membuat Andra kembali tersadar dengan realita.
Pria itu tersenyum getir dan menganggukan kepalanya pelan, melajukan mobil kembali membelah jalanan ibu kota yang cukup padat dengan banyak kendaraan berlalu lalang.
Selama perjalanan, Andra berusaha untuk mencairkan suasana dengan berbagai topik obrolan.
Tapi Kanaya yang membalas dengan singkat membuat percakapan mereka lagi-lagi berujung mati.
Obrolan-obrolan yang dulu selalu membuat mereka tertawa, kini hanya dibalas dengan senyum tipis oleh wanita itu.
Andra sadar betul kalau istrinya itu berubah, perlahan tapi pasti setiap harinya Kanaya seolah sedang melepaskan diri dari genggamannya.
Meski raga wanita itu masih berada bersamanya, Andra merasa bahwa hati juga jiwa sang istri sudah cukup lama meninggalkannya.
"Aku pesenin menu makan kaya biasanya ya."
Andra langsung memanggil pelayan begitu mereka sampai di restaurant, ia memesankan makanan yang memang disukai oleh Kanaya.
"Akhir pekan minggu depan kamu nggak ada janji sama siapa pun, kan?" Tanya Andra setelah cukup lama keheningan canggung meliputi mereka.
Pasangan yang sudah menikah dua tahun itu tampak seperti orang yang baru saja bertemu untuk pertama kalinya, tidak ada kehangatan atau keakraban.
Kanaya lebih memilih untuk menatap pemandangan gedung-gedung kota di hadapannya dari balik jendela, seolah-olah bangunan gedung megah tersebut lebih indah untuk dilihat di banding lelaki di hadapannya.
"Kenapa memangnya?"
Kanaya bertanya tenang masih tanpa menatap wajah Andra, pandangannya kini tersita oleh mobil-mobil yang melaju seperti semut dari atas ketinggian.
Semua pemandangan di sekitar sana lebih indah di matanya sekarang, pemandangan apapun asal bukan Andra.
"Aku mau kita jalan-jalan, udah lama banget kita nggak liburan bareng. Selama beberapa bulan terakhir ini kamu kaya jauh banget dari aku, kita hampir nggak pernah punya waktu berdua aja. Aku bahkan udah nggak inget kapan terakhir kali kita tidur bareng berdua,..."