Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketemu lagi
Aku serius untuk menutup diri dengan laki-laki...hari-hariku ku sibukkan dengan bekerja dan bekerja. Bekerja di mall,melatih pencak silat yang muridnya makin bertambah dan menyanyi di kafe sesekali. Apa aja yang penting cukup buat keluarga dan membiayai sekolah kedua adikku.
Bapak sepertinya mulai tergerak untuk berbisnis lagi. Seorang teman sekolahnya dulu mengajak join bisnis batik. Aku sebenarnya sedikit khawatir,tapi bapak mencoba meyakinkanku bahwa beliau tidak aan jatuh ke lubang yang sama.
Aku baru saja keluar dari kantor untuk absen,ketika tanpa sengaja aku ditabrak seseorang...'bruk' dan hampir jatuh,untung tangan mas-mas itu sigap menarik tanganku untuk menahan badanku agar tak jatuh.
"Auuww..." teriakku kaget.
"Eh maaf mbak maaf...saya kurang merhatiin jalan...mbak nggak papa kan?" ucapnya gugup,apalagi ketika aku sedikit mengkibas tangannya yang masih memegang tanganku.
"Enggak.." jawabku ketus.
Aku membungkuk mengambil dompetku yang jatuh,ketika aku berdiri dan melihat siapa yang menabrakku,aku kaget bukan kepalang.
"Raya..." teriaknya antusias.
"Mas Yusuf..." ucapku tak kalah antusiasnya.
"Apa kabar? Kamu kerja disini?"
"Iya mas...Alhamdulillah kabarku baik mas...Mas mau belanja?"
"Syukur deh...Nganter ibu tapi ibunya sudah duluan jalan sama Dewi,sekalian aku mau liat-liat jaket kulit nih,katanya disini jaket kulitnya bagus-bagus"
"Wah kebetulan aku kerja di counter jaket...ayo bareng aku sekalian aja mas"
"Wah kebetulan banget tuh,tar kamu pilihin yang pas buat aku ya..."
"Siaappp..."
"Bisa dapet diskon dong..."
"Alah paling cuma 10% mas..."
"Segitu juga lumayan kan...bisa buat nraktir es kelapa muda kesukaanmu...hahaha"
"Serius mo nraktir aku es klamud ni...?"
"Seriuslah...timbang es klamud doang..."
"Tapi nggak bisa sekarang lho..."
"Terus kapan dong...?"
"Besok kali ya...besok aku masuk pagi pulang jam 1 terus tar masuk lagi jam 5 jadi besok jam 1an gimana?"
"Boleh tuh,tapi..."
"Tapi kenapa? Tenang...semua dah kelar,aku sekarang bebas pergi kemana saja...tuh liat"
Aku memperlihatkan jari tanganku yang sudah tak berpenghuni lagi...eh maksudnya sudah nggak pakai cincin tunangan lagi...hehehe...
"Sejak kapan Ray dan kenapa putus?"
"Ya karna udah nggak cocok aja...Kami putus sudah sekitar 6 bulan yang lalu" jawabku sekenanya.
"Tapi bukannya kalian sudah 4 tahun bertunangan?"
"Ya gitu deh...Tapi mas,orang nikah aja bisa cerai,apalagi aku yang baru bertunangan..."
"Oke deh kalo gitu...besuk aku jemput ya...Ayo cariin dulu jaket kulit yang keren buat aku"
Aku mengangguk dan mencari jaket kulit buat Mas Yusuf.
"Serius ni bagus buatku?" Aku mengangguk.
"Karna kata kamu bagus,aku pilih yang ini deh...Nih,bisa tolong bayarin sekalian nggak"
Aku terkejut ketika sampai depan kasir dan Mas Yusuf memberikan dompetnya padaku.
"Ini nggak papa?" tanyaku ragu,dia mengangguk.
"Pacar barumu ya Ray" bisik Mbak Sekar bagian kasir.
"Bukan mbak...teman..." ucapku sambil tersenyum.
"Tapi itu di dompetnya kok ada fotomu..."
"Akh masak...aku kok nggak merhatiin ya"
"Liat aja sendiri..."
Aku memberanikan diri untuk membuka dompet Mas Yusuf lagi,dan teryata benar adanya. Foto itu foto kami,waktu terakhir kali aku manggung bersamanya di Universitas Ahmad Dahlan setahun yang lalu.
"Mas..." panggilku terhenti ketika dari kejauhan terlihat Bu Hadi dan Mbak Dewi datang mendekat.
"Raya..." panggil mereka bersamaan.
"Ibu...Mbak Dewi...Assalamu'alaikum..."
Aku mendekat dan mencium punggung tangan wanita berhijab yang masih terlihat cantik,walaupun usianya sudah tampak tidak muda lagi.
"Wa'alaikumsalam..."
"Apa kabar bu...sehat kan?"
"Alhamdulillah...Lho kamu kerja disini to Ray..."
"Iya bu..."
"Tinggal dimana sekarang? Katanya sudah pindah..."
"Di desa bu..." jawabku singkat,berharap beliau tak memperpanjang pertanyaannya.
"Main-main ke panti dek...sudah lama nggak main kesana kan..." ucap Dewi
"InsyaAlloh nanti kalo libur ya Mbak..."
"Kami tunggu ya Ray..." ucap Mbak Dewi lagi
"Kami pulang dulu ya Ray...kami tunggu kamu main ke panti lagi ya..."
"Iya InsyaAlloh..."
*******
Panas siang ini terasa membakar kulit. Aku keluar dari mall jam 1.30 siang karna harus ganti baju dan celana panjang dulu...aku celingukan mencari sosok Mas Yusuf.
"Ray..." panggil seorang laki-laki yang melambaikan tangannya dari dalam mobil honda brio warna putih.
Aku pun segera berjalan mendekati mobil itu.
"Kok nggak pakai motor aja sih mas....?"
"Mang kenapa? Kamu takut aku apa-apain di dalam mobil ya?" tanya Mas Yusuf yang seolah tau apa yang aku pikirkan. Aku pun hanya bisa nyengir kuda.
"Cuaca panas sekali,kalau kita naik mobil kan biar lebih nyaman,Ray...jangan mikir yang macem-macem...Lagian mana berani aku sama kamu,juara 1 sebagai pelatih terbaik,bisa remuk aku nanti...hahaha."
Mobil pun mulai melaju pelan meninggalkan parkiran mall.
"Hah...mas tau?"
"Apa yang aku nggak tau tentang kamu Ray...Penyanyi kafe yang nggak mau naik panggung dan hanya bernyanyi disamping band pengiring" ucapnya nampak bangga dengan pencapaiannya yang mampu membuatku terbelalak dengan ucapannya.
"Kok mas tau semua kegiatanku?" tanyaku terheran-heran
"Kamu sepertinya bekerja terlalu fokus dan giat Ray...hingga kamu tak pernah memperhatikan keberadaan orang-orang disekitarmu Ray..."
"Bukan begitu cara melupakan seseorang yang pernah mengisi hati kita Ray...kau seolah kerja tanpa istirahat...bisa bobrok badanmu Ray..."
"Kerja tapi tetap beri ruang istirahat untuk tubuhmu Ray...Jaga pola makan dan jaga kesehatanmu" ucap Mas Yusuf panjang lebar.
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua nasehat Mas Yusuf karna semua ucapannya itu tidak ada yang salah. Bersyukur masih ada yang memperhatikan,terharu karna yang memperhatikan itu adalah orang lain,bukan orangtua atau keluarga.
"Kok cuma diam aja...hei malah melamun...Ada yang salah dari ucapanku?"
"Akh,enggak mas...apa yang mas ucapkan semuanya benar,makanya aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi" ucapku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tiba-tiba tangan kiri Mas Yusuf mengelus kepalaku,aku bertambah terkejut dengan perlakuannya padaku.
"Jangan menyiksa diri Ray...Kau masih muda...jalani hidupmu dengan bahagia."
"Iya mas,tapi untuk saat ini aku sedang lupa bagaimana cara hidup bahagia..."
"Harus semangat...aku yakin kau wanita yang tangguh..." ucapnya menyemangatiku.
"Mas..."
"Hmmm..."
"Trimakasih..."
Mas Yusuf melirikku sekilas lalu berucap," Sama-sama Ray...aku sayang kamu..."
Whatttt...???
Apa aku tak salah dengar? Ya Alloh...jangan Kau ciptakan drama baru lagi untukku...Aku capeekkk...jeritku dalam hati...Mas Yusuf kembali melirikku yang tengah salah tingkah...
"Ray..."
"Iya mas..."
"Boleh kan aku sayang kamu...?"
"Entahlah mas...Boleh tapi tidak sekarang...aku belum siap mas..."
"Aku akan menunggumu sampai kau siap dan berani menerima seseorang untuk melindungimu Ray"
Aku kembali terdiam...
Apa sih istimewanya aku dimata para laki-laki ini...nggak habis pikir sama sekali...
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus