Perempuan adalah permata hati dan berlian yang sungguh sangat indah, menawan. Aku adalah laki-laki sederhana yang tidak memiliki paras sempurna atau harta melimpah, yang kupunya hanya segenggam hati yang terpatri dan hanya tertulis satu nama Risna Anzalea Farizal, berlatar keluarga sempurna kalangan aparat. Apalah dayaku yang bukan siapa-siapa dengan perbandingan jauh dibawahnya, kekasih hatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang Berpikir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TA19 Apakah aku yang pertama?
“Iya bang!” Helaan napas panjang Risna lakukan dalam senyap ketenangannya itu sambil berucap syukur dalam hatinya, Alhamdulillah. Alhamdulillah akhirnya aku mampu mampu menyelesaikan pendidikanku. Empat tahun, dua bulan Risna jalani pendidikan strata hukum dengan air mata, keletihan yang luar biasa.
Keheningan tercipta diatara fariz dan Risna sementara yang setelahnya percakapan ringan terjadi di sana. Dalam senyapnya Fariz mendekatkan tangannya dengan tangan Risna.
Kulit lembut itu tersentuh pelan. Tak memberikan kesempatan, Risna segera menarik kembali tangannya “tangan abang kasar ya?” tersenyum canggung dan menyampingkan tangannya ke sebelah kaki jenjangnya yang terlipat dua, paha di atas paha.
“Abang gak ngapa-ngapain, cuma tangan yang mau aa…”
“Dalam pertemuan apapun itu aku tidak suka ada sentuhan, sekecil apapun itu,” potong Risna cepat. Tidak ingin tubuhnya yang terjaga, harga dirinya yang tinggi menjadi rendah hanya karna sebuah hubungan.
“Abang!” Panggil Risna.
Tidak ada jawaban dari Fariz yang sudah sibuk dengan pikirannya sendiri, walau kulitnya coklat tapi kelembutannya hampr setara sutra, monolog Fariz. Tapi lain sisinya, ya wajar saja kulitnya bagus, halus lantaran Risna ini anak siapa!
“Abang!” Panggil Risna lagi kala tidak mendapati panggilannya, tersahuti.
“Ah. Iya,” jawab Fariz setelah tersentak dari lamunannya, menatap telapak tangannya sendiri yang baru tersadar bahwa telapak tangannya itu termasuk katagori kasar.
Helaan napas panjang Risna lakukan, pandangan mata menatap datar dan mulutnya terbungkam.
“Apa tadi?” Tanya ulang Fariz tidak tahu Risna mengatakan apa lantaran fokusnya ke pikirannya sendiri.
“Sebetulnya aku malas menagatakan hal yang sama lebih dari satu kali tapi karena kita baru mau mengenal satu sama lain, okey. Aku akan megatakannya. Ini kencan pertamaku!” Ucap Risna dalam satu tarikan napas.
Kekehan ringan Fariz perlihatkan. Dalam dirinya berbagai pertanyaan menyerang, apa iya, dia tidak tersentuh. Apa iya, ini kencan pertamanya. Apa mungkin dia tidak pernah dekat dengan seseorang tapi pertemuan pertama kami di aplikasi datting. Ini serasa tidak memungkinkan?
Badan fariz yang seakan melayang dengan berbagai pertanyaan yang tertuju untuk dirinya seakan terjatuh tidak berdaya.
“Sudah?” Tanya Risna menatap Fariz datar.
“Apanya yang sudah?” Menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal. Tatapan mata yang Fariz lihat menusuk namun tidak ada kekangan di dalamnya. Intinya tatapan matanya berbeda, namun tidak bisa Fariz jabarkan terperincinya bagaimana.
“Sudah melamunnya?” Tanya Risna.
“Sudah!”nyengir, memperlihat sekilas dua baris giginya yang rapi.
“Sudah jam enam. Pulang yuk!” Melihat jam di hp nya sendiri yang terletak rapi dan berdampingan dengan hp nya Fariz..
Satu hal yang pasti yang bisa Fariz dapatkan dari perempuan bernama Risna ini, privasinya tidak terganggu yang kebiasaan perempuan-perempuan yang berkencan dengannya, selalu memeriksa hp nya namun ini tidak sama sekali. “Risna,” panggil Fariz.
Risna tidak menjawab, namun pandangan matanya teralih, menatap Fariz.
“Kenapa kamu tidak memegang hp ku?”
Risna menatap bola mata Fariz yang kebingungan itu, tidak jauh berbeda, Risna juga menujukan raut wajah kebingungannya juga namun hanya sekilas “untuk apa?”
“Yaaaa,” bingung Fariz. “Yaudah ayok kita pulang. Kasian orangtuamu, anak setengah gadisnya pulang kemalaman!”
“Bukan itu permasalahannya. Kasian Khaira lama menunggu!” Perjelas Risna.
...###...
Di parkiran tidak seberap luas. Beberapa kendaraan dua terparkir di sana. Salah satunya hondanya Fariz.
Honda metik kecil yang pas bermuatan dua orang tanpa ada penambahan apapun itu. “Ini honda adek abang, abang ambil sebentar. Kalau Honda abang bergigi!” Beritahu Fariz.
Seperti biasanya Risna, tidak semua pertanyaan dijawabnya apalagi hanya sebuah pernyataan.
Kunci yang yang saling berdenting akibat Fariz yang mulai membuka kunci stang hondanya itu. “Naik!” Ucap Fariz pada Risna. “Ini abang antarkan ke mana?”
“Ke kos kawannya Khaira!” Naik ke atas honda.
Pakaian Risna kenakan bagaikan melambai-lambai seiring angin yang bagai berhembus cepat itu. Tidak ada helm sebagai pelindung dan tidak ada masker sebagai penutup identitas bagi Risna yang terbiasa sangat terprivasi.
Fariz duduk mengendarai hondanya pas pada porsinya tempat duduk sedangkan Risna duduk paling belakang, pada besi pembatas sila. Tidak ada yang salah bagi Risna, ini adalah hal lumrah duduk tanpa harus bergempetan.
“Kamu marah ya sama abang?”
“Ha?” Balik tanya Risna agak mencondongkan badan ke depan, dagu Risna hampir sejajar dengan bahu Fariz “apa bang?”
“Kamu marah ya sama abang?” Ulang tanya Fariz.
“Tidak,” jawab Risna singkat sesuai faktanya.
Tidak ada percakapan diantara mereka. Deru angin yang melambai-lambai. Pandangan mata Fariz lurus ke depan. Dari balik kaca spion honda yang dikendarainya, Fariz melihat Risna yang kepala tidak menetap, keasikan berpaling pandangan, ke kanan dan ke kiri, menatap takjub pemandangan tebukti dari bola matanya yang berbinar.
Cuplikan Bab Selanjutnya -->
“Camii!” Ulang Risna.
“Iya cami. Calon suami!” tertawa renyah seorang diri sedangkan Risna hanya menatap Fariz bingung. “Nanti abang panggil kamu, cati. Calon istri!” Tertawa lagi bahkan lebih keras dari sebelumnya.
sehat selalu untuk kakak thor yaang cantik and maniss😘😘😘🤗🤗🤗
masuk banget sama realnyaa
terbaik thor....semangat teruss🥰🥰🥰😘😘😘
update lagi...
thanks thoor🥳🥳🥳🥳🥰🥰🥰
Penasaran nih, kelanjutannya