NovelToon NovelToon
Selingkuh With Bocah

Selingkuh With Bocah

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Selingkuh
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: Marica

Dikhianati oleh suami dan adik sepupunya sendiri membuat dunia Intan Kalista Atmaja hancur. Namun ia tetap mencoba untuk kuat. Sampai dirinya dipertemukan dengan Giovanni Abiyan Prayoga, laki-laki yang umurnya lebih muda delapan tahun darinya.

Pertemuan awal yang tak mengenakan membuat keduanya saling membenci. Namun siapa sangka, Pemuda itu justru membawa delima pada Intan saat kenyamanan mulai tumbuh dalam hatinya.

Akankah mereka bersama atau justru Giovanni hanya dijadikan pelampiasan oleh Intan?

Yuk ikuti ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SWB Chapter 19

Pagi itu terlihat begitu cerah, matahari mulai meninggi di langit. Angin berhembus kencang ketika sebuah motor sport berwarna merah melaju menerobos padatnya jalanan kota. Suara mesinnya mengaum, memecah kebisingan lalu lintas yang tak pernah berhenti.

Di jok belakang Intan duduk dengan satu tangannya menggenggam kuat pinggiran jaket Giovanni. Ia menatap jalanan yang menyilaukan di depan matanya.

Giovanni bukanlah siapa-siapa. Bukan kekasih ataupun saudaranya. Namun tanpa ia sadari, ia mempercayakan dirinya pada pemuda itu.

Angin membuat rambutnya berkibar, menyapu wajahnya yang masih menyimpan rasa ragu. Ia bisa merasakan degup jantungnya berpacu dengan laju motor. Ada sedikit getar di dadanya, bukan karena takut, melainkan karena sensasi yang begitu asing.

Sementara Giovanni tak banyak bicara, hanya sesekali menoleh dan bertanya apakah ia baik-baik saja. Suara Giovanni terdengar dalam dan menenangkan. Intan hanya mengangguk, takut jika suaranya yang keluar akan menunjukkan kegugupannya.

Tidak lama mereka sampai di pusat kota. Giovanni membelokan laju motornya sesuai arahan Intan. Setelahnya laju motor perlahan melambat sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya.

Giovanni menepikan motornya. Napasnya masih sedikit bertahan setelah menembus kemacetan. Ia melepas helmnya, rambutnya sedikit berantakan, tetapi sorot matanya tetap tenang.

Intan perlahan turun dari motor, berusaha menahan dadanya yang masih berdebar. Ia membungkuk, tangannya sedikit gemetar saat merapikan pakaiannya yang sedikit kusut. Detik berikutnya ia kembali menegakkan tubuhnya, merapikan rambutnya dengan menyisirnya dengan jari. Ada jeda sejenak, dimana ia mencoba meraih ketenangan.

"Intan."

Panggilan itu membuat Intan berhenti bergerak. Senyumnya langsung tumbuh, hangat, dalam ketenangan pagi.

Davina berdiri tidak jauh darinya, rambutnya tersapu oleh angin, ekspresinya antara kaget, penasaran, dan tidak percaya. Langkah Davina mendekat, setiap langkahnya membawa gelombang tanya yang semakin tebal.

"Kamu ... bersama Gio?" Kerutan di dahinya membawa bobot dari pertanyaan itu. Tatapannya seolah menelusuri kemungkinan yang tak ia bayangkan sebelumnya.

Intan menoleh ke arah Giovanni sekilas yang tak jauh di belakangnya. Pemuda itu diam, kedua tangannya masih memegang helm. Sorot matanya tetap tenang, tetapi ada kewaspadaan tipis, seperti sedang menunggu apakah kehadirannya akan dipertanyakan lebih jauh.

"Ceritanya panjang. Intinya karena dia aku bisa sampai di sini," jawab Intan pada akhirnya.

Davina menatap lebih dalam lagi, rasa curiga mulai tumbuh. "Maksudnya?"

"Aku ceritakan nanti. Sebaiknya kita selesaikan dulu urusan kita di sini," ucap Intan mencoba mengalihkan pembicaraan.

Intan hendak bergerak, tetapi tangan Davina menahan lengannya. Sentuhan itu membuat langkah Intan berhenti. Ia menoleh ke arah Davina, tatapannya seakan wanita itu tak ingin ditinggalkan oleh kabut pertanyaan. "Ini masih pagi. Pemilik tempat ini juga belum datang. Kita bisa bicarakan dulu."

Intan menghembuskan napas perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya, bukan untuk menutupi, tetapi untuk menenangkan dang sahabat. "Baiklah ... akan aku ceritakan. Tapi sebaiknya kita bicara sambil duduk." Intan menujuk tempat duduk di bawah kanopi tempat itu, sementara Davina mengangguk setuju.

Keduanya lantas berjalan ke tempat yang Intan tunjuk sebelumnya, meninggalkan Giovanni yang nampak tidak peduli dengan pembicaraan dua wanita itu. Ia tetap duduk di motornya, berkutat dengan ponselnya.

Sementara Intan dan Davina sudah duduk di kursi masing-masing, keduanya duduk saling berhadapan, terpisah oleh meja berbentuk bulat.

"Sekarang katakan! Ada apa? Kamu terlihat tegang?" tanya Davina tanpa basa-basi dengan alis mengerut tajam.

Intan menjeda sesaat, ia menelan ludah, kedua telapak tangannya mengepal kuat di atas meja, dan mencoba mengumpulkan keberaniannya untuk bercerita. "Aku hampir saja di rampok."

Mata Davina terbelalak, tubuhnya terlonjak ke depan. "Apa!" serunya nyaris berteriak.

"Stttt, pelankan suaramu!" kata Intan pelan.

"Davina menahan napas lalu kembali bertanya dengan suara yang lebih terkontrol. " Bagaimana bisa?"

Intan kembali menghela napas dan menghembuskannya sebelum menceritakan apa yang terjadi padanya. "Mobilku ada di bengkel. Jadi aku memesan taksi online untuk datang ke sini. Tapi ... waktu di jalan tiba-tiba sopir taksi itu menodongkan pisau, memintaku untuk menyerahkan tasku," ucapnya sambil mengusap lengannya sendiri. "Aku tidak mau dan berhasil keluar dari mobil itu, tapi dia tetap mengejarku. Beruntung Gio datang dan menolongku."

Intan diam sesaat sebelum kembali melanjutkan ceritanya. "Aku juga tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di sana. Tapi aku benar-benar beruntung."

Davina menutup mulutnya dengan satu tangannya, merasa ngeri mendengar cerita Intan. "Ya Tuhan ... tapi kamu baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka?" tanya Davina dengan kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.

"Jangan khawatir, semuanya aman." Intan memaksakan diri untuk tersenyum, meskipun mata dan tubuhnya masih menyiratkan kepanikan yang belum hilang.

Davina menghela napas panjang, seolah dirinya ikut lolos dari bahaya.

"Syukurlah," ucap Davina diikuti helaan napas yang panjang.

Obrolan keduanya lantas berhenti saat sebuah mobil datang ke tempat itu. Rupanya seseorang yang mereka tunggu. Seseorang yang akan menyewakan tempat itu.

Intan dan Davina sama-sama berdiri, bersiap untuk menyambut kedatangan orang itu.

"Selamat pagi, Pak Farhan," sapa Davina seraya mengulurkan tangannya.

"Selamat pagi, Nyonya Davina," balas Farhan lantas membalas uluran tangan Davina.

"Oh iya, Pak Farhan … ini sahabat Saya yang akan menyewa tempat ini," kata Davina.

Intan segera memperkenalkan dirinya. "Saya Intan," ucapnya seraya mengulurkan tangannya ke arah Farhan dan langsung disambut oleh pria itu.

"Saya Farhan," balasnya. "Mari kita masuk!"

Intan dan Davina mengangguk hampir bersamaan lantas masuk mengikuti Farhan.

Pintu kaca dibuka menampilkan sebuah ruangan yang besar, bergaya modern. Melihatnya Intan langsung terpikat dengan tempat itu, apalagi tempat itu sangat strategis. Kini ia benar-benar yakin untuk mengembangkan bisnisnya. Dirinya tidak akan lagi duduk diam sambil meratapi nasib akan rumah tangganya.

"Bagaimana, Intan? Kamu suka tempatnya?" tanya Davina.

Intan mengangguk. "Sangat," jawabnya.

Setelahnya, Intan melakukan beberapa prosedur untuk menyewa tempat itu. Ia menandatangani beberapa berkas dan semuanya selesai.

"Terima kasih, Nyonya," ucap Farhan disambut anggukkan oleh Intan lantas mereka saling berjabat tangan.

Selesai dengan itu Intan dan Davina keluar dari tempat itu. Mereka langsung menemui Giovanni yang masih sibuk dengan ponselnya. Keduanya tidak mengira pemuda itu masih ada di tempat itu.

"Kamu masih di sini?" tanya Intan.

"Hmmm." Giovanni bergumam untuk merespon pertanyaan Intan lantas menyimpan ponsel ke dalam saku jaketnya. "Kalian sudah selesai?"

"Iya," jawab Intan.

"Oke," balas Giovanni singkat.

Hening mengambil alih suasana di antar mereka, hanya sesaat, sebelum Intan kembali membuka percakapan. "Gio ... aku belum berterimakasih karena kamu tadi menolongku."

"Iya, Gio. Aku ikut berterima kasih karena kamu sudah menolong temanku," imbuh Davina.

Giovanni mengangguk dengan senyum tipis tergambar di bibir pemuda itu. "Sama-sama. Kebetulan aku lewat."

Giliran Intan yang mengangguk. Suasana kembali hening, hanya terdengar suara kendaraan yang berlalu lalang di dekat mereka. Ada sedikit kecanggungan di sana dan Giovanni memilih untuk memecahnya.

"Jadi ... apa selamanya kita akan di sini?" tanya Giovanni.

Davina tertawa pelan lantas membalas ucapan Giovanni. "Tentu saja tidak. Ayo, Intan ... aku akan mengantarmu ke restoran."

"Tidak usah!" ucap Giovanni cepat, tangannya reflek menarik telapak Intan.

Alis dua wanita itu terangkat sebelah, menatap heran ke arah pemuda itu. Apalagi Intan, ada rasa yang membuat dada Intan bergetar saat tangan mereka menyatu.

1
sunshine wings
Storynya bagus
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️
ig: Marica_Author
siap kak 🥰
Arinawati Rina
lanjut dong kak lgi seru nich
ig: Marica_Author
insyaAllah ya kak. tak tamatin yang satu dulu🙏
Yuli Yulianti
up nya sering sering dong thor
Yuli Yulianti
sudah waktu nya kamu jujur intan biar mm mu tau kebejatan Ilham ..
Happy Kids
terlalu jaga perasaan jd nya dibalik kan sama suamimuu wkwkwkw harusnya nindi ttp dikasi tau
sunshine wings
Bukan menggalakkan perselingkuhan tapi kalo keadaan sudah begini.. Hubungan suami isteri gak boleh diselamatkan lagi lebih baik berpisah.. Berpoligami benar tapi kalo gak adil sama juga boongnya..
sunshine wings
Yes.. Kebenaran itu adalah hakiki.. 🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Mangkanya Intan.. Terus terang pada ibumu.. Menjelaskan secara perlahan² jadi gak kaget..
sunshine wings
benar apa kata Gio, Intan..
sunshine wings
Kenapa ndak jelaskan pada mamamu duduk perkara yg sebenarnya Intan supaya mama lebih mengerti.. Terus terang jangan sembunyikan.. Jadi ada solusinya..
sunshine wings
Satu aja caranya Intan.. Rumah itu dijual..
sunshine wings
Suami dayus..
sunshine wings
Siapa yg mau sisa biarpun dibolehkan poligami itu.. Jijik rasanya.. 🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️🤷🏻‍♀️
sunshine wings
Ya terserahlaa mas.. tp ikut jalan masing²..
sunshine wings
Wow.. Gio udah menunjukkan rasa.. 😍😍😍😍😍
sunshine wings
🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
🤭🤭🤭🤭🤭🥰🥰🥰🥰🥰
sunshine wings
Hati Gio udah tersangkut..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!