Pernahkan kalian melihat angsa? Berenang dan menari dengan anggunnya di tengah sungai.
Tapi tahukah kalian? Di balik ketenangan tubuhnya di atas permukaan, Angsa berjuang mengayuhkan kakinya di dalam air agar dapat terlihat anggun di permukaan.
Begitulah hidup Gisella,
Tak ada yang tahu perjuangan hidupnya selama ini,
Pribadi yang selalu tersenyum riang di depan orang-orang, ternyata memiliki masa lalu yang kelam.
Bergumul dengan masa kecilnya yang selalu di rundung oleh teman-temannya, dan trauma masa kecilnya,
"Dasar anak pembawa sial!"
Ibunya sendiri mengatainya sebagai anak pembawa sial dan mengusirnya dari rumah.
Sang sopir membawa Gisella pergi dari rumah dan membuangnya di tempat antah berantah.
"Nak, kenapa menangis di sini?" tanya seorang wanita paruh baya yang melihat Gisella duduk menangis di pinggiran kebun.
Gisella kecil hanya menatapnya, lalu kembali meringkuk menangis pilu.
"Nak, ikut Emak mau?" tanya suara lembut itu lagi, mengulurkan tangannya kepada Gisella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Hasil tak akan mengkhianati usaha.
^^^-anonim^^^
...----------------...
Tak terasa Ella sudah mulai masuk sekolah. Ella kebagian di kelas 10B. Teman sebangkunya bernama Farah juga baik terhadapnya.
Ella jarang bicara di kelas, saat istirahat juga jarang ke kantin. Ella lebih suka membaca buku di bawah pohon dekat lapangan, atau pergi ke perpustakaan sekolah.
"La.. Kamu dipanggil Bu Yuli disuruh ke ruang guru," ucap Hera, teman sekelasnya.
"Oh.. Makasih ya Ra," jawab Ella segera berlari ke ruang guru.
###
"Permisi," Ella masuk ke dalam ruang guru yang pintunya terbuka
"Iya," terdengar jawaban dari dalam ruangan.
"Siang Pak, saya mau ketemu Bu Yuli," jawab Ella sopan.
"Ya silakan."
Ella segera mendekati meja Bu Yuli yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Siang Bu, Ibu memanggil saya?" tanya Ella pelan.
"Iya.. Duduklah. Sebentar ya, Ibu selesaikan ini dulu."
Ella duduk diam di depan bu Yuli tanpa suara.
"Ayo, ikut Ibu ke ruang kepala sekolah," ajak bu Yuli yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Ella mengikuti langkah Bu Yuli menuju ruang kepala sekolah.
Tok.. Tok.. Tok..
"Masuk," terdengar suara berat dari dalam ruangan.
"Selamat siang, Pak" ucap Bu Yuli begitu pintu dibuka.
"Siang, masuklah," ucap Pak Hardi kepala sekolah Ella.
"Silahkan duduk."
"Ini Ella, Pak. Murid yang mendapat beasiswa dari sekolah kita," ucap Bu Yuli membuka pembicaraan.
"Oh.. Benar namamu Ella?"
"Benar Pak."
"Ella, 3 bulan lagi akan ada lomba cerdas cermat tingkat SMA, Bapak ingin kamu ikut dalam lomba tersebut, tapi kamu akan ikut tes terlebih dahulu. Hasilnyya akan berpengaruh terhadap beasiswa yang kamu dapat," ucap pak Hardi menatap Ella.
"Maksudnya Pak? Ella kurang paham," tanya Ella.
"Kalau kamu bisa lolos tes sebagai peserta lomba, maka akan dipastikan kamu akan mendapatkan beasiswa penuh sampai kelas 12 nanti. Uang buku, uang seragam, uang aktivitas pendidikan lainnya akan di tanggung pihak kami. Tapi bila kamu gagal masuk, beasiswa yang kamu terima saat kelas 11 nanti hanya pembebasan uang sekolah saja. Mengerti?"
"Mengerti Pak."
"Jadi bagaimana, apa kamu mau coba ikut daftar jadi peserta lomba cerdas cermat ini?"
"Sanggup Pak. Tapi maaf, apa boleh Ella pinjam beberapa buku pengetahuan umum lainnya?"
"Kamu boleh pinjam ke Bapak, kamu bisa memilih sendiri buku-buku di rak sana," tunjuk Pak Hardi ke arah rak buku yang terpanjang di ruangannya.
"Terimakasih Pak, ujian pendaftarannya kapan, ya?" tanya Ella.
"Tiga hari lagi. Nanti kalau kamu lulus, setiap pulang sekolah kalian akan mendapat pelajaran tambahan selama satu setengah jam dari guru pembimbing lomba," ucap pak Hardi menatap Ella dengan seksama.
"Baik Pak."
"Kalau begitu kamu boleh kembali ke kelasmu."
"Boleh saya pinjam buku dari sekarang Pak?" tanya Ella hati-hati.
"Silakan, kamu boleh ambil buku yang mau kamu," ucap Pak Hardi tersenyum.
Ella mendekati rak buku milik Pak Hardi dan menelusuri buku-buku di dalam rak tersebut. Ella mengambil dua buah buku dari rak tersebut.
"Terima kasih Pak,Bu. Ella permisi ke kelas dulu," pamit Ella keluar ruangan.
Ella segera berlari kembali ke kelas karena bel masuk telah berbunyi. Sampai di kelas, Ella menghempaskan tubuhnya di kursi sambil menghela nafas lega. Gurunya belum datang.
"La, kamu dipanggil Bu Yuli kenapa?" tanya Farah begitu Ella sudah duduk disisinya.
"Nggak papa Far, cuma disuruh ikut lomba cerdas cermat," jawab Ella.
"Wah.. Tesnya sulit loh. Aku dengar-dengar, yang sudah keterima itu Kak Arka, juaranya sekolah. Dia kelas 12C," ucap Farah.
"Oh.. Kok kamu tahu sulit Far?" tanya Ella penasaran.
"Kemarin dari kelas 12 ada 75 siswa yang daftar. Yang lulus cuma Kak Arka. Lusa kelas 11, yang ikut tes 80 orang kalau nggak salah. Terus kelas 10 yang daftar 75 orang," ucap Farah tersenyum.
"Hebat, kamu bisa tahu semua info Far," puji Ella.
"Ye.. Aku kan lagi daftar jadi pengurus Osis. Jadi harus tahu donh berita-berita di sekolah," ucap Farah tersenyum.
"Oh.. " jawab Ella singkat.
Guru sudah masuk ke dalam kelas. Ella dan Farah juga berhenti berbicara, mereka fokus mengikuti pelajaran matematika yang diberikan Pak Albert, sang guru killer.
###
Saat pulang sekolah, Ella berjalan kaki menuju kosnya dengan cepat seperti biasanya.
Sesampainya di kos, Ella segera mengganti seragam dengan pakaian rumah, dan mulai membaca buku yang dipinjamnya tadi.
Kring. Kriing…
Jam beker Ima berbunyi. Suaranya terdengar hingga kamar Ella.
"Kamar kos ini dindingnya tipis sekali ya.. Tapi lumayan deh, nggak perlu beli jam beker, nebeng jam bekernya Ima aja.. Hihi," gumam Ella sambil menyiapkan peralatan mandi.
Selesai mandi, Ella melewati kamar Ima, dilihatnya Ima baru keluar kamar.
"Sudah mandi La?" sapa Ima.
"Iya, laper aku Im," ucap Ella tertawa kecil.
"Kok bisa? Kamu nggak makan siang ya?" tegur Ima.
"Hehe.. Iya lupa tadi," jawab Ella tertawa.
"Aku ke warung Mpok Ati duluan ya Im, kamu nyusul ya," ucap Ella.
Ella menikmati makanan nya sambil membaca buku.
"Loh.. Ima ke mana, La?" tanya Mpok Ati. Tumben Ella sendirian.
"Nanti nyusul Mpok, Ella keburu laper. Tadi pulang sekolah lupa mampir kemari," jawab Ella nyengir.
"La..kamu jadi cari kontrakan?" tanya Mpok Ati.
"Jadi Mpok, emang ada?" tanya Ella dengan semangat.
"Tapi bulan depan baru kosong La. Itu kontrakan Pak Haji Marbun, tuh gang depan poskamling persis," tunjuk Mpok Ati.
"Sebulannya berapa, Mpok?" tanya Ella.
"500 ribu per bulannya, La. Ada ruang tamu, kamar tidur, dapur, kamar mandi dalam. Enak La, di sana pakai keramik. Pak Haji nya juga baik," ucap Mpok Ati mempromosikan kontrakan Pak Haji Marbun.
"Makasih ya Mpok, nanti Ella kesana sama Ima."
Ima yang baru datang, segera memesan nasi soto.
"Ima, kata Mpok Ati di sana ada kontrakan, bulan depan kosong. Kita ke sana yuk," ajak Ella.
"Boleh, abis Ima makan ya."
Setelah bertanya-tanya, akhirnya Ella dan Ima menemukan rumah Pak Haji Marbun. Mereka memasuki halaman sebuah rumah yang cukup besar.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Keluar seorang pria paruh baya membukakan pintu.
"Cari siapa Neng?"
"Maaf Pak Haji, kata Mpok Ati ada kontrakan kosong bulan depan ya?" tanya Ima.
"Oh.. Iye! Tuh rumah yang depan," tunjuk Pak Haji ke rumah di seberang rumahnya.
Ella dan Ima melihat ke arah depan, ada beberapa rumah kecil berjejer di sana.
"Berapa sebulan, Pak?" tanya Ella.
"500 ribu, tapi listrik bayar sendiri. Air nyala pukul 4.00-9.00, 12.00-14.00, dan 16.00-20.00, Neng," jawab Pak Haji.
"Ya sudah, kami mau Pak Haji, dibayar dulu atau gimana, Pak?" tanya Ella.
"Besok aje tanggal 10 bayarnya. an tanggal 15 baru kosong," jawab Pak Haji tersenyum.
"Tapi jangan dikasih ke orang lain ya, Pak?" pinta Ella.
"Kagak. Nanti bapak kabarin si Ati."
"Makasih Pak, kami permisi ya!" ucap mereka senang.
Ella dan Ima senang sekali, akhirnya bisa mendapat kontrakan. Bulan depan mereka bisa pindah.
"La, kan sayang uang kosmu masih sisa 10 hari loh bulan depan." ucap Ima menghitung-hitung.
"Nggak papa Im, Ella nggak betah di sana soalnya."
"Hehe.. Sama, aku juga La."
###
Ella bekerja dengan gembira di Cafe Balones, apalagi Kak Ferry sering mengajarinya membuat bermacam macam kue. Setiap bekerja, menurut Ella waktu terlalu cepat berlalu. Seperti itu dilaluinya setiap hari.
###
Ella berangkat lebih pagi hari ini. Setelah sarapan di warung Mpok Ati, Ella langsung ke sekolah.
Di dalam kelas, Ella kembali membaca buku hingga bel masuk berbunyi.
"La.. Kamu siang ini tesnya yaa?" tanya Farah yang sudah duduk di kursinya.
"Iya Far. Aku deg-degan nih," jawab Ella.
"Kemarin yang lulus dari kelas 11 itu si Denis, cowok terpopuler di sekolah ini. Udah ganteng, pinter lagi. Hebat ya," ucap Farah tersenyum.
"Oh.. Ujiannya berat ya Far.. Yang lulus cuma satu satu," ucap Ella sambil berpikir.
Sepulang sekolah, Ella menuju keruangan ujian uang diberitahukan oleh Pak Hardi. Di sana sudab ada beberapa siswa yang mengantri.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Ella kesalah satu siswa yang duduk di bawah pohon.
"Giliran masuknya nanti dipanggil. Dibagi 2 kelas."
Dari kelas Ella, yang hadir cuma dirinya dan Bayu, ketua kelasnya. Ella ingin bergabung dengan Bayu, tapi Ella melihat Bayu sedang asyik bicara dengan teman yang lain, akhirnya Ella memilih duduk sendirian di dekat jendela.
Ella terkejut ketika namanya dipanggil. Dia segera berlari masuk ke dalam kelas.
Sesampainya di dalam, Ella berhenti sebentar untuk menenangkan diri, kemudian duduk.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan oleh para guru pembimbing, para murid diharuskan berlomba memencet bel dan menjawab dengan tepat. Seperti lomba cerdas cermat betulan.
Ella berhasil melewati babak pertama. Ella bersyukur, dan kembali deg-degan menunggu babak-babak berikutnya.
Hari sudah menjelang sore, siswa yang gugur sudah beranjak pulang, akhirnya tinggal 3 peserta termasuk Ella. Hati Ella semakin berdebar dan terus berdoa.
Setelah melewati babak terakhir, Ella dinyatakan lolos sebagai peserta cerdas cermat mewakili sekolahnya.
"Tak sia-sia aku belajar setiap hari. Semoga aku bisa memenangkan lomba ini..." ucap Ella dalam hati
Setelah mendapat ucapan selamat dari para guru dan kepala sekolah yang hadir disitu, Ella segera berlari pulang, karena jam kerja sudah memanggilnya.
Sampai di kos, Ella langsung mandi kemudian berlari menuju cafe tempatnya bekerja.
###
"Sore Pak Dimas," sapa Ella saat bertemu Dimas di pintu masuk cafe.
Dimas melirik jam di tangannya 17.15 wib.
"Tumben kamu telat, La?" ucapnya.
"Maaf Pak, hari ini ada tes cerdas cermat. jadi Ella telat. Tapi kemarin Ella sudah minta izin dengan Kak Firman," jawab Ella yang sudah bisa mengatur nafasnya.
"Oh.. " jawab Dimas masuk ke dalam cafe diikuti Ella.
"La, gimana? Lulus?" tanya Ima begitu melihat Ella masuk ruang ganti.
"Aku lulus Ima!!" ucap Ella berjingkrakan senang.
"Hore.. Hebat kamu La!" puji Ima sambil memeluk Ella.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Udah teman teman mengejek Eh kakaknya juga ikutan ...
Tapi YG membuat Tambah sedih mama nya kok cuek Amat...