Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Melisa masih mematung di depan Apartemen Prof Alnero. Ia berencana untuk tidak masuk Kuliah tapi lagi-lagi Alnero menggagalkan rencana Melisa. "Sial!!" umpat Melisa.
Alnero berbalik menatap Melisa yang ekspresi wajahnya seperti orang yang makan sambal. Merah, ya merah karena menahan marah.
"Jika kamu keberatan untuk membantuku maka kembalikan kuncinya dan pulanglah!" ujar Prof Alnero dengan datar. Ia tahu Melisa sedang marah padanya tapi untuk meminta maaf yang kedua kalinya, Prof Alnero enggan untuk meminta maaf.
"Kembalikan kuncinya!!" bentak Prof Alnero.
Melisa yang mendengar suara keras itu kembali takut dan gemetar.
"Kenapa kamu masih berdiri disitu!!" Alnero semakin emosi. Dengan pincang Alnero menghampiri Melisa, ia melihat tangan Melisa gemetar.
"Ahhkkkk..." Alnero kembali menendang mobilnya. Melihat Melisa gemetar membuatnya merasa bersalah. "Maafkan aku" ujar Alnero.
Tangis Melisa pecah. "Maafkan aku, Prof. A--a- aku tidak ingin ke Kampus, itu sebabnya aku tidak mau menjemput Prof kesini," ujar Melisa disela sela tangisnya.
"Ikut aku ke dalam!" titah Prof Alnero lalu menarik tangan Melisa.
Melisa hanya bisa memandangi tangan Profesornya yang menggenggam tangannya dengan kuat. Alnero menekan tombol lift, lift terbuka lebar. Alnero masuk ke dalam lift begitupun dengan Melisa. Angka 15, itulah lantai Apartemen tempat Alnero tinggal. Di dalam lift, Alnero tak bergeming sedangkan Melisa masih terisak.
"Diamlah," ujar Alnero sedikit memelankan nada suaranya tanpa menatap Melisa.
Lift terbuka, Alnero berjalan keluar begitupun dengan Melisa. "Tekan tombol itu!" perintah Alnero.
"Sa... sandinya?" tanya Melisa terbata-bata.
"29071988,"
Melisa menekan anggka yang disebut oleh Alnero, pintu Apartemen pun terbuka. "Masuk," titah Alnero.
"A... aku," ucapan Melisa terpotong.
"Tolong, Melisa. Jangan buat aku marah lagi," Alnero mencoba untuk bersikap baik pada Melisa. Melisa melangkah masuk mengekor dibelakang Prof Alnero.
Sesampainya di dalam, Alnero berhenti melangkah. Ia menatap Melisa sejenak. "Maafkan aku, Melisa. Aku kembali membuatmu menangis," batin Alnero.
"Sekarang kamu duduk, aku mau obati lukaku dulu" ujar Alnero kemudian berjalan menuju lemari yang tidak jauh dari sofa. Namun, langkahnya terhenti saat Melisa membuka suara.
"Biar aku yang mengambilnya. Prof meletakannya di mana?" tanya Melisa.
"Di dalam lemari yang sana," ujar Alnero sambil menunjuk lemari tempat ia menyimpan P3K.
Melisa berjalan menuju lemari yang ditunjuk oleh Prof Alnero. Ia membuka lemari kemudian mengambil P3K lalu membawanya ke sofa.
"Biarkan aku yang mengobatinya," kata Melisa lagi. Alnero tak menolak, ia membiarkan Melisa mengobati lukanya yang sedikit memar.
"Auww..." pekik Alnero saat tangan Melisa mengoleskan obat dibagian yang memar.
Melisa menahan tawa saat mendengar jeritan sang Profesor yang membuatnya terlihat lucu. "Selesai," ujar Melisa sambil menatap Prof Alnero. Pandangan keduanya beradu. Posisinya mereka, Alnero berada di atas sofa sedangkan Melisa duduk dilantai.
"M--maaf." Melisa terlihat salah tingkah.
"Malam ini kamu tidur di sini. Aku tidak bisa memasak dengan kondisi kaki seperti ini, jadi kamulah yang harus memasak untukku," jelas Prof Alnero.
"Apa Prof tidak punya pembantu?" Melisa memberanikan diri untuk bertanya.
"Tidak ada," balas Nasir dengan santai.
"Tidak punya pembantu tapi Apartemen ini sangat luas dan sangat rapih," gumam Melisa dengan pelan. Alnero tersenyum mendengarnya tapi dengan secepat kilat raut wajahnya kembali datar.
"Ikut denganku, akan aku tunjukan kamarmu" kata Alnero.
"Prof, apa tidak apa-apa aku tidur di sini? Bagaimana jika orang tua atau kekasih Prof datang," tanya Melisa sembari memainkan jari jemarinya.
"Aku tidak punya Ibu dan tidak punya kekasih," balas Alnero, kemudian berjalan menuju kamar yang akan ditempati oleh Melisa.
-------------
Penthouse At The Pierre.
"Ini tempat tinggal siapa?" tanya Elina saat berada di Apartemen Penthouse At The Pierre.
"Apartemen ini milikmu, aku sengaja membelinya untuk kamu. Anggap saja ini hadiah pernikahan kita," ujar Jonathan. Jonathan menuntun Elina masuk ke dalam Apartemen mewah yang harganya sangat mahal.
"Natan, aku tidak butuh hadiah. Kamu berhak atas diriku, kamu sudah membeliku" kata Elina menatap suaminya.
"Terimakasih karena kamu mau menikah denganku," ujar Jonathan.
"Aku yang harusnya berterima kasih. Kamu membeliku tapi kamu juga menikahiku secara baik-baik. Terimakasih karena sudah menghargaiku sebagai seorang wanita." Elina menatap sayu suaminya. Ada bulir air mata kebahagiaan yang siap untuk menetes.
"Elina, maafkan aku karena tidak memperkenalkan kamu pada keluargaku, aku tidak ingin kamu disakiti oleh mereka," ujar Jonathan sambil memegang tangan Elina.
"Lalu sampai kapan pernikahan ini akan berlanjut? Apakah kamu akan menikah dengan wanita pilihan ibumu?" tanya Elina.
"Aku tidak tahu, Elina. Soal itu akan aku bahas nanti dengan mereka" balas Jonathan.
"Natan, antar aku ke kamar" pintah Elina. Jonathan mengantar Elina ke kamar, membaringkannya di atas tempat tidur, ia pun ikut berbaring disamping istrinya.
"Kenapa kamu tidak mematikan lampunya?" tanya Elina.
"Aku bisa tidur dengan lampu menyala, Elina" jawabnya dengan mata tertutup. Elina mematikan lampu kemudian menyalakan lampu tidur di atas nakas. Ia menatap Jonathan dari jarak dekat, wajah Jonathan terlihat samar-samar.
"Apakah Jonathan akan meninggalkanku nanti? Tuhan, jangan biarkan rasa nyaman ini semakin tumbuh dalam diriku. Aku takut terluka," batin Elina.
"Natan, izinkan aku tidur berbantalkan lenganmu!" pintah Elina.
"Tidurlah," Jonathan merentangkan sebelah tangannya dan sebelahnya lagi memeluk istrinya.
"Aku tidak ingin kehilanganmu, Elina. Apapun yang terjadi nanti, kamulah istriku satu-satunya yang aku cintai. Aku akan berusaha untuk membuatmu menyukaiku," batin Jonathan. Ia menatap wajah Elina yang telah tertidur pulas.
"Apapun akan aku lakukan agar kamu bisa bahagia, apapun itu." Jonathan menutup matanya dan ikut terlelap. Terdengar hembusan napas dari keduanya. Tangan Jonathan masih dengan posisi awal, memeluk tubuh sanga istri.
Pagi pun mulai menyapa dengan sinarnya, menembus dinding kaca Penthouse At The Pierre. Elina mengerjap membuka matanya pelan-pelan. Ia melirik ke sampingnya, tidak ada Jonathan disana. Elina beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar mencari Jonathan.
"Kamu sudah bangun" Jonathan menatap Elina dengan senyum.
"Apa yang kamu lakukan di dapur?" tanya Elina mengerutkan keningnya.
"Masak bubur untuk kamu, kata Dokter kamu harus banyak makan dan itu harus makan bubur, daging serta buah," jelas Jonathan.
"Aku tahu, tapi aku bisa masak sendiri" balas Elina.
Jonathan menghampiri istrinya. "Elina, kamu tanggung jawabku sekarang. Mending kamu duduk saja."
"Apa aku boleh membantumu?" tanya Elina.
"Tidak boleh!" balas Jonathan dengan datar.
"Kembali lagi sifat aslinya!!" ketus Elina.
"Hahahahaha" tawa Jonathan. "Aku ingin kamu cepat sembuh agar kita bisa honeymoon," ujar Jonathan sambil mengedipkan sebelah matanya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...