Menceritakan tentang kehidupan seorang gadis yatim piatu yang mengalami masa-masa sulit dalam kehidupannya.
Semua bermula sejak kematian kakeknya yang tewas terbunuh saat dia masih kecil, hingga dirinya yang dijual dan dijadikan sebagai gadis penghibur di sebuah rumah bordil ternama yang mengubahnya menjadi salah seorang wanita penghibur yang menjadi favorit para bangsawan dan pejabat istana.
Hingga suatu saat, dia harus memutuskan untuk masuk ke lingkungan istana karena kematian kekasihnya yang ternyata dalang dari seseorang yang tinggal di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon embun_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19
Malam itu, langit terlihat sangat cerah. Sinar cahaya bulan bersinar sangat terang dan bintang-bintang yang tidak mau kalah, ikut memancarkan cahayanya hingga menciptakan suatu pemandangan yang sangat indah.
Melihat pemandangan seindah itu membuat Mei Yin masih betah duduk berlama-lama di depan bangunan itu dan memandangi langit yang terlihat sangat indah.
Mei Yin masih terpaku menatap langit dan perlahan air matanya mulai jatuh. Walau sedih, tapi pandangannya tidak berpaling, karena dia tidak ingin kehilangan momen yang sama saat dia melihat langit malam bersama Lian di saat-saat terakhir pemuda itu.
Mei Yin masih memandangi langit hingga tanpa dia sadari, Liang Yi sudah berdiri di belakangnya dan memandang ke arah yang sama dengannya hingga pemuda itu ikut terpesona dengan keindahan langit di malam itu.
"Kenapa masih duduk di sini? Masuklah, di sini sangat dingin," ucap Liang Yi yang membuatnya terkejut. Mei Yin segera menghapus air matanya walau sebenarnya Liang Yi tahu kalau dia sedang menangis.
Walau Liang Yi tahu, tapi dia tidak ingin bertanya dan lebih memilih untuk duduk menemani gadis itu sambil memandangi langit.
Mereka hanya diam. Mereka tidak bersuara. Yang terdengar hanya tarikan nafas mereka di kesunyian malam.
"Kenapa kalian masih duduk di sini dan tidak menemaniku di dalam?" Tiba-tiba saja mereka dikejutkan dengan kehadiran Pangeran Zhao Li yang datang dan duduk di dekat Mei Yin.
"Kalian lihat apa?" tanya Pangeran Zhao Li yang ikut memandangi langit.
"Wah, aku tidak menyangka kalau di sini pemandangan langitnya akan seindah ini," ucapnya kagum.
Ketiga sahabat itu kemudian memandangi langit yang bertabur cahaya bintang. Mereka seakan terpesona dengan keindahan langit di malam itu.
"Lihatlah cahaya bintang itu, walaupun cahaya bulan sangat terang, tapi bintang-bintang itu tetap terlihat cantik," ucap Liang Yi sambil menunjuk ke arah bintang-bintang itu.
"Huanran, jadilah seperti bintang-bintang itu yang tetap bersinar walau di sampingnya ada cahaya bulan, tapi bintang-bintang itu tetap menunjukan sinarnya yang membuat mereka terlihat sangat cantik," lanjut Liang Yi yang membuat Mei Yin memandanginya dengan air mata yang perlahan jatuh di sudut matanya. Kata-kata itu, kata-kata yang sama seperti yang diucapkan Lian padanya.
"Liang Yi, kamu sudah membuat adik kamu ini menangis," ucap Pangeran Zhao Li ketika meihat air mata Mei Yin yang jatuh di sudut matanya.
"Menangislah, menangislah kalau kamu ingin menangis," ucap Liang Yi sambil merangkul bahu gadis itu.
Mei Yin hanya bisa menangis. Pangeran Zhao Li yang awalnya terlihat tegar, akhirnya tak kuasa menahan tangis. Dia teringat lagi kenangan tentang ibunya. Sedangkan Mei Yin, menangis karena teringat akan kenangannya bersama Lian.
*****
Pagi itu cuaca sangat cerah. Matahari pagi mulai menampakkan kehangatannya. Di dalam ruangan yang di sediakan khusus untuknya, Mei Yin tengah bersiap-siap dan mengenakan pakaian yang diberikan Pangeran Zhao Li untuknya.
Malam itu, Mei Yin bisa meluapkan perasaanya akan kerinduannya pada Lian dan kehadiran kedua sahabatnya itu sudah membuatnya bisa tersenyum lagi. Dan dia ingin menjadi seperti bintang yang tetap bersinar di antara cahaya bulan.
Gadis itu kemudian keluar dari kamarnya. Dia terlihat sangat cantik dengan balutan gaun berwarna biru laut yang diberikan Pangeran Zhao Li untuknya. Sorot matanya yang sebiru lautan terlihat tenang. Bulu matanya yang lentik dan bibirnya yang merah membuatnya tampak mempesona.
Pangeran Zhao Li dan Liang Yi sedang duduk di depan bangunan itu sambil menikmati kehangatan matahari pagi. Melihat mereka, Mei Yin kemudian datang mendekat dan ikut duduk bersama mereka.
Kedua sahabat itu memandang heran ke arahnya. Namun, dia tidak peduli dengan tatapan mereka.
"Liang Yi, apa aku tidak salah lihat?" tanya Pangeran Zhao Li yang terlihat heran.
"Apa gadis ini adalah adikmu, Huanran?" lanjutnya.
Liang Yi tidak menjawab, hanya sebuah senyum yang terlihat di sudut bibirnya sambil memandangi Mei Yin yang terlihat sangat berbeda.
"Kenapa kalian memandangiku seperti itu?" tanya Mei Yin heran.
"Huanran, kalau penampilanmu seperti ini, aku bisa saja menjadikanmu sebagai selirku," ucap Pangeran Zhao Li yang terlihat bercanda.
"Apa kamu pikir aku akan mengizinkamu menjadikan adikku ini sebagai selirmu?" tanya Liang Yi yang juga bercanda.
"Sudahlah, aku juga tidak akan mau menjadi selir dari Pangeran cengeng macam kamu," ucap Mei Yin yang ikut bercanda bersama mereka.
Ketiga sahabat itu kemudian tertawa bersama-sama. Bersama mereka, Mei Yin bisa melupakan kesedihannya. Dia terkenang kembali akan persahabatannya dengan mereka beberapa tahun yang lalu.
"Huanran, aku ingin bertanya sekali lagi padamu. Apa kamu mau tinggal di istana dan menjadi pelayan pribadiku?" tanya Pangeran Zhao Li ketika mereka sudah kembali dan duduk di depan sebuah kolam.
"Aku minta maaf, bukannya aku tidak ingin, tapi aku tidak bisa meninggalkan ayah dan ibu angkatku. Mereka adalah orang yang paling aku sayangi dan aku masih ingin berbakti pada mereka," ucap Mei Yin sungguh-sungguh.
Liang Yi menatap adik angkatnya itu. Dia tidak menyangka kalau gadis itu sangat menyayangi orang tuanya.
"Kamu tahu, ketika melihatmu aku seperti melihat seseorang yang pernah aku kenal dulu," ucap Pangeran Zhao Li.
Mei Yin menatap wajah pemuda itu. Dia seakan khawatir kalau-kalau saja Pangeran sudah mengenalinya.
"Ah sudahlah, untuk apa aku harus menceritakan tentang gadis itu padamu."
"Ceritakanlah, aku akan mendengar."
Pangeran Zhao Li kemudian menceritakan tentang Mei Yin. Dari awal pertemuan, menjalin persahabatan, dan benih-benih cinta yang sudah dia rasakan, tapi semua itu hancur karena gadis itu ternyata mencintai orang lain dan betapa dia kecewa karena dia harus merelakan gadis itu pergi.
Mei Yin mendengar cerita Pangeran Zhao Li dengan hati yang berdebar. Dia baru tahu kalau selama ini Pangeran Zhao Li ternyata mencintainya walau wajahnya tidak pernah dilihat oleh Pangeran Zhao Li.
"Apa kamu benar-benar mencintainya walau kamu tidak pernah melihat wajahnya?" tanya Mei Yin penasaran.
"Aku mencintainya, karena dia sudah membuatku merasa nyaman. Bersamanya, aku bisa melupakan kesedihan karena hanya dia yang bisa membuat hatiku bergetar," ucap Pangeran Zhao Li dengan sebuah senyum di sudut bibirnya.
"Lalu, di mana gadis itu?"
Pangeran Zhao Li terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, karena dia sendiri tidak tahu keberadaan gadis itu. Walau dia sudah memerintahkan orang untuk mencarinya, tapi keberadaan gadis itu belum dia ketahui hingga sekarang.
"Mungkin di suatu tempat dan mungkin saja dia sudah bahagia bersama orang yang dia cintai," jawab Pangeran Zhao Li datar.
Mei Yin terdiam. Andai dia mampu, dia ingin mengatakan kepada sahabat-sahabatnya itu kalau dia adalah Mei Yin, yang kini ada di depan mereka dan dia tidak sedang bahagia karena kebahagiaannya telah direnggut di depan matanya.
*****
"Dasar, gadis sialan!!" teriak Nona Liu yang terlihat marah dan menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja riasnya.
"Kamu kenapa? Apa ada yang sudah membuatmu kesal?" tanya ayahnya tiba-tiba dan segera masuk ke kamarnya.
"Aku tidak suka dengan gadis itu. Aku sudah berusaha untuk menarik perhatian Pangeran dan sudah susah payah belajar menari, tapi karena gadis itu, Pangeran tidak memperhatikanku," jelasnya dengan kesal.
"Gadis yang mana? Bukankah, sudah tidak ada lagi gadis yang yang akan menjadi sainganmu?"
"Ayah, kapan Pangeran Zhao Li akan menjadi Raja? Aku sudah tidak sabar untuk menguasai istana," rengeknya yang membuat ayahnya itu tersenyum sinis.
"Bersabarlah putriku, Ayah tetap akan menjadikanmu permaisuri di negeri ini dan keluarga kita perlahan-lahan akan menguasai tempat-tempat yang penting di negeri ini," ucapnya percaya diri.
Keluarga Nona Liu cukup berpengaruh di negeri itu. Hampir semua tempat usaha di negeri itu adalah milik keluarganya dan mereka ingin memperluas usaha mereka dengan cara menguasai orang dalam istana, yaitu dengan menikahi pangeran. Mereka berpikir, kalau Pangeran yang terlihat tidak terlalu peduli dengan situasi negeri akan mudah dijadikan sebagai boneka untuk kepentingan mereka.
"Putriku, Ayah tetap akan membuatmu menikah dengan Pangeran Zhao Li, karena itu jangan biarkan wanita manapun mendekati Pangeran karena posisimu bisa saja terancam," ucap Perdana Menteri yang terlihat egois itu.
"Aku tidak akan membiarkan semua pengorbananku selama ini menjadi sia-sia hanya karena gadis bodoh itu," ucap Nona Liu yang membuat ayahnya tersenyum bangga.
Rupanya, kejadian waktu itu sudah membuat Nona Liu marah. Dia tidak menyangka, kalau seorang gadis yang awalnya tidak dia perhitungkan olehnya mulai menarik perhatian Pangeran Zhao Li.
*****
"Ayah, apa Ayah sudah menemukan informasi tentang orang yang Pangeran cari itu?" tanya Liang Yi pada ayahnya.
"Ayah belum menemukan keberadaan orang itu. Ayah sudah mencari ke seluruh negeri, tapi tidak ada hasil," jelas Jenderal Chang Yi.
"Apa mungkin mereka telah pergi ke negeri seberang?" tanya Jenderal Chang Yi yang membuat Liang Yi ikut berpikir.
"Tidak mungkin Ayah, tidak mungkin dia meninggalkan negeri ini."
Ayah dan anak itu masih berpikir keras. Mereka berharap bisa menemukan gadis itu, gadis yang ternyata telah tinggal bersama mereka tanpa mereka sadari.
*****
Di suatu tempat yang tersembunyi, Pangeran Zhao Li terlihat tengah berlatih. Di tangannya, ada sebuah busur dan anak panah yang akan dia arahkan ke sebuah kayu yang berada seratus meter dari tempatnya berdiri.
Setelah merasa sasarannya telah tepat, Pangeran Zhao Li kemudian melepaskan anak panah yang mulai melesat tepat ke sasaran.
Tak hanya sekali, ternyata anak panah itu sudah tertancap berkali-kali di kayu itu. Karena belum puas, Pangeran Zhao Li kemudian mengambil sebilah pedang dan mulai mengayunkannya. Dengan lincah, Pangeran Zhao Li kemudian latih tanding dengan sahabatnya, Liang Yi.
Pangeran Zhao Li ternyata sangat mahir bertarung, entah dengan tangan kosong atau menggunakan senjata, tapi semua itu dilakukannya secara diam-diam. Dia tidak ingin menonjolkan kemampuannya, karena dia tahu ada banyak yang ingin menjatuhkannya.
"Kemampuanmu sudah semakin meningkat, aku rasa sudah saatnya bagimu untuk menjadi raja," ucap Liang Yi setelah mereka selesai latihan.
"Entahlah, aku sangat ingin menjadi raja, tapi aku tidak ingin menjadikan Nona Liu sebagai permaisuriku," ucapnya dengan wajah yang terlihat datar.
"Aku tahu, tapi hanya dia satu-satunya calon permaisuri yang masih bertahan."
"Andai aku bisa memilih sendiri permaisuriku, aku pasti sekarang sudah menjadi raja."
Walau Nona Liu sangat cantik, tapi gadis itu tidak bisa menarik perhatian Pangeran Zhao Li. Bagi Pangeran Zhao Li, kecantikan hanyalah sebuah bonus dari kebaikan dan perhatian seorang gadis. Dan dia mendambakan seorang permaisuri yang bisa memberikannya kenyamanan dan perhatian yang tulus untuknya.
Hari itu, Mei Yin terpaksa harus ikut bersama Liang Yi karena permintaan Pangeran Zhao Li. Dan dia harus menyiapkan segala keperluan makanan dan minuman selama mereka berlatih.
Dengan terampil, Mei Yin mulai mengatur segala makanan dan minuman di atas meja sambil menunggu kedatangan kedua pemuda itu. Karena bosan, Mei Yin akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di sekitar tempat itu dan menemukan sebuah sungai kecil yang sangat jernih. Tanpa ragu, Mei Yin kemudian duduk di atas salah satu batu dan mencelupkan kedua kakinya ke dalam air.
Udara yang sejuk dan suasana yang nyaman, membuat Mei Yin merasa tenang. Sejenak, dia bisa melupakan kesedihannya dan menikmati keindahan di tempat itu. "Astaga, mereka pasti mencariku," ucapnya sambil berdiri dan belari menuju tempat istirahat tadi.
"Kamu dari mana saja? Awas jangan pergi jauh-jauh karena di tempat ini ada harimaunya," goda Liang Yi hingga membuat Mei Yin segera mendekati mereka dengan wajahnya yang terlihat ketakutan. Melihat ekspresinya, membuat kedua pemuda itu menertawainya.
"Jangan khawatir, di tempat ini tidak ada harimau. Kalaupun ada, aku sendiri yang akan membunuhnya," ucap Pangeran Zhao Li sambil memegang pedangnya.
"Memangnya, kamu dari mana?" tanya Liang Yi.
"Aku baru dari sungai itu, sungainya sangat jernih," jawab Mei Yin sambil menunjuk di balik semak.
"Apa benar ada sungai di tempat ini?" tanya Pangeran Zhao Li penasaran. Mei Yin menganggukan kepalanya.
"Kebetulan, bagaimana kalau kita ke sana? Lagipula, tubuhku ini sudah gerah karena latihan daritadi dan aku ingin sekali berenang," ucap Pangeran Zhao Li sambil berjalan ke arah sungai itu.
Mei Yin menjadi serba salah karena dia dipaksa untuk pergi menemani mereka ke sungai itu. Walau dia sudah menolak, tapi Pangeran Zhao Li segera menarik tangannya untuk ikut.
Melihat sungai yang dangkal dan jernih itu membuat Pangeran Zhao Li segera melepaskan sepatunya dan memilih duduk dan merendam kakinya ke dalam air.
Karena tergoda, Mei Yin dan Liang Yi kemudian melakukan hal yang sama.
"Kalau seperti ini, aku pasti akan sering-sering datang ke sini," ucap Pangeran Zhao Li dengan senyum.
Karena merasa tidak puas, Pangeran Zhao Li kemudian berdiri dan menuju ke tengah sungai dan mencelupkan tubuhnya.
"Zhao Li, apa yang kamu lakukan? Ayo keluar dari sungai itu," teriak Liang Yi.
Bukannya keluar, tapi Pangeran Zhao Li malah tertawa dan menyiram mereka berdua dengan air hingga membuat Liang Yi turun ke sungai dan ikut menyirami Mei Yin hingga membuat tubuh gadis itu menjadi basah kuyup.
Kedekatan tiga sahabat itu bisa membuat siapa saja menjadi iri ketika melihat mereka. Tanpa memandang status, tanpa memandang golongan, mereka bersahabat dan persahabatan mereka akan terus berlanjut hingga semesta datang menguji perasaan mereka.
Apa Lian itu kekasih yg di sebut di prolog itu.... Yg mati krna orang istana??
bingung aku🤔🤔