Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
"Tadi itu siapa kak?"
Tanya Yana begitu mereka sampai di kamar Luna
"Ya dokter kakak la, kan tadi udah dia itu dokter"
"Kok perhatian bangett, dokter nganterin pasiennya sampe rumah, dokter penyakit apa dokter hati itu"
Sahut Yana dengan senyum jenaka
"Apaan sih ada-ada aja, dia emang baik orangnya dan kebetulan juga kita udah pernah kenal dulu"
Kata Luna menjelaskan
"Ohh gituu.... "
Sahut Yana masih dengan senyum jenakanya
"Jangan aneh-aneh deh Yan, kamu itu..."
Perkataan Luna terhenti begitu sadar dengan wajah Yana yang tampak sedikit pucat setelah dilihat dari dekat
"Kenapa?"
Tanya Yana ikut cemas melihat perubahan raut wajah khawatir dari Luna
"Kamu sakit? Kok pucat gitu sih?"
Yana merespon dengan gugup pertanyaan dari kakaknya
"Eh... Enggak kok kak, cuma kecapekan aja, gapapa kok"
Luna tampak terdiam sebentar
"Yakin kamu?"
"I.. Iya kok, kakak istirahat yaa, kan baru pulang dari Rumah Sakit, Yana juga mau tidur mumpung hari sabtu"
"Yaudah, kamu jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit"
Kata Luna mengingatkan, kemudian Yana keluar dan kembali ke kamarnya namun bukan untuk tidur, melainkan duduk dengan bersandar dibalik pintu kamarnya sambil tertunduk lesu
Luna tertidur pulas di kamarnya, mungkin juga karena pengaruh obat yang dia konsumsi ber-efek samping mengantuk hampir 2 jam dia tertidur, karena begitu nyenyaknya Luna tak sadar bahwa sedari tadi ada yang menatap lekat dirinya, orang itu adalah Lia, Bunda Luna yang saat ini berusaha sekuat tenaga menahan air mata dan sesak yang menumpuk di dadanya hingga kemudian ponsel Luna berbunyi melantunkan adzan tanda zuhur telah tiba, Lia kaget begitupun Luna yang baru terbangun dari tidurnya, Lia dengan cepat akan melangkah keluar
"Bun..."
Panggil Luna dengan lirih
"Luna kangen Bunda"
Katanya lagi dengan suara yang sudah bergetar menandakan ia tengah menangis sekarang membuat hati Lia semakin tertusuk lebih dalam lagi mendengarnya, namun segera ia menetralkan perasaannya dan keluar dari kamar Luna
Luna lantas beranjak dari ranjang untuk mengambil wudhu, dengan khidmat dan segala kerendahan hatinya Luna berdo'a dan memohon petunjuk atas segala masalah yang hingga kini belum dapat ia selesaikan
Tringg!
Luna pun beranjak mengambil ponsel di nakas samping tempat tidurnya setelah melipat mukenah dan sajadah yang ia gunakan untuk salat tadi, bibirnya lantas menggariskan senyum melihat nama yang tertera di layar ponselnya mengirim pesan
Juan : Gimana kabar kamu?
Luna : Alhamdulillah udah lebih baik, aku juga udah dirumah, gimana keadaan Ayah kamu?
Juan : Alhamdulillah... Ayah lagi tidur habis minum obat tadi, tapi udah lebih baik juga kok, kamu udah makan belum?
Luna : Belum laper, kamu sendiri udah makan apa belum?
Juan : Baru aja selesai makan nih, yaudah kamu makan dulu sana terus istirahat lagi jangan capek-capek dulu ya, tadi Vani sama Dira nganter kamu sampe rumah kan?
Luna : Mereka tuh ada ujian, tadi ngebet banget mau nganter tapi aku tolak, terus dianter sama dokter Rey deh karna kebetulan tadi dia denger omongan aku sama mereka
Seketika Juan mengerutkan dahinya tidak suka, ada perasaan yang membuat dia sedikit terancam dengan perlakuan dokter Rey
Juan : Dia nganter kamu sampe rumah gitu?
Pertanyaan Juan mulai terdengar tidak enak di mata Luna
Luna : Maaf yaa Juan tapi tadi memang gak ada pilihan lain selain dianter sama dokter Rey, lagian dia cuma nganter aja gak ngapa-ngapain, kamu gak marah kan?
Juan terlihat membaca namun belum juga terlihat mengetik, membuat Luna kembali mengirimkan pesan
Luna : Kamu masih disitu kan?
Juan : Iya, yaudah kamu makan sana, aku mau nebus obat Ayah dulu, kamu banyakin istirahat ya Assalamu'alaikum
Luna : Iya yaudah salam ya buat Ayah kamu Wa'alaikumsalam
Setelah mengakhiri pesannya dengan Juan, Luna menjatuhkan tubuhnya lagi ke atas kasur, banyak hak yang dia pikirkan saat ini, mulai dari kuliahnya... pekerjaannya... kondisi nya saat ini membuat ia dilema, jika tidak bekerja siapa yang akan menanggung kehidupannya sehari-hari, namun jika bekerja keadaannya pun masih belum memungkinkan, masih dengan mata terpejam Luna memijit pangkal hidungnya
Tringg!
Luna kembali duduk mendengar ponselnya berdering, terlihat nomor tidak dikenal mengirim sebuah pesan
"Assalamu'alaikum... Luna?"
Begitu isi pesannya
Luna : Wa'alaikumsalam, maaf ini siapa ya?
Rey : Ini saya Rey, bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa saya mengganggu?
Luna : Ohh dokter Rey, gak kok dok sama sekali tidak menganggu dan alhamdulillah saya baik, maaf sebelumnya ada apa ya dok?
Rey : Alhamdulillah kalau begitu, saya hanya mau kasih informasi mengenai ini...
(Rey mengirimkan sebuah poster berisi pengumuman lomba menulis cerpen dan puisi)
Luna pun membuka poster tersebut
Luna : Dokter mau saya ikut itu?
Rey : Dengan kondisi kamu sekarang kamu gak bisa ikut kuliah atau kegiatan lain untuk sementara waktu jadi saya pikir kamu bisa ikut event-event menulis seperti ini untuk mengisi waktu kamu, lagipula kamu juga berpotensi menjadi seorang penulis hebat
Luna : Dokter berlebihan 😂 , saya gak sehebat itu kok, masih harus banyak belajar lagi
Rey : Iya justru itu gunakan kesempatan ini untuk belajar, saya hanya menyarankan, kebetulan saya punya teman seorang penulis mungkin saya bisa bantu kamu untuk belajar dari dia
Luna : Baik dok, akan saya pikirkan kalau ada bahannya nanti saya coba ikut lomba itu, Terima Kasih banyak sebelumnya dok
Rey : Bagus. Kalau gitu saya mau lanjut kerja, cepat sehat ya. Assalamu'alaikum
Luna : Aamiinnn... Wa'alaikumsalam
Setelahnya Luna pun memandangi poster yang dikirimkan dokter Rey tadi, sudah lama sejak ia diasingkan oleh Edi dan Lia, Luna hampir tidak pernah lagi menulis puisi-puisi atau cerita seperti dulu karna waktu nya yang ia habiskan dengan kuliah dan bekerja, meski kuliah di bidang sastra namun Luna hanya menulis sebagai kebutuhan tugas saja
Beberapa menit kemudian dia beranjak mengambil kertas dan pulpen dari dalam tasnya
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!