Pertemuan Angga dan Ocha memang takdir. Kepribadian mereka yang saling bertolak belakang, membuat keduanya makin dekat dari hari ke hari. Hanya saja bayangan masa lalu Ocha seakan membuat tembok besar di antara keduanya. Juga perasaan Angga yang belum bisa sepenuhnya menyukai Ocha. atau ... memang itu cara Angga menyukai Ocha?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Osi Oktariska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 19 Apartemen
"Ini serius kita suruh pindah rumah, Nov?" tanyaku saat Nova baru saja sampai. Sudah beberapa minggu dia tidak ada di sini, dan sekarang malah membawa kabar yang cukup mengejutkan.
"Ya ampun, nggak percaya banget sih, Cha. Telepon bos sana!"
"Padahal rumah ini udah enak banget loh, Nov. Deket kantor juga."
"Astaga ini cewek! Protes mulu. Gih, kamu tanya bos. Kalau yang aku denger, rumah ini kontraknya udah habis. Kita suruh pindah apartemen. Gila nggak sih, aku udah lihat loh tempatnya. Enak, Cha! Lebih bagus malah dari rumah ini." Dia terus memasukan pakaian dan barang-barang ke dalam koper. Aku yang hanya sedari tadi memperhatikan, lalu diusir dari kamarnya. "Buruan siap-siap! Kita pindah hari ini juga."
"Astaga. Galak banget!" Terpaksa aku keluar lalu menghubungi Om Derri.
"Oh jadi gitu, Om. Ya udah, aku siap-siap dulu. Si Nova minta malam ini juga kami pindah sana," jelas ku dengan benda pipih yang masih menempel di telinga.
"Ya sudah, kamu atur saja."
Sebuah taksi sudah menunggu di luar. Malam ini juga kami pindah ke apartemen tersebut. Letaknya memang ada di pusat kota dan cukup nyaman, dari foto yang Nova perlihatkan. Dia juga yang memilihkan tempat itu, dan kami membayarnya dengan cara patungan. 5 juta satu bulan dengan 2 kamar , full furnished. Cukup terjangkau bagi kami. Karena sama-sama perantauan, dan baik aku maupun dia tidak ada yang membawa perabotan apa pun. Hanya pakaian saja.
Sebelumnya aku sudah menghubungi Angga tentang rencana pindah yang serba mendadak ini. Kebetulan dia sedang menghadiri acara keluarga, jadi cukup sibuk, tapi dia sudah tau kalau malam ini juga aku dan Nova akan pindah.
_______
Gedung bertingkat di depan membuat aku mendongak, berdecak dalam hati karena cukup takjub dengan tempat itu. Nova lantas mengajak masuk menuju ke lift, diantar satpam. Karena sebagai warga baru, tentu tempat ini masih asing bagi kami. Satpam juga yang memegang kunci tiap kamar kosong di gedung ini. Nova sudah mentransfer uang sewa sebelumnya, jadi selama satu bulan ke depan ruangan itu akan menjadi tempat tinggal kami.
Lantai 11. Berjalan di sepanjang koridor dengan koper di tangan kanan, dan tas kecil di bahu kanan. Aku hanya mengikuti Nova yang berjalan persis di belakang Pak Satpam. Dia selalu menatap layar 6 inchi di tangannya. Sesekali senyum tipis melebar di bibir Nova. Sejak kembali, dia sedikit aneh. Eum, lebih bahagia. Sepertinya dia sudah memiliki kekasih.
"Ini kartunya, dua. Jadi mba mba bisa memiliki masing-masing," Jelas pak Satpam saat kami sudah berada di depan kamar tersebut. Kartu tersebut diserahkan ke Nova. Dia lantas mengucapkan terima kasih, dan pria bertubuh tambun tadi segera kembali ke tempatnya.
Pintu dibuka, kami segera masuk dan cukup terkesima dengan keadaan di dalam. "Keren, kan, Cha?"
"Hm, lumayan. Ya wajar sih, sewanya aja segitu."
"Kamarnya mau yang mana?" tanyanya menunjuk dua pintu yang saling bersebelahan.
"Mana aja lah, Nov. Sama aja."
"Ya udah aku pilih duluan. Jangan menyesal anda, ya." Dia buru-buru membuka kedua pintu itu bergantian sambil memandangi keadaan di dalam.
Aku malah masih fokus pada ruangan lain, seperti ruang tengah, dapur dan mengecek kulkas serta kompornya. Padahal diantara kami berdua, justru Nova yang sering memasak selama ini, dan aku malah lebih suka memasak mie instan dengan tambahan dua telur di atasnya. Bagiku itu makanan paling enak jika disantap malam-malam.
"Cha, aku yang ini, ya!" jeritnya. Aku mengalihkan pandangan dan penasaran kamar mana yang sudah dia pilih.
Dua pintu itu sama-sama terbuka lebar, dan saat mendekat rupanya Nova sudah berada di kamar sebelah kanan. Pantas saja dia memilih tempat itu, karena ada jendela yang menghadap keluar. Sementara di kamar kiri, tidak ada jendela, tapi jauh lebih luas karena ada kamar mandi dalam. "Yakin, nggak mau di sini? Ada kamar mandinya loh, Nov?"
"Enggak. Ini aja, ada jendelanya." Nova berdiri di dekat jendela dengan membuka korden. Sementara aku malah bahagia memiliki kamar mandi pribadi. Cukup adil memang. Kalau soal jendela, di ruang tengah saja, ada. Berikut dengan balkon juga. Jadi itu bukan masalah.
Kartu Apartemen kuletakkan begitu saja di meja nakas. Koper kubiarkan saja teronggok di dekat lemari. Sementara aku langsung merebahkan diri di atas ranjang yang sebenarnya muat untuk dua orang. Aku meraih gawai yang disimpan di tas. Melihat layar yang tidak ada notifikasi pesan atau panggilan apa pun. Tidak ada orang lain yang aku tunggu, hanya Angga seorang. Setiap layar kubuka, hanya notifikasi darinya saja yang mampu melebarkan senyum di bibirku. Sedikit kecewa, tapi pasti dia belum pulang. Jadi sebaiknya aku membersihkan diri dan segera tidur. Namun, sebelumnya aku mengirim pesan ke Angga, kalau sudah sampai dengan selamat.
Koper kubuka, dan mengambil sebuah tas kecil yang berisi perlengkapan mandi. Aku segera menuju kamar mandi dan meletakkan barang-barang itu, kemudian melakukan ritual tidur. Mencuci muka, sikat gigi, lalu memakai krim wajah.
AC kunyalakan dengan suhu 22° Celcius. Aku juga sudah berganti pakaian dengan setelan tidur favorit. Ponsel kembali kuraih, untuk memeriksa pesanku tadi. Masih belum dibaca oleh Angga.
[Aku ngantuk. Tidur duluan, ya. Ay, belum pulang? Hati-hati di jalan. I love you.]
Lampu kumatikan, selimut tebal kutarik hingga sebatas pinggang. Dengan memeluk guling, aku berusaha masuk ke alam mimpi.
ini yang ke 3 dari karyamu,,, 1,2 ud aku babat habis smua
masih penasaran dengan smua jalan ceritanya
salam dari "UNSEEN."
mungkin kalian ngga terima ya, sama statemen saya, "namanya org lg usaha promosi ya udah lah biarin aja"
menurut saya nggak bs gtu dong. namanya org promosi itu alangkah baik nya tdk mengganggu lapak org lain. apalagi di cerita saya wlw dgn embel2 kalian sudah vote komen like, (yg entah betul dilakukan atau tdk, ya) Buat saya, akun saya, lapak saya itu bagai rmh kedua. kalau saya sedang komenan atau pembaca komen ttg crta saya, tiba2 ada yg komen promo crtanya sendiri, jujur saya terganggu dgn hal itu. karena menurut saya, apa yg kalian lakukan itu nggak baik. prinsipnya gini ya, kalau saya melakukan sesuatu hrs fair, hrs win win. kalau kalian promo dgn cara spam, itu artinya kalian mementingkan kepentingan kalian, tp memperdulikan kepentingan org lain. saya tau, promosi cerita sndri itu sulit, tp bukan berarti kalian mengizinkan diri kalian untuk spam hal tersebut dan mengganggu kepentingan yg di spam.