Riana Nina Zara adalah seorang wanita yang baik dan punya pembawaan yang ceria. Ia memiliki seorang sahabat baik bernama Alina Raya Wijaya. Mereka sangat dekat karena berteman baik sejak duduk di bangku SMP. Bahkan Riana sudah menganggapnya seperti saudaranya sendiri. Orangtuanya juga selalu baik kepadanya.
Alina sendiri adalah seorang gadis piatu yang hanya tumbuh besar di bawah pengasuhan ayahnya. Ibunya meninggal dunia setelah setahun melahirkan dirinya. Sejak itu ayahnya tidak pernah menikah kembali karena fokus untuk merawat dan membesarkan dirinya.
Namun suatu hari ayahnya secara tiba-tiba memperkenalkan seorang wanita cantik kepadanya. Dan kedepannya wanita itu akan menjadi ibu sambungnya. Sayangnya ia tak menyukai wanita itu.
Apakah pernikahan itu akan terjadi atau tidak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan untuk selamanya.
Rumah sederhana itu kini di datangi oleh sejumlah pelayat yang hadir. Beberapa berasal dari warga sekitar. Dan beberapa lagi mungkin rekan-rekan kerja ayah Riana juga kenalan ibunya. Tante Salma sedari kemarin malam terus setia menemani Riana yang tak hentinya menangis. Matanya terlihat sembab dan agak membengkak. Wajahnya juga tampak pucat. Ia sempat pingsan setelah menerima telepon dari rumah sakit. Ketika ia sadar, ia kembali menangis dan mencari-cari keberadaan ayah dan ibunya yang belum juga tiba di rumah duka.
Karena kecelakaan itu terjadi di luar kota, pengurusan jenazah harus di hadiri langsung oleh perwakilan keluarga. Salma meminta suaminya untuk mengurus jenazah kakak dan kakak iparnya itu di rumah sakit malam itu juga.
Sementara dia menemani Riana di rumah. Ia tidak mungkin ikut dan meninggalkan Riana seorang diri di rumah. Apalagi dengan keadaannya yang seperti ini.
Pagi tadi setelah mendengar kabar duka itu, Fina dan Dita langsung pergi ke rumah Riana. Mereka tampak sedih saat melihat keadaan sahabatnya itu. Riana benar-benar hancur. Ia seperti kehilangan seluruh nyawanya. Mereka tak tega melihatnya terpuruk seperti itu.
Sejak tiba mereka terus mendampinginya. Memberinya kekuatan agar bisa kuat dan tabah menghadapi cobaan yang sedang ia jalani saat ini. Walaupun mereka tahu hal itu tidak ada gunanya. Tetapi setidaknya Riana tahu jika ia tidak sendirian menghadapinya.
Sebelumnya Dita juga sudah beberapa kali mencoba untuk menghubungi Alina. Tapi ponselnya tidak aktif. Ia berpikir mungkin Alina sengaja menonaktifkan ponselnya karena sedang ada acara.
"Ponselnya tidak aktif juga!" ucapnya pada Fina.
"Tidak apa-apa. Kita coba lagi nanti." ucap Fina.
Mereka lalu kembali duduk di samping Riana yang kini terlihat diam. Tatapannya terlihat sendu dan kosong. Mereka berdua semakin cemas melihatnya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Mobil Ambulance yang membawa jenazah orang tuanya akan tiba dalam dua jam.
Sementara itu Riana tampak mengingat kembali telepon terakhir ibunya sehari sebelum mereka meninggal.
"Bagaimana keadaan nenek, Bu?" tanyanya pada ibunya.
"Syukurlah keadaan nenek sudah membaik. Mungkin kami akan pulang besok siang. Ayah juga nggak bisa lagi memperpanjang izin cutinya, jadi kami memutuskan akan kembali besok."
"Syukurlah kalau nenek sudah sehat. Riana sangat senang mendengarnya." Riana tampak senang.
Setelah itu ibunya tiba-tiba diam. Seperti sedang menghela nafas.
"Bu! Halo! Apa ibu dengar Riana? Halo!"
"Ibu dengar , sayang! Kamu.... Baik-baik saja, 'kan? Kamu makan dengan teratur, 'kan? "
"Ibu jangan cemas. Riana baik-baik saja kok. Riana juga makan dengan teratur. Riana 'kan sudah besar, Bu. Jadi Riana bisa jaga diri kok.
"Iya! Ibu percaya, kok. Putri ibu sudah besar dan tumbuh menjadi gadis yang mandiri. Maafkan ibu dan ayah ya , sayang? Kami sering meninggalkan kamu sendirian. Dan membiarkan kamu tumbuh dewasa sendirian karena kesibukan kami masing-masing." Ucap Rima.
"Kenapa ibu malah minta maaf. Riana nggak masalah kok, bu. Riana kan sudah bilang kalau hal itu sama sekali bukan masalah. Riana mengerti kalau ini semua kalian lakukan untuk masa depan Riana. Jadi ibu nggak perlu merasa bersalah. Riana senang kok bisa mandiri. Hihi...."
"Ibu senang mendengarnya. Jadi ... kalau seandainya ibu dan ayah pergi lagi, kamu nggak keberatan 'kan?"
"Memangnya kalian mau pergi kemana lagi? Mau bulan madu kedua ya?" Riana menggoda ibunya.
"Kamu ini ada-ada saja."
Ibunya lagi-lagi terdiam. Ia mengambil jeda waktu yang cukup lama.
"Ibu! Kenapa ibu diam lagi. Jaringannya nggak bagus ya?" tanyanya cemas.
"Nggak kok, sayang. Hmm... Kamu jaga diri baik-baik ya, nak. Apapun yang terjadi kamu harus kuat. Walaupun kami nggak ada di samping kamu, kamu nggak boleh menyerah. Ingat apa yang selalu ayah katakan sama kamu. Raih lah segala apa yang kamu cita-citakan. Perjuangkan selagi kamu mampu. Karena kamu sendiri yang menentukan kehidupan seperti apa yang akan kamu jalani. Dan jujurlah selalu pada dirimu sendiri. Ibu dan ayah akan selalu bangga padamu. Dan walaupun kita terpisah, tetapi kami akan selalu ada di hati kamu."
Ucapan ibunya terdengar aneh di telinganya.
"Ibu ngomong apa, sih? Kayak kita nggak akan ketemu lagi saja. Besok kan ayah dan ibu sudah pulang. Oh iya! Riana akan masak makanan yang enak untuk kalian. Jadi Riana tunggu di rumah ya. Riana sayang ayah dan ibu." ucapnya terlihat antusias.
"Ibu dan ayah juga sayang kamu, nak. Ibu tutup dulu ya telepon nya."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan ya. Nanti kabari Riana kalau udah mau naik bis." pesan Riana.
"Iya, sayang. Jaga diri kamu baik-baik. Ibu sayang kamu." ucapnya sekali lagi.
"Riana juga sayang ibu."
Sambungan telepon itu terputus. Riana berpikir jika setelahnya ia akan mendapatkan kembali sambungan telepon dari ibunya di keesokan harinya. Nyatanya itu adalah panggilan telepon terakhir dari ibunya. Sampai kapanpun ia tidak akan bisa lagi mendengar suara ayah dan ibunya.
Hatinya sudah hancur. Mungkin akan sulit untuk di sambung kembali. Walaupun menggunakan perekat super sekalipun. Riana telah kehilangan sumber kebahagiaan dan kehidupannya.
Ia bahkan tidak tahu siapa saja yang pagi itu hadir di rumahnya. Pikirannya telah membawanya jauh ke dalam alam bawah sadarnya.
...****************...
"Ayah! apa tidak bisa lebih cepat lagi? Kasihan Riana. Dia pasti sedih sekali." Alina yang sedang berada di perjalanan tampak merengek pada ayahnya agar mempercepat laju kendaraannya.
Ia bahkan tak berhenti menangis sejak menerima telepon dari Dita.
"Sabar, sayang! Ini juga sudah cepat. Sebentar lagi kita juga sampai. Kamu juga jangan nangis terus. Ayah jadi bingung." ucap Ervin pada putrinya.
"Alina nggak bisa berhenti nangis, yah!" ucapnya sambil terisak.
Ervin juga tidak bisa memaksanya untuk berhenti menangis. Karena putrinya itu sangat dekat dengan Riana dan keluarganya. Ia akhirnya fokus menyetir agar cepat sampai.
Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka tiba di rumah duka. Suasana mulai ramai. Ervin yang saat itu sudah mengganti pakaian dengan kemeja hitam dan celana berwarna senada, keluar setelah memarkirkan mobilnya. Sementara Alina sudah berlari ke dalam rumah karena tidak sabar untuk bertemu sahabatnya itu.
"Riana! Maaf aku datang terlambat. Kamu yang kuat ya! Aku .. Aku ..." ia tak bisa berkata-kata lagi saat melihat wajah sahabatnya itu.
Ia langsung memeluknya dan menangis. Namun ia meredam suara tangisannya agar tak membuat Riana semakin sedih.
Riana yang kini terdiam, semakin membuatnya cemas. Ia tampak menatap ke satu arah dengan pandangan yang kosong. Entah apa yang kini sedang ia pikirkan.
"Ri!" seru Alina tak bisa membendung tangisannya.
Air matanya terus saja mengalir. Ia juga bingung harus berkata apa. Karena Alina tahu jika berbicara hanya akan sia-sia saja. Akhirnya ia duduk di sampingnya dan ikut membaca Yasin bersama dengan Dita dan Fina.
Beberapa jam kemudian terdengar bunyi sirine dari dua mobil ambulans yang telah memasuki rumah duka.
Para pelayat pria termasuk Ervin, ikut membantu membawa peti yang berisi jenazah ayah dan ibu Riana.
Satu persatu peti di masukkan ke dalam rumah secara bergantian. Riana yang belum menyadari hal itu, hanya diam ketika satu persatu tubuh orang tuanya yang sudah terbujur kaku di keluarkan dari peti dan di letakkan tepat di hadapannya.
Riana tersadar ketika ia tanpa sadar menatap dua tubuh kaku yang berjejer tepat di hadapannya.
Ia menatap wajah mereka yang terbuka cukup lama. Entah apa yang ada di pikirannya selama itu. Alina dan yang lainnya tampak menatap dirinya dengan cemas.
Riana tiba-tiba merangkak menghampiri jenazah ayah dan ibunya itu secara perlahan. Suasana seketika menjadi hening karena semua orang sedang memperhatikan Riana.
Riana tampak memperhatikan wajah ibunya terlebih dahulu. Wajahnya tampak cantik seperti biasanya. Ia seperti sedang tertidur.
"Ibu sudah pulang?" tanyanya dengan suara serak.
...****************...