Demi membatalkan perjodohan yang dilakukan oleh papanya, Alea terpaksa harus meminjam uang kepada sang Bos, demi melunasi hutang-hutang keluarganya kepada kakek Will.
Bahkan, Alea juga sampai rela memotong urat malunya, demi meminta sang bos, untuk menjadi kekasih bohongannya.
Akan tetapi, takdir berkata lain, apa yang Alea rencanakan semuanya gagal. Dan malah berujung pada pernikahan serius dengan sang bos-nya.
Padahal, bos-nya adalah orang yang paling dihindari Alea sejak SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Macam-Macam
Satu kecupan mendarat di bibir Alea, Rey menahan dan merasakan bibirnya dengan bibir Alea bersentuhan. Dengan mata yang saling terpejam. Desiran darah yang terasa hangat tiba-tiba menyeruak di tubuh keduanya. Setelah tertahan kurang lebih hanya 5 detik, Rey kembali melepaskan ciumannya.
Dan Alea pun kini bisa bernafas kembali, dengan jantungnya yang hampir saja copot dari tempatnya, demi merasakan desiran hangat di tubuhnya akibat kecupan yang Rey berikan.
"Tenanglah Alea, tenanglah, hanya untuk kali ini saja, bersikaplah secara tenang dan normal," batinnya.
Dan setelah acara di gereja selesai, kini mereka semua melangsungkan pesta pernikahan di gedung aula hotel yang sudah di persiapkan sejak kemarin. Tak ada satu pun media yang bisa menyorot pernikahan mereka, karena sesuai permintaan Alea sebelum menikah, jadi Kakek Will menyuruh semua petugas untuk berjaga ketat agar tak ada media maupun wartawan yang masuk, dan jangan sampai foto-foto pernikahan cucunya itu tersebar di media. Cukup berita pernikahannya saja.
***
Kini malam pun tiba, di kamar VVIP hotel yang mereka tinggali, Rey baru saja keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri, dengan bertelanjang dada. Hanya melilitkan handuk putih di bawah pinggangnya, hingga perut yang seperti roti sobek itu dapat terlihat jelas oleh kedua mata Alea.
Bahkan ketika Rey mengeringkan rambut hitam yang masih basah itu menggunakan handuk kecil. Kedua mata Alea seakan di buat terkagum, entah karena ini hal pertama baginya melihat seorang lelaki dengan tampilan seperti itu, atau memang karena karisma Rey yang tiba-tiba membuat Alea begitu terpesona melihatnya.
"Tak perlu menatapku seperti itu, aku tahu, aku memang tampan," ucap Rey penuh percaya diri, ketika ia tahu Alea yang bengong melihatnya.
Alea pun merengut, mengerucutkan bibirnya. Dan tanpa basa-basi Alea segera masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah selesai memakai pakaian santainya, Rey merebahkan tubuhnya di bahu ranjang, sambil membuka ponselnya dan berkabar via chat dengan Nando.
Tak lama Alea pun keluar dari kamar mandi dengan piyama tidur berwarna merah cerah yang membalut tubuhnya. Piyama itu memang sengaja di siapkan oleh petugas hotel untuk malam pengantin mereka.
Alea berjalan perlahan karena ia sedikit tak nyaman menggunakan gaun piyama ini, meskipun agak tebal tidak seperti lingerine. Tapi tetap saja, Alea merasa kurang nyaman.
Rey terus menatap tajam ke arah Alea, yang dimana wanita itu sudah mendudukkan tubuhnya di depan cermin rias, mengeringkan rambut pendeknya yang menggemaskan di mata Rey.
Setelah selesai merapikan rambutnya, Alea kebingungan ia harus apa dan harus berdiam di mana. Di kamar VVIP yang begitu luas dan megah ini, tentunya tetap saja hanya ada satu tempat tidur. Tak mungkin juga ia tidur di sofa, meskipun sofanya bagus dan empuk.
Sejenak Alea diam-diam mencuri pandangan ke arah Rey, yang masih duduk selonjoran di atas ranjang sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Hm, apa aku harus menunggu Rey tidur terlebih dahulu ya? ... Kalau aku tidur duluan, aku takut, aku takut dia macam-macam kepadaku," gumam Alea dalam hati.
Sementara Rey, ia juga sama sesekali melirik ke arah Alea yang masih duduk berdiam di depan cermin.
"Aih, kenapa dia masih berdiam di situ, apa dia takut?" batin Rey.
"Hey, kenapa masih duduk di situ, kau tak mau segera tidur," ujar Rey yang seketika menyimpan ponselnya ke atas nakas.
Alea pun menatap ke arah Rey. "Em, apa Pak Rey juga akan segera tidur?" tanya Alea.
Rey hanya mendengus pelan sambil membuang wajahnya. "Apa! dia memanggilku dengan sebutan Pak Rey? Aku sudah menjadi suaminya pun masih di sebut Pak Rey, kenapa gak sekalian memanggilku direktur utama saja," batin Rey, seakan kesal, karena hingga saat ini Alea masih setia memanggilnya dengan sebutan itu.
"Kemarilah," pinta Rey.
Alea pun berjalan mendekati Rey dan duduk di sudut tepi tempat tidur. "Ada apa?" tanya Alea.
"Kemari," ucap Rey, seraya menepuk-nepuk tempat tidur, bermaksud agar Alea duduk di sampingnya.
"Kau mau apa?" tanya Alea curiga.
"Mau apa? Ya jelas mau dirimu lah!" jawab Rey sembarangan.
"Pak Rey, bukankah Anda sendiri yang bilang tidak mau menyentuhku," ucap Alea sambil berusaha melebarkan senyumnya, berusaha menutupi rasa takutnya.
Rey memicingkan kedua matanya, menatap tajam ke arah Alea. "Kalau aku mau menyentuhmu, memangnya kenapa?" tanya Rey, dengan suara lembutnya entah kenapa malah membuat bulu kuduk Alea merinding mendengarnya.
"Sialan, kenapa dia malah menatapku seperti itu," batin Alea, semakin ketakutan ektika ia mendapat tatapan tajam dari lelaki yang sudah berstatus menjadi suaminya itu.
Rey menggeser tubuhnya mendekati Alea secara perlahan, membuat Alea menggeser tubuhnya agar menjauh dari Rey, namun ketika Alea hendak berdiri, tangan Rey terlebih dahulu menarik lengan Alea, membuat Alea semakin tak tenang dan ketakutan.
"Pak Rey, jangan macam-macam," ujar Alea terbata.
.
.
.
Bersambung.
Wah kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya??? 😁
Jangan lupa bantu **like, komen dan votenya ya. Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi author untuk melanjutkan cerita ini.
Follow ig aku @dela.delia25**
ha ha ha
ha ha ha