Saffana gadis 23 tahun yang sering di gunjing, di hina, di pojokkan, di anggap wanita tidak benar oleh tantenya sendiri bernama Rachel yang memiliki putra bernama Aksa yang taat agama dan sering di bandingkan dengan Saffana.
Malam di hari proses lamaran Aksa putra pertama Rachel dengan wanita pilihan Rachel. Saffana sakit hati dengan perkataan Rachel yang juga mengutuk dirinya dengan kata-kata pedas yang membuat kesabaran Saffana habis. Gadis itu nekat bertindak gegabah dengan menjebak Aksa. Agar-agar orang-orang memberikan makian dan hinaan seperti apa yang dirasakannya yang sering dilontarkan oleh mulut ibu Aksa kepadanya.
Saffana dan Aksa ditemukan di dalam kamar berduaan dengan hasil jebakan Saffana. Yang membuat orang-orang schok. Mungkin apa yang diinginkan Saffana terbalas dengan sakit hati dari Rachel.
Tetapi Saffana berpikir semuanya akan selesai saat itu juga. Ternyata tidak Saffana justru terjebak dalam pernikahan akibat jebakan yang di lakukannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 Rasa yang sulit di pahami.
"Aku tidak menyuruhmu diam. Tapi kamu bisa berbicara lebih baik agar mama bisa mengerti. Banyak cara Saffana dan bukan sama-sama keras," jawab Aksa yang berusaha lembut berbicara agar dia dan Saffana tidak ribut.
"Kenapa harus aku yang mengerti semua orang. Apa kewajibanku untuk mengerti dengan kelakuan dan sikap tante Rachel kepadaku. Apa kewajibanku untuk memahami semua orang-orang di dalam rumah ini......"
"Kamu yang memilih jalan semua ini Saffana," sahut Aksa yang memotong kalimat Saffana.
"Jika kamu sudah tahu resiko dari perbuatan kamu dengan berada di antara keluargaku yang artinya kamu harus menerima," tegas Aksa menekan suaranya.
"Apa maksud kamu dengan mengatakan ini resiko untuk ku?" suara Saffana begitu terdengar lirih dengan tatapan mata yang sayu dan lelah.
Pernyataan Aksa seolah menekankan kepada Saffana. Jika jebakan Saffana yang membuat Saffana masuk kedalam perangkap dan akan mendapatkan hal yang lebih parah lagi.
"Pernikahan ini kamu yang menginginkannya. Pernikahan ini ada karena ulah kamu dan bertanggung jawablah dengan semua yang kamu lakukan, Jangan malah semakin membuat keributan di rumahku dan terus menantang mama," tegas Aksa dengan tatapan yang tidak lepas dari Saffana.
"Aku sudah menegaskan kepadamu. Aku tidak menjebakmu dan aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini. Justru kamu yang menyetujui pernikahan ini," sahut Saffana.
"Iya, aku yang menyetujui dan memang semua salah ku. Aku telah salah mengambil langkah yang terlalu jauh dan resiko yang sangat besar untuk menikah dengan kamu. Memang sangat berisiko harus menikah dengan perempuan sepertimu yang tetap keras kepala dan tidak pernah mengakui kesalahan kamu," tegas Aksa. Lagi dan lagi kata-kata Aksa justru lebih sakit dari Rachel.
"Perempuan seperti apa maksudmu?" tanya Saffana dengan terasa sangat sesak.
"Kamu ingin mengatakan perempuan yang tidak beres, tidak punya harga diri dan...."
"Aku tidak mengatakan apapun, jadi cukup merendahkan dirimu sendiri. Jika kamu sendiri tidak bisa menghargai dirimu dan selalu merendahkan dirimu di depan orang lain, bagaimana orang lain bisa menghargai dirimu dan jangan marah jika orang lain merendahkan mu!" tegas Aksa. Saffana terdiam.
Mata Saffana berkaca-kaca dengan air yang ingin tumpah. Namun masih menahan diri yang tidak ingin terlihat lemah.
"Kita sudah menikah dan aku yang salah. Jadi tolong bersikaplah sebagai menantu dan istri di rumah ini. Jangan keras kepala, menantang dan merasa paling benar," tegas Aksa dengan menekan suaranya. Aksa menghela nafasnya dengan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya. Lalu Aksa hendak pergi.
"Kalau begitu kita akhiri pernikahan ini!" Langkah Aksa terhenti mendengar permintaan Saffana.
"Dari pada kamu berpikir untuk mempermainkan pernikahan. Lebih baik belajar dari kesalahan dan mencoba untuk meredakan emosi kamu," ucap Aksa dengan singkat yang pergi keluar dari kamar sebelum dia semakin marah dan Saffana semakin banyak permintaan.
"Aku selalu di salahkan. Tidak ada bedanya dengan Tante Rachel, hanya bisa berkata-kata yang menyakiti hati," batin Saffana.
"Lagi pula mana mungkin dia membelaku dan justru semakin membenciku!" Akhirnya air mata Saffana jatuh.
Aksa yang masih berada di depan pintu kamar masih terdengar suara tarikan isak tangis Saffana. Wajah Aksa sangat terlihat bingung. Posisi Aksa serba salah. Dia tidak mungkin terang-terangan membela Saffana walau ingin melakukan hal itu dan tidak mungkin juga terus berpihak pada sang mama.
**********
Setelah menikah Aksa kembali mengurus pekerjaan di bidang proyek. Aksa yang sekarang berada di lapangan yang mencoba mengecek proyek yang sudah beberapa hari di tinggalkan. Karena urusan pernikahannya.
"Saya minta untuk bagian di atas bentuknya jangan seperti itu," ucap Aksa yang berbicara pada mandor.
"Baik pak?" sahut Mandor tersebut.
Tiba-tiba di tengah obrolan mereka Arif yang sudah ada di sana dengan kedua tangannya berada di sakunya.
"Kalau begitu saya permisi pak!" ucap mandor tersebut.
"Iya silahkan!" sahut Aksa.
Aksa menghadap temannya itu dengan wajah Arif yang tampak begitu dingin yang seperti masih marah dan kecewa pada Aksa.
"Selamat untuk hari pernikahanku!" Arif mengeluarkan tangan.
"Terima kasih!" sahut Aksa menyambut uluran tangan tersebut.
"Jika memang ingin menikahi Saffana sejak awal. Apa harus melakukan hal itu agar bisa menikah dengan dia," ucap Arif sinis yang membuat Aksa heran.
"Apa maksud mu?" tanya Aksa.
"Aksa, sudahlah kamu jangan bersandiwara. Aku tahu kamu memang sejak awal tidak ingin bersaing denganku," ucap Arif
"Arif, Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan. Bersaing, aku tidak pernah bersaing dengan mu apalagi dalam pekerjaan. Kita selama ini berteman dan saling membantu satu sama lain saling memberi dukungan," tegas Aksa.
"Lalu kenapa kau menusukku dari belakang," sahut Arif.
"Apa maksud mu?" tanya Aksa.
"Karena hanya aku menyukai Saffana dan mengatakan jujur kepadamu. Jika aku ingin meminangnya. Lalu kau yang sudah berencana untuk menikah dan bahkan tinggal menunggu hari pernikahanmu. Tiba-tiba saja kau membuat keonaran dengan cara picik dan akhirnya kamu menikah dengan Saffana," ucap Arif.
"Karena Saffana kamu beranggapan jika aku menusuk mu," sahut Aksa.
"Lalu apa jika bukan itu," sahut Arif.
"Aku juga pernah mengingat sewaktu di Maroko, kamu pernah mengatakan kamu mempunyai wanita yang menunggumu. Jangan-jangan itu Saffana!" tebak Arif.
"Aku benar!" tebak Arif.
"Jangan salah paham padaku. Arif kita sudah mengenal lama dan saling tahu satu sama lain. Saat kejadian itu, aku justru berharap kamu menjadi orang satu-satunya yang percaya kepadaku dan tidak berpikiran sama dengan orang lain pada situasi yang aku hadapi. Aku difitnah, semua yang terjadi hanya salah paham dan aku tidak melakukan apapun kepada Saffana. Tetapi ternyata sahabatku orang yang aku percaya juga sama seperti orang lain yang tidak mempercayaiku pada malam itu," ucap Aksa yang menjeda bicaranya.
"Dan sekarang kau mengatakan jika aku menusuk mu. Lalu apa kau tidak memikirkan bagaimana aku kecewa kepadamu yang tidak mempercayaiku sama sekali," ucap Aksa
"Bagaimana mungkin aku mempercayaimu malam itu. Jika kau saja tidak memberikan penjelasan yang masuk akal. Lalu bagaimana aku mengatakan jika kau tidak menusukku dari belakang. Alih-alih bukan membuktikan dirimu benar apa salah. Tetapi kau malah menikahi Saffana yang artinya kau membenarkan semua apa yang terjadi malam itu," tegas Arif.
"Aku tidak bisa membuktikan dan aku tidak bisa menolak pernikahan itu karena....."
"Karena kau memang menyukainya sejak awal," Arif memotong pembicaraan Aksa.
"Aku tidak bodoh Aksa. Kau sejak dulu Sudah menaruh hati pada Saffana dan Saffana wanita yang pernah kau cerita. Tetapi orang tuamu menjodohkan mu dengan Sakilah dan kau tidak bisa menolak permintaan dari orang tuamu. Karena baktimu," tegas Arif.
"Apa kau pikir aku tidak memperhatikanmu, saat pertama kali kita berkunjung ke rumah Saffana, kau memperhatikan Saffana. Kau juga terlihat gelisah saat aku mengungkapkan jika aku ingin melamarnya. Seperti apa yang kau katakan. Jika kita sudah saling mengenal lama dan aku bisa melihat gerak-gerik mu," tegas Arif yang membuat Aksa diam dan tidak membantah perkataan dari Arif.
"Aku benar bukan Aksa dan karena tidak bisa memiliki Saffana kau menggunakan cara seperti itu untuk bisa menikahi Saffana dan membatalkan pernikahanmu dengan Sakilah," lanjut Arif dengan semua kesimpulannya dan Aksa hanya terdiam...........!!!!!!!!!
Bersambung